Renata pergi ke bar dengan harapan bisa menemukan keberadaan Abraham. Dia datang seorang diri tanpa mengatakan pada sang asisten Abraham. Lagi pula tidak penting, dia akan mencari keberadaan Abraham dengan kemampuannya sendiri.
Dia juga membawa foto Abraham, pasti ada yang melihat keberadaan Abraham. Tidak mungkin tidak ada satu orang pun yang tidak melihat Abraham. Dari ratusan pengunjung bar pasti ada yang melihat keberadaan kekasihnya.
Renata duduk di dekat meja bartender, tatapan matanya melihat sana sini. Siapa tahu dia bisa menemukan keberadaan Abraham dari para tamu. Dia akan berada di sana sampai bar tutup, jika diperlukan dia akan bertanya dengan beberapa pengunjung. Semoga dengan usaha yang dia lakukan, dia bisa menemukan sang kekasih yang hilang begitu saja.
"Tolong segelas cocktail," Renata memesan minuman itu pada Vanila.
Vanila tidak tahu jika wanita yang baru saja memesan minuman adalah tunangan Abraham. Dia mulai meracik minuman yang dipesan oleh Renata. Tidak butuh lama, segelas cocktail sudah jadi dan diberikan pada Renata.
"Ini minumanmu, Nona," ucap Vanila.
"Terima kasih," gelas diambil, isinya pun diminum.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kau pengunjung baru di bar ini?" tanya Vanila basa basi.
"Untuk apa kau banyak bertanya?" tanya Renata sambil menatapnya sinis.
"Maaf jika begitu," Vanila berusaha tersenyum. Wanita yang tidak ramah, lebih baik dia kembali bekerja.
"Cih, hanya seorang bartender saja untuk apa banyak bertanya? Apa dia tidak tahu siapa aku?" cibir Renata dan cibirannya dapat di dengar jelas oleh Vanila.
Vanila tersenyum dan menggeleng, apa salahnya menjadi seorang bartender? Menjadi bartender juga tidak mudah, keahlian itu dia dapatkan dari para sahabat yang dia kenal saat menjadi pembalap liar di jalanan. Beruntungnya dia memiliki keahlian seperti itu jika tidak, dia tidak akan bisa bekerja di bar itu.
'"Ada apa?" tanya Bilt.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya pada orang yang tidak boleh ditanya," jawab Vanila sambil tersenyum.
Bilt melihat ke arah Renata, sepertinya tidak asing. Sepertinya dia pernah melihat wanita itu, tapi di mana? Karena merasa tidak penting jadi Bilt kembali bekerja apalagi banyak tamu yang harus dia layani.
Renata melihat para pengunjung, harapannya menemukan Abraham sangat tinggi namun sudah berjam-jam dia duduk di sana, Renata tidak menemukan keberadaan Abraham sama sekali. Renata terlihat gusar, dia mulai bertanya pada orang-orang yang duduk di sampingnya untuk mencari keberadaan Abraham namun tidak ada yang tahu.
Bilt tidak henti menatap ke arah Renata, dia sangat ingin menghampiri Renata dan pura-pura berbincang tapi dia harus mencari kesempatan yang tepat. Renata sudah terlihat kesal, tidak ada satu pun yang tahu keberadaan Abraham dari orang-orang yang dia tanya.
Bilt mulai mendekat namun langkahnya terhenti saat Renata menjawab ponselnya yang berbunyi. Renata terlihat kesal melihat orang yang menghubungi namun dia tidak bisa menolak untuk menjawab panggilan itu.
"Ada apa? Jangan katakan kau butuh uang lagi!" ucapnya sinis.
"Kau sangat tahu apa yang aku inginkan, adikku sayang," ternyata yang menghubunginya adalah kakaknya yang pemabuk dan suka berjudi.
"Selalu seperti itu, apa yang kau inginkan?" tanya Renata sinis.
"Dengar, aku ingin berbisnis," ucap sang kakak.
"Bagus jika begitu, aku senang mendengarnya. Dengan begini kau tidak akan meminta uang denganku lagi!"
"Bagus jika kau senang, dengan begitu kau harus membantu aku," ucap sang kakak pula.
"Membantu bagaimana?" tanya Renata tidak mengerti.
"Aku ingin membuka kasino di kapal yacht, kau bisa bayangkan berapa keuntungan yang bisa aku dapatkan nanti? Kita akan semakin kaya, Renata!"
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Renata heran.
"Kau memiliki seorang kekasih yang kaya raya jadi mintalah Abraham membelikan sebuah kapal yacht untukku," pinta sang kakak. Kekasih adiknya yang kaya bisa dia manfaatkan.
"Jangan macam-macam, Luke. Apa kau kira Abraham mau membelikan kapal mahal itu untukku?" Renata hampir berteriak. Bilt terkejut mendengar nama Abraham disebut oleh Renata. Oh, dia ingat sekarang. Waktu itu ada foto Renata di informasi yang sahabatnya dapatkan tapi dia merobek foto itu agar Vanila tidak melihatnya.
Menarik, pembicaraan wanita itu menarik. Bilt mengambil ponsel untuk merekam pembicaraan Renata, Mungkin saja rekaman itu bisa dia gunakan untuk membantu Vanila disaat dia terdesak. Berguna atau tidaknya rekaman itu nanti, tidak ada salahnya merekam. Agar rekaman terdengar jelas nantinya, Bilt melangkah semakin mendekati Renata tanpa membuat wanita itu curiga.
"Ayolah, setelah ini aku tidak akan meminta uang padamu lagi," ucap Luke.
"Tidak! Aku tidak mau meminta hal itu pada Abraham!"
"Kenapa, Renata? Untuk apa kau memiliki kekasih kaya jika tidak kau manfaatkan?"
"Aku memanfaatkan kekasihku bukan untukmu, Luke. Tapi untukku agar aku bisa hidup dengan nyaman seperti sosialita lainnya. Lagi pula aku tidak mendapatkan apa pun dari perusahaan Daddy jadi jangan mengganggu hubunganku dengan Abraham karena hanya dia yang bisa memberikan kemewahan untukku, bukan kau atau Daddy!" ucap Renata tanpa menyadari seorang bartender sedang merekam pembicaraannya.
Bilt terkejut, sungguh luar biasa. Rekaman itu benar-benar berguna, dia sangat yakin. Setidaknya dengan rekaman itu dia bisa menyelamatkan Vanila tapi yeah, dia rasa hubungan Abraham dan tunangannya yang serakah dan matre itu akan baik-baik saja setelah ingatannya kembali.
Renata mematikan ponselnya sambil menggerutu, dia benar-benar kesal dengan kakaknya yang selalu meminta uang. Bukan satu kali, tapi entah sudah berapa kali dan beruntungnya selama ini dia bisa mengelabui Abraham. Minuman di teguk sampai habis, Renata benar-benar terlihat kesal.
"Untukmu, Nona," Bilt mendekatinya dan meletakkan segelas minuman di hadapan Renata, "Aku yang traktir," ucap Bilt sambil tersenyum.
Renata menatapnya dengan tatapan sedikit curiga, pemuda yang tampan. Jarang ada yang membelikan minuman untuknya apalagi pemuda tampan seperti bartender itu.
"Aku lihat anda sudah lama berada di sini, apa Nona menunggu seseorang?" tanya Bilt basa basi.
"Tidak, sesungguhnya aku mencari orang," jawab Renata.
"Oh yeah? Siapa yang Nona cari?"
"Hm, sepertinya tidak ada salahnya bertanya padamu," Renata mengeluarkan foto Abraham dan memberikannya pada Bilt.
"Apa kau pernah melihat pria ini di sini?" tanya Renata.
Bilt mengambil foto itu, Vanila terkejut melihat foto yang berada di tangan Bilt karena saat itu dia sedang berdiri di belakang Bilt untuk mengambil sebotol minuman. Tatapan matanya jatuh pada Renata, firasatnya mengatakan jika wanita itu memiliki hubungan dengan Abraham. Karena ingin tahu, Vanila mencoba semakin mendekat dan masih berdiri di belakang Bilt.
"Maaf, Nona. Aku tidak melihatnya. Apa dia kakak Nona?" Bilt mengembalikan foto itu dan pura-pura bertanya demikian.
"Bukan, dia tunanganku yang tiba-tiba hilang," Renata mengambil foto dan menghela napas.
Vanila terkejut, jadi wanita itu adalah tunangan Abraham? Kebetulan macam apa ini? Vanila melangkah pergi, tidak. Tunangan Abraham sudah datang dan dia rasa, dia tidak bisa menyembunyikan keberadaan Abraham terlalu lama. Bisa saja mereka menemukan keberadaan Abraham.
Vanila melihat ke arah Renata yang masih berbicara dengan Bilt. Sebaiknya dia segera mengajak Abraham pergi camping sebelum semua terlambat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ikbal Samija
dia
2024-01-23
0
Ikbal Samija
Renata berbahaya. emang sih realistis. tapi yg ku tangkap karakter renata ini bakal selingkuh klu kekayaan abraham udah di tangan dis
2024-01-23
0
Samsia Chia Bahir
Hhhmmmmmmm 🤔🤔🤔
2023-01-27
0