Jam pulang kerja sudah tiba, pengunjung bar mulai membubarkan diri karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Vanila dan Bilt membereskan minuman dan gelas, mereka akan pulang setelah semua rapi. Vanila melihat jam sesekali, dia sungguh sudah tidak sabar untuk pulang.
Entah apa yang dilakukan oleh Abraham di rumah selama dia pergi, dia harap Abraham masih berada di rumah dan tidak melarikan diri. Tapi jika hal itu terjadi, dia juga tidak bisa melakukan apa pun walau sangat disayangkan karena mereka belum memiliki kenangan sedikitpun.
"Hei, kenapa kau begitu terlihat gelisah?" Bilt menepuk bahunya karena Vanila melihat jam tangannya tiada henti.
"Aku sudah tidak sabar untuk pulang, aku khawatir dia kabur saat aku pergi," ucap Vanila.
"Dia memang harus kabur darimu jika tidak dia akan semakin sial!"
"Menyebalkan, bertemu denganku adalah sebuah anugerah."
"Ck, anugerah apa? Sudah kau culik, kau juga memukulnya sampai hilang ingatan. Apa itu bisa disebut anugerah?"
"Tentu saja anugerah, suatu hari dia akan menyadarinya jika bertemu denganku adalah sebuah anugerah."
"Baiklah, baik. Tidak ada gunanya berdebat denganmu. Aku mau pulang saja!"
"Hei, antar aku pulang!" pinta Vanila.
"Tidak mau, pulang sendiri!" tolak Bilt.
"Ayolah, aku sedang berhemat. Lagi pula kita satu arah," pinta Vanila. Dia sudah ingin cepat sampai, jika dia mengikuti sahabatnya yang menggunakan motor maka dia akan cepat tiba.
"Ck, benar-benar gadis yang paling pandai memanfaatkan keadaan!"
"Semakin banyak kau berbuat kebaikan padaku, maka kau akan semakin tampan."
"Tidak ada moto seperti itu, jadi jangan mengada-ada!"
Vanila terkekeh, mereka mengganti baju terlebih dahulu dan setelah itu mereka keluar dari bar. Setiap kali keluar dari bar, Vanila pasti selalu tampak waspada. Bilt mengantar Vanila terlebih dahulu, mereka memang satu arah walau begitu baru kali ini Vanila memintanya untuk mengantarnya pulang.
"Terima kasih, besok jangan lupa datang untuk mengetuk pintu," ucap Vanila setelah tiba.
"Setelah ini kau harus membelikan aku pizza," ucap Bilt.
"Bisa diatur, bye!" Vanila melambai dan setelah itu berlari menuju rumahnya.
Bilt menggeleng, sungguh gadis yang sangat aneh dan misterius. Bilt membawa motornya pergi, sedangkan Vanila masuk ke dalam rumahnya dengan perlahan. Vanila melihat sana sini. Abraham tidak ada di sofa. mungkin saja dia berada di kamar. Dia harap demikian karena dia takut Abraham pergi.
Setelah meneguk segelas air hangat, Vanila masuk ke dalam kamar. Senyum menghiasi wajah saat melihat Abraham sedang tidur di atas ranjangnya. Biasanya saat dia kembali tidak ada siapa pun tapi sekarang seorang pria tampan sedang tidur di atas ranjangnya.
Rasa lelahnya jadi tidak begitu terasa. Semoga dia bisa menikmati hidupnya selama keluarganya belum menemukan keberadaannya. Vanila masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri tapi tidak lama, setelah menggunakan pakaiannya, dia justru berbaring di sisi Abraham untuk mengagumi ketampanan pria itu.
Sungguh pria yang sempurna, itu baginya walau dia tidak tahu bagaimana kehidupan Abraham tapi bisa dia tebak jika kehidupannya tidak jauh berbeda seperti pria kaya lainnya. Pasti sangat membosankan, selain ke kantor, kantor, dan kantor tidak ada tempat menyenangkan yang didatangi oleh pria pembisnis seperti dirinya.
Vanila masih memandanginya, jarinya bahkan bermain di garis wajah Abraham. Dia akan mengajak Abraham melakukan hal yang menyenangkan setelah situasi aman. Membuat kenangan berdua tidaklah buruk sebelum ingatan Abraham kembali dan sudah dipastikan pria itu akan membencinya suatu saat nanti tapi dia ingin memanfaatkan waktu yang ada.
Vanila tidak sadar jika dia tertidur akibat rasa kantuk yang luar biasa. Abraham terkejut saat terbangun, Vanila sedang tidur dalam pelukannya. Abraham segera memundurkan tubuhnya, dia tidak boleh mengambil kesempatan apalagi pada orang yang sudah menolongnya.
Vanila berbalik. menghadap ke arahnya. Tatapan mata Abraham kini tidak berpaling dari wajah gadis cantik yang sedang tidur di hadapannya. Rasanya dia pernah melihat seorang wanita sedang tidur seperti itu. Dia merasa tidak asing.
Abraham berpikir begitu lama, apakah wanita yang ada di ingatannya adalah Vanila? Tidak mungkin, Vanila berkata jika dia hanya orang yang kebetulan menolongnya. Jika bukan Vanila, lalu siapa wanita itu? Dia sangat ingin tahu tapi dia tidak bisa mengingatnya. Mungkin berbaring di sana untuk beberapa saat bisa membuatnya mengingat siapa wanita yang ada di ingatannya namun kepalanya jadi sakit.
Sebaiknya dia mencari angin, dia rasa berdiri di balkon kamar tidak masalah karena tidak ada yang melihatnya. Abraham beranjak dengan hati-hati agar Vanila tidak terbangun. Abraham memandangi wajah Vanila sebelum pergi, samar-samar dia kembali mengingat jika dia pernah memandangi seorang wanita dalam posisi yang tidak jauh berbeda. Aneh, apa dia sudah menikah? Tapi tidak mungkin karena tidak ada cincin di jarinya. Sepertinya dia sudah memiliki seorang kekasih, mungkin saja.
Sebuah perasaan rindu dia rasakan, hatinya terasa kosong. Dia seperti merindukan seorang wanita, tapi entah siapa. Dia bisa merasakannya, seseorang yang begitu dekat dengannya. Abraham berdiri cukup lama di balkon kamar, dia terkejut saat Vanila memanggilnya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Vanila menghampirinya dengan wajah mengantuk.
"Aku sedang berpikir," napas berat di hembuskan. Tatapan matanya menatap ke atas, memandangi langit biru.
"Apa yang kau pikirkan?" Vanila sudah berdiri di sisinya dan menghirup udara pagi yang menyegarkan.
"Aku merasa mengingat seseorang, seorang wanita tapi aku tidak ingat."
Vanila berpaling dan menatapnya, apa yang Abraham katakan?
"Kau, mengingat siapa?" tanyanya dengan hati-hati.
"Seorang wanita, aku merasa sangat merindukannya. Aku sungguh ingin tahu tapi sekeras apa pun aku berusaha mengingat, aku tidak bisa mengingat apa pun."
Vanila terdiam, pasti yang Abraham maksud adalah tunangannya. Abraham merasa rindu dengan tunangannya adalah hal wajar, mungkin saja dia sangat mencintai wanita itu.
"Mungkin yang kau rindukan adalah adik perempuanmu," dustanya sambil bersandar di lengan Abraham.
Abraham meliriknya sejenak dan tanpa ragu, Abraham merangkul bahunya.
"Mungkin saja, aku akan mencoba mengingatnya lagi."
"Pelan-Pelan saja, jika situasi sudah aman maka aku akan mengajakmu menghabiskan waktu di alam terbuka. Mungkin dengan begitu kau bisa mengingat sesuatu," ucap Vanila,. Sesungguhnya itu hanya alasan saja, dia ingin membuat kenangan dengan Abraham sebelum ingatan pria itu kembali.
"Apa kau tidak memiliki sanak keluarga di sini, Vanila?" tanya Abraham. Mengenal sang penolong lebih jauh tidak ada salahnya.
"Tidak, aku tidak memiliki siapa pun di sini," kali ini dia tidak berbohong karena keluarganya memang tidak ada di Australia.
"Baiklah, sepertinya kita sama-sama sebatang kara di kota ini."
"Kau benar, tapi saat ingatanmu kembali nanti, apakah kau akan membenciku, Rick?" Vanila berpaling dan memandanginya dengan lekat.
"Tentu tidak, untuk apa aku membenci orang yang sudah menolongku? Aku tidak akan membencimu karena setelah ingatanku kembali, aku akan memberikan sesuatu padamu sebagai ungkapan terima kasihku."
"Terima kasih, jangan lupakan perkataanmu ini," Vanila kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Semoga saja Abraham tidak melupakan perkataannya saat ingatannya sudah kembali tapi bagaimana jika Abraham melupakan perkataannya itu saat ingatannya telah kembali? Saat ini dia bisa menikmati hasil manis dari perbuatan yang dia lakukan tapi pada saat itu tiba, semua akan berubah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Septi Wariyanti
biasanya yg begini tingkah cowoknya LhA ini malah kebalik hadehhhhh dasar vanila
2023-06-09
0
Mbak Rin
oh val....lau ingar pasti kau dihajar oleh abraham
2022-12-30
2
⸙ᵍᵏ𝗣𝗢𝗧𝗘𝗞PREDATOR 🍇🐊⃝⃟Kᵝ⃟ᴸ
Moga abraham ga lupa yach val 😁
2022-12-03
3