PLAK!
terdengar suara tamparan. mata orang-orang yang berada di ruang loker lansung mencari arah suara tersebut.
Mereka terkejut melihat Nora menampar Bryan.
Bryan adalah idola kampus pemegang sabuk hitam. juara nasional antar universitas di negeri Modena.
Kejadian bermula ketika Bryan menerima tantangan taruhan dari teman-temannya untuk berkencan dengan siapapun wanita yang pertama kali masuk cafetaria pagi ini.
Nora datang di waktu yang salah. awalnya ia sangat senang Bryan mendekati dan menyapanya. tapi ketika ia mengetahui bahwa dirinya hanya dijadikan bahan taruhan Nora sangat kesal lalu pergi meninggalkan Bryan.
Bryan mengejarnya hingga ruang loker dan menciumnya. mendapatkan perlakuan seperti itu emosi Nora tak terbendung ia pun menampar Bryan.
"*****.. berani sekali kau menamparku!" Bryan emosi mencengkram leher Nora lalu mendorongnya hingga kepala Nora membentur loker.
Brak!
"aku akan membuatmu menyesal." kata Bryan.
Nora meringis kesakitan mencoba melepas cengkraman Bryan yang membuatnya sulit bernafas.
August yang kebetulan berada ruang yang sama tak terima Nora disakiti didepan matanya.
Ia berlari melompat menendang Bryan.
Bryan menyadari ada pergerakan dari arah kirinya ia melepaskan cengkramannya. namun terlambat tendangan August sudah mendarat di perutnya. ia terpental ke kepalanya membentur pintu kaca di belakangnya. pintu kaca pecah.
Prang!
Bryan segera bangkit, Ia mendapati orang yang menendangnya adalah August berdiri di hadapannya.
"KAU..!"
mata Bryan memerah menatap August dengan tatapan ingin membunuh.
hening. semua tegang.
"ada apa ini pagi-pagi kalian membuat keributan?"
suara Mrs. Parker memecah keheningan.
tak ada yang menjawab.
"si bodoh ini terpeleset lalu kepalanya membentur pintu." jawab August sambil menunjuk Bryan.
Sontak seluruh orang-orang terkecuali Mrs. Parker tercengang mendengar August menyebut Bryan dengan sebutan si bodoh.
Bryan menahan amarah ingin sekali merobek mulut August.
"Benarkah begitu, Bryan?!" tanya Mrs. Parker.
"Lantai ini licin, aku tak sengaja jatuh" jawab Bryan dengan tangan terkepal, matanya masih menatap August.
"Baiklah, bubar kalian kelas akan di mulai!" ucap Mrs. Parker.
Mereka pun membubarkan diri, tetapi dalam benak masing-masing mereka tau ini belum berakhir, August sedang menggali kuburannya sendiri.
Bryan menghampiri August.
"aku tau kau, si anak miskin yang selalu bersembunyi di ketiak Rafael, kau tidak tau berurusan dengan siapa, ini belum berakhir." kata Rafael dengan menunjuk muka August.
"Enyahlah..!" ucap August.
akhirnya Bryan meninggalkan ruang loker tersebut dengan amarah bergejolak. selama ini tak ada yang berani mengancam atau memukulnya. namun hari ini ia dipukul, dihina dan dipermalukan oleh si anak miskin bernama August.
Bagi August sebelumnya sangat menghindari konfrontasi dengan siapapun. apa lagi harus berurusan dengan Bryan. ia lebih memilih menghindar. tetapi pengalaman hidup adalah kebijaksanaan, akan mempengaruhi seseorang mengambil sikap. begitu pula August ia sudah dua kali melihat kematian menghampirinya. tak ada yang paling menakutkan selain kematian. untuk apa lagi harus takut terhadap Bryan.
August menghampiri Nora terduduk dengan terisak.
"Kau tidak apa-apa? tanya August.
"Aku baik-baik saja, terima kasih telah membantuku." ucap Nora mengusap air matanya.
"Maafkan aku membuatmu terlibat." tambah Nora.
"tak perlu sungkan, kau pun telah menolongku sebelumnya, terkutuklah aku bila melihatmu disakiti dan aku tak berbuat apa-apa." kata August.
"baiklah aku harus merapikan diriku sebelum kelas di mulai." ucap Nora.
Nora pun pergi meninggalkan August.
Aira yang selama ini melihat kejadian itu berjalan mendekati August. ia lalu bersandar di samping loker August.
"Hari ini kau mempunyai musuh baru, katakan padaku bagaimana caramu melawan seorang bersabuk hitam itu?" tanya Aira.
"aku tak tau" jawab August menutup lokernya lalu ikut bersandar.
"sebaiknya kau bayar hutangmu padaku sebelum ia membunuhmu!" ucap Aira tersenyum.
"Hutang? hutang apa?" tanya August bingung.
