"Hiks.. hiks... "Nana menangis sejadi-jadinya di pelukan Nia.
"Kenapa kamu harus melakukan semua itu, Na? Bukan begitu caranya mengambil hati Amar! kamu tau Amar itu seperti apa? seharusnya kamu bisa bersikap lebih lembut untuk mengambil hatinya," jelas Nia yang kali ini juga sedikit kecewa dengan tindakan Nana yang menurutnya terlalu gegabah.
"Jadi Mama juga menyalahkan Nana? kenapa tidak sekalian Mama usir Nana seperti Papa?" ucap Nana tidak senang dengan respon Mama nya yang terlihat kali ini tidak mendukungnya.
"Bukan sayang, bukan begitu! Mama tidak menyalahkan kamu, hanya saja apa yang kamu lakukan ini kurang tepat. untuk mengambil hati Amar, kamu itu harus lebih bisa menahan diri kamu, jadi wanita yang lebih lembut. Karena wanita yang seperti itu yang Amar suka. Jika kamu seperti ini, bagaimana kamu bisa mendapatkan hati Amar, sayang?" ucap Nia membuka pikiran putrinya.
"Nana hanya ingin Amar tau kebenarannya, kalau wanita yang Amar nikahi itu bukan wanita baik-baik! wanita yang hanya lahir di luar nikah, tidak pantas untuk laki-laki terhormat seperti Amar!" ucap Nana mengingat kejadian saat dirinya membuka kerudung Almira. Tidak bisa di pungkiri, kini setelah mengetahui seperti apa wajah Almira. Nana semakin cemas.
Bagaimana tidak, Almira ternyata memiliki wajah yang cantik, tentu saja ini membuat Nana semkin tidak memiliki peluang untuk bersaing. Dan rasa benci pada Almira semakin menjadi.
"Tapi caranya bukan seperti itu Almira, apa kamu sadar, ini hanya akan membuat kamu dan Amar semakin jauh. Belum lagi, Ane dan Arif pasti akan berpikir negatif tentang kamu," ucap Nia menyadarkan Nana kalau tidaknya itu salah, namun Nana yang selalu merasa dirinya benar tentu saja tetap tidak mau mengakui kesalahannya.
"Jangan seperti ini Nana, apa yang kamu lakukan ini hanya akan menghancurkan diri kamu sendiri," ucap Nia yang tak bosan-bosannya mengingatkanku Nana agar tidak salah langkah.
"Lalu Nana harus bagaimana Ma? toh ini juga sudah terjadi?" tanya Nana yang tampak tidak menyesali apa yang sudah di lakukannya.
"Sebaiknya kamu datang ke rumah Amar dan minta maaf sama Almira," bujuk Nia agar Nana mau meminta maaf pada Almira.
"Nana minta maaf sama wanita itu maksud Mama? tidak Ma, Nana tidak mau! untuk apa Nana menjatuhkan harga diri Nana di depan wanita yang lahir di luar nikah seperti itu," jawab Nana tidak merasa bersalah.
"Sayang, anggap saja ini salah satu pengorbanan kamu untuk bisa kembali mendapatkan simpati dari Amar dan orang tuanya. Kamu tidak mau kan mereka semakin membenci kamu?" bujuk Nia lagi.
Nana menghela nafas dan kembali berpikir mungkin apa yang Mama nya katakan kali ini memang benar. Nana tidak ingin Amar semakin membencinya. mengalah untuk menang, itu yang ada di benak Nana.
***
"Bun, Bagaimana keadaan Almira?" tanya Amar ketika baru pulang ke rumah dan melihat kedua orang tuanya ada di lantai bawah.
"Almira baru saja tidur, jangan di ganggu dulu, biarkan Almira tidur, kasihan. Sepertinya kali ini Almira benar-benar merasa terguncang jiwanya. Jujur Bunda kasihan sekali melihat kondisi Almira. Kamu tau kan bagaimana Almira sangat menjaga dirinya, tiba-tiba sekarang Almira harus di permalukan di depan umum seperti itu." ucap Ane.
Amar mengepalkan tangannya menahan emosi yang membuncah di hatinya. Seandainya Nana bukan seorang perempuan mungkin saat ini habis Nana di tangan Amar.
"Lalu bagaimana tadi pertemuan kamu dengan Nana?" tanya Ane.
"Wanita itu gila Bun, dia sama sekali tidak merasa bersalah. sepertinya mental Nana itu terganggu." jawab Amar dengan gejolak emosi di hatinya.
"Kamu yang sabar, dampingi Almira, kuatkan Almira, kamu tau sendiri Nana itu orang nya nekat. Bunda hanya takut kalau Nana akan berbuat yang lebih buruk lagi," ucap Ane dengan kekhawatirannya.
"Sebenarnya apa yang Nana lakukan, bisa kita selesaikan dengan jalur hukum," sahut Arif yang sejak tadi diam.
"Iya yah, tadi Amar juga bilang seperti itu sama Nana di depan Om Alan, tapi untuk saat ini Amar harap Nana bisa minta maaf secara langsung sama Almira. kecuali kalau dia berulah lagi, baru kita akan menempuh jalur hukum," ucap Amar.
"Tapi bukankah kali ini sudah sangat keterlaluan? kenapa harus menunggu nanti?" tanya Ane yang lebih memilih jika Nana di laporan pada polisi agar mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Apa kamu tau, Almira pipinya sampe memar lho." ucap Ane lagi.
"Almira terluka bun? tadi Amar tidak terlalu memperhatikan, jadi tidak tau kalau Almira sampai terluka."
"Sepertinya tidak sengaja ke pukul saat Nana berusaha menarik niqabnya," jelas Ane.
"Sebenernya Amar juga ingin Nana mendapat ganjaran dari apa yang sudah dilakukan, tapi Amar masih menghormati Om Alan. Biar bagaimana Om Alan sudah seperti keluarga bagi kita. Jujur Amar merasa tidak enak sama Om Alan Bun," ucap Amar.
"Apa yang kamu katakan benar, Om Alan sudah seperti adik buat Bunda dan ayah, tapi apa yang sudah Nana lakukan kali ini sudah tidak bisa di maafkan, Mar." ucap Ane. Ane yang biasanya sabar, kali ini menjadi murka karena apa yang Nana lakukan.
"Mas Amar benar Bun, Almira sudah tidak apa-apa. tidak perlu di perpanjangan lagi masalah ini," sahut Almira.
"Almira kenapa kamu bangun sayang, sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Ane khawatir dengan keadaan Almira.
"Almira sudah tidak apa-apa Bun," jawab Almira.
"Almira, maafkan aku karena tidak bisa melindungi kamu, maafkan aku juga karena aku belum melaporkan Nana ke polisi," ucap Amar takut Almira salah paham, karena tidak melaporkan Nana.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin melaporkan perbuatan Nana. Biarlah Alloh yang menyadarkannya dan semoga Alloh memberikan Nana hidayah," ujar Almira.
"MasyaAlloh Almira, hati kamu begitu baik nak. Bagaimana bisa kamu masih mau mendoakan orang yang sudah menyakiti kamu?" Ane kagum dengan kesabaran menantunya.
"Almira, Ayah bangga mempunyai menantu seperti kamu. Masalah Video yang sempat beredar di dunia maya, kamu tidak perlu khawatir lagi, Ayah sudah membereskan semuanya, " ujar Arif tersenyum.
"Maksud Ayah, Video saat Nana membuka jilbab Almira sudah tidak ada yah?" tanya Almira antusias.
"Iya, benar. Vidio itu sudah berhasil Ayah takedown!" ucap Arif.
"Alhamdulillah, terima kasih yah..terima kasih!" ucap Almira senang dan tak henti-hentinya bersyukur.
Bukan hal yang sulit bagi Arif untuk mentakedown Video itu, dengan kekuasaan yang Arif miliki.
"Alhamdulillah, Amar juga berterima kasih sama Ayah, tanpa di mintai bantuan Ayah sudah tau harus melakukan apa," puji Amar.
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Iman sulaiman
itu mh bukn nana cinta sama amar tpi obsesi
2022-11-03
0
Hidayat
lanjut up lg thor.
2022-11-02
0
Maulana ya_Rohman
dan semoga di tumbuhkan rasa cinta untuk amar ya AUTHOR🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲
2022-11-02
0