"Almira, hari ini kamu sudah bisa pulang. Aku juga sudah menghubungi Mama dan juga Bunda kalau hari ini kamu sudah di ijinkan pulang dari rumah sakit," jelas Amar pada Almira.
"Alhamdulillah, kalau begitu aku akan siap-siap," ucap Almira bangun dari ranjangnya.
"Kamu mau kemana? kambali istirahat!" ujar Amar mencegah Almira bangun.
"Katanya sudah boleh pulang? Aku mau membereskan barang-barangku dulu, Mas." ucap Almira menunjuk buku-buku dan beberapa pakaian yang ada di lemari.
"Biar aku yang melakukannya, lihat kamu itu masih pakai infus, bagaimana bisa membereskan barang-barang ini semua?" Amar melihat tumpukan buku yang lumayan banyak, padahal hanya di rumah sakit tiga hari tapi Almira yang hobby baca tak mau melewatkan buku-bukunya.
"Kalau begitu, Mas Amar bisa kan lepas infus nya sekarang?" Almira menatap Amar.
"Tidak sabaran banget sih kamu, udah tunggu cairan infus itu habis baru di lepas dan pulang." ucap Amar.
"Iya Mas," jawab Almira yang akhirnya memilih patuh dan tidak mau berdebat lagi dengan suaminya.
"Kamu hobby banget baca ya? sampai buku sebanyak ini kamu bawa semua," tanya Amar seraya memasukkan buku-buku Almira dalam koper.
"Iya Mas, aku memang suka membaca." jawab Almira memperhatikan Amar yang sedang membereskan buku-bukunya.
Dan Almira merasa tidak enak hati ketika Amar mulai membereskan baju-bajunya. Terlebih bukan hanya pakaian luar tapi juga ada ****** ***** dan bra yang ada di sana.
"Tidak usah di sentuh! biar aku saja!" pekik Almira menghentikan Amar yang hendak memasukkan pakaian dalam ke dalam koper.
"Kenapa sih? hanya kain gini saja? Apa yang membuat kamu jadi malu? Aku ini Dokter, jangankan pakaian seperti ini. lihat isinya langsung juga sudah sering, tapi biasa saja karena memang gak ada perasaan apa-apa, sebatas profesionalitas kerja," jelas Amar agar Almira tidak berpikir yang bukan-bukan.
Dan bener, setelah Amar jelaskan, Almira sudah tidak protes dan membiarkan Amar membereskan pakaiannya ke dalam koper.
"Okay sepertinya semua sudah beres, tidak ada lagi yang tertinggal. Aku urus administrasi dulu, nanti baru kita pulang, " jelas Amar.
"Iya, Mas." jawab Almira singkat.
Amar keluar dan mengurus administrasi kepulangan Almira. Dan segera kembali untuk menjemput Almira. Saat Amar masuk kedalam ruang rawat Almira, sudah ada seorang perawat yang melepaskan infus Almira.
"Selamat sore Dok," sapa perawat pada Amar.
"Sore Sus, bagaimana sudah selesai di lepas infus nya?" tanya Amar.
"Sudah Dok, saya permisi." ucap perawat.
"Terima kasih ya Sus," ucap Almira.
"Sama-sama Bu Amar," jawab perawat membuat jantung Almira seakan berdesir mendengar perawat memanggilnya dengan sebutan Bu Amar.
***
"Ini rumah siapa? kenapa tidak langsung pulang ke rumah?" tanya Almira bingung melihat bangunan minimalis dua lantai yang ada di depannya.
"Ini rumah kita, mulai sekarang kita tinggal di sini. Aku juga sudah bilang sama Bunda dan Mama kalau mulai hari ini kita akan tinggal di sini," jelas Amar.
"Oh," Almira segera turun dan melihat sekeliling.
Amar membawakan koper Almira dan membukakan pintu untuk Almira. keduanya naik ke lantai dua.
"Kamar kita yang mana?" tanya Almira.
"Bukan kamar kita, tapi kamar kamu dan aku." jawab Amar membuat Almira memicingkan matanya tak mengerti.
Amar mendorong koper menuju kamar dan Almira mengekori.
"Ini kamar kamu," ucap Amar membukakan pintu dan memperlihatkan pada Almira.
