Tidak pernah terlintas dalam benak Almira, Amar akan berkata seperti itu. Seharusnya ini menjadi hari yang membahagiakan bagi pasangan pengantin baru, tapi tidak bagi Almira.
Di hari pertamanya menjadi seorang istri, dirinya harus menelan pil pahit, lantaran Amar yang seolah sudah membuat tembok untuk mereka berdua.
Sebagai seorang wanita yang tau hukum pernikahan dalam islam, Almira yang awalnya sudah menyiapkan lingerie untuk di kenakan di malam pertamanya terpaksa menyimpan kembali lingerie itu, Bahkan malam ini, Almira tidur dengan menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan niqabnya.
Di sepertiga malam, Almira terbangun dan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Almira membentangkan sajadah dan melakukan sholat tahajjud, dengan derai air mata Almira berdoa agar bisa meluluhkan hati suaminya dan agar suatu saat nanti, Laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya tersebut bisa mencintai dirinya.
Meskipun Almira tau, tidak akan mudah mengambil hati suaminya. Namun Almira yakin tidak ada yang tidak mungkin atas kehendak Alloh. Alloh sudah menyatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan, Almira pun yakin. Suatu saat Amar bisa menerima dirinya sebagai seorang istri. Karena Alloh adalah Dzat pemolak malik hati.
"Mas, Bangun! sudah waktunya sholat subuh," ucap Almira membangunkan Amar untuk sholat berjamaah.
"Kamu sholat duluan saja! Aku akan sholat setelah kamu," ucap Amar.
"Mas, aku tau. Kamu tidak mencintaiku. aku tidak akan menuntut kamu untuk memberikan hak-hakku sebagai seorang istri, Tapi setidaknya ijinkan aku untuk menjadi makmum sholat kamu," ucap Almira.
Mendengar apa yang Almira katakan, Amar tidak bisa untuk mengabaikannya. Karena Amar sadar, dirinya yang telah menyeret Almira masuk ke dalam kehidupan pernikahan yang tak semestinya ini.
Amar bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk berwudhu.
"Aku tunggu, Mas." ucap Almira tersenyum, meskipun hatinya terasa getir.
Amar berganti pakaian dengan baju koko lengkap dengan pecinya.
"MasyaAlloh, ternyata kamu memang benar-benar tampan mas," batin Almira tersenyum terpukau dengan ketampanan yang Amar pancarkan.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Amar yang merasa di perhatikan oleh Almira.
"Tidak, aku hanya mencoba untuk melihat suamiku. Takutnya kalau kita papasan di jalan aku tidak ingat kamu, Mas." kilah Almira yang merasa malu karena ketauan mencuri pandang dari suaminya.
"Sudah, jangan melihat aku terus. Kita segera sholat!" ucap Amar.
Setelah sholat, Amar kembali menegaskan agar Almira jangan terlalu berharap dari dirinya.
"Maafkan aku, jika aku harus menyulitkan kamu. Tapi kamu tau kan, aku tidak mungkin bisa mencintai kamu. Aku pernah mencintai wanita dan kami hampir saja menikah, tapi sayang nya pernikahan itu harus batal karena suatu hal," ucap Amar.
Almira hanya diam mendengar perkataan Amar, Almira berusaha tegar dan tidak ingin menunjukkan rasa sakit hatinya.
"Mas, aku ke dapur dulu. Mau bantu bunda masak," ucap Almira mengalihkannya pembicaraan.
Almira segera begegas keluar dan ke dapur.
"Assalamu'alaikum, Bun." ucap Almira.
"Walaikumsalam, Almira. Kamu kenapa di sini? kamu pasti capek, istirahat saja. Biar Bunda yang bikin sarapan," ucap Ane.
"Tidak apa-apa Bun, Almira sudah terbiasa masak kalau pagi." jawab Almira.
"Almira bisa masak?" tanya Ane.
"Bisa Bun, sewaktu di Kairo. Almira terbiasa masak sendiri, karena di sana Almira harus berhemat jadi mau tidak mau Almira harus masak," ucap Almira.
"Wah, hebat kamu Ra." ucap Ane.
"Bunda dan Mama Nur sepertinya berteman sudah lama ya, Bun?" tanya Almira.
