"Amar kamu ada di sini?" sahut Alan.
"Maaf Om, saya ke sini untuk bicara dengan Nana." ucap Amar.
"Ya sudah tante panggil Nana dulu," timpal Anggun.
Nana keluar dengan menundukkan pandangan, Nana sudah bisa menduga kalau Amar ke sana untuk membuat perhitungan dengannya, hanya saja yang menjadi ketakutan Nana, saat ini di rumah ada Papa nya, yang pasti akan sangat murka jika tau apa yang sudah ia lakukan.
Melihat Nana keluar, Amar tersulut emosi dan berdiri dari dudukan.
"Sekarang kamu ikut saya, minta maaf sama Almira!" ucap Amar dengan nada tinggi.
Alan dan Anggun tercengang melihat Amar begitu marah, pasalnya mereka tidak pernah melihat Amar semarah ini sebelumnya.
"Tidak mau! saya tidak salah. Kenapa saya harus minta maaf? Apa yang saya katakan semua fakta. Almira memang wanita menutupi kebusukannya dengan menggunakan penampilannya yang sok alim dan semua yang saya lakukan itu untuk kamu Amar! saya ingin kamu buka mata kamu kalau Almira itu wanita busuk," ucap Nana tak kalah emosi dari Amar.
Amar mengangkat tangannya dan hampir saja menampar wajah Nana, namun tangan itu terhenti menampar saat Amar mengingat ada Alan di sana, Alan selama ini sudah di hormati layaknya orang tua sendiri.
Alan dan Anggun pun lagi-lagi syok. dengan reaksi Amar yang hampir menampar Nana. Melihat Amar yang begitu murka, Alan berpikir Nana pasti sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Karena Alan tau, Amar adalah laki-laki yang selama ini hampir tidak pernah memperlihatkan emosinya.
"Amar, ada apa sebenarnya? kenapa kamu bisa semarah itu sama Nana, kesalahan apa yang Nana lakukan?" tanya Alan memotong pembicaraan Amar dan Nana.
"Om, kalau saya tidak menghargai Om, mungkin saat ini saya sudah melaporkan Nana ke polisi." ucap Amar menatap Nana penuh amarah.
"Kantor polisi? Ada apa ini sebenarnya?" sahut Anggun.
"Hari ini Nana sudah mempermalukan istri saya. coba saja om buka live streaming yang barusan Nana lakukan," ucap Amar tanpa mengalihkan pandangan kebenciannya dari Nana.
"Istri kamu? maksud kamu? kamu sudah menikah?" tanya Alan yang belum mengetahui kabar pernikahan Amar.
"Iya Om, saya sudah menikah dengan Almira anaknya tante Nur. Dan ini sudah ke dua kalinya Nana mempermalukan istri saya. Tapi saya peringatkan sama kamu Nana, sekali lagi kamu menyakiti Almira. Saya tidak akan pernah lagi memaafkan kamu dan saya akan bawa kamu ke kantor polisi. Ingat itu baik-baik!" tegas Amar pada Nana.
"Amar, kenapa sih kamu itu masih saja tidak percaya sama saya. Apa yang saya lakukan itu untuk membuktikan mata kamu. Almira bukan wanita yang cocok untuk kamu!" ucap Nana menyakinkan.
"Cukup Nana! dari tadi Papa hanya diam karena Papa tidak tau masalah yang terjadi di antara kalian. Tapi sekarang Papa tau apa masalahnya dan masalahnya masih tetap sama. Kamu belum berubah sedikitpun Nana. Kamu itu seorang wanita! di mana harga diri kamu? apa belum cukup kamu menyakiti hati adik kamu sendiri? sekarang kamu mau menyakiti hati Almira?" sahut Alan dengan nada tinggi.
"Pah, Nana ini hanya ingin membuka mata Amar. Agar Amar tau bagaimana wanita itu," ucap Nana.
"Cukup Nana! Cukup! sudah cukup Rara menjadi korban keegoisan kamu! sudah berhenti mempermalukan diri kamu sendiri, Nana! apa kamu pikir kamu wanita yang baik untuk Amar sehingga dengan percaya dirinya kamu menjelek-jelekan setiap wanita yang dekat dengan Amar? setelah kamu gagalkan pertunangan Amar dan Rara, apa sekarang kamu ingin merusak rumah tangga Amar dan Almira?" Anggun pun ikut emosi karena ulah Nana.
"Na, kurang apa Mama dan Papa mendidik kamu sampai kamu seperti ini? walaupun kamu bukan anak kandung Mama, tapi dari kecil Mama sudah merawat kamu, memberikan cinta untuk kamu, tapi apa balasan yang kamu berikan? kamu sakiti hati adik kamu, kamu permalukan kami, sekarang apa lagi Nana?" ujar Anggun.
"Papa juga sangat kecewa dengan kamu Nana, Papa sudah tidak tau lagi harus bagaimana." Alan menimpali perkataan Anggun.
"Amar tolong maafkan Om, karena tidak bisa mendidik anak Om dengan baik. Tolong maafkan karena Nana sudah mengganggu hidup kamu," ucap Alan merasa bersalah.
"Nana, ingt ini! sekali lagi kamu mendekati Almira, saya pastikan kamu akan mendekam di penjara! Dan satu lagi, saya tunggu etika baik kamu untuk minta maaf secara langsung pada istri saya!" ucap Amar berlalu.
Setelah Amar pergi, Alan yang tersulut emosi menampar wajah Nana.
"Pergi kamu dari sini!" ucap Alan murka dan meminta Nana untuk meninggalkan rumah.
"Papa ngusir Nana lagi?" tanya Nana tidak percaya, pasalnya ini sudah kedua kalinya Nana di usir dari rumah oleh Alan.
"Seharusnya kamu memang tidak pernah kembali ke sini, jadi sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini. Ikut Mama kandung kamu! Papa sudah kehabitatnya cara untuk mendidik kamu!" ucap Alan tanpa melihat wajah Nana.
"Papa benar-benar ngusir Nana? Papa jahat. Papa gak sayang sama Nana," teriak Nana.
"Kamu bukan anak kecil lagi Nana, Kamu tau apa yang kamu lakukan ini sangat tidak bermoral, Papa sangat kecewa sama kamu, bagaimana bisa sesorang yang berpendidikan melakukan semua ini? Jujur Papa malu mempunyai anak seperti kamu," ucap Alan frustasi dan memijat pelipisnya.
"Pah, maafkan Nana. Jangan usir Nana dari sini! Nana tidak mau ikut Mama Nia, Nana ingin ikut Papa saja. Nana mohon jangan usir Nana, maafkan Nana, Pah." rengek Nana kali ini menyadari Papa nya benar-benar marah padanya.
"Papa sudah memberi mu kesempatan berkali-kali Nana. Tapi ternyata kamu tidak juga berubah. semakin hari apa yang kamu lakukan semakin keterlaluan. Bahkan sekarang kamu kamu mempermalukan Almira seperti itu, apa pantas seorang mukmin melepas kerudung saudara mukmin yang lain? Ini sama saja kamu sudah melecehkan Almira, apa kamu sadar itu!" bentak Alan yang sudah tidak mengerti lagi cara menghadapi Nana.
"Pah, maaf. Nana hanya ingin agar dia tidak bersembunyi di balik penampilannya. Ayah tau kan dia itu anak yang lahir d luar nikah, dia gak pantas berpenampilan seperti itu,"
Plak...
Alan menampar wajah Nana.
"Siapa kamu menilai Almira orang seperti apa, bahkan Almira itu jauh lebih baik dari pada kamu, pantas saja Amar tidak pernah mau melihat kamu, kelakuan kamu ini sungguh keterlaluan! jika Papa jadi Amar pun, Papa juga pasti akan melakukan hal yang sama. Sekarang semua terserah kamu! mau memperbaiki diri kamu, atau sebaiknya kamu tinggalkan rumah ini untuk selamanya." tegas Alan.
Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Ruslinawaty Marzuki
syukurlah Alan tegas kepada Nana. Nana sudah dibuat cinta. semoga Nana kena karmanya nanti😠
2022-11-02
1
Ika Rahmawati
gemes sama nana kok gak insyaf2 thor...
2022-11-02
0
Darmi Adampe
belum puas aku kalau cuma di usir dri rumah lebih puas kalau sudah diusir dan dipecat di RS tempat dia bekerja
2022-11-01
1