Satu minggu kemudian. sabtu pagi.
August masih memikirkan kejadian yang menimpanya. hal ini mengganggunya. pikiran hanya bisa teralihkan hanya ketika berada di dekat Julia.
tok tok tok. pintu kamar August di ketuk.
"tidak dikunci" kata August.
pintu dibuka.
"Julia datang mencarimu" kata ayah August.
"tunggu sebentar" ucap August.
Julia berjalan memasuki rumah. melihat August masih mencari pakaiannya, ayah August menyambut Julia.
"permisi paman aku mencari August" kata Julia sopan.
"Masuklah.. tak perlu sungkan, si pemalas itu masih di kamarnya."
"Maaf aku tak bisa menyambutmu lama-lama, aku harus segera ke pabrik" kata ayah August.
"baik paman terima kasih, ucap Julia.
Ayah August segera memasuki mobilnya lalu pergi. Kedua orang tua August bukankah orang berada, ayahnya hanya buruh pabrik, dan ibunya bekerja sebagai koki di sebuah restoran kecil.
Julia tak menemukan barang-barang mewah di didalam rumah tersebut, hanya sebuah lukisan usang dan foto keluarga di dinding.
August mengambil pakaian tergantung untuk ia kenakan, ketika sepasang tangan memeluknya. ia merasakan sengatan listrik sesuatu yang lembut menekan punggungnya.
"Hey siapa yang mengizinkanmu masuk?" kata August. membalikan badannya.
"Tidak ada." jawab Julia.
"apa kau pencuri?" tanya August.
"apa kau akan melaporkanku ke polisi?" Julia balik bertanya.
"Tidak. aku hanya akan menghukummu!" jawab August.
"bagaimana kau menghukumku?" tanya Julia.
August menarik pinggang Julia mendekapnya dan menciumnya. ia melepaskan ketika Julia sudah mulai
kehabisan nafas.
"Apakah ada sesuatu hingga kau menemuiku sepagi ini?" tanya August ia duduk di pinggir ranjang lalu merebahkan dirinya.
Julia duduk disampingnya.
"apakah aku harus mempunyai alasan untuk menemuimu? aku hanya ingin bersamamu" jawab Julia cemberut
"maafkan aku!" kata August.
Julia ikut merebahkan dirinya di samping August.
memandangi langit-langit kamar.
"aku ingin bertanya padamu" kata Julia.
"katakan!" jawab August.
"waktu kita di tepi danau mengapa kau menanyakan tentang gua di hutan Royan?" tanya Julia penasaran.
"aku belum bisa cerita banyak untuk saat ini, tapi aku merasa apa yang menimpaku ada hubungannya dengan hutan tersebut?" kata Julia.
"apa maksudmu?"
"bagaimana kau tau ada gua di hutan itu, apa kau pernah kesana?" tanya Julia
"aku tak tau, sebagaimana aku tak tau alat dokumentasi Mr. Jeremy bisa berada di tendaku?" kata August.
"Maksudmu?!" Julia terkejut.
"Bukan aku yang membawa alat itu!" kata August.
"apa? lalu siapa?" Julia bingung dengan pernyataan August.
"Pertanyaanmu itu juga pertanyaan yang ingin aku tau jawabnya" kata August.
hening.
"Baiklah, kita akan mencari gua itu berdua." kata Julia.
"Tidak. aku akan mencarinya sendiri." kata August
Julia menarik pipi August agar melihat ke arahnya.
"kau pikir aku akan membiarkanmu pergi kesana sendiri? apa kau punya pengalaman? apa kau bisa membaca navigasi? apa kau tau peralatan yang harus di bawa? apa kau tau..."
"ok.. ok.. kita cari berdua." ucap August tak tahan dengan mulut Julia tak berhenti bicara.
"lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Julia.
"menyiapkan perbekalan untuk pergi kesana" jawab August.
"maksudku, apa yang 'akan' kita lalukan sekarang?" Julia dengan senyum nakalnya.
