Abraham sudah berada di ruang tamu karena Vanila memintanya untuk menunggu di luar. Vanila sedang memakai baju, dia juga harus memikirkan jawaban yang tepat agar Abraham tidak curiga sama sekali. Jika dia menjawab sebagai istri Abraham hal itu tidak mungkin karena tidak ada satu benda pun yang menunjukkan keberadaan Abraham di rumah itu. Abraham bisa curiga dan tidak mempercayainya.
Dia juga tidak bisa menjawab sebagai kekasih Abraham karena Abraham pasti ingin tahu di mana dia tinggal, siapa orangtuanya dan lain sebagainya. Bisa gawat karena dia tidak bisa menjawab. Dia juga tidak mungkin menyewa pemain tambahan yang akan berperan sebagai kedua orangtua Abraham. Dari pada semakin memperumit diri lebih baik dia mencari jawaban yang lebih masuk akal dan bisa diterima oleh Abraham.
Di luar sana, Abraham masih berusaha mengingat siapa dirinya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, sepertinya ada yang memukul kepalanya hingga membuatnya jadi seperti itu. Tatapan matanya yang tajam melihat ke arah Vanila saat gadis itu keluar dari kamar sambil membawa kotak obat P3K. Si pelaku tersenyum manis sambil melangkah mendekatinya. Sungguh dia sangat ingin tahu, siapa Vanila?
"Aku obati dulu kepalamu," ucap Vanila.
"Apa kau tidak punya baju yang bisa aku gunakan?" tanya Abraham karena dia sudah tidak tahan hanya menggunakan jubah tidur saja.
"Ba-Baju?" celaka, dia hanya menculik orangnya tidak dengan bajunya.
"Ya, kau punya, bukan?"
"Tentu, tunggu sebentar!" kotak obat diletakkan di atas meja dan setelah itu, Vanila berlari masuk ke dalam kamar. Celaka, dia tidak memiliki pakaian pria sama sekali. Dia juga tidak mungkin pergi membelinya saat ini. Sepertinya mau tidak mau sang rekan harus dia libatkan lagi.
Vanila meraih ponselnya, sang rekan yang harus kembali terlibat pun dihubungi dan tidak lama kemudian terdengar suara rekannya.
"Hei, gadis gila. Apa kau mencariku karena sudah terjadi sesuatu dengan pria itu?"
"Ck, kenapa selalu bertanya demikian? Dia baik-baik saja!"
"Lalu, kenapa kau menghubungi aku?"
"Aku butuh bantuanmu."
"No... No... No! Aku tidak mau membantu dan terlibat dengan ide gilamu lagi!" tolak sang rekan lagi.
"Bukan seperti itu, astaga. Aku hanya ingin kau membelikan beberapa pakaian pria. Aku tidak punya dan aku tidak bisa pergi jadi kau harus membantu aku membelinya!"
"Ck, lagi-lagi harus aku!"
"Ayolah, aku hanya menculik orangnya saja dan tidak menculik bajunya sekalian jadi kau harus membantu aku membelikan beberapa pakaian pria."
"Oke, fine. Transfer uangnya maka semua beres!"
"Hm, soal itu... apakah kau bisa menggunakan uangmu terlebih dahulu?"
"Apa? Enak saja! Aku tidak punya!"
"Ayolah, jangan pelit. Uangku sudah habis. Pakai uang yang aku berikan padamu semalam untuk membelinya. Kau bilang ingin membelikan aku karangan bunga dengan uang itu, bukan? Jadi anggap kau sudah melakukannya," ucap Vanila.
"Hei, gadis gila. Aku saja belum menikmati hasil jerih payahku tapi kau sudah mau meminjamnya lagi!" protes sang rekan.
"Please, kau adalah sahabat terbaikku," bujuk Vanila.
"Tidak, aku tidak mau dengar!"
"Gajian aku ganti plus bunga," Vanila masih berusaha.
"Berapa bunganya?"
"Satu persen," ucap Vanila sambil terkekeh.
"Sialan, kenapa aku mau berteman dengan gadis gila seperti dirimu?"
"Kau benar-benar sahabat baikku," ucap Vanila.
"Tidak perlu memuji, menyebalkan. Awas kau nanti!" walau begitu tetap saja sang rekan yang sudah terlanjur terlibat pergi membeli beberapa baju pria menggunakan uang yang Vanila berikan. Ck, padahal dia belum menikmati uangnya, sungguh gadis yang kejam.
Masalah baju selesai, Vanila keluar dari kamar dengan terburu-buru. Vanila kembali menghampiri Abraham sambil tersenyum manis, tatapan mata Abraham kembali melihatnya dengan tajam. Sungguh dia merasa begitu asing dengan wanita itu.
"Sebentar lagi pakaian untukmu akan diantar," ucapnya.
"Jika begitu katakan padaku apa yang terjadi padaku dan siapa yang memukul kepalaku hingga aku jadi seperti ini?"
"Hm, se-sesungguhnya aku juga tidak tahu," jawab Vanila beralasan.
"Apa maksudmu tidak tahu?"
"Aku menemukanmu dalam keadaan terluka," Vanila mulai dengan kebohongannya. Terserah pria itu mau percaya atau tidak tapi dengan kondisinya dia pasti akan percaya.
"Apa maksudmu, apa aku terlibat dengan perkelahian?"
"Ya, aku menemukan kau sedang dipukul habis-habisan oleh sekelompok orang. Mereka seperti memintamu untuk membayar hutang yang kau pinjam."
"Benarkah?" Abraham tampak tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong? Aku sampai hampir celaka karena membantumu dari mereka yang ingin membunuhmu. Aku membawamu dengan susah payah oleh sebab itu kau tidak boleh keluar rumah untuk sementara waktu karena bisa saja mereka menemukan dirimu dan membunuhmu," dusta Vanila.
"Jadi kau tidak tahu siapa aku?"
"Tidak, aku hanya orang yang kebetulan lewat dan secara kebetulan menolongmu," alasan ini paling masuk akal agar Abraham tidak curiga dan agar pria itu percaya dan memang Abraham tampak percaya.
Vanila menggigit bibirnya, was-was. Abraham tidak bertanya lagi jadi sepertinya aman.
"Sekarang apa sudah bisa aku ganti perban di kepalamu?" tanya Vanila.
"Tentu saja, terima kasih sudah menolongku."
"Ti-Tidak perlu dipikirkan tapi kau tidak boleh keluar dari rumah karena bahaya," Vanila meminta demikian karena dia khawatir ada anak buah Abraham melihat keberadaan pria itu.
"Baiklah, aku tidak akan ke mana-mana!"
Vanila bersorak dalam hati, yeay... misi sukses. Tinggal menjalani hari bersama dengan pria itu saja dan mengenalnya lebih jauh.
"Selesai, apa kau mau makan sesuatu?" tanya Vanila.
"Tentu saja," Abraham memandanginya. Sang penolong ternyata tidak saja cantik tapi dia juga baik hati tapi dia tidak tahu jika sesungguhnya gadis itulah pelakunya.
Vanila tersenyum, kotak obat diletakkan dan setelah itu dia pergi ke dapur untuk membuat makanan. Sang rekan yang bertugas membeli pakaian pun sudah datang sambil menggerutu dalam hati. Suara pintu yang diketuk dari luar terdengar, Abraham tidak berani keluar karena dia pikir mungkin saja itu orang yang ingin membunuhnya. Sepertinya Vanila sukses menipunya.
Vanila berlari keluar dan membuka pintu, senyuman tampak mekar tapi wajah rekannya terlihat kesal.
"Gadis gila, awas kau!" ucap rekannya.
"Sttss, jangan keras-keras!" pinta Vanila.
"Nih, awas kau nanti!" ancam sang rekan sambil memberikan pakaian yang dia beli.
"Apa? Aku tidak tahu di mana keberadaan pria yang kau cari!" teriak Vanila tiba-tiba, dia melakukan hal itu untuk menakuti Abraham. Tentunya rekannya terkejut karena teriakannya.
"Ada apa denganmu?" tanyanya heran.
"Sstt.. diam!" pinta Vanila.
"Sungguh aku tidak tahu pria yang kau maksud. Aku tinggal sendiri jadi jangan menggeledah rumahku!" teriak Vanila lagi. Sang rekan menggeleng, entah apa yang sedang dilakukan oleh Vanila saat ini.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau berteriak seperti itu?"
"Aku sedang berpura-pura, sekarang kau sudah bisa pergi karena tugasmu sudah selesai!" usir Vanila.
"Dasar gadis menyebalkan, begitu dibutuhkan sok baik tapi setelah tidak diusir, awas kau!"
"Bye.. Bye!" Vanila melambai dan menutup pintu.
Sang rekan kembali menggeleng, luar biasa. Sungguh gadis gila. Apalagi julukan yang tepat untuk Vanila tapi jujur saja berteman dan bekerja dengan gadis gila itu sangat menyenangkan walau terkadang gadis itu suka memanfaatkan. Abraham Aldway sungguh sial bertemu dengan gadis itu. Sang rekan pun pergi, Vanila masuk ke dalam. Abraham tidak terlihat, jadi Vanila pun pura-pura mengomel seolah-olah orang yang menginginkan kematian Abraham datang dan tentunya akting yang dia lakukan berjalan sukses karena saat itu, Abraham terlihat gelisah di dalam kamarnya
#Abraham#
#Vanila#
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
mrsdohkyungsoo
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-07
1
mrsdohkyungsoo
/Drool//Drool//Drool//Drool/
2024-03-05
0
mrsdohkyungsoo
visual ab dan vanilla 😍😍😍
2024-03-05
0