August masih duduk bertelanjang dada di dalam tendanya. bajunya di jemur disamping tenda setelah ia membersihkan diri.
Ia tampak merenung apa yang baru saja ia alami. semua tampak nyata baginya. bahkan emosinya yang campur aduk masih bisa ia rasakan.
apa yang sebenarnya terjadi.., mungkin aku harus menanyakannya pada Julia.
August pun beranjak pergi menemui Julia di tendanya.
Di dalam tenda Julia ingin mengganti pakaian. pakaian yang ia kenakan saat ini sudah basah oleh keringatnya dan membuatnya merasa tak nyaman. ia membuka kaos dan celananya hingga menyisakan bra dan ****** ***** yang menutupi tubuhnya.
Julia memisahkan pakaian yang kotor itu ke dalam plastik yang telah ia siapkan, lalu mencari tasnya untuk mengambil pakaian yang masih bersih untuk ia kenakan.
Ketika ia membalikan badannya, August yang bertelanjang dada muncul di pintu tenda dan langsung masuk begitu saja. tatapan mata keduanya bertemu.
Tak ada kata yang terucap.
Walau sejak kecil tumbuh bersama Julia tak pernah melihat postur August sedekat ini setelah mulai beranjak dewasa.
Ia melihat badan tegap dengan dada yang bidang dengan otot di kedua lengannya, Julia pun melihat barisan roti sobek di perut August yang membuat Julia sangat ingin segera memakannya.
Tak jauh beda dengan August ia pun merasakan hal serupa. August hanya sanggup menelan ludah ketika melihat perabotan Julia yang besar dan indah itu dalam kondisi unboxing hampir seutuhnya
Keheningan beberapa saat itu terpecah ketika Nora teman Julia muncul membuka pintu tenda.
"Ya Tuhan apa yang sudah kalian lakukan?"
sontak pertanyaan Nora mengembalikan kesadaran Julia dan August.
"ehm" "eh nganu"
"ini bukan seperti yang kamu pikirkan" Julia dan August menjawab secara bersamaan.
Nora menggelengkan kepalanya.
"Lupakan. aku tak lihat apa-apa, aku tak pernah ada disini" Nora mengambil sebotol air mineral lalu pergi.
Julia dengan kesal berteriak kepada August.
"untuk apa kamu masih disini?! cepat keluar!"
"Aku ingin bicara padamu" sahut August.
"Tunggu di luar!" teriak Julia makin kencang.
"ok ok" August pun bergegas keluar.
setelah mengenakan pakaiannya Julia menghampiri August dan duduk disampingnya.
"Dimana bajumu? udara disini sangat dingin kau bisa terkena demam bahkan hypothermia!" tanya julia
"Apakah kau lupa baju terakhir yang ku pakai kau siram air cucian" jawab August dengan kesal.
Julia menahan geli dengan berpura-pura memasang ekspresi tak bersalah.
"apa yang ingin kau bicarakan" tanya Julia ketus.
"siapa yang mengambil alat dokumentasi pak Jeremy?" tanya August.
Julia melirik August dengan heran.
"Bukankah kau yang mengambilnya?!"
"aku sebenarnya ingin menanyakanmu bagaimana kau bisa kembali begitu cepat dengan alat itu di tanganmu!"
perkataan Julia membuat August tercengang.
"setauku perjalanan keluar hutan ini setidaknya membutuhkan waktu berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam, dan kau kembali kurang dari 30 menit."
"Hah.. apa kau melihatku kembali dengan alat itu?" tanya August.
"apa maksudmu? setelah kami kembali dari sungai aku melihatmu tertidur di tendamu. aku ingin memarahimu karena ku kira kau tak pergi mengambil alat itu."
"Namun setelah aku masuk, aku lihat alat itu ada di sampingmu. aku tak tega membangunkanmu, aku mengambil alat itu dan menyuruh Nora menyerahkannya kepada Pak Jeremy."
"aku kembali ke tendaku untuk menjemur pakaian, tak lama aku mendengar kau berteriak, selanjutnya kau tau apa yang terjadi."
August terdiam. penjelasan Julia tak membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Julia menatap ekspresi wajah August yang terlihat kosong. ia menepuk pelan pundak August dan membiarkan tangannya tetap menempel disana. lalu bertanya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya.., aku baik. mungkin sedikit kelelahan. aku akan kembali ke tendaku." ucap August.
"Baiklah, aku akan bawakan makanan nanti ke tempatmu." kata Julia.
"Ehem"
terdengar suara seseorang di belakang mereka. Julia dengan refleks langsung menarik tangannya dari pundak August, dan mereka berdua menengok ke belakang dan melihat Nora ada disana.
"Julia kau dipanggil Pak Jeremy. Aku baru tiba, aku tidak melihat dan mendengar apa-apa."
tak ada perkataan apapun lagi, ketiganya pun pergi berlainan arah dengan canggung.
Malam telah tiba, api unggun mulai dinyalakan cahaya api mulai menerangi tempat mereka berkumpul.
Namun bukan di tempat mereka itu saja terdapat cahaya, di sisi hutan lainnya juga terlihat cahaya yang tiba-tiba muncul di tanah.
cahaya itu semakin terang benderang perlahan membentuk simbol pentagram dan simbol-simbol kecil di sekelilingnya. simbol itu berputar-putar dengan cepat, semakin cepat lalu bergerak terbang ke atas dan menghilang.