"Iya, Ra. Kami berteman sudah cukup lama, sejak kami masih kuliah." jawab Ane.
"Kalau begitu, Bunda tau banyak tentang Mama?" tanya Almira hati-hati.
"Iya, kurang lebih, ada apa? kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Ane.
"Bun, boleh Almira bertanya tentang Mama?" tanya Almira.
"Almira ingin bertanya tentang apa?" tanya Ane balik.
"Kenapa, kemarin Ayah Saka tidak bisa menjadi wali nikah buat Almira? Apa Almira ini anak_?" ucap Almira terputus.
"Bunda tau, apa yang akan kamu tanyakan. Begitu Almira, sebenarnya Bunda tidak berhak untuk menceritakan ini semua, karena mama dan ayah kamu lah yang seharusnya menceritakan masalah ini, tapi karena kamu bertanya pada Bunda, baiklah Bunda akan menceritakan semuanya, tapi Almira harus janji jangan membencimu Mama." ucap Ane
"Iya, Bun. Almira tidak akan mungkin mmbenci wanita yang sudah melahirkan Almira ke dunia ini," jawab Almira.
"Dulu saat masih kuliah, Mama kamu pernah melakukan kesalahan dengan ayah kamu sampai hamil kamu. Karena itu Ayah kamu tidak bisa menjadi wali untuk kamu. Sekarang kamu paham kan alasannya." ujar Ane
"Ja-jadi Almira ini anak di luar nikah? Mama dan Ayah Saka tidak menikah atau mereka bercerai Bun?" tanya Almira.
"Mereka memang tidak pernah menikah, Ayah kamu saat itu ketakutan. Saat mengetahui Mama kamu hamil, Ayah kamu pergi berlayar dan menikah dengan Mama Tika. Jadi Nur melahirkan serta membesarkan kamu seorang diri, hingga Mama kamu pernah depresi. Saat Mama kamu Depresi Mama Tika dan Ayah kamu Saka yang akhirnya merawat kamu. Alhamdulillah akhirnya Mama kamu bisa sembuh dari depresinya dan Ayah kamu juga taubat." ujar Ane.
"Astagfirullah hal adzim," gumam Almira yang kini tak kuasa menahan air matanya mendengar hal yang selama ini tidak pernah di ketahuinya.
"Bunda tau masa lalu Mama seperti apa, Bunda juga tau Almira ini anak di luar nikah, tapi kenapa bunda mau menerima Almira sebagai menantu?" tanya Almira dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Almira, jangan pernah berkata seperti itu. Semua bayi yang terlahir ke dunia ini suci, yang haram adalah perbuatan orang tuanya. Lalu kenapa Bunda tidak menerima kamu sebagai menantu? selama kelakuan kamu baik dan Bunda yakin kamu adalah wanita sholihah yang akan menjadi penyejuk untuk suami kamu, Amar." ucap Ane tersendiri.
"Bunda, Almira malu. Rasanya Almira tidak pantas untuk mas Amar," ucap Almira terisak.
"Jangan pernah berkata seperti itu, Almira. semua orang pernah melakukan kesalahan. Tapi ingat Alloh Maha Pengampun. Alhamdulillah Mama kamu sekarang sudah bertaubat dan menjadi orang yang baik, Ayah kamu juga sudah bertaubat dan mengakui kesalahan yang pernah dilakukannya. Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti pernah melaksanakan kesalahannya masing-masing." hibur Almira.
"Kenapa kamu nangis?" ucap Amar yay tiba-tiba muncul di dapur.
"Ti-tidak, Aku tidak apa-apa. Bun Almira ke kamar dulu," ucap Almira berlalu Seraya menyeka air matanya.
"Iya, Istirahat saja hari ini." jawab Ane.
"Almira kenapa nangis Bun?" Tanya Amar.
"Tidak apa-apa," jawab Ane
"Jangan-jangan Almira ngadu ke bunda tentang apa yang terjadi di antara kami." batin Amar.
^Happy Reading^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
teti kurniawati
sudah ditambahkan ke favorit ya
2023-02-10
1
Sopia Jr
kapan cinta amar buat almira akan hadir
2022-11-14
0
Puspita Sari
suhuzon aja tuh amar ke Amira
2022-10-30
0