"Jadi, kamu benar-benar sudah menikah?" tanya Vita setelah beberapa hari tidak masuk kerja karena sakit hati mengetahui Amar menikah.
"Kamu kenapa beberapa hari gak masuk? kasihan pasien kamu pada nyariin," jawab Amar mengalihkan pembicaraan.
"Amar, kamu jawab dulu pertanyaanku! wanita bercadar itu benar-benar istri kamu?" tanya Vita lagi.
"Namanya Almira. Dan memang benar kami sudah menikah," jawab Amar tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahannya lagi.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu sudah menikah? kenapa pernikahan kalian seperti terkesan dirahasiakan? cerca Vita.
"Aku tidak merasakan pernikahan kami, hanya saja saat itu waktunya terlalu mendadak jadi aku tidak sempat untuk mengundang yang lain," jawab Amar.
"Kenapa kalian harus menikah buru-buru? Apa ada yang sengaja ingin kalian tutupi?" cerca Vita.
"Apa memangnya yang mau kami tutupi? tidak ada? semua terjadi begitu saja, tanpa di rencana," jawab Amar seraya menggunakan jas putih kebesarannya.
"Apa kamu benar-benar mencintai wanita itu?" tanya Vita.
Sebenarnya Vita tidak yakin kalau wanita bercadar itu bisa membuat Amar jatuh cinta, pasalnya Vita tau bagaimana perasaan Amar untuk Rara. Dan rasanya aneh jika tiba-tiba Amar menikah dengan wanita bercadar, tidak seperti tipe wanita Amar.
"Menurut kamu bagaimana?" Amar balik tanya.
"Kalau menurutku kamu tidak mencintai wanita itu, wanita bercadar itu bukan tipe kamu, apa benar tebakan aku?" tanya Vita semakin yakin dengan pikirannya.
"Kata siapa? wanita bercadar bukan tipe wanita yang aku suka? apa menurut kamu, aku akan menikah dengan perempuan yang tidak aku suka?" ucap Amar sengaja ingin Vita menerka-nerka sendiri, Amar memang tidak menyukai Vita tapi Amar juga tidak sampai hati untuk menyakiti hati Vita. Karena Vita juga sudah begitu baik selama ini dengan Amar.
"Apa kamu yakin, kalau kamu benar-benar mencintai wanita itu?" kembali Almira bertanya karena masih belum percaya dengan jawaban Amar yang ambigu menurut Vita.
"Namanya Almira, dia wanita yang sangat baik. aku yakin bukan hanya aku, tapi laki-laki yang mengenalnya pasti akan mudah jatuh cinta dengan kebaikanny," ujar Amar tersenyum.
"Baiklah, jika memang kamu mencintai wanita itu. Sebagai sahabat kamu, aku akan mendoakan kebahagiaanmu, Aku permisi dulu," ucap Vita menahan air mata yang sejak tadi menggenang di sudut matanya seolah ingin segera tumpah dan meluap.
Amar tersenyum dan menghela nafas berat saat melihat Vita meninggalkan ruangannya. Amar bukan tidak tau kalau Vita sedari tadi berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah, tapi Amar lebih memilih untuk pura-pura tidak mengetahui itu semua. Karena tidak ingin membuat Vita merasa malu.
Vita berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan sapaan dari para perawat.
Vita segera masuk ke dalam ruang kerjanya dan menumpahkan kesediaanya di sana.
Sakit! sangat sakit! itulah yang Vita rasakan. bertahun-tahun menunggu dan mengikuti ke mana saja Amar pergi, termasuk untuk bekerja di Semarang. dengan harapan suatu saat Amar akan melihat dirinya dan membuka hati untuknya. Namun sekarang semua itu sia-sia, kini untuk kedua kalinya Vita harus merelakan Amar dan melepaskan perasaan yang selama ini di jaganya.
"Hai.. Vit," ucap Ranu yang tiba-tiba membuka pintu Vita tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Kamu, Ran? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" Vita terkejut dan memutar kursinya seraya menyaka air matanya.
"Tidak perlu malu, kalau ingin menangis. Menangislah! Aku tidak akan menertawakan kamu, wajar jika kamu menangis, aku mengerti perasaan kamu saat ini seperti apa." ucap Ranu yang tau persis perasaan Vita. selama bertahun-tahun ini, Ranu tau kalau Vita selalu mencintai Amar, meskipun Amar tidak pernah mencintai Vita.
"Aku ini wanita yang benar-benar bodoh ya?" ucap Vita tersenyum walaupun hatinya teriris dan air mata membasahi pipinya.
"Kata siapa kamu bodoh? kamu pintar, kalau kamu bodoh mana mungkin bisa jadi Dokter," canda Ranu tersenyum.
"Ranu, aku ini serius. Bisa-bisanya kamu masih bercanda," ucap Vita yang akhirnya pun ikut tersenyum.
"Sorry, sorry. Tapi benar menurut aku kamu bukan wanita bodoh hanya saja kamu wanita berprinsip. Kamu memperjuangkan cinta kamu sampai titik penghabisan," ucap Ranu kembali tersenyum.
"Apa bedanya dengan wanita bodoh? jelas-jelas Amar tidak pernah mencintaiku. Tapi aku masih saja berharap kalau suatu saat akan ada keajaiban yang bisa merubah hati Amar agar mencintai aku. Tapi kamu lihat sekarang, aku sudah menyia-nyiakan waktu mudaku untuk mengejar seseorang yang jelas-jelas tidak pernah mencintai aku," ujar Vita menghela nafas berat.
"Itu namanya berjuang, berarti kamu wanita hebat. Kamu mampu berjuang sejauh ini, apappun hasilnya yang penting kamu sudah pernah berjuang jadi kamu tidak akan pernah menyesalinya, Tapi satu yang perlu kamu ingat! kalau kamu sudah berjuang dengan maksimal tapi ternyata Alloh berkata lain, itu berarti dia bukan yang terbaik untuk kamu, baik di mata manusia belum tentu baik menurut Alloh, tapi Baik menurut Alloh sudah pasti itu yang terbaik untuk kita." ujar Ranu memberikan motivasi untuk Vita agar tidak larut dalam kesedihan.
"Sepuluh tahun lebih aku menyia-nyiakan masa mudaku hanya untuk mengejar Amar, kalau mengingat semua itu rasanya seperti tidak rela jika harus melepaskan Amar begitu saja," ucap Vita dengan mata berkaca-kaca.
"Ada hikmah di balik semua itu? contohnya saja, lihat diri kamu sekarang, kamu termotivasi untuk bisa menjadi Dokter Bedah karena ingin selalu berdekatan dengan Amar kan? kalau tidak, mungkin saat ini kamu tidak akan menjadi Dokter Bedah, benar tidak? Dan lagi, kamu bisa menjadi mahasiswa yang lulus dengan IPK lumayan bagus saat itu karena apa? karena ingin membuktikan pada Amar kalau kamu layak untuk di cintai kan?"
"Jadi ambil hikmahnya saja, dengan kamu mencintai Amar. Sekrang kamu bisa menjadi seorang Dokter Bedah yang hebat," ujar Ranu.
"Meskipun kami tidak di takdir berjodoh?" tanya Vita.
"Iya, meskipun kalian tidak di takdirkan berjodoh. setidaknya ada hikmah dengan kamu pernah mencintai Amar." Ranu adalah teman sekaligus rekan kerja yang selalu ada untuk Vita. Tapi Vita yang selama ini hanya mencintai Amar seolah tidak pernah menyadari kalau diam-diam selalu ada Ranu yang selalu memberinya kekuatan dengan caranya sendiri.
***
Amar membuka bekal yang Almira siapkan saat jam makan siang.
"MasyaAlloh, rendang bikinan Almira memang benar-benar enak," gumam Amar saat memasukkan sendok ke dalam mulutnya.
"Bagaimana dia bisa masak rendang seenak ini ya?" gumamnya lagi.
"Apa kira-kira, laki-laki itu juga menyukai rendang buatan Almira" tiba-tiba saja Amar teringat dengan bekal yang di bawakan Almira untuk Ibrahim.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Julik Rini
hati mulai ketar ketir
2023-03-17
0
Elis Dama Nuryanti
Amar jadi orang harus peka sama perasaannya sendiri jangan nanti Almira udah lepas baru kamu menyesal...
2022-11-01
0
Ruslinawaty Marzuki
Amar cemburu. Amar mulai jatuh cinta pada Almira 😍
2022-10-31
0