“Sttz, diam jangan ada yang berisik!” bisik Saprol pada puluhan anggotanya yang mengikutinya bergerak melewati gunung kuncung. Sebuah gunung kecil berbentuk salak dari gugusan pegunungan Anjasmara.
Mereka adalah pasukan pemuda Majapahit dari Trowulan. Malam sebelumnya pemimpin pemuda Majapahit yaitu Saprol sendiri di datangi Wahyu. Rupanya Wahyu datang untuk menagih janji persahabatan di antara mereka berdua.
Dulu saat mereka sama-sama belajar silat gaib di padepokan Haji Hadi di tengah pusat kota Mojokerto. Saprol pernah di tolong oleh Wahyu saat hampir mati dikeroyok setan-setan kalap di sungai Brantas yang membelah kota Mojokerto.
“Bukan aku menagih janjimu kawan atau bukannya aku meminta imbalan untuk peristiwa saat itu. Tetapi kita memiliki sejarah panjang persaudaraan lima kota dari puluhan tahun lalu. Kalau Jombang benar-benar hancur nanti. Sudah barang pasti lima kota lain pasti akan hancur,” begitulah ucap Wahyu saat bertamu di bilik depan rumah Saprol.
“Jangan sungkan sahabatku, bahkan aku sesungguhnya menunggu-nunggu kabar dari dirimu sendiri. Maka tunggulah kami para pemuda Majapahit dari tanah Trowulan di era level up ini. Kau tidak akan sendirian sahabatku kami pasti datang,” begitulah sekiranya jawaban Saprol sang pemimpin pemuda Trowulan yang masuk kawasan area kota Mojokerto. Walau sebenarnya di kota Jombang tiada beda antara malam dan siang semuanya gelap.
Saat pasukan pemuda Majapahit dari tanah para raja Trowulan. Tengah bergerak dengan mengendap-endap di daerah hutan sekitar gunung kuncung. Tiba-tiba ada makhluk-makhluk aneh yang hidup dari pepohonan.
Mereka adalah para kaum setan pohon dengan legenda pohon pemakan manusia. Bentuk dan rupanya memang seperti pohon utuh. Tetapi mereka memiliki wajah dan dapat berjalan layaknya manusia. Pohon-pohon setan itu kembali hidup setelah puluhan tahun lalu tertidur oleh segel Haji Jaka.
Grak, gerek, brol,
Beberapa pohon tampak hidup sambil mengangkat akar-akarnya ke atas tanah sebagai kakinya. Mereka tiba-tiba berbicara satu sama lain. Mereka dikomandoi satu pohon beringin besar yang berada di tengah-tengah pas pucuk gunung kuncung.
“Makhluk apa itu Mas? Pohon-pohon itu hidup. Apa mereka tengah dirasuki setan-setan penunggu hutan ini. Apa mereka sendiri adalah setannya?” ucap salah seorang dari anggota pemuda Majapahit di bawah komando Saprol.
“Sttz, jangan bersuara, mereka begitu sensitif dengan suara dan pergerakan. Jadi usahakan bergerak pelan-pelan saja. Jangan sampai mereka tahu keberadaan kita. Jelas kalau kita melawan mereka belum tentu kita akan menang. Walau kita menang sudah pasti kita akan kelelahan dan sudah pasti akan ada korban dari kita. Lebih baik kita menghemat energi untuk bertarung di kota Jombang,” jawab Saprol masih tetap dengan berbisik.
“Apa benar mereka yang disebut dengan pohon setan itu Mas Saprol. Bukankah cerita pohon setan hanya diceritakan seorang Ibu pada anaknya. Saat anaknya tersebut tidak jua tertidur dan hanya cerita mitos belaka agar anak itu tertidur, karena takut dengan ceritanya?” ucap salah satu anggota yang lain yang berada pas di dekat Saprol. Sedangkan yang tadi bertanya berada agak jauh dari tempat Saprol duduk berjongkok.
“Cerita pohon setan sebenarnya nyata adanya. Aku menyaksikan sendiri saat kami ikut berperang dua puluh lima tahun lalu di atas aliran sungai Konto. Mereka sanggatlah mengerikan, saat itulah aku pertama kalinya bertemu dengan Wahyu. Saat itu kami benar-benar masih teramat kecil. Sudah ayo kita bergerak memutar dan jangan menimbulkan banyak suara,” ucap Saprol memimpin barisan pemuda Majapahit memutar jalan. Agar tidak diketahui oleh puluhan pohon siluman yang terus hidup satu-per satu.
Tapi mereka rupanya belum penuh akan pengalaman. Mereka memang sudah sering berperang atau bertarung. Tetapi baru kali ini mereka menemui bangsa pohon setan. Mereka tahu bangsa pohon setan hanya melalui cerita legenda dan dari mulut-ke mulut.
Kisah Saprol dan para santri muda yang ikut berperang di batel kali atau sungai Konto jua tak sepenuhnya berperang dengan bangsa pohon setan. Mereka datang setelah Haji Jaka menyegel bangsa pohon setan. Lalu hanya mendengar cerita bangsa pohon setan dari cerita Haji Jaka yang saat itu masih teramat muda.
Mereka tidak mengetahui jikalau bangsa pohon setan memiliki sensor mata. Dimanah sensor mata sama berfungsinya seperti sinar merah dalam telepon genggam jaman dahulu. Dapat merasakan hawa panas dari makhluk hidup khususnya manusia yang ada di sekitarnya.
“Paduka Raja kami kita telah bebas kembali dari segel manusia bernama Jaka itu. Rupanya ada manusia lain yang sengaja membuka segel tersebut. Sehingga kita dapat bangkit kembali, tapi saya jua belum mengetahui siapa dan apa tujuannya membangkitkan bangsa pohon setan?” ujar salah satu pohon seran yang terbuat dari pohon sawo.
“Tidak jadi soal siapa dan apa tujuan manusia itu membangkitkan kita. Lebih penting kita membalas dendam atas penyegelan dua puluh lima tahun lalu. Sekarang mari kita turun gunung, lalu menghabisi setiap manusia yang ada di kota Jombang,” jawab Raja bangsa pohon setan yang terbuat dari pohon beringin.
“Paduka Raja sebentar dahulu, saya menangkap aura panas puluhan manusia di sekitar kita. Tapi aku merasakan mereka beraura dari golongan putih,” ucap salah satu pasukan pohon setan yang berasal dari pohon nangka.
Seketika mata dari Raja bangsa pohon setan melihat ke arah yang dicurigai ada hawa panas manusia. Benar juga Raja dari bangsa pohon setan mendapati puluhan manusia sedang bergerak memutar. Merekalah para pemuda Majapahit pimpinan Saprol.
“Manusia-manusia itu masih teramat muda dan minim pengalaman. Kita diuntungkan dari cerita para manusia bahwa kita adalah hanya mitos belaka. Jadi mereka tidak sepenuhnya tahu apa dan bagaimana kita. Biarkan mereka lewat, biarkan mereka merasa aman dan merasa kita tidak mengetahui tentang mereka. Saat mereka berada tepat di tepi jurang. Barulah kita sergap mereka lalu kita jatuhkan mereka semua ke dalam jurang,” ucap Raja bangsa pohon setan.
Sementara itu puluhan anggota pemuda Majapahit yang dikomandoi oleh Saprol terus menyisir tepi hutan. Mereka tidak menyadari kalau bangsa pohon setan telah mengetahui keberadaan mereka.
“Terus bergerak jangan berhenti sampai kita menemui pemukiman penduduk terdekat. Rupanya bangsa pohon setan itu tidak mengetahui kalau kita tengah melewatinya,” ucap Saprol memberi komando pada pasukannya untuk terus bergerak.
“Baik Mas Saprol, terus bergerak kawan-kawan,” ucap salah satu anggota pemuda Majapahit yang berdiri pas di belakang Saprol.
Akhirnya sampailah mereka di tepi jurang gunung kuncung. Mereka hendak menuruni tebing dengan rayutan-rayutan yang banyak menjalar dari atas tebing hingga dasarnya. Tetapi belum sampai beberapa jengkal mereka menuruni tebing. Ada beberapa teriakan dari anggota Pemuda Majapahit yang masih di atas menunggu giliran untuk menuruni tebing.
Argtz,
“Mas Saprol tolong!” teriakan beberapa pemuda dibarengi dengan pemandangan mengerikan yakni jatuhnya potongan-potongan tubuh dari atas tebing. Seakan mereka tengah dikoyak binatang buas.
“Sial mereka tahu kita di sini!” ucap Saprol bergegas kembali ke atas tebing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Andra Djatmika
lanjutkan Thor
2022-12-08
0
Bayu Arnan
imajinasimu Thor mantap
2022-11-30
0
Roy Jamaya
sudahlah terbaik novelmu ini
2022-11-27
1