Amar yang tidak bisa menolak keinginan bundanya, akhirnya memberi tumpangan untuk Almira, kali ini dirinya tidak bisa menolak karena memang tempat kerja mereka searah.
"Kamu biasanya berangkat ngajar naik apa?" tanya Amar membuka suara.
"Biasanya saya bawa motor sendiri, tapi karena beberapa waktu yang lalu, ada orang yang tidak sengaja menabrak motor aku, terpaksa sekarang aku harus naik taxi untuk berangkat ke kampus, karena motorku masih ada di bengkel, " jawab Almira.
"Ditabrak? kamu habis ditabrak orang? kapan? kenapa aku tidak tau?" cerca Amar.
"Beberapa hari sebelum kita menikah, ada mobil yang di kendari seseorang yang sepertinya sedang mengantuk tapi nekat mengendarai mobilnya," ujar Almira.
"Padahal berkendara dalam keadaan mengantuk itu sangat berbahaya, tapi kenapa pengemudi itu tidak memilih untuk istirahat dan menepikan mobilnya, biar tidak membahayakan orang lain," ucap Amar.
"Entahlah, saya juga bingung dengan pemikiran pengemudi itu, Tapi mungkin Mas Amar bisa mendapatkan jawabannya dari diri Mas Amar sendiri," ujar Almira.
"Dari diri saya sendiri? maksud kamu?" tanya Amar melihat ke arah Almira.
"Iya, hanya Mas Amar yang bisa menjawabnya," ucap Almira tersenyum di balik niqabnya.
"Astaghfirullah, apa mungkin kamu itu_?" ucap Amar membulatkan matanya dan membuka mulutnya seakan tidak percaya.
"Jadi benar, kamu wanita itu?" tanya Amar lagi.
"Almira mengedipkan mata dan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kenapa bisa kebetulan seperti ini?" ucap Amar yang seolah tak percaya.
"Jodoh mungkin," seloroh Almira.
"Jangan mulai Almira, aku sudah bilang kalau aku_" ucap Amar terputus.
"Kalau Mas Amar tidak akan pernah bisa mencintai aku, karena Mas Amar sudah mencintai wanita lain, itu kan yang akan Mas Amar katakan? aku juga cuma bercanda kok," kilah Almira.
"Sepertinya, aku sempat melihat kamu memegang tangan saat itu, apa tangan kamu terluka?" tanya Amar.
"Iya, tanganku terluka. Tapi tidak apa-apa kok, tidak terlalu parah," jawab Almira.
"Jujur saja, saat itu aku sempat merasa bersalah dan menyesal karena tidak sempat bertanya alamat kamu, karena saat itu kamu tidak mengijinkan aku mengobati luka kamu," ucap Amar.
"Saat itu aku tidak mungkin menunjukkan lukaku sama kamu Mas, saat itu kita belum muhrim." jawab Almira.
"Tapi kan aku dokter, aku hanya ingin mengobati luka kamu," ucap Amar.
"Karena keadaannya tidak terlalu darurat dan masih ada Dokter wanita, tentu saja aku lebih baik aku periksa dengan Dokter wanita," jawab Almira.
"Lalu sekarang luka lama bagaimana? Apa benar sudah tidak apa-apa?" tanya Amar.
"Alhamdulillah, sudah sembuh Mas," jawab. Almira.
"Mas, sebaiknya aku turun saja di sini," ucap Almira.
"Kenapa? bukankah kampus masih di depan?" tanya Amar.
"Tidak apa-apa, aku turun di sini saja! Ini bekal makan siang buat kamu, Mas." ucap Almira seraya memberikan kotak bekal makan siang.
"Ini buat aku?" tanya Amar.
"Iya, itu kotak makan siang buat kamu Mas," jawab Almira.
"Lain kali kamu tidak perlu repot-repot, aku terbiasa makan di kantin," ucap Amar.
"Tidak repot kok Mas, sekalian aku bikin untuk diriku sendiri juga," jawab Almira.
"Aku turun dulu,mas. Assalamu'alaikum," ucap Almira meraih tangan Amar dan mencium tangan Amar.
Amar sempat ingin menarik tangannya tapi melihat ketulusan Almira, Amar mengurungkan niatnya.
Amar menatap Almira yang sedang berjalan menuju kampus.
"Aneh, kenapa dia malah mau turun di sini? Apa mungkin dia juga sudah memiliki seseorang yang dia cintai di kampusnya?" gumam Amar.