August mengangkat alisnya. langsung merespon dengan ******* bibir Julia. ciuman yang lembut perlahan mulai memanas tangannya bergerilya di balik baju Julia. meremas sesuatu benda lembut yang ada disana, membuat Julia semakin sesak. August melepaskan ******* bibirnya membiarkan Julia mengambil nafas panjang.
Julia harus nenerima serangan lagi ketika August menciumi lehernya, kecupan kecilnya terus turun ditambah tangan August yang sudah pindah gerilya di balik celana Julia. Julia mencoba bertahan, ia mencari pegangan, ia pun menemukannya, di balik celana August.
Hari masih pagi, namun cuaca terasa sangat panas, membuat mereka berkeringat karena kelelahan.
Belahan dunia lainnya. sebuah kuil. negeri Murcia.
"Lady Lyra seorang wanita yang mengaku bernama Oracle ingin menemui anda, dia menunggu di depan gerbang." ucap seorang penjaga.
"biarkan ia masuk" baik ketua.
Oracle berjalan di kawal dua penjaga memasuki kuil.
"semuanya tinggalkan kami" perintah Lyra.
Lyra melambaikan tangannya. pintu kuil tertutup dengan sendirinya. ia memejamkan matanya sesaat, lalu membuka matanya lalu muncul kubah seperti kaca transparan mengurung mereka berdua.
"Carrol mengabarkan Gorran telah mengetahui keberadaanmu di dunia ini, salah satu anak buahnya bahkan menemukan tempat persembunyianmu" kata Lyra.
"Dia mengutus Logos, anak itu juga sedang mencariku" kata Oracle.
"bagaimana mungkin kristal itu memilih orang dari dunia ini?" tanya Lyra.
"aku pun sempat ragu, tapi apa yang kulihat membuatku ketakutan, sebelum kekuatan itu masuk kedalam tubuhnya kristal itu membentuk tiga buah simbol sebuah perisai, burung phoenix dan Dark Elf!" kata Oracle.
"Da.. Dark Elf?" Lyra terkejut.
"apa artinya?" tanya Lyra.
"karena itulah aku kembali ke proxima untuk menanyakan kepada guru, guru pun terkejut mendengarnya, kami mencari dalam naskah kuno, hanya menemukan sedikit jawaban." kata Oracle.
"apa itu?" tanya Lyra.
"orang-orang mengetahui setiap seribu tahun sekali kristal itu akan memilih seorang ksatria dari dunia petarung, yang mereka tak tau bahwa setiap sepuluh ribu tahun sekali kristal itu memilih orang tak biasa." kami juga menemukan simbol perisai di naskah tersebut. itu adalah perisai cahaya." kata Oracle.
"Kau ingin aku mencari perisai itu?" tanya Lyra.
"tidak, perisai itu akan muncul dengan sendirinya. kau diminta oleh guru untuk melatih anak itu sebelum perisai itu muncul" kata Oracle.
"untuk apa aku melatihnya? banyak orang berbakat dari dunia ini berlatih di kuil ini, namun sekeras apapun mereka berlatih, tak ada artinya." kata Lyra.
Oracle terdiam matanya terpejam, tiba-tiba tubuhnya melayang, matanya berkedip-kedip. lalu tubuhnya kembali dalam menyentuh tanah.
"apa yang kau lihat?" tanya Lyra ia sudah tau seperti apa kemampuan Oracle.
"aku harus pergi" setelah mengatakan itu tubuh Oracle berubah menjadi tipis, mengeluarkan cahaya lalu menghilang.
"Tidak sopan." jika kau bukan adikku aku sudah memukulmu dari dulu. Lyra dalam hatinya.
Kota Royan.
Setelah berolahraga pagi hari yang panas. August dan Julia sepakat untuk mencari gua tersebut minggu depan. August hari ini berniat untuk menemui Mr. Borris untuk bekerja kembali. sebenarnya Mr. Borris sendiri masih khawatir dengan tragedi yang menimpa August. namun August bersikeras.
