Melihat tangannya terlilit rantai, wanita bertombak itu, menjatuhkan dirinya ke kanan, melepas genggaman tombaknya lalu menangkap dengan tangan kirinya lalu melempar ke arah wanita berantai, lilitan rantai di tangan kanannya terlepas.
Wanita berantai menghindar dengan berguling ke arah sisi ventilasi, ia segera bangkit namun sebuah tendangan keras mengenai dadanya ia pun terhempas menembus kaca ventilasi jatuh ke luar gedung.
Hiaat.. Bugghh.. Prang..
Wanita bertombak itu kembali berbalik, ingin membunuh August, tapi lagi-lagi rantai melilit leher dan badannya. menariknya dari atas gedung menghempaskannya ke tanah hingga membuat sedikit cekungan.
BUMMM.
Seandainya yang terjatuh itu orang dari dunia ini pastinya mereka akan tewas mengenaskan, tapi tidak dengan orang yang berasal dari dunia proxima.
Wanita itu segera bangkit tombaknya terpecah kembali menjadi puluhan tombak kecil lalu menerjang lawannya.
Terkejut dengan serangan balasan wanita dengan rantai itu mundur sepuluh langkah lalu memutar-mutar rantai di tangan kirinya di depan dada dan rantai lainnya di atas kepalanya untuk menangkis puluhan tombak kecil itu.
trang.. trang.. trang..
Puluhan tombak kecil lenyap. kembali ke tangan pemiliknya.
"Hentikan perbuatanmu Aruna!" ucap wanita berantai emas itu kepada wanita bertombak emas yang ternyata bernama Aruna.
"Dia harus mati sebelum semuanya terlambat!" jawab Aruna.
"Dia yang terpilih, dia akan menyatukan dunia kita" kata wanita berantai.
"Apakah kau bodoh Aira, makhluk dunia ini lemah, walau kristal itu membuat dirinya kuat seribu kali, ia tak kan bisa mengalahkan seorang anak kecil dari dunia proxima." kata Aruna kepada Aira yang ternyata adalah wanita berantai emas.
"aku tau, tapi pasti ada alasan mengapa kristal itu memilihnya" ucap Aira.
"Gorran mengincar anak itu, cepat atau lambat Clawrit pun juga akan memburunya, aku tak kan biarkan mereka mendapatkan kekuatan kristal itu. aku harus membunuhnya sebelum terlambat" kata Aruna.
"kekuatan kristal itu masih tertidur, jika kau membunuhnya klan armeda akan menghukummu kau tak kan pernah kembali ke proxima, dan tinggal di dunia ini sampai kau mati" ucap Aira.
Aruna terdiam ketegangan dalam dirinya perlahan mengendur, tombak emas ditangannya pun menghilang.
"apa kau percaya ramalan itu?" tanya Aruna.
"ya aku percaya, dan aku pun yakin suatu saat klan Armeda akan bersatu kembali." kata Julia
"Apa kau rela mengorbankan nyawamu untuk omong kosong itu?" tanya Aruna dingin.
"Ya.., dan itu bukan omong kosong." jawab Aira.
hening.
"Tetaplah hidup, bila kau mati aku akan langsung membunuhnya." selepas berkata itu Aruna pun pergi meninggalkan tempat itu.
aku berjanji akan tetap hidup. Aria dalam hatinya.
Aira kembali ke lantai lima gedung tersebut. melihat August yang sudah tak sadarkan diri. ia pun membawanya pergi.
sementara tak jauh dari tempat itu.
"Tuan Logos apa langkah selanjutnya?"
"Biarkan anak itu, awasi saja."
"Baik Tuan"
Setelah pertemuannya dengan Aira di rumahnya dua hari yang lalu, Julia kembali beraktifitas, walau pikirannya masih kalut ia menghadiri mata kuliahnya semata-mata ingin bertemu Aira bertanya tentang August. tetapi Aira juga tak terlihat dua hari ini.
Ia pulang mengendarai mobilnya dengan kekecewaan. di tengah perjalanan ponselnya berbunyi, sebuah pesan teks dari Aira.
Datanglah ke Royan General Hospital August disana.