***
Sesampainya di rumah sakit, Amar langsung menuju ruang operasi, berganti pakaian mencuci tangannya dengan air mengalir. mengerikan tangannya dan menggunakan handscoon.
Seorang asisten dan beberapa perawat membantu Amar dalam jalannya operasi.
Satu jam berada di ruang operasi, cukup menguras tenaga dan pikiran Amar.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar." ucap Amar pada keluarga pasien.
"Terima kasih, Dok! Terima kasih," ucap keluarga pasien senang.
Wajah bahagia dari keluarga pasien seolah menjadi obat bagi Amar, secapek apapun saat berada di ruang operasi semua itu akan hilang seketika, saat melihat keluarga pasien tersenyum bahagia.
Amar kabali ke ruang kerjanya dan melihat Kotak makan siang dari Almira.
Amar yang penasaran, membuka kotak makan siangnya.
"Rendang daging? pasti Bunda yang memberitahu kalau aku suka makan rendang daging." gumam Amar tersenyum.
"Ehem.. " Vita berdeham.
"Kamu Vit," ucap Amar.
"Tadinya aku mau ngajak kamu makan siang, tapi sepertinya kamu sudah bawa bekal makan siang, tapi tumben kamu bawa bekal dari rumah?" tanya Vita.
"Iya, aku lagi tidak ingin ke kantin. Jadi bawa bekal dari rumah," jawab Amar.
"Wah.. sepertinya enak, Boleh gak di bagi sama aku?" tanya Vita.
"Tidak boleh," jawab Amar singkat. Seraya menutup kembali kotak makannya.
"Pelit banget sih kamu," gerutu Vita.
"Bukan pelit, tapi makan siang ini. khusus untuk ku," jawab Amar.
"Memang itu kotak makan dari siapa?" tanya Vita penasaran.
"Dari Bunda," jawab Amar bohong.
"Baik banget Bunda kamu, mau aja buatin bekal untuk kamu, tapi ngomong-ngomong sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan tante, jadi kangen pengen ngobrol sama tante," ucap Vita.
"Bunda sibuk, banyak kegiatan bhayangkari di kantor Ayah, jadi tidak punya waktu untuk menemani kamu ngobrol," kilah Amar yang tidak ingin ada yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Almira.
"Hah.. sayang sekali, padahal aku kangen sama tente Ane. Ya sudah aku mau visit pasien dulu," ucap Vita berlalu.
Setelah Vita pergi Amar kembali membuka kotak makannya dan mencoba mencicipi rendang buatan Almira.
"MasyaAlloh, kenapa enak sekali rendang buatan Almira? bahkan lebih enak dari masakan Bunda," gumam Amar dan kembali melahap habis bekal yang di bawakan Almira.
Setelah makan siang Amar kembali memeriksa pasien hingga dan melakukan operasi lagi.
Selesai melakukan operasi Amar kembali ke ruangannya dan melihat jam dinding yang ada di ruangannya.
"Sudah waktunya pulang rupanya," gumam Amar dan bergegas mengganti pakaian.
"Amar, aku boleh pulang bareng kamu?" tanya. Vita.
"Sorry, aku tidak bisa! Aku sudah ada janji sama pemilik agen properti, mau melihat rumah," jawab Amar.
"Melihat rumah, memangnya kamu mau beli rumah?" tanya Vita.
"Rencananya seperti itu," jangan Amar singkat.
"Kenapa mau pindah rumah? bukannya jarak rumah kamu ke rumah sakit juga tidak terlalu jauh ya?" tanya Vita.
"Pengen mencoba mandiri saja," jawab Amar.
"Okay, kalau begitu. Aku pulang sendiri saja," jawab Vita.
"Kapan kamu bisa membuka hati kamu untuk ku, Mar? bertahun-tahun aku menunggu kamu membuka hati, namun sepertinya kamu tidak pernah melihat ku sebagai seorang wanita . tapi kamu hanya melihatku sebagai seorang teman," batin Vita.
^Happy Reading*^
Jangan lupa, like, coment dan vote ya sayang💕
Dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏 Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Vivi Bidadari
Sdh tau Amar ga suka sama Kamu Vita masih aja ganjen haduuhhh 🤔
2023-01-22
0
Ika Rahmawati
gemes sama si amar thor..
sabar ya almira ambil hatinya amar pelan2...
2022-10-21
0
Nina Maryanie
amar egois kali jadi orang..terlalu terpuruk dengan masa lalu menyamakan semua wanita sama.
2022-10-20
0