Pagi ini walaupun Almira sedang sakit, tapi Almira tetep menyiapkan sarapan untuk suami dan juga mertuanya, bahkan Almira juga membuatkan bekal sarapan untuk Amar.
"Bun, Ayah, Almira berangkat ke kampus dulu? Ada kegiatan pagi di kampus," ucap Almira mencium tangan mertuanya.
"Pagi sekali sayang? apa tidak menunggu Amar saja?" tanya Ane.
"Almira ada kegiatan pagi di kampus bun, mau menyiapkan materi untuk ujian mahasiswa," jawab Almira.
"Mas, saya berangkat dulu. Bekal makan siang Mas Amar ada di meja makan, Assalamu'alaikum" ucap Almira mencium tangan Amar.
"Almira," Pangil Amar ketika bersalaman dengan Almira dan merasakan tangan Almira suhu tubuhnya tidak seperti biasanya.
"Iya mas," jawab Almira menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Amar.
"Tidak Mas, saya baik-baik saja," jawab Almira.
"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Amar lagi.
"InsyaAlloh, saya tidak apa-apa mas, saya berangkat dulu mas, Assalamu'alaikum," ucap Almira berlalu.
"Walaikumsalam," jawab semuanya.
Amar menatap punggung Almira hingga tak terlihat lagi, Amar merasa kalau Almira sepertinya sedang sakit.
"Ya sudah kita sarapan saja dulu, kasihan Almira. sampai tidak sempat sarapan," gumam Ane.
"Almira kan sudah bawa bekal bun, nanti juga di kampus pasti dia sarapan," Sahut Amar.
"Kamu itu tidak ada cemas-cemasnya sama istri. contoh Ayah kamu, begitu perhatian sama Bunda," gerutu Ane.
"Almira ternyata pintar masak ya bun? Enak banget lho masakan Almira." puji Arif seraya menikmati sop daging yang Almira buatkan.
"Iya dong, menantu Bunda ini paket komplit. pinter masak, cantik, sholihah, pokoknya paket komplit," puji Ane.
"Kalau pinter dan sholihah mungkin iya, tapi kalau cantik? kok aku ragu ya? kalau memang Almira cantik, pasti dia tidak akan menutup wajahnya terus seperti itu," batin Amar.
"Memang Bunda sudah pernah melihat wajah Almira? kok Bunda bisa seyakin itu kalau Almira cantik?" tanya Amar.
"Iya, Bunda sudah pernah lihat dan Almira itu cantik. cantik banget malah. Apa menurut kamu wanita seperti Almira itu kurang cantik?" tanya Ane.
"I-iya cantik sih," jawab Amar asal walaupun faktanya dia sendiri belum pernah melihat seperti apa wajah istrinya.
"Bun, Amar berangkat ke rumah sakit dulu ya, rencananya nanti sore Amar dan Almira akan pindahan." ucap Amar.
"Kamu benar-benar mau pindahan hari ini?" tanya Ane.
"Iya bun, kan kemarin Amar sudah bilang sama Bunda," jawab Amar.
"Rumah ini pasti akan sepi banget, kalau kalian sudah pindah," gumam Ane.
"Amar janji, akan sering pulang ke rumah kok Bun," ucap Amar.
"Iya Bun, biarkan anak-anak mandiri." sahut Arif membujuk Ane.
"Iya, iya. yang penting ingat. jaga Almira!" ucap Ane.
"Iya Bun, Assalamu'alaikum," ucap Amar pamit dan mencium tangan ayah serta Bundanya.
***
Setelah melakukan Visit pada pasien, Amar kembali ke ruangannya dan melihat kotak makan dari Almira.
Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini Amar seperti kecanduan masakan Almira. bahkan dari semua masakan yang pernah dia makan, masakan Almira paling enak.
"Ehem.. kotak makan dari siapa itu? kok di pandangi terus?" goda Ranu rekan sesama Dokter.
"Bikin kaget saja kamu Ran," ucap Amar.
"Tumben-tumbenan bawa bekal? kok aku jadi curiga? ucap Ranu menatap tajam Amar.
"Curiga apa? Ini tadi Bunda yang buatkan bekal. Karena tau kalau akhir-akhir ini aku banyak operasi," kilah Amar.
"Kirain.. " ucap Ranu.
"Kirain apa?" tanya Amar gugup.
"Kirain, bunda juga buatkan bekal buat aku, hahaha.. " ucap Ranu.
"Hahaha.. " Amar ikut tertawa agar Ranu tidak curiga.
***
Sementara di kampus, Almira merasakan kali ini tubuhnya benar-benar tidak bisa lagi diajak kompromi, di saat Almira sedang mengawasi ujian tiba-tiba saja kepalanya benar-benar pusing dan matanya terasa gelap.
"Bruk..!" Almira ambruk di lantai.
Dengan sigap mahasiswanya memanggil ambulan dan membawa Almira ke rumah sakit.
Almira segera di mendapatkan perawatan di UGD.
"Alhamdulillah Mbak sudah sadar," ucap Ranu. Dokter jaga yang menangani Almira.
"Saya kenapa Dok?" tanya Almira.
"Tadi Mbak pingsan. Dan beberapa mahasiswa Mbak Almira yang mengantarkan, Mbak Almira ke sini." jawab Ranu.
"Saya pingsan? Astaghfirullah," gumam Almira sudah kembali mengingat seharusnya dirinya saat ini sedang menguji mahasiswa.
Almira masih tampak lemah dan bingung.
"Saya ijin memeriksa Mbak dulu boleh?" tanya Ranu dengan sopan karena pasiennya saat ini wanita bercadar dan Ranu sangat menghargai Almira.
"Maaf Dok, Kalau boleh saya mau di periksa Dokter wanita saja boleh?" pinta Almira.
"Tapi kebetulan Dokter jaga wanita hari ini sedang libur Mbak," ucap Dokter.
"Ada apa ini, Ran?" tanya Amar yang kebetulan melintas UGD.
"Mas Amar," gumam Almira.
"Almira, kenapa kamu ada di sini?" tanya Amar mendekat.
"Kalian kenal?" tanya Ranu.
"Iya kami kenal," jawab Amar.
"Ini, Mbak Almira tidak mau saya periksa karena dan meminta Dokter wanita, tapi Dokter jaga yang wanita kebetulan hari ini libur semua," ucap Ranu.
"Kamu bisa keluar, biar saya saja yang memeriksa!" ucap Amar.
Ranu pun keluar dan Amar menutup kordennya.
Amar memasang stetoskop di telinganya dan meletakkan di dada Almira untuk mendengarkan detak jantung Almira.
Almira sempat menghindar tapi Amar menatap tajam mata Almira.
"Selain Dokter, saya juga suami kamu! sebagai seseorang yang tau agama, kamu pasti tau, hukumnya seorang istri harus patuh sama suami," ucap Amar hingga membuat Almira tak berkutik.
"Kenapa tadi pagi kamu bilang tidak apa-apa? padahal jelas-jelas kamu demam seperti ini," tanya Amar.
"Saya memang tidak apa-apa, hanya kelelahan," jawab Almira.
"Dokternya aku atau kamu? kenapa kamu yang mendiagnosis tidak apa-apa? jelas-jelas sampai pingsan begini masih bilang tidak apa-apa," ujar Amar.
"Nanti suster akan datang untuk mengambil darah kamu," ucap Amar.
"Mas, tolong Dokternya carikan wanita saja ya. jujur saya tidak nyaman dengan Dokter laki-laki," ucap Almira.
"Kamu ini aneh, yang namanya Dokter harus memeriksa semua pasien. tanpa membedakan jenis kelamin. Sikap kamu seperti ini, akan menyusahkan kami para Dokter," ucap Amar.
"Maaf Mas, tapi bagi saya selama masih ada Dokter wanita. Saya lebih nyaman di periksa oleh Dokter wanita. kecuali memang benar-benar darurat akan lain ceritanya." ucap Almira yang sangat menjaga auratnya agar tidak di lihat laki-laki yang bukan mahram nya.
"Saya suami kamu, tidak masalah jika saya yang menjadi Dokter kamu kan?"
Almira terdiam dan tidak menjawab. Tubuh Almira terasa lemah hingga malas untuk berdebat dengan Amar.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, comen dan Vote ya sayang💕
Dukungan kalian sangat berarti bagi Thor, Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Linda Kamaludin
maaf ya kalau boleh ceritanya yang agak banyakan ya🙏🙏
2022-10-23
0
Arief Indra
kapan Amar melihat wajahnya Almira....
2022-10-23
0
Rahmini
mungkin lama up nya jadi pas baca berasa pendek dan sedikit
next yaa
2022-10-23
0