Robert yang paham dengan kedatangan Dinda langsung mengalihkan pembicaraan. Sedangkan Dinda berusaha untuk meredam emosi yang sudah mencapai ubun-ubun walaupun ingin rasanya di lampiaskan segera melampiaskannya.
"Adik kecil, kenapa repot-repot datang kesini,ayo duduklah!" Robert membimbing Dinda duduk di kursi kerjanya.
"Sudah ku katakan, jangan campuri rumah tangga ku, apa maksudmu mengirim barang-barang itu ke rumah." ucap Dinda dengan nada emosi.
"Adik kecil, kakak gak ada maksud apa-apa kakak cuma kirim hadiah aja. Lagian kamu belum mau menandatangani surat itu."
"Sudah ku katakan aku butuh waktu."
"Jika kamu tidak mau tanda tangan, maka terpaksa Kakak akan tetap ada ditengah-tengah kalian." ancam Robert.
"Apa kau mengancam ku?"
"Tidak."
Dinda pun berfikir sejenak, Mengingat semua bukti-bukti yang diberikan Robert padanya, membuatnya Sulit untuk tidak mempercayainya.
"Baiklah, Jika aku mengambil warisan itu, apa kamu tidak akan mencampuri keluarga dan kehidupan ku? Anakku saja belum lahir dan kalian sudah meributkannya, bagaimana kalau nanti dia sudah lahir. Argh membayangkannya saja aku tidak bisa."
"Yap, Kakak janji. Dan kak melakukan itu semua karena kakak sudah di beri tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi hingga bayi yang akan kamu lahirkan berusaha 6 tahun."
"Baiklah, akan aku tanda tangan itu, tapi kamu harus janji tidak akan menggangu aku dan juga anakku di kemudian hari."
"Kakak janji, tapi tidak jika keadaan mendesak."
Dinda menandatangani berkas itu,dan berharap hidupnya kembali normal seperti sebelum Robert muncul dalam kehidupannya.
"Sudah ku lakukan, semuanya seperti yang kau minta." Dinda pun meletakkan kembali penanya di atas kertas bermaterai yang sudah Dinda tanda tangani.
"Baiklah, aku akan segera memberitahukan kepada papa. Dan kapan kamu bisa bertemu papa? dia sangat merindukanmu. Papa tidak bisa kesini karena kondisinya yang tidak memungkinkan."
"Aku tidak tau, tapi yang pastinya mungkin Menunggu anakku lahir. "
Oya,aku baru ingat, tolong hukum dua scurity dan resepsionis mu, mereka membuatku sangat marah."
"Memangnya apa yang mereka lakukan?"
"Mereka mengusirku," pekik Dinda.
"Baiklah, nanti kakak akan pecat mereka."
"Tidak, aku gak ingin mereka dipecat, aku cuma mau mereka dihukum."
Robert pun berfikir, apa yang dilakukan karyawan nya sampai membuat adiknya marah besar.
"Baiklah, silahkan kamu sendiri yang menghukumnya. Ayo kita keluar!" Ajak Robert dan Dinda pun menjulurkan tangan meminta Robert membantunya berdiri dan
dengan segera Robert membantu adiknya untuk berdiri dan menggandengnya.
Dinda dan Robert berdiri di depan resepsionis.
"Pak Wawan, pak yoga dan kau Riska cepat kemari." panggil Robert mereka pun langsung datang menghampiri dan melihat Dinda yang berdiri disebelah Robert, mereka langsung menunduk.
"Apa yang kalian lakukan pada adikku? dia marah besar dengan ulah kalian."
"Maafkan kami pak, kami tidak tahu kalau nona ini adik bapak." jawab Riska.
"Apakah kalian juga, seperti ini dengan tamu yang lain," tanya Dinda dengan ketus dan mereka menggelengkan kepala sedangkan Robert hanya tersenyum.
"Mungkin hari ini hari sial mu adik kecil."Robert berbisik di telinga Dinda membuat Dinda makin naik pitam.
"Maafkan kami nona, tolong jangan pecat kami."
"Aku tidak akan memecat kalian tapi aku akan menghukum kalian atas perbuatan kalian padaku. Kalian pak scurity jalan jongkok sepuluh kali dari sini sampai ke depan dan anda mbak resepsionis pel lantai ini sampai bersih." Perintah Dinda
Setelah Dinda puas menyaksikan mereka menjalankan hukuman. Dinda pun meminta Robert untuk mengajaknya makan siang. Robert menyetujuinya tapi Robert membawa Kekasih nya untuk ikut serta membuat Dinda punya rencana untuk berulah.
Mereka pun sampai disebuah restoran yang menyajikan aneka makanan pedas, karena Dinda ingin makan makanan pedas, membuat Robert, Fita, pak Aldi saling memandang apalagi menu yang di pesan dengan dinda mencapai level sembilan.
"Din, jangan makan makanan yang pedas ya, kasihan baby nya nanti nangis."bujuk Robert, sebab dia ragu bisa makan pedas.
"Anakku yang memintanya, jadi aku harus menuruti keinginannya."jawab Dinda.
"Tapi aku gak bisa makan pedas."saut Fita.