Kini di tanah tempat keluarnya simbol bercahaya itu terlihat sesosok wanita yang tengah berlutut dengan satu kakinya.
Wanita itu perlahan berdiri. ia mengamati sekitarnya dengan berhati-hati. tubuh wanita itu hampir semua tertutupi dengan baju pelindung yang sepertinya terbuat dari logam dan berwarna merah, mulutnya pun tertutup masker yang juga terbuat dari bahan dan warna yang sama. hanya bagian setengah wajah keatas, paha dan perut yang terlihat tanpa pelindung.
kedua tangannya terdapat lilitan rantai emas menjuntai dan masing-masing di kedua ujung rantai itu terdapat pisau kecil yang juga terbuat dari emas, tampak berkilau karena terkena pantulan cahaya rembulan.
Wanita itu terlihat mengambil satu botol kecil dari balik pinggangnya, lalu berjalan mendekati sesosok mayat yang tergeletak di tanah.
"Terima kasih, Pengorbananmu takkan kami sia-siakan"
setelah berkata ia menuangkan cairan di dalam botol ke mayat itu.
mayat itu terlihat seperti terbakar lalu menguap hilang tak tersisa bahkan baju perangnya pun ikut lenyap. setelah itu wanita itu melesat pergi.
Sementara itu acara malam terakhir berjalan lancar, semua bernyanyi dan tertawa bersama hingga mereka lelah, tertidur dan kembali ke rumah masing-masing pada keesokan paginya.
Sudah tiga hari aktifitas perkuliahan berlangsung. semenjak insiden perabotan. August lebih memilih pergi ke kampus menumpang dengan Rafael.
Rafael menyadari betul bahwa August biasanya lebih sering berangkat bersama Julia ketimbang dirinya.
"Bro.. apa kau dan Julia bertengkar?" tanya Rafael sambil mengemudikan mobilnya.
"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?" jawab August acuh.
"hahaha... kau tau pacarmu itu sedang mencari tau mengapa kau menghindarinya." ucap Rafael.
"Julia bukan pacarku, dan aku tidak menghindarinya, hentikan omong kosongmu, perhatikan saja jalanmu" ucap August jengkel.
"Jika Julia bukan pacarmu, apa pendapatmu jika ada lelaki lain yang menyatakan cinta padanya? kata rafael.
"Jika kau bicara lagi aku akan membenturkan kepalamu dengan kemudi itu" ucap August emosi.
"hahaha" Rafael tertawa puas.
lima menit kemudian mereka tiba di area kampus, mereka berpamitan dan berpisah. belum banyak orang yang datang, mereka memang berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan.
August berjalan menuju cafeteria ia ingin mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum menghadiri kelas.
sambil berjalan ia mengecek telpon selulernya. disana terdapat notifikasi 15 pesan yang belum terbaca dan 10 panggilan tak terjawab semuanya atas nama Julia.
August menyimpan kembali telpon seluler tersebut ke sakunya dan ia terus berjalan menelusuri lorong namun ketika ia berada didepan toilet seseorang menarik lengannya.
August terkejut langsung kehilangan keseimbangan akhirnya mengikuti orang yang menariknya masuk ke dalam toilet wanita.
August berhasil mengembalikan keseimbangannya namun kini ia dibuat syok setelah melihat orang yang menariknya kini berada dihadapannya mencengkram kerah di lehernya lalu mendorongnya ke tembok menggunakan kedua tangan dengan ekspresi mata membunuh.
"Ju.. Ju.. Julia?"
cengkraman tangan Julia sangat kuat, membuat satu kancing baju August terlepas keduanya tak berjarak dengan begitu perabotan yang besar itu menempel dengan tubuh August.
"mengapa kau menghindariku?!" tanya Julia dengan tatapan tajam setajam silet.
glek. August menelan ludah.
"a.. aku ti.. tidak menghindarimu" jawab August gugup.
"aku tidak percaya" ucap Julia dingin.
"hey lepaskan aku. bagaimana nanti jika ada yang masuk kesini" ucap August lagi dengan penuh kekhawatiran.
"aku akan bilang padanya kau pria mesum yang mencoba mengintip aku" kata Julia dengan mengancam.
"A.. APA..!" ucap August panik.
August bingung dan salah tingkah. Ia tak mengerti mengapa Julia berubah menjadi agresif seperti ini.
"ada kata-kata terakhir?" tanya Julia dingin.
"ok.. ok.. aku akan berangkat ke kampus bersamamu lagi" kata August panik.
Julia tersenyum lalu melepaskan cengkramannya. lalu menepuk-nepuk kecil pundak August.
"baiklah mari kita sarapan aku yang traktir!" ucap Julia.
"Hah..!" August benar-benar tak percaya apa yang baru saja terjadi.
wanita ini benar-benar sangat mengerikan. batin August.
"Kenapa?! Gak mau?!" tanya Julia kembali dengan tatapan membunuh.
"Tidak.. tidak.. aku tidak menolak" jawab August pasrah.
Mereka berdua akhirnya sepakat menuju cafeteria namun ketika mereka ingin membuka pintu toilet. pintu itu terbuka sendiri.
Nora muncul dihadapan mereka. lalu melihat baju August yang berantakan dengan satu kancing terbuka
"Kalian melakukannya disini juga?!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments