August terkejut melihat kemunculan Aruna. terlebih Aruna saat ini mengenakan bikini model monokini berwarna hitam menutupi tubuhnya yang putih mulus.
August seperti bermimpi, di hadapannya kini ada dua wanita sexy sedang menemaninya.
"Bu.. bukan, dia temanku." jawab August gugup.
Tentu saja Aira dan Aruna saling mengenal, namun mereka berpura-pura tak saling kenal di hadapan August.
August lalu berdiri mengenalkan mereka berdua.
"Aruna ini Aira teman kuliahku"
"Aira ini Aruna sepupu Rafael"
Aira menjabat tangan Aruna tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Bolehkah aku bergabung dengan kalian?" tanya Aruna.
August melirik Aira, hanya mengangguk dengan senyum masam di wajahnya.
"ten.. tentu" jawab August masih dalam keterkejutannya. lalu ia bergeser untuk memberi ruang Aruna untuk duduk.
Aruna lalu duduk disamping August.
Hening.
August tak menyangka kembali bertemu Aruna di tempat ini.
"mengapa kau ada disini?" tanya August mencoba mencairkan suasana.
"Bukankah aku pernah bilang padamu, aku ingin liburan di kota ini." kata Aruna.
"dengan siapa kau kesini" tanya August.
"sendiri." kata Aruna.
"apakah Rafael tau kemana kau pergi." tanya August.
"tidak ada urusan dengannya." jawab Aruna dingin.
Aira yang kini mulai menjadi penonton mulai terlihat kesal.
"Hey.., August bisakah kau memesan makanan lagi untukku.., perutku masih lapar sampai-sampai ingin memakan orang" pinta Aira sambil melirik ke arah Aruna.
"Baiklah, aku juga perlu ke toilet sebentar." kata August.
August beranjak pergi meninggalkan kedua wanita cantik itu yang kini saling menatap tajam.
"apa yang lakukan disini?" tanya Aira dingin.
"sudah kubilang aku ingin liburan" jawab Aruna.
"kau pikir aku percaya omong kosong yang kau katakan padanya?"
"jangan coba-coba mengganggunya." ucap Aira.
"atau apa?!" kata Aruna dengan sinis.
"Kau sangat bodoh Aira, kau pikir mampu melindunginya seorang diri" kata Aruna.
"kau ingin bertarung? akan kulayani!" kata Aira yang mulai tersulut emosi.
"Hmm.. aku akan membantumu melindunginya.!" kata Aruna.
"orang yang ingin membunuhnya tiba-tiba ingin melindunginya, bukankah itu terdengar konyol?" kata Aira tak percaya.
"berikan alasan mengapa aku harus percaya padamu?" tanya Aira kembali.
"aku tak peduli kau percaya atau tidak, aku sudah memutuskan untuk melindunginya." kata Aruna.
"aku tak butuh bantuanmu" kata Aira.
"apa telingamu bermasalah? aku berkata ingin melindunginya bukan membantumu" kata Aruna.
"kekuatan kristal itu terbangun." kata Aruna.
"Apa..!" Aira terkejut.
"beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan di taman kota, ia berhasil menyelamatkan dua orang anak dari kematian"
"aku tak perduli ia menyelamatkan siapa, tapi bagaimana cara ia menyelamatkan kedua anak itu membuatku heran." kata Aruna.
"apa maksudmu?" tanya Aira.
"ia bergerak melebihi kecepatanku, aku tidak bisa melihat pergerakannya." kata Aruna.
"Tidak mungkin." Aira ragu namun tak menemukan kebohongan di wajah Aruna ketika mengatakannya.
"dia sepertinya mulai menyadari ada sesuatu dalam dirinya." kata Aruna.
"Tunggu.. apakah kau tau di mana tempat kristal itu memilihnya?" tanya Aira.
"aku tak tau, oracle membawanya pergi, pastinya di hutan kota ini."
Jadi itu alasannya ia ingin kembali. Aira pikir.
"kekuatan dalam tubuhnya sudah terbangun, tubuhnya mungkin baru menyerap beberapa persen dari kekuatan itu, akan sangat berbahaya bila ia sudah mengetahuinya tapi belum bisa mengontrolnya, mereka akan mudah menemukannya." kata Aruna.
"kau belum menjawabku mengapa kau memutuskan untuk melindunginya?" tanya Aira.
"Jika dia berhasil menguasai kekuatan itu, petarung-petarung dari proxima bukan tandingannya walaupun mereka menyerang bersama termasuk klan armeda." kata Aruna.
"Apa..!" Aira tercengang.
"Apakah kau khawatir bila nantinya ia menjadi bumerang lalu menghancurkan proxima?" tanya Aira.
