"Master.." ucap seorang lelaki dengan bekas luka diwajahnya.
"Mengapa kau kembali?" Lord Gorran bertanya kepada Logos.
Logos tak menjawab dia hanya menatap sekeliling.
"Tinggalkan kami" perintah Lord Gorran kepada para pengawal.
segera sepuluh pengawal di ruangan besar itu memberi hormat lalu pergi.
"katakan" ucap Lord Gorran.
"Kristal itu sudah menemukan pemiliknya" kata Logos.
"APA" Lord Gorran tersentak lalu memukul meja didepannya, meja itu hancur.
Logos membungkuk.
"Apa kau yakin?" tanya Lord Gorran memastikan.
Logos mengeluarkan serpihan berlapis emas yang ia temukan di dalam gua lalu menyerahkannya kepada Lord Gorran.
Lord Gorran mengambil serpihan itu melihatnya lalu meremasnya menjadi debu.
"Apa anak itu sudah tau?" tanya Lord Gorran.
"Belum, dia tak melawan ketika ditangkap." jawab Logos.
"Bunuh anak itu"
"Aku menunggu puluhan tahun demi kristal itu, dan sekarang lenyap begitu saja" amarah membuat urat-urat di seluruh tubuh menyembul keluar.
"Tunggu Master, masih ada satu cara lagi untuk mendapatkan kekuatan itu, namun resikonya sangat besar." pria bertudung semenjak tadi diam mulai bersuara.
"Katakan" jawab Lord Gorran kepada pria bertudung yang ternyata bernama Mordo.
"menghisap inti aura anak itu, namun untuk mendapatkannya anak itu harus bisa mengendalikannya" Mordo menjelaskan.
Lord Gorran diam sesaat.
"maksudmu kita harus membiarkan anak itu tumbuh menjadi kuat?" tanya Lord Gorran.
"Benar Master, itulah mengapa terlalu beresiko" jawab Mordo.
"Dia berasal dari dunia lemah ini, butuh waktu lama untuk itu."
"Master kristal itu ada kekuatan penyembuh," ucap Mordo.
"aku tau itu, apa maksudmu?" tanya Lord Gorran.
"Bukankah Master memiliki racun pelahap jiwa" Ucap Mordo.
"Hahaha.. kau memang pintar Mordo!"
"Aku mengerti, aku punya rencana" ucap Lord Gorran.
"Bagaimana dengan Oracle dan wanita tombak emas itu?" tanya Logos
"apa maksudmu" tanya Mordo.
"Waktu di hutan wanita itu pasti mengetahui anak itu membawa kristal. tetapi ia tidak mengambilnya. ia juga tidak mengejar Oracle yang menyelamatkan anak itu. ia pasti merencanakan sesuatu." kata Logos.
Lord Gorran dan Mordo mencoba menimbang perkataan Logos.
"Ia tidak seperti menginginkan kristal itu, juga tidak melindungi anak itu, sepertinya ia menunggu sesuatu." ucap Logos.
Lord Gorran memegang dagunya memikirkan sesuatu.
"BRENGSEK! Aku tau rencananya ia akan membunuh anak itu kali ini bila mengetahui kristal itu sudah memilihnya."
"Cepat kembali lindungi anak itu dan bunuh wanita itu!" kata Lord Gorran kepada Logos.
"Baik master" Logos memberi hormat lalu pergi.
***
"Untuk apa kau kesini?" tanya Julia dingin.
Julia tak menyangka ia bertemu Aira di ruang tamu rumahnya.
"Apakah seperti itu sikapmu menyambut teman?" Aira membalas sikap dingin Julia.
"Kau bukan temanku, aku pun tak mengenalmu?" Julia masih mempertahankan sikap dinginnya.
"Hahaha.., Apa kau cemburu padaku karena aku mengenal August?" Aira tak mau kalah.
"Dengar..! aku tak peduli dia tidur dengan siapa atau mencintai siapa!" tambahnya lagi.
Amarah Julia mulai bergejolak di dadanya mendengar perkataan Aira.
"Katakan apa maumu?! dan lekas pergi dari sini!" kata Julia menahan amarah.
"Apa kau memiliki sesuatu yang pernah diberikan August padamu?" tanya Aira.
Julia terkejut ia teringat kotak musik itu dipikirannya.
"untuk apa kau menanyakan itu? itu bukan urusanmu!" ucap Julia yang ingin sekali merobek mulut Aira.
Aira mendekati Julia hingga wajah mereka berhadap-hadapan.
"karena itu petunjuk terakhir untuk menemukannya!" kata Aira.
Julia terkejut, ia mencoba menebak apa maksud Aira.
Polisi dan detektif pun tak mampu menemukan August. namun kini Aira datang menemuinya seolah-olah berkata aku bisa menemukannya.
"Kau hanya murid pindahan, bahkan polisi pun tidak bisa menemukannya." ucap Julia meremehkan.
"Bagaimana jika aku bisa menemukannya?" tantang Aira.
Julia terdiam.
Jika Aira benar August bisa diselamatkan. namun jika Aira hanya mempermainkannya maka dia bukan hanya kehilangan August melainkan seluruh kenangan berharga yang tersisa dan tersimpan dalam kotak musik itu.
"Baiklah bila kau tak punya" Aira pun melangkah keluar.
"tunggu"
Aira menghentikan langkahnya.
"aku punya"
Julia lalu pergi ke kamarnya dan kembali menemui Aira dengan kotak musik di tangannya.
"bagaimana caramu untuk menemukannya?" tanya Julia.
"itu urusanku" jawab Aira.
"jika begitu aku akan ikut denganmu!" ucap Julia.
"Tidak" Aira menolak.
Julia sangat geram mendengar penolakan Aira. namun ia tak punya pilihan. ia pun menyerahkan kotak musik itu kepada Aira.
Aira menerimanya lalu pergi meninggalkan Julia. kembali langkahnya terhenti. ia menengok Julia dan berkata.
"Jika sikapmu masih seperti ini, sebesar apapun cintamu cepat atau lambat kau akan kehilangannya."
setelah itu Aira pergi dengan Julia menatap punggungnya.
Perkataan Aira menampar dirinya. semenjak hilangnya August ia hanya menangis, mengasihani dirinya sendiri. ia lupa di luar sana August berharap seseorang datang menolongnya. disaat segalanya mengalami kebuntuan orang yang dibencinya justru tak menyerah mencari cara menyelamatkan August.
Aira kembali ke rumahnya dengan membawa kotak musik di tangannya, sesampainya disana ia disambut pamannya dan seorang yang ia tak kenal berada di belakangnya.
"Paman siapa dia?" tanya Aira.
"namanya Gerda dia akan membantu kita" ucap paman Aira.
Gerda yang disebut namanya membungkuk kepada Aira.
"Nona Aira apakah bisa kita mulai sekarang?" tanya Gerda.
"Tentu saja" jawab Aira lalu menyerahkan kotak musik kepada Gerda.
Sementara itu disuatu tempat yang tak diketahui namanya terdapat sebuah bangunan berlantai lima yang tak terpakai. disekitar bangunan itu juga banyak bangunan lain besar dan kecil tapi semuanya tak berpenghuni. namun hanya bangunan berlantai lima itu saja yang mempunyai banyak penjaga disetiap lantainya.
di lantai lima bangunan itu terlihat seorang dengan tangan dan kaki terikat tergeletak dilantai, pakaiannya banyak sobekan dan tetesan darah. dia adalah August.
Sudah seminggu ia berada di tempat ini. August tak tau alasan orang-orang ini menangkapnya.
Mereka tak membiarkannya hidup dan juga tak membiarkannya mati. mereka tak pernah bertanya, sebaliknya jika August bertanya mereka menyiksanya.
"dudukan ia dikursi lepaskan ikatannya" perintah seorang pria yang sedang memainkan pisau lipatnya.
dua orang bergegas mengangkat August dan mendudukannya di kursi.
Lelaki itu mendekati August lalu menampar pipi kanan dan kiri August untuk menyadarkannya.
August susah payah untuk mengangkat wajahnya untuk melihat pria itu.
"Bos ingin kau tetap hidup, makanlah" kata pria itu.
melemparkan sepotong roti dan sebotol air.
Cuih..! August meludahi wajah pria itu.
Pria itu merasa terhina sontak pisau yang ada di tangan kirinya itu ia tancapkan ke paha kanan August. August berteriak menahan sakit seketika itu tangan kanan pria itu meninju wajah kiri August
Aaaaaaa..! BUG.
August yang sudah lemah terlempar dari kursi. tak sampai di situ pisau yang sudah menancap itu ia injak dan menggoyangkannya seperti gerakan orang mematikan puntung rokok.
August berteriak pria itu kembali meninju wajahnya lagi. pria itu mengambil pisaunya membersihkannya di kemeja August. tanpa bersuara.
Rasa sakit yang August rasakan sudah tak bisa membuatnya teriak. namun tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari atap gedung dan menggema melalui walkie talkie disetiap lantai.
"ADA PENYUSUP..!"
Semua penjaga bersiap. mengarahkan senjata AK-47 ke arah pintu gerbang.
Tampak dari kejauhan seorang wanita berjalan mendekati gedung, tubuhnya dilapisi logam tipis berwarna biru, mulut dan hidungnya tertutup masker. diantara keningnya terselip tiara berwarna biru. rambutnya panjang terurai hampir sepinggang. di tangan kanannya menggenggam tombak berwarna emas.
"TEMBAK..!" terdengar perintah dari walkie.
Dor.. Dor.. Dor.. suara rentetan tembakan tiada henti.
wanita itu menghentikan langkahnya. peluru-peluru mulai menghujani tubuhnya. ia hanya mengangkat tangan kirinya melindungi wajah yang tanpa pelindung.
percikan bunga api terlihat ketika peluru-peluru tersebut mengenai baju pelindungnya.
Ia melihat beberapa penjaga di halaman melempar granat ke arahnya ia pun melompat kebelakang sebelum granat itu meledak.
DUAARRR..!
asap hitam dan debu mulai berterbangan. para penjaga menghentikan tembakan. menunggu. pandangan mereka terhalang tebalnya asap.
Tiba-tiba dari kepulan asap hitam itu muncul wanita itu lagi dengan ratusan tombak kecil mengelilingi tubuhnya. ia menggerakan tangan kiri dan kanannya ke arah dimana para penjaga berada tombak kecil itu pun terbang kesana.
Para penjaga yang berada di halaman semua tewas mengenaskan. wanita itu memasuki lantai satu. puluhan penjaga di sana juga mengalami hal serupa. Jeritan kematian menggema diseluruh lantai gedung.
Wanita itu tiba pun tiba di lantai lima. para penjaga yang tersisa gemetar ketakutan. yang mereka lawan hari ini adalah wanita iblis. mereka pun akhirnya tewas. ratusan tombak kecil kembali menyatu. wanita itu berjalan mendekati August.
Hanya August yang tersisa, ia menatap wanita itu dengan rasa tidak percaya.
Ia mulai mengingat kembali kejadian di hutan Royan. Lelaki berbaju zirah, pria berjas hitam, kristal, wanita gua dan tentu saja wanita bertombak emas.
Jadi semua itu bukan mimpi, itu nyata. pikir August.
kepingan-kepingan itu bermunculan di kepalanya. ia pun teringat wanita gua itu mengatakan ia akan bertemu lagi dengan wanita dengan tombak emas dan mungkin akan membunuhnya.
"kita bertemu lagi" ucap wanita itu dengan dingin.
"kau.. kau akan membunuhku?" tanya August.
"ya" jawab wanita itu.
entah kenapa rasa takut itu hilang dari diri August. selama tujuh hari di tawan ia hanya melihat kematian akan datang menemuinya. ia sudah pasrah menerimanya bahkan sebelum bertemu dengan wanita itu lagi.
"lakukanlah" ia mengatakannya dengan tersenyum.
Wanita itu terkejut heran.
"kau tak ingin tau alasanku membunuhmu" tanya wanita itu lagi.
"bukankah tak ada gunanya aku mengetahui atau tidak" jawab August.
ia memejamkan matanya ketika melihat wanita itu mengangkat tombaknya lalu menghujamkannya ke dada August.
Namun tiba-tiba tombak itu berhenti bergerak ketika jarak tombak dengan dadanya hanya beberapa sentimeter.
August membuka matanya, ia melihat rantai emas melilit tangan wanita itu lalu terdengar suara wanita
"Jangan bunuh dia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments