Pagi ini Almira bangun lebih dulu dan membangunkan Amar untuk sholat berjamaah.
"Mas, bangun! kita sholat subuh berjamaah yuk," ajak Almira.
"Iya, iya," dengan mata yang berat Amar bangun untuk sholat berjamaah dengan Almira.
Di kamar mandi setelah mengambil air wudhu, Amar menatap wajahnya di depan cermin.
"Padahal setiap malam dia selalu bangun untuk sholat tahajjud, tapi sekalipun dia tidak pernah bangun kesiangan untuk melaksanakan sholat subuh, Almira begitu menjaga sholatnya," Gumam Amar di depan cermin.
Setelah mereka sholat subuh berjamaah, Almira mencium tangan Amar.
Amar hanya diam dan menatap Almira sekilas. terlihat mata Almira yang sepertinya cukup indah entah kenapa sekarang Amar menjadi semakin penasaran dengan wajah istrinya.
Segera Amar menghilangkan perasaan itu, karena tidak ingin larut dalam rasa penasaran.
"Ada apa mas?" tanya Almira.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa." jawab Amar bohong, tidak ingin diketahui kalau dirinya sedang penasaran.
"Ya sudah, Almira mau turun bantu Bunda masak ya mas," ucap Almira berdiri.
"Almira," ucap Amar menghentikan langkah Almira.
"Iya, ada apa mas?" tanya Almira.
"Begini, aku ingin kita pindah dari sini," ucap Amar.
"Pindah? kenapa mas?" tanya Almira.
"Kita kan sudah menikah, sebaiknya kita tinggal di rumah sendiri. kamu jangan salah paham dulu! aku mengajak kamu pindah dari sini karena aku tidak ingin Bunda dan Ayah menyadari hubungan kita seperti apa." ucap Amar.
"Memang hubungan kita seperti apa?" tanya Almira.
"Ya, iya seperti ini. Kamu tau kan, aku tidak mencintai kamu, jadi aku tidak ingin Bunda menyadari hal itu, aku tidak mau Bunda curiga dengan hubungan kita. karena itu sebaiknya kita pindah dari sini, aku tau Almira. kamu wanita yang baik, hanya saja hatiku sudah ada yang memiliki dan aku merasa aku tidak akan bisa mencintai kamu," ucap Amar.
"Maksud kamu apa mas, Kenapa harus bicara seperti itu?" tanya Almira.
"Aku tidak ingin memberi kamu janji manis yang kelak justru akan menyakiti kamu, lebih baik kamu tau sejak awal, kalau aku tidak mungkin bisa mencintai kamu, Aku akan menceraikan kamu saat nanti ada laki-laki yang baik dan mencintai kamu," ucap Amar.
"Astaghfirullah hal adzim, jadi itu rencana kamu mas? Baiklah terserah kamu mas, Aku ikuti apa yang menjadi kemauan kamu, tapi aku minta syarat," ucap Almira.
"Syarat? syaratapa yang kamu inginkan?" tanya Amar.
"Ijinkan aku menjalankan tugasku sebagai seorang istri, melayani kamu dan menyiapkan segala keperluan kamu dan satu lagi, Jangan berusaha menjaga jarak denganku mas, aku tau selama ini kamu sengaja pulang tengah malam dan berangkat begitu pagi untuk menghindari aku, aku tidak akan memaksa kamu untuk mencintaiku, aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagian seorang istri, paling tidak sampai batas yang telah kamu tentukan tiba." ujar Almira.
"Baik, aku kabulkan permintaan kamu, asal kamu tidak memintaku untuk mencintai kamu! karena itu sesuatu hal yang tidak mungkin." jelas Amar.
Almira menahan getir yang bergejolak di dalam dadanya. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Almira tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan Amar, meksipun hatinya sangat hancur saat ini.
***
"Almira kamu baik-baik saja?" tanya Ane yang terlihat Almira terdiam di dapur.
"Tidak Bun, Almira tidak apa-apa. Ini Almira mau masak untuk sarapan, biasanya mas Amar sukanya apa ya Bun?" tanya Almira.
"Amar paling suka sama rendang daging, Ayam bakar juga suka dan satu lagi Amar paling suka makan sop daging," ucap Ane.
Almira melihat ada daging di dalam freezer, Almira segera menyiapkan bahan dan juga menyiapkan bumbu untuk membuat rendang dan juga sop daging.
Ane juga mengajari cara membuat rendang kesukaan Amar.
"Alhamdulillah sudah jadi, semoga mas Amar suka ya Bun," ucap Almira menyiapkan sop di meja makan dan menyiapkan rendang di untuk bekal Amar ke rumah sakit.
"Amar pasti suka, kamu pintar masak rasanya enak banget," ucap Ane.
"Almira panggil mas Amar dulu Bun, biar turun untuk sarapan, sekalian Almira mau bersiap ke kampus," ucap Almira.
"Iya, Bunda juga mau panggil ayah di luar habis jogging pasti ngasih makan ikan di luar," ucap Ane.
***
"Mas, sarapan sudah siap. Ayah dan Bunda menunggu untuk sarapan," ucap Almira dan berlalu ke kamar mandi untuk bersiap mengajar.
Amar yang sedang bersiap untuk ke rumah sakit hanya diam dan segera turun.
"Almira mana? kenapa tidak kamu tunggu?" tanya Ane.
"Lagi mandi Bun," jawab Amar.
Tak lama kemudian Almira turun dan duduk di samping Amar.
Ini kali pertamanan Amar makan bersama dengan Almira.
"Mungkin sekarang aku akan tau wajahnya Almira, tidak mungkin kan Almira akan makan dengan penutup wajah seperti itu," Batin Amar.
Ternyata di luar dugaannya, Almira makan pun tanpa melepas niqabnya. Almira yang sudah terbiasa menggunakan niqab bertahun-tahun tidak merasakan kerepotan sama sekali saat beraktivitas ataupun saat makan, dirinya tidak merasa kerepotan dengan mengangkat sedikit niqabnya dan memasukkan sendok melalui samping.
Amar hanya melihat sekilas dan tak menyangka ternyata dirinya masih belum melihat wajah istrinya.
Selesai makan Almira membereskan piring-piring kotor ke dapur.
"Tidak usah di cuci Almira, biar Bunda saja. Kamu kan harus segera ke kampus," ucap Ane.
"Tidak apa-apa Bun," ucap Almira yang tetep mencuci piringnya.
"Amar, kamu jangan pergi dulu! berangkat bareng Almira saja. Kalian kan searah," ucap Amar.
"Iya bun," jawab Amar yang tidak bisa menolak.
"Bun, Amar mau bilang kalau Amar dah Almira ingin hidup mandiri di rumah kami sendiri, Alhamdulillah Amar sudah punya tabungan untuk membeli rumah, jadi Amar ingin beli rumah dan tinggal bersama Almira," ucap Amar.
"Maksudnya kalian mau pindah dari sini? kenapa harus pindah? Bunda kesepian lagi dong kalau kalian pindah," ucap Ane.
"Bun, Apa yang Amar lakukan ada benarnya juga. mereka kan pengantin baru, pasti mereka ingin punya privasi dan mereka akan belajar untuk hidup mandiri," sahut Arif.
"Tapi Bang, Bunda senang kalau Almira ada di sini," ucap Ane.
"Bun, Almira kan harus ikut suaminya. Dan Ayah rasa ide Amar baik juga kok, mereka kan menikah tanpa pacaran sebelumnya. dengan mereka hidup berdua, itu akan meningkat ikatan emosional di antara mereka berdua." bujuk Arif.
"Kalau menurut Almira bagaimana?" tanya Ane.
"Almira ikut kata mas Amar saja bun," jawab Almira.
"Baiklah kalau begitu, kalian harus sering-sering menginap di sini," ucap Ane
"Iya bun," jawab Almira.
Amar merasa lega karena sudah menyampaikan keinginannya pada Bunda da Ayah nya.
^Happy Reading^
Jangan lupa like, coment dan Vote ya sayang💕
Dukungan kalian sangat berarti bagi thor, Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
teti kurniawati
amar bodoh.. aneh bin ajaib bisa hati dimiliki org lain
2023-02-10
0
GeGe Fani@🦩⃝ᶠ͢ᵌ™
kalo aku jadi Amar minta baik-baik untuk buka cadarnya kan sudah sah suami istri ga salah juga
2022-11-13
0
AZzahSya❤
kok aku yg nyesekkk ya sakit hati😭😭
2022-11-03
0