Sisi Selatan, desa Badas utara, pukul 00:01 waktu setempat,
Daerah Badas jua tidak luput dari kehancuran yang di alami seluruh sisi kota Jombang. Kehancuran tampak begitu nyata di desa tersebut. Tapi hanya di pusat-pusat keramaian saja yang mengalami kehancuran.
Pinggiran-pinggiran kota seperti di desa-desa yang agak ke dalam belum terjamah akan kehancuran. Bahkan seolah para setan enggan menjamah daerah-daerah itu. Mungkin mereka merasa tiada guna menghancurkan desa-desa yang tiada perlawanan akannya.
Padahal di sana banyak pemuda tangguh yang berdiam selain dari golongan yang terdaftar resmi di organisasi TOH dalam kota. Mereka adalah sub prajurit yang selalu membantu peperangan saat diminta oleh ketua pusat TOH bila diperlukan. Seperti halnya saat Haji Jaka dahulu berperang melawan satu negara setan di lembah setan hutan larangan.
Mereka saat itu dipanggil dan datang dengan kelompok lumayan besar. Pemimpin mereka yang terkenal adalah tetua paling berpengaruh namanya Mbah Raji. Kini sisi selatan memiliki satu kelompok yang sangat diperhitungkan bernama klan Raji. Pemimpin di daerah ini yang terkenal di era tua TOH setelah Mbah Raji adalah Haji Pendik.
Haji Pendik menikahi seorang gadis dari klan Lukman bernaka Soleha. Lalu mereka di beri keturunan anak kembar laki-laki bernama Fahmi dan Alak. Kini Fahmi dan Alak menjadi pemimpin pemuda TOH era level Up.
Malam ini tampak sepi di daerah desa Badas utara. Rumah-rumah tampak tertutup rapat pada pintu depannya. Keadaan gelap dan mendung serta agak gerimis. Menambah kesan sepi di desa perbatasan terakhir paling selatan kota Jombang tersebut.
Cek, cek, cek,
Ada suara langkah gadis muda yang masih memakai seragam kerja berlari. Mungkin ia terlalu kemalaman saat pulang kerja. Lalu karena takut dia berlari agar sampai ke rumah dengan cepat.
“Apa kita perlu menghabisi seluruh manusia di tepian kota Jombang juga panglima?” ucap salah satu sosok dari dua sosok aneh di atas atap rumah salah satu warga. Mereka tengah mengamati langkah-langkah gadis muda berlari.
Dua sosok tersebut berpenampilan layaknya mumi dalam mitologi negeri Mesir kuno. Tubuhnya terbalut lilitan kain putih dan berbau tak sedap. Wajahnya hanya serupa tengkorak atau mayat pucat kering selayaknya mumi dalam film luar negeri.
“Tapi perintah Raja Barbadak untuk membiarkan desa-desa tepi kota agar tidak di hancurkan Panglima. Raja menginginkan mereka hidup dan dijadikan lumbung pangan bagi para setan. Keadaan kota kini sedang berbalik dan para manusia itu sudah mulai membalikkan permainan. Jadi ada benarnya perintah Raja untuk membiarkan penduduk tepi kota hidup. Jadi kita bisa menculik mereka satu-per satu untuk di jadikan santapan setan-setan di dalam kota yang tengah berperang,” ujar mumi satunya yang berpangkat di bawah Panglima.
“Benar juga katamu akan perintah Raja Barbadak. Tapi malam ini aku sungguh lapar dan kebetulan ada manusia yang tengah lewat di bawah kita. Mungkin Raja tidak akan marah kalau kita mengambil satu manusia sebagai santapan kita sendiri,” ujar mumi yang berpangkat Panglima yang tengah berdiri di samping mumi berpangkat di bawah Panglima yang tengah duduk santai.
Gadis itu terus berlari dengan wajah tampak ketakutan. Tubuhnya sudahlah basah kuyup pada bajunya sebab air hujan dan kadang menginjak genangan air di berbagai ruas jalan. Matanya selalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat keadaan gang jalan sekitar rumahnya yang teramat sepi. Hanya lampu jalan menerangi sebagai penanda hari sudah teramat larut.
Dalam hati si gadis muda hanya ada kata lekas pulang. Sebab ia sudah mendengar cerita tentang kehancuran di kota Jombang akibat ulah para setan. Sudah barang tentu mungkin ada satu atau dua setan yang sengaja datang di desanya. Begitulah riak ketakutan yang tergambar dalam hatinya.
