Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit, dan segera menuju bangsal tampar Sultan di rawat.
Di saja, Mahendra dan Dinda masih terjaga, menunggu Sultan yang tak kunjung sadar.
"Pa,... Kak Raja sudah ada di sini." ucap Pangeran dan seketika Mahendra menoleh dan matanya tertuju pada sosok pria yang berdiri di samping Pangeran, laki-laki sudah puluhan tahun tak ia temui.
"Raja."
"Pa...." kata yang diucapkan Raja untuk pertama kali saat bertemu dengan papanya. Mahendra pun langsung menghampiri memeluk erat Raja, melampiaskan rasa rindu yang tak terbendung.
"Anakku Raja. Papa rindu nak, lihatlah saudaramu sekarang sedang terbaring Koma."
"Iya, Pangeran sudah cerita Semua nya." Raja pun menghampiri Saudara kembarnya Sultan yang kini tengah berjuang.
"Sultan, bangunlah. Apa kamu tidak mau menyambut kedatanganku. Aku jauh-jauh datang dari Amerika hanya ingin bertemu denganmu. Tapi Kenapa kamu malah tidur, bangunlah Sultan. Aku membawa banyak cerita untukmu." Ungkap Raja, seraya menggegam tangannya.
Dinda yang baru keluar dari toilet, segera di hampiri Pangeran untuk menyerahkan pesanannya.
"Kakak ipar ini pesanan kakak." Pangeran memberikan kantong plastik yang berisi mangga muda itu,
"Akhirnya aku mendapatkannya. Terimakasih Pangeran."
"Apa itu nak ?" tanya Mahendra penasaran.
"Kakak ipar minta dibelikan mangga muda pa, kaya lagi ngidam. Kan kalau orang ngidam biasanya pasti pengen mangga muda, he.. he... Setau Pangeran sih." Sautnya.
"Apa benar kamu ngidam Din?"
"Gak pa, Aku cuma pengen aja."
"Oh. Ya sudah. Papa kira tadi-"
Pandangan Dinda langsung teralihkan ketika melihat sosok pria yang berdiri di sisi Suaminya dan membelakangi dirinya.
Mahendra tahu, Dinda tengah bertanya- tanya, dan segera memanggil Raja untuk di kenalkan pada Dinda.
"Raja, kemarilah ada yang ingin papa kenalkan padamu." Mahendra memanggil dan Raja pun membalikkan tubuhnya. Dinda terkesiap saat Raja membalikkan tubuhnya dan langsung saja memperlihatkan wajahnya kantong plastik yang ada di tangannya langsung lolos begitu saja dan jatuh kelantai, mangga muda yang baru dibelikan pangeran langsung terhambur ke lantai.
"Dinda, Kenalkan ini Raja saudara kembar Sultan, yang pernah aku ceritakan padamu waktu itu." Jelas Mahendra membuat Dinda memundurkan langkahnya, masih belum percaya jika saat ini ia tengah melihat bayangan suaminya yang tengah berdiri tak jauh darinya.
Dinda tak mau menyapa, dia malah melangkah menghampiri suaminya dan memalingkan wajahnya dari Raja.
"Raja, itu Dinda istrinya Sultan. Maaf jika Dinda tidak menyambut mu dengan baik, dia masih terpukul dengan keadaan Sultan. Papa harap kamu bisa mengerti." jelas Mahendra dan Raja pun mengangguk.
"Jangan diambil hati kak Raja, kakak ipar itu baik kok orangnya." Saut Pangeran mencoba membela kakak iparnya itu.
Sultan dan Raja mereka kembar identik yang membuat wajah mereka sangat mirip. Namun sayangnya keduanya sekarang jauh berbeda, Sultan tubuhnya kurus kering sedangkan Raja tubuhnya sangat atletis dengan penampilan yang sangat rapi.
*****
Selama beberapa hari, Raja selalu menemani Dinda menjaga Sultan, sedangkan Mahendra sibuk mengurus pekerjaan Sultan yang terbengkalai.
Sepanjang hari Dinda tak pernah menyapa Raja dengan sepatah katapun. Dan setiap bertemu Dinda selalu memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Bayangan suaminya. Mungkin jika Sultan sehat Dinda akan menyambut Raja dengan senang hati.
Melihat Dinda selalu menangis setiap melihat Raja, membuat Raja kesal dan kadang lebih memilih mengenakan penutup wajah agar Dinda tak melihat wajahnya dan akan menangis lagi dan lagi.
"Makanlah."Raja memberikan satu kotak makanan yang baru ia beli dari luar. "Aku lihat mu beberapa hari ini makan mu sangat tidak teratur. Jika Sultan tahu dia pasti akan memarahi ku karena membiarkan kamu kelaparan."
"Tidak. Aku tidak mau, aku sedang tidak lapar." jawab Dinda dan menolak pemberian Raja.
"Jika kamu tak mau makan akan dilaporkan pada Raja tentang ulah mu yang menyiksa diri sendiri."ancam Raja membuat Dinda tak berkutik.
Dinda pun membuka makanan pemberian raja dan memakannya sedikit demi sedikit, walaupun terasa sangat sulit untuk menelannya.
"Dengarkan aku, sudah beberapa hari aku menahan ini. Aku sangat muak melihatmu menangis saat aku datang. Dengarkan, aku Raja bukan Sultan suamimu. Aku kesini karena saudara ku sedang sekarat bukan untuk melihatmu yang selalu menangis. Jadi tolong jangan membuatku tambah muak." Raja pun tak sengaja membentak Dinda.
Bukannya mengerti maksud Raja, Dinda malah kembali menangis, membuat Raja serba salah.
"Maaf, jika aku membuatmu muak, tapi aku membencimu yang sudah menjadi bayangan mas Sultan. Jika kamu tak suka maka jangan melihatku." jawab Dinda dengan terisak.
"Baiklah, terserah apa mau mu. Yang aku pinta, tolong jangan lagi menangis saat melihat ku. Atau aku akan melakukan sesuatu padamu." Ancam Raja.
Dinda pun berdebat dengan Raja sampai lelah rasanya dan Dinda pun memilih tidur daripada harus berdebat tanpa ujung.
Dalam tidurnya Dinda pun bermimpi, merasakan suaminya menyelimuti tubuhnya yang kedinginan dan mengusap kepalanya seperti yang sering Sultan lakukan.
"Terimakasih mas, sudah menjaga ku selama ini. Mas berjanjilah padaku sekali lagi, mas tak kan tinggalkan aku. Aku belum siap kehilangan mu mas. Aku belum siap jadi janda. Aku mencintai mu mas."Ucap Dinda kala mengigau dan memegang tangan Sultan tak ingin di tinggalkan.
...To Be Continued ☺️☺️...
jangan lupa tinggalkan jejak
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
Kurniaty
Semoga sultan cepat sadar dari komanya.
Sukses thoor & lanjut
2022-10-25
0
Umine LulubagirAwi
yg jelas dinda sgt sedih.
sultan dan raja jelas2 berbeda sftnya.
2022-10-22
1