"Baiklah jika itu maumu, tapi aku tidak mengizinkanmu untuk mengirim barang, sementara kau hanya akan membantu memindahakan dan menyortirnya titik." kata Mr. Borris.
"terima kasih bos" kata August.
Siang itu August pun mulai bekerja, kadang ia menggunakan forklift kadang juga harus menggunakan kedua tangannya untuk memindahkan barang. dengan suasana dan rekan kerja yang menyenangkan pekerjaannya selesai lebih cepat. setelah memberikan laporan dan menerima pembayaran August berpamitan dengan Mr Borris dan lainnya pergi meninggalkan gudang tersebut menjelang sore.
August berjalan menuju supermarket untuk membeli sebotol minuman
Bip.. bip..
August membuka ponselnya. beberapa pesan dari Julia.
Rafael mengundang kita makan malam di Golden Lane Restaurant.
apa pekerjaanmu telah selesai?
Aku akan jemput di taman kota. kabari aku!
August membalas pesan Julia.
Baik, aku tunggu di taman kota.
Di taman kota hanya terlihat beberapa orang tua yang sedang menemani anaknya bermain. August duduk di bangku taman di dekat air mancur yang terletak tak jauh dari pintu masuk. dia melihat seorang ibu muda sedang membujuk dua anaknya untuk pulang. kedua anak yang terlihat kembar berusia sekitar tiga atau empat tahun itu berlari-lari kecil seolah-olah melarikan diri tak ingin pulang dan masih ingin bermain. August tersenyum melihatnya.
Tiba-tiba August merasakan punggungnya dingin, suasana hening mencekam. ia mengamati sekelilingnya, ia melihat sebuah truk fuso kehilangan kendali menabrak pembatas jalan meluncur ke arah pintu masuk taman menuju ibu dan dua anaknya yang sedang berjalan.
"AWAS...!" teriak August.
kedua anak itu tak menyadari bahaya di depannya sedangkan Ibu anak itu sangat terpaku melihat truk besar itu menuju kearah mereka.
Dalam sepersekian detik August merasakan bahaya itu, ia secara refleks berlari menangkap kedua anak itu.. keanehan terjadi.. truk itu seperti melambat. air mancur itu berhenti bergerak, air yang terpancar melayang jatuh. beberapa orang mematung, seolah-olah waktu berjalan melambat. ia melihat ibu itu masih terpaku, tiba-tiba ada sesorang yang mendorongnya.
Setelah ibu itu selamat keadaan menjadi normal kembali. truk itu menabrak beberapa fasilitas permainan anak. sebelum berhenti. air mancur kembali terpancar. Ibu dan kedua anaknya saling menghampiri mereka menangis.
August kini memandang seorang wanita yang juga sedang memandanginya. ia terlihat cantik, rambutnya panjang terurai hampir sepinggang. di tangan kirinya terdapat gelang mutiara berwarna biru. wanita itu tersenyum. August membalas.
"Tunggu" pinta August yang melihat wanita itu berbalik pergi.
wanita itu menghentikan langkahnya.
"ada apa" tanya wanita itu dingin.
"ada yang aku ingin tanyakan padamu" kata August.
"sebaiknya kau ambil dulu barang-barangmu sebelum ada yang mencurinya." kata wanita itu.
"baik, tolong tunggu disini aku akan segera kembali" kata August.
ketika August ingin kembali mengambil barang-barangnya ia tercengang, jarak dari bangku taman ke tempat ia menyelamatkan anak itu sekitar dua puluh meter. bagaimana mungkin ia berlari secepat itu.
setelah ia mengambil barang-barangnya. ia mencari wanita itu namun sudah menghilang. ia pun berjalan keluar taman setelah polisi dan ambulan tiba di area tersebut.
tin.. tin.. tin..
terdengar klakson, August menoleh Julia tiba menjemputnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments