Sebuah helikopter terbang ke arah hutan Royan. ada tiga orang berada di dalamya. seorang pilot tampak fokus dibalik kemudi, dan dua orang lainnya yang berada dibelakangnya terlihat sedang berdiskusi.
Seorang diantara mereka berdua terlihat sangat mencolok penampilannya, badannya besar berotot, terlihat tattoo mengelilingi lehernya, wajahnya bengis terdapat bekas jahitan yang terlihat seperti kelabang yang menempel di pipinya. tak ada rambut yang tumbuh di kepalanya.
"Apakah kalian sudah tau dimana anak itu tinggal?" tanya lelaki yang punya bekas luka.
"su.. sudah Tuan Logos" jawab pria dengan setelan jas penuh rasa hormat.
"kami juga sudah mengetahui orang-orang terdekatnya." tambahnya lagi.
"bagus.. tunggu instruksiku selanjutnya, sekarang tunjukan dimana kejadiannya? Tanya lelaki yang ternyata bernama Logos.
"itu di depan sana tuan, di sekitar pohon yang hancur itu" jawab pria dengan setelan jas itu sambil menyuruh pilot untuk terbang menuju area tersebut.
Tak banyak bicara Logos membuka pintu helikopter tersebut lalu meloncat keluar.
kejadian itu sontak membuat kedua orang yang ada di dalam tercengang.
"HAH..! Apa dia benar-benar manusia loncat dari ketinggian seperti ini?" mereka bertanya pada diri sendiri.
"bagaimana sekarang tuan?" tanya pilot itu.
"kita kembali" jawap pria berjas masih dalam keadaan bingung.
sang pilot pun segera memutar balik helikopter tersebut meninggalkan Logos ditengah hutan.
Logos sudah berada di dekat pohon besar yang sudah hancur, ia pun mengamati beberapa pohon di sekitar area tersebut.
dia menemukan beberapa pohon yang sepertinya pernah terbakar. ia berbalik dan berjalan menuju pohon yang hancur terkena peluru. tak jauh dari tempatnya ia melihat jejak kaki dan ceceran darah yang sudah mengering.
Logos mengikuti jejak itu hingga membawanya ke tepi jurang. ia mengamati sebentar lalu melompat ke dasar jurang. namun ketika sampai didasar ia tak menemukan jejak yang ia cari. jejak itu menghilang.
Hmm.. ada yang menolongnya. ia terus berjalan menelusuri dasar jurang, tak sia-sia usahanya keberuntungan ada di pihaknya. ia menemukan sebuah gua.
Gua tersebut berada diatasnya sekitar sepuluh meter. hanya dengan sekali lompatan ia sudah sampai di depan mulut gua.
Ia masuk memeriksa gua tersebut. tampak samar terlihat beberapa obor menggantung di dinding gua. Logos menjentikan jarinya, dari jarinya muncul bola api kecil seukuran bola pimpong. Logos membalikan pergelangan tangannya lalu mendorong pelan ke depan bola api itu terpecah terbang menuju obor yang menggantung. ruangan yang semula gelap kini menjadi terang dan tampak jelas apa yang ada di isi gua.
Logos terus menelusuri tiap sisi gua, ia menemukan sebuah batu berbentuk seperti altar dipinggirnya terdapat sisa kain dengan noda darah mengering. ia pun tersenyum jejak yang sempat hilang kini ia temukan kembali. ia pun berjalan menuju altar tersebut.
Langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu hingga mengeluarkan bunyi retakan.
Krak.
Ia mengangkat kakinya, ia membungkuk untuk mengambil sesuatu yang barusan ia injak. ketika ia mengangkat dan melihatnya. ia terkejut melihat sebuah serpihan berlapis emas itu. wajahnya nampak cemas. ia pun bergegas pergi meninggalkan gua.
Royan university.
"Semua jadwal kelas hari ini telah usai August hadiri. ia teringat Julia meminta dirinya untuk menemani belanja, August pun berinisiatif menunggu Julia di area parkir lalu mengirim pesan teks kepadanya untuk memberi tahu dimana dia berada.
Tak lama berselang Rafael berjalan ke arahnya, kebetulan mobil Rafael terparkir tak jauh dari tempat August saat ini berada.
"Hey bro.. maaf aku lupa memberi tahumu, hari ini aku harus menjemput sepupuku. jadi tak bisa mengantarmu." kata Rafael.
"tidak masalah. Julia memintaku menemaninya belanja pakaian" ucap August dengan senyum kecut.
"hahaha.. sepertinya kalian sudah tak bertengkar lagi, pacarmu itu memang merepotkan." kata Rafael.
"Dia bukan pacarku" jawab August kesal.
"hmm kau mungkin menganggapnya seperti itu, tapi tidak dengannya" kata Rafael.
"apa maksudmu" tanya August mengerenyitkan dahinya.
"Dengar aku tak melihat kau orang yang paham tentang fashion, dan aku juga tau kau bukan anak orang kaya, coba pikirkan diantara banyak teman wanitanya yang paham hal itu dan lelaki lain yang lebih kaya darimu, mengapa dia memilih dirimu untuk menemaninya?
