Semakin kesini Amar semakin kagum dengan pemahaman agama Almira. Jarang sekali Amar menjumpai wanita seperti Almira. bahkan mungkin hampir tidak pernah. Pembawaan Almira yang tegas tapi tetep santun dan semuanya berdasarkan ajaran agama.
Semakin mengenal Almira, semakin banyak ilmu yang Amar ketahui. Dan itu membuat Amar senang bersahabat dengan Almira. Karena sampai saat ini hanya rasa nyaman sebagai sahabat yang Amar rasakan.
"Mas, apa Almira sudah bisa pulang? Almira merasa sudah baik-baik saja sekarang," ucap Almira yang sudah tidak tahan berbaring di rumah sakit, sementara dirinya sudah merasa sehat.
"Kamu yakin? Apa tidak sebaiknya tunggu kamu benar-benar pulih?" tanya Amar yang ingin memastikan Almira benar-benar sudah pulih.
"Aku sudah baik-baik saja kok Mas, kasihan mahasiswa jika aku terlalu lama ijin Mas. Sebentar lagi mereka harus ujian. Ada juga beberapa mahasiswa yang harus bimbingan skripsi," jelas Almira yang memiliki tanggung jawab terhadap mahasiswanya.
"Iya, tapi kesehatan kamu juga tidak kalah penting. Bagaimana kamu bisa ngajar dengan baik kalau kamu belum benar-benar sehat," ucap Amar mulai mengkhawatirkan Almira.
"InsyaAlloh, aku sudah sehat Mas!" ucap Almira menyakinkan.
"Baiklah, besok pagi kita akan pulang." jawab Amar.
"Apa tidak bisa hari ini saja Mas?" Almira berusaha memberikan penawaran.
"Sepertinya kamu benar-benar ingin segera pulang ya? gak sabaran banget," ucap Amar.
"Mana ada orang yang betah di rumah sakit Mas? mau seenak apapun rumah sakit, pasti tidak akan ada yang mau berlama-lama di sini," untuk Almira.
"Hehehe.. benar juga ya," ucap Amar tertawa.
"Ya sudah, nanti aku bicara dulu sama Dokter Reni. Yang tau kondisi kamu seperti apa kan Dokter Reni, karena kamu menolak jadi pasienku." ucap Amar mengingatkan saat Almira tidak mau di periksa Amar.
"Hehehe..Iya, maaf," ucap Almira menyatukan tangannya di depan dada dan tertawa.
"Ternyata kamu cukup asyik ya orangnya? aku kira kamu itu orangnya kaku dan gak bisa bercanda," ucap Amar terus terang dengan pemikirannya.
"Itu karena Mas Amar belum cukup mengenal aku saja, tapi sebaiknya jangan teralu mengenal juga sih," ucap Almira.
"Kenapa?" Amar mengernyitkan alisnya.
"Takutnya nanti Mas Amar jatuh cinta sama aku, Hehehe.."seloroh Almira tertawa.
"Kamu ini, Lama-lama ngelunjak ya?" ucap Amar menatap Almira dan tersenyum.
"Hahaha.. bercanda Mas, biar gak kaya kenebo kering karena tidak pernah tersenyum," ucap Almira menyindir Amar. Pasalnya Amar adalah orang yang jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.
"Kamu nyindir aku?" Amar menatap Almira.
"Idih, situ aja yang terlalu percaya diri, tapi setelah aku ingat-ingat lagi sepertinya Mas Amar memang jarang bercanda apalagi tersenyum. Berarti mungkin memang benar kanebo kering ini berlaku untuk Mas Amar," ucap Almira.
"Almira, untung kamu lagi sakit. Kalau kamu gak sakit. Aku pasti buat perhitungan!" ucap Amar kembali tersenyum.
Amar dan Almira pun tertawa dengan lepas dan sekarang hubungan di antara keduanya sudah tidak lagi canggung, lantaran keduanya kini sepakat untuk menjadi sahabat. Meskipun tawaran persahabatan ini Almira terima sebagai batu loncatan untuk mendapatkan hati suaminy. Lebih baik bersahabat lebih dulu dari pada harus memaksakan seseorang untuk mencintai kita.
Karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang datangnya dari Alloh, Almira percaya suatu saat pasti bisa membuat Amar mencintainya. Tentu saja atas kehendak Alloh.Karena Alloh lah Dzat pemolak malik hati, tidak sulit bagi Alloh untuk membuat Amar jatuh cinta pada Almira. wanita yang kini sudah halal baginya.
