Setelah sholat subuh Amar merapaikan alat sholatnya kembali dan tiba-tiba Amar mencium bau masakan yang sangat menggugah selera dari lantai bawah. Amar yang awalnya ingin tidur kembali mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk pergi ke lantai bawah.
"Sepertinya Almira sedang masak? Masak apa dia sepagi ini?" gumam Amar menuruni anak tangga.
Dan benar saja, Amar melihat Almira sedang memasak di dapur, walaupun menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan niqabnya tapi Almira tampak begitu cekatan dan tidak terlihat kerepotan saat sedang memasak.
"Almira, kamu masak apa? baunya enak sekali?" tanya Amar.
"Mas Amar, kamu sudah bangun? ini Almira lagi masak rendang Mas," jawab Almira sengaja masak makanan ke sukaan Amar.
"Wah.. pantas saja aromanya enak. boleh aku cobain gak?" tanya Amar mendekat dan tanpa menunggu jawaban dari Almira, Amar langsung mengambil satu iris daging.
"Aaww.. panas..!" pekik Amar kepanasan dan menipas-nipas mulutnya dengan tangan.
"Hahaha... Hahaha.. " Almira tertawa melihat tingkah Amar yang kepanasan.
"Tega kamu ya? Suami kepanasan malah di ketawain," gerutu Amar tanpa di sadari mengatakan dirinya sebagai suami Almira.
"Suami? Mas Amar bilang apa tadi?" tanya Almira pura-pura tidak begitu jelas mendengarkan perkataan Amar.
"Eh.. maksudku, bisa-bisanya kamu tertawa di saat ada orang kepanasan," kilah Amar yang canggung lantaran reflek mengatakan kata"Suami"
"Iya, iya, maaf. Hahaha... habisnya Mas Amar juga aneh, sudah tau masih diatas kompor, ya pasti panas lah, main comot aja," Almira kembali tertawa.
"Ya juga ya, habisnya rendang yang terakhir kamu buat dulu enak banget, jadi gak sabar buat nyobain lagi," ucap Amar yang mengakui jika Almira masak memang selalu enak, apalagi rendang buatan Almira, rasanya tidak ada tandingannya.
"Almira, " panggil Amar yang sedang menunggu Almira masak di kursi di meja makan depan dapur.
"Ada apa Mas?" jawab Almira memutar tubuhnya melihat Amar.
"Kamu itu tidak pernah tidur ya? setiap malam aku perhatian kamu selalu bangun untuk sholat tahajjud dan habis subuh kamu sudah masak lagi?" tanya Amar yang diam-diam selalu memperhatikan kegiatan Almira.
"Ya tidur lah Mas, masak iya manusia tidak tidur?" jawab Almira Seraya memetik sayur kangkung.
"Kamu itu baru saja sembuh dari sakit, seharusnya kamu lebih memperhatikan kesehatan kamu, Almira!" ucap Amar mencemaskan kondisi Almira.
"Iya Mas, Almira sudah baik-baik saja. Tapi terima kasih sudah mencemaskan Almira."
"Aku ke atas dulu ya, mau oleh raga dan persiapkan ke rumah sakit," ucap Amar berlalu.
"Iya, Mas." jawab Almira tersenyum di balik niqabnya.
Setelah masak selesai, Almira menyiapkan tiga kotak makan. setelah itu Almira kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi mengajar.
Amar yang sudah selesai olahraga dan mandi bersiap untuk pergi ke Rumah sakit, seperti itulah aktivitas Amar dan Almira setiap paginya.
Amar menunggu Almira di meja makan untuk sarapan bersama. Dan mata Amar melihat ada tiga kotak makan siang di sana.
Setelah sarapan selesai Amar baru menanyakan kenapa Almira menyiapkan tiga bekal makan siang.
"Itu kenapa ada tiga bekalnya? yang satu buat siapa?" tanya Amar penasaran.
"Oh, ini? ini buat Mas Amar dan yang ini mau Almira bawa ke kampus," jawab Almira seraya memberikan satu kotak makan pada Amar.
"Kenapa kamu bawa dua? apa satu kotak tidak cukup buat kamu?" tanya Amar lagi.
"Aku satu lah Mas, kalau yang ini buat Mas Ibrahim," jawab Almira.
"Ibrahim? kenapa kamu juga bawakan bekal buat Ibrahim? katanya kalian tidak begitu dekat? lalu untuk apa kamu memberikan bekal makan siang pada orang yang tidak dekat dengan kamu?" cerca Amar.
"Buat ucapan terima kasih saja Mas, karena Mas Ibrahim sudah sering membantu Almira dan waktu kemarin Almira ijin tidak mengajar, Mas Ibrahim yang menggantikan Almira membimbing mahasiswa yang sebenar lagi ujian skripsi." jelas Almira pada Amar.
"Harus dengan memberikan bekal makan siang, yang kamu masak sendiri? kenapa tidak di belikan makanan di kantin saja?" ucap Amar yang seolah tidak rela berbagi masakan.
"Ya gak enak dong Mas. Masak iya, ucapan terima kasih beli dari kantin? sepertinya kayak gak tulus gitu, lagian apa salahnya Mas, memberikan makan siang hasil masakan sendiri?" jawab Almira.
"Karena masakan kamu tidak enak, tidak pantas kalau di berikan pada orang lain, malu-mluin saja," kilah Amar asal bicara.
"Tadi katanya, masakan Almira enak? sekarang bilang tidak enak. yang benar yang mana sih Mas? ya sudah siniin bekal Mas Amar kalau tidak enak, tidak usah bawa bekal dari rumah." ucap Almira menengadahkan tangannya meminta kotak bekal yang di bawa Amar.
"Enak saja, ini kan bekal makan siang ku. mana bisa di minta lagi," jawab Amar.
"Tadi katanya gak enak?" ucap Almira.
"I-iya memang gak enak, tapi kan aku ini_aku ini_" ucap Amar terputus.
"Aku ini apa?" tanya Almira menunggu kelanjutannya.
"Aku ini_aku ini sahabat kamu! meskipun masak kamu tidak enak, yang namanya seorang sahabat pasti tetap akan menghargai masakan sahabatnya," kilah Amar.
Almira menghela nafas"Ya sudah, Almira mau berangkat dulu Mas, piring bekas sarapan biar di sini dulu! nanti nanti pulang ngajar Almira akan bersihkan, Almira buru-buru sudah ditungguin mahasiswa yang akan bimbingan, Assalamu'alaikum," ucap Almira mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Amar.
"Walaikumsalam," jawab Amar yang sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Almira mencium tangannya sebelum pergi.
Amar segera menyusul Almira ke depan dan menawarkan untuk berangkat bersama karena antara kampus dan rumah sakit kebetulan memang searah.
"Tidak usah Mas, Almira berangkat sendiri saja. Lagian motor Almira juga sudah jadi kan? lebih enak bawa motor sendiri," jawab Almira berlalu.
Amar menghela nafas dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku ini kenapa sih sebenernya? kenapa aku jadi gak rela gini Almira masak untuk laki-laki lain? dan kenapa juga aku merasa gak suka dengan laki-laki yang bernama Ibrahim, sepertinya dia suka sama Almira. Tapi bukankah itu hak Almira untuk dekat dengan siapapun?" gumam Amar seraya memegang setir mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Amar segera masuk ke dalam ruangnya.
Tok..! Tok..!
"Apa aku boleh masuk?" tanya Vita.
"Vita, sejak kapan kamu ijin untuk masuk ke ruanganku?" tanya Amar tersenyum, karena biasanya Vita asal masuk tanpa ijin.
"Jadi, kamu benar-benar sudah menikah?" tanya Vita setelah beberapa hari tidak masuk kerja karena sakit hati mengetahui Amar menikah.
"Kamu kenapa beberapa hari gak masuk? kasihan pasien kamu pada nyariin," jawab Amar mengalihkan pembicaraan.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Julik Rini
cemburu mulai menghantui amar
2023-03-17
0
Elis Dama Nuryanti
udah mulai ada rasa cemburu ya Amar,makanya jangan suka jaim...istri udah cantik,baik,Solehah di cuekin ntar digondol orang nyesel kamu...
2022-10-31
0
Puspita Sari
smg n pasti amar mulai mempunyai rasa special buat Amira
2022-10-31
0