Jantung Julia berdegup kencang, ia langsung memutar balik mobilnya.
setelah sampai dan menanyakan dimana August dirawat. ia pun bergegas. Julia membuka pintu kamar ia melihat August terbaring lemah, tertidur dengan selang infus ditangannya serta perban yang membalut tangan dan kakinya.
Aira bangkit dari kursinya.
"dia masih belum tersadar, dia akan baik-baik saja" ucap Aira pelan.
"Bagaimana kau menemukannya?" tanya Julia dengan rasa ingin tahu.
"soal bagaimana itu tidak penting, aku minta kau jangan menyebut namaku" ucap Aira.
"baik, terima kasih." Julia memeluk Aira.
Aira membalas dengan canggung, lalu pergi,
Emosi Julia campur aduk melihat August. ia duduk, menggenggam tangan August menempelkan ke pipinya yang basah.
Julia menunduk menatap lantai rumah sakit, air matanya terus mengalir. genggamannya makin erat.
"August sadarlah" ucap Julia pelan.
Beberapa menit berselang, Julia merasa ada kedutan di jari tangan August yang ia genggam.
"August.. August.. kau sudah sadar" Julia bangkit melihat wajah August.
terlihat bola matanya bergerak-gerak. terbuka perlahan.
"Julia apakah itu kau?" ucap August lirih.
pandangan matanya masih buram. ia mengedipkan matanya berkali-kali. sedikit demi sedikit matanya mulai beradaptasi.
"iya ini aku" jawab Julia tersenyum diselingi sesegukan.
"dimana aku?" tanya August.
"Rumah sakit, polisi berhasil menemukanmu." ucap Julia tanpa menyinggung Aira.
"Syukurlah kau selamat"
August akhirnya mengingat kembali kejadian menimpanya.
"Julia maafkan aku tak hadir di hari ulang tahunmu, aku sudah menyiapkan hadiah untukmu tapi.." August tidak meneruskan kata-katanya.
"kau ini bicara apa, sudah jangan dipikirkan" ucap Julia.
August melihat jejak air mata di pipi Julia, ia menghapus jejak itu dengan ibu jarinya.
"Kau menangis?" kata Julia.
Julia tak menjawab. hanya terlihat kedutan di bibirnya.
August memandango Julia.
"ada apa?" tanya Julia.
"tidak apa-apa ?" kata August.
"cepatlah sembuh atau aku akan menarik lehermu menyeret keluar dari tempat ini."
"apakah kau tau, jika berlama-lama disini orang tuamu akan kesulitan membayar tagihannya, aku pun malas mengeluarkan uang untukmu"
"mungkin lebih baik aku menyeretmu sekarang, sebelum tagihannya membengkak, atau kita kabur diam-diam" ucap Julia tanpa henti.
August hanya melihat Julia dengan tersenyum menahan tawa. entah kenapa dirinya mulai sangat menikmati intimidasi yang dilakukan Julia.
Dokter menyarankan agar August dirawat selama empat hari, namun ia akhirnya diperbolehkan pulang setelah dua hari, entah kenapa tubuh August pulih dengan cepat bahkan luka tusukan di paha August sudah rapat terlihat seperti luka gores biasa.
August merebahkan dirinya memandangi langit-langit kamarnya ia memegang kotak musik di dadanya.
Kotak musik itu ia dapatkan dari Nora.
sebelumnya Aira mengembalikan kotak musik kepada Julia lalu, Julia menyerahkan kembali kepada Nora. karena Nora lah orang pertama yang mengetahui August di culik. ia menceritakan semuanya kepada August. tentu saja tak ada nama Aira dalam cerita tersebut.
August terus merenung dalam kamarnya. kurang dari sebulan dirinya dihadapkan pada situasi yang nyaris merenggut nyawanya. yang membuatnya bingung adalah kemunculan tiga orang wanita misterius.
mereka seperti bukan manusia melawan hukum fisika, menentang akal sehat. siapa mereka? dari mana asalnya? diantara mereka mencoba membunuhku dan melindungiku, dia mengingat wanita itu menawarkan dirinya untuk bertanya alasan mengapa ia ingin membunuhku. sial harusnya aku bertanya padanya. batin August.
