"Almira besok kita akan pindah dari sini," ucap Amar pada Almira yang baru saja selesai melafalkan ayat suci Al-Quran.
"Besok? kenapa buru-buru Mas?" tanya Almira seraya menutup Al-Quran yang ada di depannya.
"Lebih cepet lebih baik, aku tidak ingin Bunda menyadari hubungan kita." jawab Amar.
Terserah kamu saja, Mas" jawab Almira.
Almira berusaha untuk menyembunyikan sakit hatinya dan pergi ke kamar mandi, di kamar mandi Almira menumpahkan kesedihannya. Meskipun di depan Amar, Almira terlihat tegar dan tidak pernah menangis tapi diam-diam di kamar mandi Almira sering menumpahkan kesedihannya dengan menangis di bawah guyuran shower.
Setiap kata yang terlontar dari mulut Amar bagaikan pisau yang seakan menusuk ke dalam hatinya. Sakit! sangat sakit! Apa yang terlontar dari mulut Amar seakan menyanyat hatinya dan membuatnya menjadi wanita yang tak berarti.
***
Setelah dari kamar mandi, Almira yang merasa kurang enak badan. Tidur lebih dulu, sedangkan Amar sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Arif.
"Tumben, malam ini kamu di rumah?" tanya Arif.
"Iya, Yah. Hari ini Amar tidak ada jadwal operasi," jawab Amar.
"Istri kamu mana? kenapa tidak ikut ngobrol sama kita?" tanya Arif lagi.
"Kurang tau, Yah. Tadi sebelum Amar ke sini, Almira sedang ke kamar mandi," jawab Amar.
"Amar, sebaiknya kamu kurangi jadwal kamu di rumah sakit. Kasihan Almira, kalian itu pengantin baru, luangkan waktu kamu untuk Almira. biar rasa cinta di hati kalian semakin kuat," ucap Ane.
"Iya, Mar. Almira itu wanita yang baik. Kamu beruntung menikah dengan Almira. walaupun dia sibuk mengajar, tapi dia selalu menyempatkan waktunya untuk menyiapkan keperluan kamu, mulai dari makanan sampai pakaian kamu, semua Almira sendiri yang mengurus," timpal. Arif.
"Terkadang Bunda itu kasihan dengan Almira. pulang mengajar dia masih mencuci baju kamu, menyetrika baju kamu bahkan menyiapkan makan malam untuk kita, meskipun pada akhirnya kamu tidak pernah makan masakan dia, karena kamu selalu pulang malam dan mengatakan sudah kenyang saat sampai di rumah, mungkin kalau Bunda jadi Almira, Bunda tidak mau menyiapkan makan malam untuk suami yang tidak menghargai masakan istri," ucap Ane.
"Kenapa dia harus repot-repot melakukan itu, Bun? kita kan ada asisten rumah tangga?" tanya Arif.
"Almira tidak ingin keperluan suaminya di urus orang lain, Almira ingin untuk keperluan kamu, dia sendiri yang mengurus. Dan hebatnya dia tidak pernah mengatakan itu semua sama kamu kan? dia melakukan semua itu dengan tulus. walaupun kamu tidak pernah melihatnya." ucap Ane yang memang mengetahui ketulusan hati Almira.
Setelah cukup lama mereka berbincang, Amar memberanikan diri untuk mengatakan kalau besok dirinya dan Almira akan pindah rumah.
"Besok? kamu sedang bercanda kan, Mar? Ane tercengang.
" Tidak Bun, Amar serius. Kebetulan Amar sudah mendapatkan rumah yang cocok dan rumahnya juga sudah lengkap dengan perabotnya. Jadi Amar pikir lebih baik kita segera pindah. Karena rumah yang baru ini jaraknya lumayan deket dengan kampus tempat Almira mengajar. Biar Almira juga tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk sampai ke kampus, Bun. " ucap Amar menyakinkan.
"Baiklah, Ayah setuju saja. Jika kamu memang ingin segera pindah dari sini. Tapi satu pesan Ayah. Jangan sekali-kali kamu menyakiti hati seorang istri. Apalagi, istri yang sudah baik sama kamu. Pantang bagi seorang suami menyakiti seorang istri. Karena istri itu wanita yang harus kita sayangi, kita lindungi dan kita hargai." ucap Arif yang selalu memberi nasehat pada Amar yang baru saja membina rumah tangga.
"Iya, yah." jawab Amar gelisah, karena apa yang di katakan Ayahnya, nyatanya tidak pernah dia lakukan. Justru sebaliknya Amar selalu saja menyakiti hati Almira.
Amar masuk ke kamar dan melihat Almira yang sudah tertidur. Amar merebahkan tubuhnya di samping Almira dan melihat sepertinya ada yang tidak biasa.
"Kenapa Almira sepertinya berkeringat cukup banyak? biasanya dia tidur juga tidak pernah melepaskan niqabnya. Tapi kenapa kali ini sepertinya kain itu basah?" batin Amar
Amar berusaha mengabaikan dan memilih untuk memejamkan matanya, namun sebagai seorang Dokter, jiwa penolongnya seperti memanggil. Amar ingin menyentuh kening Almira untuk memastikan jika Almira baik-baik saja, namun segera di urungkan. Karena Amar tau, Almira mungkin tidak akan berkenan untuk dia sentuh meskipun hanya sentuhan profesional dia sebagai seorang Dokter.
"Almira, Almira, Almira bangun!" ucap Amar berusaha membangunkan.
Almira perlahan membuka matanya.
"Apa kamu baik-baik saja? Boleh aku memeriksa keadaan kamu? kenapa sepertinya kamu berkeringat?" tanya Amar.
Saat Amar akan menyentuh keningnya, Almira segera menghindar.
"Aku baik-baik saja, Mas." jawab Almira lirih, Almira berusaha untuk tidak menunjukkan kalau saat ini dirinya sedang demam.
"Kamu yakin? Apa kamu butuh obat?Jika kamu butuh obat, aku akan mengambilkan," ucap Amar yang tidak percaya jika Almira baik-baik saja.
"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan. InsyaAlloh besok setelah bangun tidur sudah baikan." jawab Almira.
Almira kembali tidur memunggungi suaminya.
"Almira, bukankah saat ini di kamar hanya ada kita berdua? kenapa kamu tidak membuka cadarmu? Apa kamu nyaman tidur dengan menggunakan pakaian seperti itu?"
"Kamu jangan salah paham Almira! maksud ku, kamu bisa membuka cadar saat berada di kamar, kamu tidak perlu merasa malu atau takut aku akan kecewa setelah melihat wajah kamu. Karena dari awal aku sudah bilang, kalau seperti apapun kamu, aku tidak mungkin mencintai kamu." ucap Amar.
Mendengar perkataan Amar, Almira membuka matanya kembali dan berkata cukup menohok.
"Aku tidak membuka niqab ini bukan karena aku malu atau karena aku tidak percaya diri dengan wajahku, Mas. Sesungguhnya apa yang ada pada diriku semua halal untuk Mas Amar lihat, termasuk wajahku! Tapi aku tidak mau memperlihatkan wajahku pada laki-laki yang mungkin sebentar lagi akan menjadikan aku seorang janda," ucap Almira.
Sekuat hati Almira berusaha untuk tidak menangis. namun nyatanya bulir-bulir kristal kini membasahi bantalnya.
Jlebb..
Ada perasaan bersalah dalam hati Amar. ketika dirinya mengingat kata-kata kalau dirinya akan membuat seseorang menjadi janda.
Kemudian Amar teringat perkataan Bundanya. Bagaimana Almira selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang selalu mengurus keperluan Amar, meskipun Amar tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
Perkataan Almira seperti tamparan keras untuk Amar.
"Maafkan aku Almira, kamu memang wanita yang baik. Tapi hatiku sudah ada yang memiliki. Almira aku yakin suatu saat akan ada laki-laki yang baik, yang bisa menerima kamu dan menyayangi kamu dengan tulus. Dan saat hal itu datang, aku akan menjelaskan pada laki-laki itu, jika di antara kita tidak pernah terjadi apa-apa," ucap Amar.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
EMAH FARID
ko sdih bnget yaaaa
2023-02-21
0
Vivi Bidadari
Dasar laki" dayus kmu Amar ...
2023-01-22
0
Bu Jumaeda
Gemes banget mah Amar, pengen bejek2 tu mulutx,,, mudah2an cpt cerai dan menyesal tak terhingga loh Amarrrr..!!!
2022-12-24
0