“Ya Allah lindungilah aku sampai rumah,” gerutunya terus berlari dengan langkah yang terburu-buru.
Bruk,
“Aduh, sakit...!” Si gadis muda berteriak kesakitan. Sebab kakinya tiba-tiba terantuk lubang yang ada di tengah aspal. Sehingga ia jatuh tersungkur ke dalam genangan di dalam lubang yang agak lebar di tengah jalan.
“Ya jadi basah dan kotor bajuku. Mana sepi lagi tak ada orang, mana rumahku masih jauh. Kenapa tadi aku harus ada lembur ya. Jadinya aku pulang sangat malam, kalau begini jadinya kan seram ya,” ujar Si gadis muda menggerutu sendirian.
“Ada apa nona manis, apa ada yang bisa saya makan?” tiba-tiba ada suara dan perkataan yang agak berat serta serak. Membuat Si gadis muda begitu kaget. Apa lagi dengan pertanyaan yang menakutkan baginya.
“Eh kenapa pertanyaannya apakah ada yang bisa saya makan. Bukankah seharusnya apakah ada yang bisa saya bantu?” gumam Si gadis muda seketika mendongakkan kepalanya. Memandang sosok mumi berpangkat panglima yang ada di depannya.
Melihat sosok mumi melayang di atas aspal dengan lilitan kain putih yang berantakan dan penuh lumpur serta darah di setiap sudutnya. Apalagi saat Si gadis kecil memandang wajah mumi tersebut yang hanya serupa tengkorak gosong. Tanpa mata dan kulit jua tak ada, menambah kaget dan ketakutan Si gadis muda.
“Huwa, setan...!” teriakan terakhir Si gadis muda setelah itu dia pingsan jatuh ke kubangan tempat jatuhnya yang tadi. Karena sungguh dia begitu ketakutan.
“Asyik Panglima jadi ini kayaknya kita makan. Tapi sebelum kita makan apa boleh kita menikmati tubuhnya sebentar. Walau kita setan tapi kita juga memiliki nafsu bukan. Sungguh sayang tubuh indah dan mulus gadis muda ini. Apabila langsung kita makan dan kita santap sebagai hidangan makan malam?” ucap mumi berpangkat di bawah Panglima. Mengutarakan hasratnya bahwa setan juga memiliki nafsu birahi.
“Kita ini setan elite bukan setan gentayangan di pinggir jalan. Kita ini setan yang berkelas, bukan setan abal-abal. Tidak usah pakai nafsu-nafsu yang penting kita makan,” ucap mumi yang berpangkat Panglima.
Lalu secara langsung tanpa bosa-basi memegang tangan Si gadis muda hendak di patahkannya. Sedangkan mumi yang berpangkat di bawah panglima mengincar Si gadis muda di bagian kakinya.
“He setan, apa yang kau lakukan di daerah kami?” tiba-tiba dua mumi tersebut kaget dengan suara seseorang yang memperingatkan mereka.
“Siapa-siapa yang bicara, apa kau yang bicara tadi hoi?” ucap mumi yang berpangkat Panglima pada mumi yang berpangkat di bawahnya. Bahkan si mumi yang berpangkat di bawah panglima sempat di lemparkan mumi yang berpangkat panglima ke samping agak jauh.
“Bukan-bukan aku Panglima, bukan aku yang bicara. Ada orang lain yang memiliki aura petarung putih di sekitar kita. Maafkan aku Panglima, tetapi benar bukan aku yang melakukannya,” ucap mumi berpangkat di bawah Panglima sambil memunguti tulang-tulangnya yang berceceran. Akibat patah saat di lemparkan oleh mumi Panglima dan terpelanting beberapa kali di aspal.
“Lalu siapa yang bertanya tadi?” ucap mumi panglima menoleh ke belakang. Tiba-tiba ada dua sosok yang berkelebat melewati mereka. Seketika itu ke dua mumi hancur berkeping-keping.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Andra Djatmika
huwahahaha cerdas dicampur-campur setanya
2022-12-08
0
Bayu Arnan
semangay semangat semangat
2022-11-30
0
Roy Jamaya
loh loh loh ada mumi wkwkwk
2022-11-27
1