"Aku tinggal dulu ya, Aku ada jadwal operasi siang ini dan nanti aku akan coba bicarakan kepulangan kamu sama Dokter Reni. Kamu tidak apa-apa kan sendiri di sini?" tanya Amar.
"Iya, aku tidak apa-apa, Mas!" jawab Almira.
***
Di ruang kerja Amar.
"Ehem.. Katanya tidakk cinta tapi di tungguin terus," ucap Dokter Ranu berdeham di depan pintu.
"Tidak cinta bukan berarti tidak perduli kan? kami sekarang bersahabat," jawab Amar.
"Hahaha.. Sahabat? udah jelas-jelas suami istri ngeles sahabat," celetuk Dokter Ranu.
"Sudahlah kamu tidak akan paham," jawab Amar berlalu.
"Eh.. tunggu mau kemana?" tanya Ranu.
"Operasi, kemana lagi." jawab Amar singkat.
"Sebentar Mar!" ucap Ranu menghentikan langkah kaki Amar dan menoleh ke arah Ranu.
"Ada apa sih? cepat katakan, sebentar lagi waktunya operasi!" Amar mendengarkan.
"Kamu tau Vita sudah dua hari ini tidak masuk kerja?" tanya Ranu.
"Bukankah karena dia ada acara keluarga jadi ijin tidak masuk? Karena sebenernya Vita Dokter yang aku minta untuk menjadi Dokternya Almira," jawab Amar.
"Kamu ini sebenarnya memang tidak tau, apa pura-pura tidak tau sih Mar?" tanya Ranu.
"Maksud kamu apa bertanya seperti itu?" tanya Amar tidak mengerti.
"Kamu kan tau, sejak kita kuliah. Vita itu sudah terang-terangan mengatakan kalau dia suka sama kamu, tapi bagaimana bisa tiba-tiba sekarang kamu mematahkan hatinya dengan memintanya untuk menjadi Dokter istri kamu? Harusnya kamu tau, itu melukai hati Vita." ujar Ranu mengingatkan Amar.
"Dan kamu juga tau, sejak awal aku sudah mengatakan pada Vita. Kalau aku tidak mencintai dia, tapi saat dia bilang kalau ingat berteman denganku. Aku kira dia sudah tidak mencintai aku. Lagipula dia tau juga dari awal siapa yang aku cintai," ucap Amar yang memang selama ini selalu cuek dengan perasaan Vita.
"Wah.. keterlaluan kamu Mar, aku tau kamu tidak menyukai Vita, tapi kamu juga jangan menyakiti hatinya seperti itu juga lah Mar, kasihan Vita itu sudah berkorban perasaan cukup lama untuk kamu, Dia menahan perasaannya untuk merelakan kamu dengan Rara tapi begitu tau kamu tidak jadi bertunangan dengan Rara, Vita merasa masih ada kesempatan untuk kalian dan sekarang tiba-tiba gak ada angin gak ada hujan, kamu memintanya untuk menjadi Dokter dari wanita yang sekarang menjadi istri kamu," ujar Ranu.
"Seperti aku harus meluruskan, pertama dari awal aku tidak pernah memberi harapan apa-apa pada Vita. Jadi jangan katakan seolah-olah aku meminta Vita untuk mengorbankan perasaannya! Ke dua, Aku dan Vita hanya sebatas rekan kerja jadi hal yang wajar jika aku meminta tolong pada Vita untuk menjadi Dokter dari Almira, terlepas dari siapa itu Almira, bukankah seorang Dokter itu harus mengobati siapa saja pasiennya ya? Dan yang ke tiga aku harus segera melakukan operasi."ucap Amar menepuk bahu Ranu.
"Satu lagi! Kalau suka akui suka! Jangan terlalu lama menyimpan perasaan itu sendiri, Bukankah cinta itu harus di perjuangkan?" ucap Amar mengingtkan. Amar tau dengan pasti kalau sahabatnya ini sudah lama diam-diam memendam rasa ucap Vita.
^Happy Reading^
Jangan lupa, like, coment dan Vote ya sayang💕
lupa juga klik favorit dan klik Qurrotaayun agar bisa membaca karya thor yang lainnya ya sayang💕
Terima kasih😘💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Maulana ya_Rohman
semangat up nya thor✊✊✊✊✊✊✊
2022-10-29
0
Maya Puspita
ditunggu kelanjutannya Thor
2022-10-29
0