Tunggu.., wanita gua itu. August mengingat ketika dirinya menyerahkan kristal itu. wanita bernama Oracle itu memasukan kristal kedalam kotak emas, tiba-tiba kotak itu melayang pecah menjadi gumpalan padat bercahaya lalu mengantam dadanya.
Apa ada sesuatu dalam diriku hingga mereka ingin membunuhku. wanita gua itu pasti kuncinya aku harus menemukannya. aku harus kembali ke tempat itu. tapi dimana tempatnya? August terus berpikir tiba-tiba ia teringat Julia.
August mengambil ponselnya lalu menelpon Julia.
"Julia bisakah kita bertemu di Blue Lake Mountain malam ini?"
menjelang malam Julia sibuk membongkar isi lemari pakaiannya, hatinya sangat bahagia August mengajaknya untuk bertemu. ia ingin menemuinya dengan penampilan terbaik. kamarnya kini seperti kapal pecah. banyak pakaian beterbangan jatuh ke segala arah.
Satu jam berlalu.
Letak blue lake mountain berada di Royan utara, siapun yang ingin pergi ke hutan Royan pasti akan melewati danau ini. orang lokal menyebutnya danau biru bukan tanpa alasan. Danau ini mempunyai pemandangan indah di malam hari terutama pada saat purnama, cahaya bulan yang menyinari membuat danau itu terlihat kebiru-biruan dengan latar gunung royan yang menjulang dan jika langit cerah terlihat piringan bimasakti membelah langit.
Lamunan August terhenti ketika ia mendengar langkah kaki di belakangnya, ia membalikan badannya, jantungnya berdegup kencang ketika ia melihat Julia berjalan mendekatinya.
August menelan ludah melihat Julia mengenakan longdress hitam satu lengan, bagian atasnya sangat terbuka sangat jelas terlihat dua bulatan kenyal menyembul seolah-olah ingin melompat keluar, August ingin sekali membenamkan wajahnya ke area tersebut. di bagian bawah gaun itu terdapat belahan hingga pangkal paha tampak kaki putih mulus tersibak ketika berjalan.
Mereka sudah berhadap-hadapan, tak ada kata dari keduanya. hingga Julia memecah suasana.
"aku selalu mendengar keindahan danau ini dimalam hari, tapi baru kali ini aku melihatnya langsung" kata Julia.
"danau ini memang indah, dan kau membuatnya sempurna" ucap August.
Julia tersipu mendengarnya.
"Julia apa kau mengetahui ada gua di hutan Royan?" tanya August.
Julia mengangkat alisnya.
"mengapa kau bertanya seperti itu"
"aku ingin mencarinya" kata August.
"Jadi kau memintaku ke sini agar membantumu mencari gua itu?" tanya Julia kecewa.
"Tidak.., aku memintamu ke sini untuk mengajakmu berdansa" ucap August.
lalu August mengeluarkan kotak musik dari balik saku jasnya.
"aku ingin memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunmu, maaf aku tidak membungkusnya karena kau sudah tau sebelumnya" ucap August.
"tidak apa, aku menyuruh Nora mengembalikannya padamu, berharap kau memberikan langsung padaku." ucap Julia.
"selamat ulang tahun."
"Julia mau kah kau berdansa denganku?" tanya August.
"dengan senang hati" jawab Julia tersenyum.
August memutar tuas, terdengar lantunan nada-nada syahdu. August meraih tangan dan pinggul Julia, mereka berdansa dengan tenang. padahal jantung mereka berdegup dengan kencang.
mereka hanya saling menatap namun bibir mereka terus saling mendekat perlahan-lahan akhirnya menempel menjadi satu.
Pagutan bibir keduanya terhenti ketika Julia mendorong tubuh August.
"tidak.. tidak.. apa yang telah kita lakukan" kata Julia.
August menarik kembali tubuh Julia.
"maukah kau jadi kekasihku?" tanya August.
"a.. a.. aku.." belum selesai Julia berkata.
August sudah ******* bibir Julia kembali. kali ini Julia tak menolaknya.
Malam ini bulan dan bintang kini menjadi saksi melihat dua insan meluapkan perasaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Muliadi Harahap
lanjutkan thor up doubllenya
2022-10-26
1