Makanan pun datang, dengan berbagai menu makanan pedas yang di pesan. Semua menu di pilihan Dinda dan tidak ada yang di izinkan memilih tingkat kepedasannya.
"Ayo kita makan." ajak Dinda namun mereka tidak menyentuhnya.
"Cepat makan, aku berteriak disini kalau kalian tidak memakannya."
"jangan teriak, baiklah kami akan memakannya dengan senang hati."
Dengan segera mereka pun ikut makan, walaupun makan sambil berkeringat membuat Dinda sangat puas, menyaksikan mereka yang kepedasan.
Dinda pun menikmati makan dengan santai, entah kenapa ia sangat ingin makan pedas dan itu membuatnya sangat puas.
" Din, kenapa kau juga menghukum kami, ini sangat menyiksa,"ucap Robert, dan Dinda memandang Robert yang kepedasan kelihatan dari dia sudah habis beberapa gelas minuman, pak Aldi yang lebih kuat walau keringatnya keluar dari setiap pori-pori, dan yang membuat Dinda lebih puas melihat Fita yang sampai mengeluarkan air mata karena kepedasan.
Setelah selesai makan, Dinda meminta untuk di antarkan pulang. Dan seperti biasa saat Dinda pulang selalu memastikan keadaan suaminya terlebih dahulu.
"Sudah pulang sayang?" tanya Sultan dah Dinda pun mengangguk sedangkan perawat sedang memberikan makanan lewat selang.
"Sudah mas, maaf agak lama."
Setelah perawatan selesai mengurus Sultan, mereka segera pergi dan Dinda merebahkan tubuhnya di samping Sultan dah memeluk suaminya yang tinggal tulang dan kulit.
"Mas, tau gak? anak kita ini mintanya yang aneh-aneh."
"Oya, memang anak kita nie minta apa, coba katakan."
"Masa mas, dia minta ibunya makan makanan paling pedas, setelah makan rasanya sangat puas sekali."
Sultan pun mengusap perut istrinya,"sayang jangan buat mamamu menderita, jangan menginginkan yang aneh - aneh, bagaimana kalau mamamu sakit, nanti papa sedih. Lihat lah papa sudah gak berdaya, bagaimana bisa mengurus mamamu kalau saki," Sultan bicara dengan anak dalam perut Dinda sambil dengan mengelus Dinda yang mulai terlihat.
"Mas bertahanlah, untuk ku dan anak kita,aku gak ingin kehilangan mas,aku sangat mencintai mu mas."
"Tenang lah sayang, dimana pun mas berada nanti, aku akan tetap ada dekat mu, jika umur ku habis aku akan menunggu sampai kita bertemu di surga nanti."ucap Sultan membuat Dinda makin menjadi menangis.
"Jangan katakan itu mas, Aku belum siap kehilangan mas, aku masih ingin bersama mas membesarkan bayi kita yang pastinya sangat lucu. Lihatlah dia sudah mulai tumbuh mengharap ayahnya menunggu kelahiran nya
Apa mas bisa melihatnya?"
"Iya sayang, aku bisa melihat. Anakku Papa akan berusaha bertahan menunggu kelahiran mu, papa ingin melihat mu walau pun hanya sekejap mata, papa akan sangat bahagia pastinya saat pertama kali papa bisa mendengar tangisanmu dan juga wajahmu."
"Sayang jaga, selalu anak kita, hanya dia yang bisa aku titipkan padamu, suatu hari jika iya tumbuh besar, kata kan padanya kalau papanya Sangat mencintai nya."
"Iya mas, aku janji akan selalu memenuhi hari-hari nya dengan cerita tentang papanya yang sangat sayang padanya."
"Jadilah ibu yang terbaik untuknya, mas yakin sayang bisa mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Jangan pernah merasa lelah, jangan pernah mengeluh kerena lelah mendidiknya, ingat sayang dia akan menjadi penyemangat dan pelipur lara disaat kamu lelah akan semuanya. Didiklah iya dengan cinta, bimbinglah dia disaat dia jatuh, tunjukan jalan jika dia tersesat. hanya itu pinta mas semoga sayang bisa memenuhi nya."
"Aku janji mas, akan ku ingat semua pesan mas, aku akan mendidiknya seperti yang mas inginkan, aku pasti bisa membuat mas bangga."
Mendengar semua janji istrinya, Sultan pun tersenyum sambil mengusap pucuk rambut istrinya.
"Sekarang sudah waktunya aku untuk istirahat dengan tenang, Aku sudah lelah dan aku ingin tidur untuk tidur sejenak. Dinda, Mas sudah boleh tidur kan? Mas ingin tidur dengan nyenyak karena sudah memastikan kamu pulang dan baik-baik saja." Sultan pun berlahan menutup mata.
"Iya mas, tidurlah yang nyenyak, aku kan menjaga mas disini." Dinda pun mengecup kening suaminya dan memeluknya.
...To be continued ☺️☺️☺️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
wah, ada2 j ngidammu, Din.
smpai ngrjain kkakmu dan yg lain. 🤭
2022-10-25
1
Kurniaty
Apakah peran sultan cuma figuran saja disini & digantikan dengan raja?
Sukses thoor & lanjut.
2022-10-25
1