"Kamar ku? maksudnya?" Almira tak mengerti.
"Ini kamar kamu dan yang itu kamarku," Amar menunjuk kamar di sebelahnya.
"Maksudnya kita pisah kamar?" tanya Almira.
"Iya, dengan begitu kita bisa menjaga privasi masing-masing. Kamu juga tidak perlu lagi memakai cadar ketika harus tidur karena ada aku. Aku tau kamu pasti tidak nyaman setiap ada aku karena kamu harus selalu menggunakan penutup wajah itu." pungkas Amar memasukkan koper Almira ke dalam kamar.
"Lalu bagaimana jika orang tua kita datang? apa yang akan mereka pikirkan jika kita tidur di kamar terpisah?" tanya Almira menghentikan langkah Amar.
"Jika mereka datang, kita bisa pura-pura tidur satu kamar. Jangan sampai mereka tau kalau kita tidur di kamar terpisah," jelas Amar yang tidak ingin ada yang mengetahui seperti apa hubungan mereka yang sebenarnya. Karena jika Bunda nya tau pasti akan sangat kecewa.
"Terserah kamu saja Mas, tapi jika karena kamar ini mereka sampai tau hubungan kita, aku tidak akan bisa untuk berbohong lagi pada Bunda dan Mama. Jarak rumah kita dan rumah Bunda ini tidak terlalu jauh, sewaktu-waktu Bunda bisa saja datang tanpa konfirmasi dulu, Mas." ucap Almira yang sebenernya merasa tidak benar jika harus pisah kamar.
"Ada benar nya juga sih apa yang kamu katakan, Begini saja pakaian kamu biarkan ada di kamar ku, tapi saat tidur sebaiknya kita di kamar masing-masing, bagaimana?" tanya Amar menatap Almira dari jarak yang cukup dekat.
"Mata Almira indah sekali ternyata. dari matanya sepertinya Almira memang cantik. Astaghfirullah," batin Amar segera tersadar.
"Kenapa Mas? Jangan mandangi aku seperti itu. Bukan apa-apa. Aku hanya takut kalau kamu jatuh cinta malah sama aku," ucap Almira tertawa dan mendorong tubuh Amar hingga keluar kamar lalu Almira segera menutup pintunya.
"Koper kamu biar di kamar ku saja, Almira buka dulu pintunya!" ucap Amar dari luar pintu.
"Gak usah Mas, biar di sini saja! Aku mau istirahat!" ucap Almira.
Almira menghela nafas dan berjalan menuju meja riasnya. membuka niqabnya dan memandangi wajahnya di cermin.
"Seandainya kamu tau wajahku, apa kamu akan jatuh cinta padaku Mas? tapi bagaimana mungkin kamu mencintai aku, jika di hati kamu masih ada wanita itu. Mungkin aku harus bersabar sedikit lebih lama dan aku juga tidak boleh menyerah begitu saja dengan pernikahan ini. menikah itu ibadah untuk menyempurnakan sebagai agama kita, jadi aku harus lebih bersabar dan aku harus berusaha membuat suamiku jatuh cinta padaku." gumam Almira di depan cermin.
Amar kembali ke kamar nya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.
"Hah.. nyaman sekali, akhirnya aku bisa tidur tanpa harus berbagi kasur dengan Almira." gumam Amar yang sedang tidur terlentang dan menguasai kasurnya sendiri seraya tersenyum.
"Almira.. kenapa aku teringat mata Almira terus ya? sebenarnya aku cukup penasaran seperti apa wajah wanita yang sekarang tinggal satu atap denganku, kami sekarang cukup dekat tapi seperti apa wajahnya aku bahkan tidak tau. Tapi kalau di pikir-pikir Almira itu orangnya menarik tidak seperti yang aku bayangkan. meskipun penampilan seperti itu, tapi orangnya tidak kaku dan asyik juga di ajak ngobrol, pengetahuannya juga cukup luas," gumam Amar lagi.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Maya Puspita
semoga cepat Thor,amar bisa melihat wajah almiranya
2022-10-30
0
Lintang Abiyasa
baru nyadar bang, kemaren kemana aja atuh, neng almiranya dianggurin mulu,
2022-10-30
0
Puspita Sari
mulai tertarik juga amar dengan Amira
2022-10-30
0