"Bukankah kau berjanji akan menunjukanku pantai indah di kota ini?" kata Aira.
"akhir pekan ini aku tak bisa, aku pergi dengan Julia ke hutan Royan." kata August.
"bagaimana kalau hari ini, jadwal kelas kita sedikit" kata Aira.
August berpikir sebentar.
"baiklah" jawab August.
"ngomong-ngomong, untuk apa kau pergi ke hutan Royan, apakah kalian ingin berburu atau sekedar bercinta di alam bebas?" tanya Aira menggoda.
"bukan urusanmu" kata August.
membayangkannya saja sudah membuat August pening.
bel berbunyi mereka pun segera bergegas menghadiri kelas.
Beberapa jam kemudian setelah mengikuti seluruh jadwal kelas hari ini, August lalu mengirim pesan teks kepada Julia bahwa ia pulang terlebih dahulu. setelah itu ia menuju area parkir dimana Aira sudah menunggu.
"Kau yang menyetir." Aira menyerahkan kunci mobilnya.
August menerima kunci mobil tersebut tanpa banyak bicara, mereka pun pergi.
"kemana kita akan pergi?" tanya Aira.
"Vienna pink beach arah barat kota ini kira-kira dua jam perjalanan, tidurlah aku akan membangunkanmu ketika sampai." kata August.
"aku tak mengantuk, hey mampirlah ke toko pakaian dan supermarket terlebih dahulu." pinta Aira.
"Kau ingin membeli pakaian?" tanya August.
"tentu saja, kita pergi tanpa persiapan."
"Aku ingin beli bikini" kata Aira.
August diam membayangkan Aira dalam balutan bikini.
"apa yang kau pikirkan?" tanya Aira melihat August terdiam.
"Oh.. tidak.., aku sedang mengingat dimana toko tempat menjual pakaian di sekitar area ini." kata August tersadar dari lamunannya.
Mereka akhirnya menemukan toko tersebut setelah memilah dan memilih Aira membayar bikini yang ia beli lalu mereka pergi ke supermarket tak jauh dari toko itu, lalu melanjutkan perjalanannya kembali.
"ngomong-ngomong dengan siapa kau tinggal di kota ini?" tanya August.
"aku tinggal sendiri, pamanku sesekali berkunjung ke rumah." jawab Aira.
"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya August.
"sudah tiada. di kota ini, hanya kau dan pamanku yang aku kenal." jawab Aira.
August merasakan kesedihan di wajah Julia.
"Aira.., maafkan aku. seharusnya aku tak bertanya." kata August terlihat menyesal.
"tidak apa-apa, aku senang kau bertanya." senyum tulus terlihat di wajah Aira.
Mereka akhirnya sampai di tujuan. karena bukan akhir pekan tak banyak orang yang mengunjungi pantai ini.
"tunggu sebentar aku akan mengganti pakaian." kata Aira.
beberapa menit kemudian. Aira keluar dari ruang ganti dengan mengenakan bikini yang baru saja dibelinya.
"Bagaimana penampilanku? apa kau suka?" tanya Aira.
August menelan ludah melihat penampilan Aira di hadapannya. Aira menggunakan bikini model monokini berwarna merah terlihat kontras dengan kulit mulusnya yang putih, dadanya walau tak sebesar Julia tetap terlihat montok.
"Hey aku bertanya, mengapa kau diam saja?" kata Aira mencubit tangan August.
"kamu luar biasa" kata August.
Wajah Aira memerah.
"aku lapar." kata Aira manja.
"Baiklah, kita makan dulu." kata August yang mendengar perutnya mulai mengeluarkan suara-suara aneh.
Mereka memasuki rumah makan, memesan ikan bakar dan makanan laut lainnya. tak lama hidangan pun tersaji di meja mereka.
"Hey apa kau pernah berpikir untuk berlatih bela diri?" tanya Aira.
"tidak, aku tidak pernah memikirkannya, namun setelah insiden pagi ini, aku akan mempertimbangkannya." kata Julia.
"menurutmu apa yang terjadi jika Julia mengetahui kencan kita ini?" tanya Aira.
August tersedak mendengar pertanyaan random dari Aira.
"Hahaha, kau tak perlu khawatir, aku tak kan bilang padanya." Aira tertawa melihat August merasa tertekan.
Sebelumnya August tak menganggap hal yang dilakukan saat ini adalah berkencan, dia hanya menemani Aira saja pikirnya. namun setelah Aira mengangkat isu tersebut. ia mulai berpikir apa yang telah dilakukan saat ini.
Ia pergi bersama Aira membeli pakaian, lalu makan bersama dan menantikan momen indahnya pantai di saat matahari tenggelam. apalagi jika bukan berkencan? August berpikir.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak August dan berkata "Apa dia pacar barumu?"
August tersadar dari lamunannya. ia menengok, August pun terkejut.
"Aruna.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments