Matahari sudah naik ke atas, Vanila terbangun karena silaunya sinar matahari. Dia masih berbaring di paha Abraham, pria itu bahkan tidak membangunkannya sama sekali. Selama Vanila tidur, Abraham mencoba mencari ingatannya yang hilang namun tidak ada yang bisa dia ingat.
Sedikit saja, dia sangat berharap dapat mengingat sedikit saja tapi selama dia duduk di sana, tidak ada yang bisa dia ingat sama sekali. Mungkin dia tidak pernah pergi ke laut selama ini. Jangan-Jangan hidupnya sangatlah membosankan.
Vanila beranjak dari atas pangkuannya dengan terburu-buru, dia bahkan melihat sekeliling sambil mengusap wajahnya.
"Apa tidurnya sudah cukup?" tanya Abraham.
"Astaga, kenapa kau tidak membangunkan aku? Oh, tidak. Jam berapa sekarang?" Vanila tampak panik dan melihat jam di pergelangan tangannya. Vanila terkejut karena saat itu sudah pukul delapan pagi.
"Oh, tidak. Aku melewatkannya. Padahal aku ingin menikmati matahari terbit bersama denganmu," Vanila menunduk dan terlihat kecewa.
"Maaf, kau tidur begitu pulas jadi aku tidak mau mengganggu tidurmu," ucap Abraham.
"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena melewatkannya," ucap Vanila.
"Besok kita bisa datang lagi untuk melihatnya."
"Besok kita pergi ke tempat lain, aku ingin membuat banyak kenangan indah bersama denganmu."
"Untuk apa, Vanila?" Abraham menatapnya dengan tatapan heran.
Vanila menutup mulut. Celaka, hampir saja dia keceplosan. Jangan sampai Abraham curiga dengan apa yang dia ucapkan barusan.
"Mak-Maksudku kita harus membuat banyak kenangan baru selama ingatanmu belum kembali," ucap Vanila. Senyum menghiasi bibir, semoga Abraham tidak curiga jika dialah yang sangat ingin membuat kenangan indah bersama dengan Abraham selama mereka bersama.
"Jadi, kita mau pergi ke mana setelah ini?" Abraham merangkul bahunya agar Vanila bisa bersandar di lengannya.
"Bagaimana jika kita pergi sarapan terlebih dahulu? Aku rasa kau sudah lapar, bukan?"
"Yeah... bukan ide buruk!" walau sudah sepakat tapi mereka belum juga beranjak. Tatapan mata mereka tidak lepas dari ombak laut yang berdebur menerjang sisi pantai. Sepertinya berjalan di sisi pantai sambil berpegangan tangan akan terasa menyenangkan
Vanila berpaling, melihat ke arah Abraham. Dia tidak menduga, ternyata Abraham juga sedang melihatnya. Vanila tersenyum dengan wajah tersipu, entah kenapa dia jadi merasa mereka sudah seperti pasangan kekasih saat ini. Abraham berdehem, dia jadi salah tingkah sendiri.
"Jadi pergi sarapan atau tidak?" tanyanya basa basi.
"Te-Tentu saja," Vanila beranjak sambil membersihkan pasir yang ada di bagian belakang tubuhnya.
Abraham juga beranjak, dia diam saja berdiri di sisi Vanila namun setelah Vanila sudah selesai, Abraham meraih tangan Vanila. Mereka berdua melangkah bersama, tidak ada yang bersuara. Mereka melangkah menyelusuri sisi pantai. Vanila tersenyum, kebahagiaan yang memenuhi hatinya saat ini tidak akan dia lupakan.
Mereka berdua melangkah menuju motor. Abraham sangat ingin membawa benda itu tapi dia tidak tahu bisa atau tidak. Jangan sampai mereka berdua terjatuh akibat ulahnya walaupun duduk di belakang wanita sangat memalukan tapi dia tidak berdaya.
Vanila membawa Abraham pergi dari tempat itu, motor dihentikan di sebuah cafe karena mereka akan sarapan di sana. Menikmati segelas kopi dan sepotong kue sambil memandangi laut, mereka benar-benar menikmati pagi mereka tanpa menyadari beberapa orang melihat ke arah mereka dengan tatapan curiga.
Sebuah foto berada di tangan, orang-orang itu melihat ke arah Vanila dan Abraham lalu melihat ke arah foto lagi. Tidak salah lagi, sepertinya orang itulah yang mereka cari. Mereka melangkah mendekat, Vanila melihat orang-orang itu dengan tatapan heran. Firasat buruk, instingnya mengatakan jika dia harus lari.
"Ayo kita lari, Abraham," ajak Vanila.
"Kenapa?" Abraham sangat heran.
"Jangan berpaling, sebaiknya kita segera lari!" ajak Vanila.
"Dalam hitungan ketiga?" tanya Abraham.
Vanila mengangguk, orang-orang itu sudah semakin mendekati mereka. Vanila dan Abraham saling pandang dan setelah itu, "Tiga!" teriak Vanila.
Abraham meraih tangan Vanila, mereka segera berlari menuju motor sambil berpegangan tangan. Orang-Orang itu mengejar mereka, teriakan salah satu dari mereka juga terdengar untuk meminta mereka jangan lari.
Helm dikenakan dengan terburu-buru, siapa pun orang-orang itu yang pasti mereka harus lari tanpa tertangkap. Mesin motor sudah menyala, Vanila membawa benda itu dengan kecepatan tinggi. Dia kira mereka tidak akan dikejar namun dua mobil di belakang sana mengejar mereka dengan kecepatan tinggi.
"Sial, mereka tidak menyerah!" ucap Vanila setelah menoleh ke belakang.
"Apa mereka orang-orang yang ingin menangkap aku, Vanila?" tanya Abraham sambil berteriak.
"Sepertinya!" jawab Vanila walau dia tidak yakin karena bisa saja orang-orang itu adalah orang utusan keluarganya untuk menangkap dirinya dan menariknya pulang.
"Jangan lari kalian!" teriakan orang yang mengejar mereka terdengar.
"Jika aku tidak lari maka aku orang bodoh!" motor versus mobil, mari lihat siapa yang akan menang.
Motor dibawa dengan kecepatan tinggi, melewati mobil besar yang ada hadapannya. Kedua mobil itu masih mengejar tapi mereka sudah hampir kehilangan jejak. Mobil juga melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu dapat mengejar mereka bahkan sudah berada tidak jauh dari mereka.
"Pegangan yang erat, Rick!" pinta Vanila.
Abraham memeluk Vanila dengan erat sesuai dengan permintaannya, entah apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu. Vanila membawa motornya dengan kecepatan tinggi lalu membelokkan motornya secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba, motor di gas sampai maksimal sehingga benda itu melompat naik ke atas untuk melewati pembatas jalan yang membatasi jalan yang satu dengan jalan yang lain.
Abraham terkejut, motor mendarat dan berputar di atas aspal sampai menimbulkan asap. Abraham tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami, sungguh dia tidak menyangka Vanila gadis yang nekad. Kedua mobil yang mengejar mereka pun berhenti, orang-orang itu keluar dari mobil karena mereka tidak bisa mengejar lagi akibat pembatas jalan.
Motor sudah berhenti berputar, Vanila tampak puas. Orang-Orang yang mengejarnya tampak mengumpat. Vanila menunjukkan jari tengahnya untuk mereka. Rasanya benar-benar menyenangkan. Rasanya kembali ke masa lalu tapi sebaiknya dia pergi karena orang-orang itu bisa kembali mengejar mereka.
"Apa kau baik-baik saja, Rick?" tanya Vanila.
"Yeah, seandainya aku bisa membawa benda itu? Aku jadi seperti pecundang yang hanya bisa duduk di belakangmu saja!" ucap Abraham dengan nada kecewa.
"Jangan di pikirkan, lain kali aku bisa berada di belakangmu setelah ingatanmu pulih."
"Kau benar, tapi sebaiknya kita pergi karena mereka kembali mengejar," ucap Abraham.
"Oh, tidak. Jangan sampai tertangkap!"
Vanila kembali membawa motornya, sudah saatnya pergi. Abraham tersenyum di belakangnya, sungguh gadis yang tidak terduga dan penuh kejutan. Motor pun kembali di jalankan dengan kecepatan tinggi, walau acara sarapan mereka terganggu tapi apa yang baru saja mereka lalui terasa menyenangkan dan tentunya, itu bisa menjadi kenangan yang tidak akan mereka lupakan nantinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ass Yfa
aku baru mmpr kak
2023-11-26
0
Feri Yanti
kk Reni aku mampir di sini setelah baca keluarga Smit
2023-04-25
0
Nabila
wao .. jadi ingat masa gadis nya vivia istri Macthell smit yg sesorang
agen rahasia persis aksinya Vivia dulu keren .. apa jagan2. vanila ada si kembar 6 .. hemmm
2023-04-05
1