"Aku sempat berpikir seperti itu, namun peristiwa di taman itu merubah pandanganku." ucap Aruna lalu mengalihkan pandangannya ke laut lepas.
"ada apa Aruna? tanya Aira.
"ia tak mengetahui di tubuhnya ada kekuatan, ia tetap menolong kedua anak itu, ia berkorban untuk orang yang bahkan tak dikenalnya."
"aku berpikir tindakannya memicu kekuatan itu menjadi aktif."
"aku teringat ucapanmu, aku ingat kau mengatakan pasti ada sesuatu mengapa kristal itu memilih orang dari dunia ini." kata Aruna kini aku mengerti.
"dengar Aira aku tak peduli perpecahan armeda, kau butuh bantuan dan hanya aku saat ini yang bisa membantumu, jika kau masih keras kepala kau hanya akan mati sia-sia." kata Aruna.
"Baiklah.. Mari berteman." Aira mengulurkan tangannya.
"kita berteman." Aruna menjabat tangan Aira.
"Maaf, aku harus pergi." kata Aruna. namun ketika ia berdiri untuk pergi August datang menghadangnya.
"Tidak ada yang boleh pergi, aku sudah memesan banyak makanan dan sudah membayarnya, kalian berdua harus habiskan, atau aku akan menyuapi mulut kalian berdua dengan tanganku." kata August menekan pundak Aruna untuk duduk.
Aira tertawa, sementara Aruna kembali duduk pasrah.
"Kau.." Aruna.
August sangat ingin bicara dengan Aruna tentang apa yang terjadi di taman itu. tapi tak punya kesempatan. namun kehadiran Aruna yang kebetulan muncul saat ini membuat ia mengingat kembali. ia pun tak akan menyianyiakan kesempatan ini, ia tak akan membiarkan Aruna pergi. Aruna sendiri pasrah akhirnya mengikuti mereka berdua.
"Hey Aruna tolong oleskan suncream untukku." pinta Aira.
"oleskan sendiri" jawab Aruna.
"jahat sekali, August mau kah mengoleskannya?" tanya Aira.
"a.. aku?" tanya August.
"cepatlah" pinta Aira.
glek. August menelan ludah.
August memang suka menggoda wanita namun ketika wanita tersebut menggodanya kembali ia selalu salah tingkah. itulah yang ia alami bersama Julia.
dengan tangan gemetar ia mengoleskan suncream pada punggung dan kaki Aira.
"terima kasih, hey August oleskan juga pada Aruna" kata Aira.
"Hah..!" August dan Aruna serempak.
"tidak perlu." jawab Aruna.
"kulitmu yang mulus itu nanti terbakar, bila itu terjadi tak ada lagi lelaki yang mau mendekatimu, kau akan melajang, sampai mati" ucap Aira yang memang berniat untuk menggoda wanita berhati dingin seperti Aruna.
"baiklah, baiklah" ucap Aruna kesal ia lalu menelungkupkan badannya.
"cepat lakukan" kata Aruna dingin.
"ba.. baik." ucap August.
kini beban besar dari Aruna berpindah ke August. mengoleskan ke punggung Aira saja sudah membuat tangannya gemetar, sekarang ia harus melakukan hal sama kepada wanita yang sangat dingin itu.
August duduk di samping Aruna yang telungkup. ia lalu menekan lotion yang ada di tangannya. rasa gugup yang teramat besar membuat ia terlalu kencang menekan lotion hingga cairan lotion tersebut mememuhi tangannya dan jatuh di bokong aruna.
Aira pura-pura tak melihat, ia segera mengalihkan pandangannya ke laut lepas menahan tawa.
sial aku mengacaukannya. batin August.
August lalu mengusap punggung Aruna perlahan, sambil memikirkan apakah harus mengusap lotion yang terlihat di bokong Aruna yang putih berkilau itu.
ia lalu melanjutkan dengan mengusap kakinya. dalam hati August bersenandung. apa yang terjadi terjadilah..
Ia pun mengusap lotion yang tertumpah di bokong Aruna. Wajah Aruna memerah merasakan bokongnya di pijat dan di remas. ia bingung bila ia meninju August saat ini, Aira pasti menertawakannya, bila ia diam.., akhirnya Aruna membiarkannya seolah tak terjadi apa-apa.
August tak berani lama-lama melakukannya. ia tau akibatnya jika terlalu lama membuat kepalanya pening.
"sudah selesai" kata August.
Aruna lalu bangun tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Aira berpura-pura mengambil minuman di sampingnya dan menatap August dan Aruna.
"Hey mengapa wajah kalian memerah?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Muliadi Harahap
lanjutkan thor jngn lupa up doublenya ya
2022-10-26
1