Julia tampak mengamati peta dengan sangat seksama.
"Hey apa yang kau lakukan?" tanya August.
"aku akan mencari rute di mana kemungkinan besar ada gua disana" kata Julia.
"tidak perlu, kita akan pulang besok" kata August mengambil peta dari tangan Julia, melipatnya lalu menyimpan ke dalam ransel lalu kembali merebahkan diri.
"ada apa, bukankah kau sangat ingin mencarinya?" tanya Julia.
"tidak apa-apa, aku sudah tak ingin mencarinya lagi." kata August.
"kau ini sangat aneh." kata Julia lalu merebahkan dirinya juga di samping August.
"ngomong-ngomong apa yang akan kau lakukan setelah lulus nanti?" tanya August.
"aku tak tau, ayahku menyuruhku untuk meneruskan kuliah memperdalam ilmu bisnis di luar negeri, tapi aku tak ingin pergi." kata Julia.
"Mengapa kau tak ingin pergi?" tanya August.
"aku tak ingin berpisah darimu." ucap Julia.
"seharusnya kau pergi agar nanti kembali bisa membuka perusahaan dan menjadi bos paling kejam di seluruh Royan." kata August.
Julia tertawa kecil.
"bagaimana denganmu?" tanya Julia.
"aku belum memikirkannya." kata August.
"kau ini dari dulu tak pernah berubah." kata Julia.
dalam hati August berpikir bahwa hidupnya sudah berubah drastis setelah bertemu dengan pria berbaju perang. bahkan perubahan itu membuat August tak mengenali lagi dirinya sendiri. ia pun memikirkan perkataan wanita di sungai itu bahwa akan ada orang-orang yang ingin membunuhnya. ia lalu teringat wanita bertombak emas yang ingin membunuhnya. apakah wanita itu salah satu yang dimaksud oleh Lyra.
August tersadar dari lamunannya ketika merasakan kecupan kecupan menjalar dari wajah, leher terus turun hingga di bawah pusarnya. Ia melihat Julia sangat sibuk di sana. setelah beberapa menit August pun memperlakukan Julia dengan serupa.
Malam semakin larut, kabut mulai turun perlahan menyelimuti hutan. hawa dingin pun mulai terasa menusuk tulang. namun di dalam tenda terasa sangat panas. suara binatang malam bersahut-sahutan diselingi erangan Julia.
Sementara itu sudah hampir empat jam Hedya mengemudi mengikuti mobil yang ditumpangi Logos. kini mobil itu membawanya ke daerah terpencil di pinggiran kota Royan, kawasan itu sangat kumuh benar-benar sebuah tempat yang terabaikan.
Hedya menghentikan mobilnya di tempat yang sedikit gelap, sekitar tiga ratus meter dari bangunan dimana mobil yang diikutinya itu berhenti.
Ia mengambil teropong dari balik dashboard lalu mulai mengamati, teropong itu di lengkapi dengan night vision membuat Hedya melihat dengan jelas wajah wajah yang berada di sana.
Bangunan itu hanya terdiri dari dua lantai. namun penjagaannya di sana sangat ketat. terlihat empat orang di setiap sudut atap bangunan itu memegang senjata api laras panjang, sementara di luar gedung terlihat sepuluh orang dengan pistol di balik baju atau terselip di pinggangnya. Hedya menyimpulkan masih ada lagi penjaga yang berada di dalam bangunan itu di setiap lantainya.
Hedya lalu mengamati sekeliling bangunan itu. ia menemukan bar, motel yang cukup luas, serta beberapa studio tattoo. Hedya menyalakan mesin mobilnya ia memutuskan untuk pergi ke motel tersebut.
Motel itu terdiri dari dua lantai, bangunannya berbentuk letter L, jaraknya hanya dua puluh meter di seberang bangunan tempat Logos berada. Hedya mengambil pistol glock dan teropong miliknya memasukan ke dalam tas punggung. lalu berjalan menuju recepsionis untuk memesan kamar di lantai dua.
Hedya memasuki kamar yang telah ia pesan, ia lalu memeriksa sekeliling, setelah yakin tak ada kamera tersembunyi atau alat sadap di kamarnya. ia kembali mengamati bangunan itu kembali. selama tiga puluh menit tak ada aktifitas yang mencurigakan, jendela bangunan itu pun tertutup rapat membuat Hedya kesulitan mengetahui apa yang terjadi di dalam.
Beberapa saat kemudian ia melihat lelaki dengan luka di wajahnya itu keluar dari bangunan dan berjalan menuju bar. Hedya mengganti pakaian dengan mini dress neckline dengan bagian bawah yang longgar yang tak membuat kesulitan bergerak ketika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. ia meninggalkan pistol glock di kamarnya mengganti pistol kecil seukuran telapak tangan yang ia masukan dalam tas kecil. Hedya pergi menuju bar.
Hedya memasuki bar ia hanya mengamati sebentar, ia menemukan lelaki itu duduk di depan meja bartender. ia pun berjalan ke meja itu dan duduk berjarak tiga kursi dari lelaki itu.
"berikan aku whiskey!" pinta Hedya kepada bartender.
Bartender lalu menuangkan whiskey ke gelas yang sudah ia persiapkan di depan Hedya. Hedya lalu meminum habis dengan beberapa tegukan.
"Tuangkan lagi..!" kata Hedya.
bartender itu mengikuti permintaan Hedya. Hedya menghabiskan gelas kedua dengan cara yang sama.
"Tuangkan lagi..!" kata Hedya dengan ekspresi terlihat mabuk.
apa yang di lakukan Hedya menarik perhatian Logos.
"tinggalkan botolnya, aku yang akan membayarnya." kata logos lalu berjalan dan duduk di samping Hedya yang sudah terlihat mabuk.
"aku akan menemanimu minum." kata logos.
Hedya sebenarnya tidak mabuk, entah kenapa tubuhnya sangat kuat terhadap alkohol, namun setelah mendengar perkataan kapten Sanders bahwa ia adalah keturunan bumi dan proxima, dan orang proxima lebih kuat ia akhirnya menemukan penjelasan logis. walau ia masih belum percaya sepenuhmya.
Hedya sengaja berpura-pura untuk menarik perhatian Logos, dan rencananya berhasil.
"aku mampu membayar sendiri, aku tak butuh di temani, kau sama seperti dia bajingan, Enyahlah." Kata Hedya.
Logos tak menanggapi ucapan provokasi Hedya. dia hanya tertawa. sementara Hedya mengangkat botol whiskey dengan susah payah mencoba menuang ke dalam gelasnya, namun ia menuang whiskey itu di luar gelas. Logos melihat itu memegang tangan Hedya, dan membantu menuangkan ke gelasnya.
"Kau sudah mabuk, Jangan minum lagi." kata Logos.
"aku tidak mabuk." kata Hedya lalu menampar pipi Logos.
Logos tersentak ia ingin menampar wanita itu. tetapi Hedya berkata "Di pipimu ada kelabang"
Logos malah tertawa mendengarnya. ia sangat yakin wanita ini benar-benar mabuk.
Logos merangkul Hedya.
"siapa namamu cantik?" tanya Logos.
"Hedya"
"perkenalkan aku Logos"
"kau seperti bukan berasal dari sini, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Logos.
"aku ingin membunuh orang" kata hedya.
Logos mengangkat alisnya sedikit terkejut.
"siapa yang ingin kau bunuh" tanya Logos
"Bajingan itu dan pelacurnya" kata hedya.
Logos akhirnya mengerti bahwa wanita yang bersamanya ini adalah korban dari pasangannya yang berselingkuh. ia mempercayainya karena ia yakin alkohol mampu mengungkap isi hati seseorang.
"bagaimana kau ingin membunuhnya?" tanya Logos.
Hedya menunjukan tas kecilnya kepada Logos. di dalam tas kecil itu terdapat pistol kecil.
Rangkulan Logos semakin erat, ia pun mengangkat dagu Hedya.
"Bagaimana bila aku membantumu membunuh bajingan itu?" tanya Logos.
"Benarkah kau akan membantuku?" tanya Hedya tersenyum walau hatinya merasa jijik.
"Ya tentu saja, kau punya poto bajingan itu?" tanya Logos.
"aku akan mengambilnya" kata Hedya.
Hedya bangkit dari duduknya. ia terlihat sempoyongan dan ingin terjatuh, Logos dengan sigap menahannya, Hedya dengan reflek berpegangan ke pundak Logos, ia menyelipkan sesuatu di balik kerah Logos.
"Berhentilah bermain master akan segera tiba." kata seseorang yang tiba-tiba muncul di dekat mereka.
Orang itu bertudung hitam, tertunduk, wajah dan kulitnya terlihat putih pucat.
"kau tak usah khawatir Mordo, aku hanya bersenang-senang." kata Logos.
Hedya terkejut mendengar Logos memanggil orang itu Mordo. pikirannya berkecamuk.
Mordo? bukankah kapten mengatakan pembunuh ayahku bernama Mordo?
Apa dia pembunuh ayahku?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments