Sebuah kunci sudah Bilt berikan, tentunya itu adalah kunci kabin yang dia janjikan waktu itu pada Vanila. Karena tunangan Abraham sudah datang jadi Vanila memaksa Bilt untuk segera meminjam kabin pada sahabatnya. Dia merasa tidak bisa berlama untuk membuat kenangan bersama Abraham karena setelah itu, dia tidak keberatan Abraham kembali bersama dengan sang tunangan.
Lagi pula sejak awal Abraham bukan miliknya, dia sangat tahu akan hal itu dan lagi sejak awal yang dia inginkan adalah sebuah kenangan bersama dengan orang yang pertama kali dia sukai. Dia menginginkan kenangan yang tidak akan dia lupakan nanti agar dia tidak menyesal sudah diberi kesempatan untuk melarikan diri.
Sebab itu dia mendesak Bilt untuk segera meminjam kabin pada sahabatnya sehingga dia bisa mengajak Abraham pergi untuk menikmati waktu mereka berdua.
Vanila tersenyum manis saat mendapatkan kunci kabin, akhirnya waktunya tiba. Tidak saja kunci kabin, cuti juga sudah dia dapatkan. Sebab itu wajahnya terlihat berseri. Bilt sampai menggeleng melihatnya. Dia bisa melihat jika Vanila benar-benar menantikan momen tersebut.
"Apa yang ingin kau lakukan dengannya di kabin?" tanya Bilt.
"Melakukan banyak hal menyenangkan. Bermain twister, memancing lalu saat malam kami akan menikmati indahnya langit malam di depan api unggun sambil membakar ikan juga marshmallow," jawab Vanila. Dia sangat ingin melakukan hal itu sejak dulu jika dia memiliki kekasih sebab itu dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
"Benar hanya itu saja yang ingin kau lakukan dengannya?" tanya Bilt.
"Apa maksudmu? Kenapa bertanya demikian?" tanya Vanila tidak mengerti.
"Astaga, apa kau benar-benar polos dan tidak mengerti maksudku?"
"Aku tidak mengerti, sungguh!" jawab Vanila karena dia benar-benar tidak mengerti.
"Tidak perlu sok polos, Vanila. Wanita dan pria berduaan di kabin yang ada di tengah hutan, kau kira apa yang akan dilakukan oleh pria dan wanita itu? Jangan tanya lagi dan sok tidak tahu sehingga kau meminta aku menjelaskannya secara rinci karena itu menjijikkan!" ucap Bilt.
"Sembarangan, dasar otak kotor. Aku mengajaknya ke sana untuk melakukan hal-hal menyenangkan, bukan untuk melakukan apa yang kau pikirkan!" ucap Vanila sambil memukul bahu Bilt.
"Aku harap demikian, tapi semua itu terjadi tanpa kau inginkan jadi kau harus ingat jika dia sudah punya orang lain," Bilt mengingatkan.
"Aku tahu, aku juga tidak berharap dia jadi milikku. Aku hanya ingin membuat kenangan dengannya saja," jawab Vanila.
"Bagus, semoga saja kau ingat siapa dirimu dan siapa dirinya," Bilt menepuk bahu Vanila dan melangkah pergi.
Vanila diam saja, dengan banyak pikiran. Bagaimana jika yang dikatakan oleh Bilt sangat benar? Dia yakin tidak tapi entah kenapa dia merasa jika dia sampai melakukan hal itu, berarti dia sudah melakukan tindakan perlawanan yang akan membuat kakaknya tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya padanya.
Tidak, pikiran bodoh. Dia tidak mau memikirkannya tapi pikiran bodoh itu menghantuinya. Jika dengan cara itu dia bisa terbebas, kenapa tidak dicoba? Selama ini dia selalu menjadi gadis yang baik, dia selalu melakukan apa pun yang dikatakan oleh kakaknya. Jika dengan cara seperti itu bisa menghentikan kakaknya, apa dia harus mencobanya?
"Bodoh, Vanila. Bilt hanya mengingatkan jadi tidak boleh memikirkan hal itu dengan serius!" ucap Vanila. Walau dia berkata demikian, tapi dia tetap memikirkannya karena dia merasa cara itu adalah cara paling ampuh untuk melawan sang kakak sehingga dia bisa mendapatkan kebebasan yang dia inginkan. Bagaimanapun dia sudah lelah berlari dan sudah lelah bersembunyi.
Jika dengan cara seperti ini bisa membuatnya terbebas maka akan dia lakukan. Vanila sungguh sudah gila berpikir demikian tapi dia tidak akan berani melakukannya. Itu hanya pikiran gilanya, lebih baik dia bekerja saja dari pada memikirkan ide gila yang baru saja tercetus. Semua gara-gara Bilt, awas saja dia.