"baiklah aku tak kan mengganggumu lagi, aku pergi dulu, aku tak ingin sepupuku terlalu lama menunggu." ucap Rafael sambil menepuk pundak August lalu menuju mobilnya, ia menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan August yang terdiam.
August merenungi apa yang Rafael katakan barusan kepadanya.
apakah benar seperti itu, apakah itu alasan sikapnya sedikit berubah. memikirkannya membuat kepala August sedikit pening.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
August menengok ke belakang melihat Julia yang sedang mematikan alarm mobilnya.
"aku menunggumu, bukankah pagi tadi kau memintaku untuk menemanimu?" kata August.
"Tidak jadi!" jawab Julia ketus. lalu berjalan menuju mobilnya.
"Baiklah, kita pulang saja" ucap August sambil mengikuti Julia dari belakang.
Tiba-tiba Julia menghentikan langkahnya, August pun sontak berhenti. Julia berbalik.
"Mengapa kau mengikutiku?" tanya Julia kepada August.
August bingung dan tak tau harus menjawab apa.
"apa kita akan pulang?"
Julia mendekati August lalu hidungnya mendengus-dengus ke dada hingga leher August.
"Kau tak boleh masuk mobilku, kamu bau perempuan!" kata Julia lalu masuk mobilnya menyalakan mesin lalu pergi meninggalkan August.
August tercengang. tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. otaknya masih memproses seluruh kejadian yang ia alami hari ini.
masih dalam keterkejutannya.
sebuah sedan hitam berhenti di depan August. ketika kaca mobil terbuka terlihat seraut wajah cantik menyapanya
"Kau butuh tumpangan?"
August membungkuk, ia melihat Aira tersenyum ke arahnya.
"jika itu tidak merepotkanmu?" ucap August.
"masuklah" ucap Aira.
August pun membuka pintu dan duduk disamping Aira.
Sebelum Julia melewati pintu gerbang keluar kampus sekilas ia melihat dari kaca spion August masuk ke dalam mobil Aira.
"Apakah wanita itu pacarmu?" tanya Aira sambil mengemudikan mobilnya.
"maksudmu Julia?"
"Bukan, dia temanku!" jawab August datar.
"kalian terlihat sangat dekat" kata Aira.
"sejak kecil kami memang tumbuh bersama" timpa August.
"Kau orang kedua yang menanyakan itu hari ini" tambah August lg.
"Oya.., kukira wajar orang beranggapan seperti itu melihat kedekatan kalian?" ucap Julia.
August diam tak ingin berkomentar lebih lanjut. ia masih memikirkan perkataan Rafael dan kini Aira pun berpendapat sama.
"ngomong-ngomong kemana aku harus mengantarkanmu?" tanya Aira kembali.
"Turunkan aku di depan gedung berwarna merah itu" jawab August.
"kau tak ingin aku mengetahui dimana kamu tinggal?" kata Aira.
"bukan seperti itu, itu tempatku bekerja paruh waktu, ada urusan yang harus aku lakukan disana" kata August.
Aira pun menghentikan mobilnya ditempat yang ditunjukan August.
"hey minggu ini apa kau ada waktu? tanya Aira.
"ada apa?" August balik bertanya.
"kudengar Royan memiliki pantai yang indah, maukah kau menunjukannya padaku" tanya Aira.
"Baiklah, aku akan membawamu kesana" jawab August setelah berpikir sejenak.
Aira pun tersenyum. lalu ia meminta kontak August. August memberikannya. mereka berpamitan lalu berpisah.
August bekerja paruh waktu sebagai kurir pengantar barang di gudang milik teman ayah August yang bernama Borris.
Mr. Borris mengizinkan August bekerja padanya kapan pun August mau. tetapi biasanya August bekerja di akhir pekan karena pada saat itu banyak barang yang memenuhi gudang harus segera dikirim.
August berjalan menuju pintu gudang. tetapi ia mengurungkan niatnya, ketika ia tak sengaja menengok ke kiri dan melihat sebuah mobil terparkir berjarak dua puluh meter dari gedung Mr. Borris.
Hmm. Bukankah itu mobil Julia. kalau tidak salah disana adalah tempat toko pakaian terbesar di Royan. gumam August.
Dengan rasa penasaran August berjalan menuju toko pakaian tersebut dan masuk. didalam August melihat sekeliling mencari dimana Julia.
beberapa menit kemudian August akhirnya menemukan Julia keluar dari kamar pas dengan membawa beberapa potong pakaian berjalan menuju konter.
August berjalan pelan mendekati Julia. sementara itu kasir wanita bekerja dengan cekatan mengemas pakaian yang Julia beli dengan cepat. hanya tinggal menyisakan satu potong lagi.
Saat itu August sudah berada di belakang Julia. ia pun berbisik dengan lembut di telinga kanan Julia.
"Kamu beli rok mini?"
Julia tersentak, alisnya terangkat, wajahnya memerah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments