Makhluk bersayap Paman Bayu

Dari sisi barat agak jauh sisi kota Jombang. Terlihat lesatan ratusan cahaya kuning yang terus berdatangan. Cahaya kuning kali ini bukan dari pecahan tubuh Wahyu. Tetapi dari ratusan anggota kelompok Alif kota Serang.

Mereka terus berdatangan dengan gaya lontaran dan terbang begitu cepat layaknya halilintar. Mereka yang dikomandoi tetua utama yang berusia hampir satu abat Dwi Cahyadi. Terus datang bergelombang secara masif dari arah perbatasan barat kota Jombang.

“Terus bergerak, terus bergerak, binasakan semua setan dan manusia pembawa setan yang kalian temui di kota ini. Jangan berhenti menyala sebelum semua nyala api para setan benar-benar padam seluruhnya!” teriak Dwi Cahyadi sesosok kakek tua namun masih terlihat gagah dan tegap. Sejenak Dwi Cahyadi berhenti di atas sisa reruntuhan gapura selamat datang yang telah hancur di sisi barat kota Jombang.

Bersama partner atau sahabat sejatinya tetua Kakek Mamat. Kakek Dwi terus berkoar mengomandoi para pasukan api kuning kota Serang untuk terus meringsek masuk ke dalam kota Jombang.

“Dwi kenapa kali ini kita seakan kecolongan. Kenapa perang kali ini benar-benar kita tidak mengetahui apa pun. Bahkan kita tidak mendengar beritanya sama sekali walau hanya kabar burung atau sekedar kabar angin,” gerutu Kakek Dwi berdiri sambil terus terbalut kobaran api kuning pada tubuhnya.

“Benar juga bahkan perang sudah berlangsung selama dua tahun. Serta kabar terakhir dari telik sandi yang aku dengar. Semua tetua kota Jombang telah gugur termasuk adikmu Jaka,” ucap Kakek Mamat berdiri di samping Kakek Dwi.

***

“Argtz...!” ****, cres, gres, seling,

Tangan Elang terpotong kembali oleh pedang tulang milik bayi setan. Kali ini kedua tangan Elang sudah terputus semua. Tubuhnya doyong dan hampir roboh ke tanah. Saat tidak seimbangnya tubuh Elang. Membuat kesempatan bayi setan untuk mengakhiri perlawanan Elang.

Benar jua hal itu tidak disia-siakan oleh bayi setan. Kesempatan yang tidak datang berkali-kali itu. Benar-benar digunakan secara baik oleh bayi setan.

“Akhirnya adikku Elang matilah kau di ujung pedangku!” teriak bayi setan melompat sambil menghunuskan pedangnya tepat ke arah dada Elang.

Tapi tiba-tiba ada sebuah cakram kuning agak besar yang cepat mengarah ke arah bayi setan dengan cara melesat sambil memutar. Cakram tersebut pas mengenai ujung pedang tulang yang berjuluk pedang setan tanpa tanding.

Tetapi kali ini malah terbelah menjadi dua. Tergerus oleh putaran cakram kuning yang tiba-tiba melesat ke arahnya. Terus memutar membelah pedang setan dan terus maju. Sampai-sampai hendak membelah tangan bayi setan. Kalau saja bayi setan tak melepaskan pedangnya dan melompat ke belakang. Tentu tangannya sudah terbelah pula oleh cakram kuning.

Tapi sepertinya cakram kuning terus berputar dan terus maju mengincar bayi setan. Sehingga sejauh apa bayi setan menghindar dengan cara melompat terus ke belakang. Cakram kuning tetap mengejarnya, seakan si empu dari cakram kuning. Memang mengincar bayi seran untuk di tebas oleh cakram kuning.

“Sial cakram siapa ini, woi siapa kau tunjukkan batang hidungmu. Jangan kau bersembunyi pengecut hadapi aku. Biar sekalian aku habisi bersama Elang si cupu ini?” teriak bayi setan terus melompat ke belakang dan terus jua cakram kuning mengejarnya.