Tidak mau terjebak dengan ide gilanya, Vanila kembali bekerja dan lagi-lagi Renata datang ke bar itu untuk mencari keberadaan Abraham. Vanila semakin cemas, melihat wanita itu membuatnya mengutuki akan pikiran bodohnya yang masih tidak bisa dia singkirkan dari pikirannya.
"Hei, jangan melamun!" ucap Bilt seraya menyenggol lengannya.
"Dia datang lagi," Vanila menunjuk ke arah Renata.
"Biarkan saja, sebab itu buatlah banyak kenangan dengan pria itu sebelum mereka kembali bersama."
"Terima kasih, Bilt. Aku memang akan melakukan hal itu apalagi waktuku sudah tidak banyak,."
"Kenapa kau berbicara seolah-olah besok sudah mau mati?!" tanya Bilt dengan nada tidak senang.
"Sudah aku katakan padamu, kau pasti akan merindukan aku suatu saat nanti."
"Menyebalkan, jangan membuat aku takut!"
"Aku tidak menakutimu, Bilt. Tapi aku akan tetap mengingat persahabatan kita karena kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki!"
"Baiklah, baik. dasar gadis pembual!" ucap Bilt tapi dia tahu Vanila tidak sedang bercanda dengan apa yang dia ucapkan apalagi jika mengingat orang-orang yang ditakuti oleh Vanila beberapa hari yang lalu.
Vanila tersenyum dengan manis, malam ini dia harus bersemangat bekerja karena besok dia akan pergi camping bersama Abraham. Biarkan saja wanita itu mencari keberadaan Abraham untuk sesaat, anggap saja dia sedang meminjam Abraham darinya sebelum Abraham dan wanita itu kembali bersama.
Malam yang panjang dan melelahkan tidak dia rasakan akibat semangatnya yang maksimal. Vanila bahkan kembali dengan ceria dan ketika masuk ke dalam rumah, Vanila terkejut karena seseorang meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang. Tidak perlu di tanya, dia tahu itu siapa.
"Ada apa, Rick? Kenapa kau belum tidur?" tanya Vanila.
"Aku menunggumu dan merindukan dirimu, Vanila," ucap Abraham.
Vanila tersenyum, hubungan mereka memang semakin dekat. Pelukan dan ciuman sudah biasa mereka lakukan dan memang itulah yang dia inginkan selama ini.
"Kita tidak bertemu beberapa jam saja, Rick. Jangan membuat aku tersanjung seperti ini."
"Tidak, aku sungguh merindukan dirimu," tapi sesungguhnya yang sangat dia rindukan adalah wanita yang selalu berada di dalam ingatannya. Vanila dijadikan pelarian olehnya tapi semua itu adalah risiko yang harus Vanila tanggung namun cukup seperti itu saja sudah membuat Vanila bahagia.
Walau perkataan Abraham bagaikan sebuah kebohongan di telinganya, walau yang diucapkan oleh Abraham tidak tulus dari hati tapi untuk gadis yang tidak pernah menikmati bagaimana rasanya dicintai dan yang tidak memiliki kebebasan, hal itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Terima kasih, Rick. Sekarang aku mau tidur karena kita akan pergi camping setelahnya."
"Aku sudah tidak sabar tapi sebelum pergi, aku ingin tidur denganmu," ucap Abraham.
"Aku harus mandi terlebih dahulu!"
"Aku tunggu, Vanila," Abraham memutar tubuh Vanila hingga mereka saling berhadapan. Tangannya mengusap wajah Vanila dengan perlahan. Cantik, gadis itu sangat cantik namun dia tidak merasakan apa pun padanya.
"Hari ini ijinkan aku memelukmu agar aku bisa melepaskan rasa rindu yang aku rasakan!" pintanya karena hanya dengan memeluk dan mencium Vanila saja, dia bisa memendam kerinduan yang bergejolak di hati.
"Kenapa jadi tiba-tiba ingin memelukku?"
"Sudah aku katakan, aku rindu denganmu!" Vanila terkejut karena Abraham menggendongnya secara tiba-tiba. Kedua tangan melingkar di leher Abraham, senyum juga menghiasi bibir. Abraham menggendongnya menuju kamar, Vanila merasa bahagia karena dia bisa melihat sang pujaan hati dalam posisi seperti itu walau apa yang mereka lakukan tidak akan terulang kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ass Yfa
kasihan Vanila,,cuma pelampiasan,, sakit nggak seh
2023-11-26
1
Astri
kok aku sedih yah
2023-05-23
0
Samsia Chia Bahir
Bilt sahabat trbaik 😍😍😍
2023-01-27
1