Kaylee segera bergerak mendekati Austin, pria yang baru saja menyelamatkan hidupnya. Seandainya Austin tidak mendorongnya tadi, mungkin Kaylee yang mengalami nasib selayaknya Austin kini.
Kaylee menyentuh tangan Austin dan menempelkan telinganya di dada Austin. Kaylee masih bisa mendengar detak jantung Austin.
" Tolong ! Tolong bawa dia segera ke Rumah Sakit " teriak Kaylee kepada pengendara mobil yang menabrak Austin.
Merasa bersalah, pengendara itu segera memasukkan Austin ke dalam mobilnya. Kaylee pun ikut masuk ke dalam mobil dan menemaninya ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Austin segera ditangani. Beruntung tidak ada luka dalam, hanya saja ia mengalami geger otak sedang. Austin kini dirawat di Rumah Sakit ditemani oleh Kaylee. Pengendara yang menabrak Austin tadi bersedia menanggung biaya perawatan Austin.
" Maaf nona, saya tidak bisa menemani anda. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada pria itu. Anda tidak perlu khawatir karena saya sudah membayar biaya perawatannya untuk satu minggu ke depan dengan pelayanan terbaik. Dan ini, saya titipkan sejumlah uang untuk tambahan biaya pengobatan juga ada kartu nama saya. Jika anda membutuhkan bantuan saya lagi, silakan hubungi saya. Sekali lagi saya mohon maaf. Kalau begitu saya permisi ! " ucapnya sambil memberikan sejumlah uang kemudian pergi dengan terburu-buru.
Kaylee pun tak bisa menahannya. Ia hanya memegang uang dan kartu nama yang diberikan pria tersebut.
" Anda keluarga pasien yang baru mengalami kecelakaan ? " tanya seorang suster menghampiri Kaylee.
" I... Iya suster. Ada apa ? " balas Kaylee.
" Kami memerlukan data pasien, silakan anda memberikan informasi tentang pasien " ucapnya sambil memberikan formulir kepada Kaylee.
Kaylee mengambil formulir tersebut, namun tidak langsung mengisinya. Kaylee menghampiri Austin yang masih belum sadar. Kaylee menatap Austin dan melihat wajahnya yang pucat serta kepalanya yang dibalut perban.
Kaylee memeriksa tubuh Austin. Berharap menemukan tanda pengenal di pakaian dan celana Austin namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan tanda pengenal apapun.
Kaylee menghela nafasnya, ia merogoh sling bagnya dan melihat kertas lusuh yang sudah diremasnya berkali-kali.
Entah kenapa, tiba-tiba terlintas untuk menuliskan nama ABHAM pada data pasien. Dan Kaylee pun menuliskan alamat rumahnya di kolom tempat tinggal pasien. Mungkin karena Kaylee merasa berhutang budi pada Austin.
Austin telah dipindahkan ke ruang perawatan terbaik sesuai permintaan si penabrak tadi. Walaupun terpaksa tetapi Kaylee bersedia menunggui pria yang tak dikenalnya itu, pria yang sudah menyelamatkannya dan mengorbankan diri untuknya.
Kaylee duduk di samping ranjang tempat pria asing itu terbaring. Ia menatap lekat pria yang terbaring tak berdaya itu.
Mengapa kau menolongku ? Menyelamatkanku ?
Batin Kaylee bertanya-tanya.
Tangan pria asing itu bergerak, matanya berusaha mengerjap. Melihat hal itu, Kaylee lantas memegang tangan pria itu.
" Tuan... Anda sudah sadar ? " tanya Kaylee.
Pria asing itu kini membuka kedua matanya dan melihat seorang gadis cantik tengah menatapnya penuh kekhawatiran.
" Ssh... Dimana aku ? " tanyanya sedikit meringis lalu memegangi kepalanya yang dibalut perban.
" Anda berada di Rumah Sakit. Tadi anda tertabrak mobil " jawab Kaylee.
" Aku... Tertabrak ? " tanyanya lagi.
Kaylee menganggukkan kepalanya.
" Tuan... Bisakah anda memberitahukan identitas anda agar aku bisa memberitahu keluarga anda mengenai kondisi anda " ucap Kaylee.
" Ke... Keluarga... ? Identitasku ? " tanyanya bermonolog sambil mengingat-ingat.
Ia lantas memegangi kepalanya, karena merasa sakit saat berusaha mengingat semuanya.
" Aww... Ssh... Sakit... Mengapa kepalaku sakit... " Ia mengaduh kesakitan.
Melihat hal itu, Kaylee bergegas memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter dan suster datang. Dokter menyuntikkan obat penenang agar pria asing itu tenang. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.
" Dokter sebenarnya apa yang terjadi padanya ? " tanya Kaylee khawatir.
" Nampaknya benturan keras pada kepalanya membuat pasien kehilangan ingatannya sehingga ia tidak bisa mengingat apapun " jawab Dokter.
Kaylee terperanjat, jika ia kehilangan ingatan lalu bagaimana Kaylee mencari informasi tentang keluarganya.
" Apakah ia akan kehilangan ingatan selamanya, Dokter ? " tanya Kaylee lagi.
" Pasien kemungkinan mengalami amnesia sementara. Ingatannya dapat kembali jika mendapatkan stimulus dalam pengembalian ingatannya " jawab Dokter.
" Lalu sampai berapa lama ingatannya akan kembali lagi, Dok ? " tanya Kaylee penasaran.
" Tidak bisa ditentukan,nona. Bisa dalam waktu cepat ataupun waktu yang lama. Itu kembali lagi pada pemulihan cedera otaknya dan rangsangan untuk mengingat semuanya " jawab Dokter itu kemudian undur diri dari hadapan Kaylee.
Kaylee menghembus nafasnya kasar. Ia tak tahu siapa yang harus ia hubungi untuk memberi tahu keadaan pria itu. Ingin rasanya Kaylee tidak peduli, namun mengingat jika pria itu telah menyelamatkannya, maka Kaylee merasa bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatannya.
Kaylee mengambil ponselnya, kemudian menghubungi sang ibu.
" Kaylee... Kamu ada dimana, Nak ? Cris tadi menjemputmu ke toko dan dia menemukan toko sudah tutup. Begitu dia kembali, kamu masih belum pulang. Kamu baik-baik saja kan ? " tanya Joana khawatir.
" I'm fine, Mom... Don't worry " jawab Kaylee.
" Kay sedang berada di rumah sakit, mom... Teman Kaylee tadi mengalami kecelakaan " tambah Kaylee kemudian.
" Biar, Cris menjemputmu kesana ! " seru Joana.
" No, mom... Tidak perlu meminta Cris menjemput karena Kaylee akan tinggal disini menemaninya. Besok, tolong mommy temani Rachel di toko. Setelah urusan disini selesai, Kay akan segera ke toko " sahut Kaylee.
" Baiklah, besok mommy akan bawakan baju ganti untukmu. Take care sweet heart ! "
" Thanks mom, Bye " pungkas Kaylee kemudian mengakhiri panggilan.
Kaylee menghela nafasnya. Ia kemudian duduk kembali di kursi yang ada di samping tempat tidur pasien. Dikarenakan kelelahan setelah aktivitasnya seharian ini, akhirnya Kaylee tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di sisi ranjang.
Austin terbangun, ia melihat sekeliling ruangan dan menyadari jika ia berada di ruang rawat. Ia meraba kepalanya yang dibalut perban serta melihat tangannya yang tertancap jarum infus.
Austin pun melihat jika ada seorang gadis yang tertidur di sisi ranjangnya. Entah perasaan apa yang melandanya. Kendati ia tak dapat mengingat apapun, namun melihat gadis itu ia seperti menemukan seseorang yang telah lama ia cari. Austin bangkit, lalu duduk menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang yang telah ia lapisi dengan bantal. Tangannya terulur membelai rambut gadis yang masih memejamkan matanya.
Mata gadis itu mengerjap saat merasakan sentuhan pada kepalanya. Kaylee membuka matanya kemudian menguceknya sambil menegakkan badan. Mata Kaylee membola saat menyadari jika pria asing itu kini sedang duduk sambil menatapnya lekat.
" Anda sudah bangun ? " tanya Kaylee, merasa gugup karena tatapan pria asing itu.
Pria itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
" Apakah anda sudah mengingat sesuatu ? " selidik Kaylee.
Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan membuat Kaylee menghembus nafas kasar.
" Baiklah, karena anda belum bisa mengingat apapun. Jadi biarkan aku menamai anda Abham dan aku akan memanggilmu Abe. Kau setuju ? " tanya Kaylee.
" Tentu saja... Aku rasa itu nama yang bagus " jawab pria asing itu.
Sesaat Kaylee terkesiap. Ia seperti pernah mendengar suara pria itu. Pria yang berbicara dengannya saat ia mabuk. Kaylee menatap tajam pria yang tengah bersandar sambil memandanginya.
" Apakah ada yang salah, Nona ? "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Debbie Teguh
duh amnesia segala
2023-01-28
1
stela
oh tidak kenapa pake hilang ingatan lagi hmhmhm
2023-01-13
1
@Ani Nur Meilan
Austin..semoga cepat sadar...
2022-10-19
1