Tiba-tiba di belakang sosok bayi setan ada sosok Wahyu yang masih membara cahaya api kuning. Namun di belakang Elang jua ada Wahyu yang sama tengah memegangi Elang yang masih tersadar walau tubuhnya sudah tidak utuh lagi.

“Sebentar Dek Elang aku coba menyembuhkanmu utuh kembali dengan teknik penyembuhan yang aku pelajari dari Paman Bayu Gresik. Tahan sebentar mungkin ini akan agak sakit, jadi teriaklah kalau kau ingin teriak,” ucap Wahyu mencakup sebuah pasir yang agak kering. Lalu mengucapkan sebuah doa yang diajarkan Pamannya Bayu dari Gresik.

Sesaat Wahyu mengusapkan pasir tersebut ke kedua lengan Elang yang sudah terpotong. Elang tampak mengeram kesakitan, tetapi keajaiban muncul di sini. Tiba-tiba saja tangan Elang yang tertebas yang semula tergeletak di tanah.

Bergerak sendiri lalu menyambung kembali pada posisi semula. Bahkan kembali utuh sempurna tiada cacat dan luka. Wajah Elang tampak terheran-heran sambil menatap berkali-kali lengannya, lalu menatap Wahyu. Terus seperti itu bergantian sebab ia terheran-heran.

“Eh benarkah kau Mas Wahyu saudaraku. Apa aku tidak bermimpi, benarkah kau Mas Wahyu. Bukankah api kuning adalah teknik dari Paman Dwi Cahyadi?” tanya Elang masih tidak percaya akan apa yang di hadapannya adalah Wahyu kakak keponakannya. Sebab sudah bertahun-tahun Wahyu tidaklah pulang.

“Ceritanya nanti saja Elang yang penting kita binasakan dahulu bayi setan yang membuatmu hingga begini. Lalu ikut denganku untuk menghentikan perang malam ini jua,” jawab Wahyu seraya tersenyum sambil mengecek lengan Elang. Barangkali masih ada yang tak pas dalam pemasangannya kembali.

Sementara Elang dan Wahyu berbincang atas kerinduan akan lama tiada berjumpa. Bayi setan masih sibuk dikejar senjata alam cakram kuning milik Wahyu. Bayi setan terus melompat ke belakang, tetapi sosok Wahyu lain di belakang bayi setan terus menahannya.

“Ah lama kau Wahyu!” sebuah teriakan sesosok bersayap sambil memegang pedang angin. Tiba-tiba melompat dari belakang Wahyu dan Elang. Lalu memutar lurus, melesat kencang bagai peluru yang lepas dari selongsong senapannya.

Dar,

Tiba-tiba sosok tersebut menembus tubuh bayi setan yang berwujud bagai siluman serigala. Melubangi bagian perutnya hingga tembus ke belakang. Jadi Cakram dapat leluasa menebas bayi setan menjadi beberapa bagian dan hangus terbakarlah si bayi setan menjadi abu.

“Ah Paman Wahyu kenapa jadi Paman yang membunuhnya. Harusnya itu jatahku Paman, datang tanpa salam jua Paman ini?” teriak Wahyu merengek bagaikan anak kecil yang tengah merengek pada Pamannya.

“Hahaha, Wahyu keponakanku maaf Nak. Habis kamu terlalu lama dan bertele-tele untuk menghabisi raja setan yang telah membumi hanguskan kota Jombang itu. Aku sudah dari tadi memperhatikan kalian dan rasanya tanganku gatal. Karena melihatmu tak kunjung membinasakan setan tersebut,” ucap Paman Bayu berjalan kembali ke arah Wahyu dan Elang.

Kali ini Bayu pemimpin dari kota Gresik tidak datang sendirian rupanya. Ada puluhan anggota pesilat gaib dari kota Gresik yang terus berdatangan turun dengan sayap-sayap mereka.

“Alhamdulillah setelah peperangan dua tahun lamanya. Akhirnya kota Jombang kembali diberi harapan. Paman kau datang sesuai permintaanku?” ucap Elang memeluk Paman Bayu erat.

“Tenang keponakanku kami datang untuk kota Jombang. Memang ras setan kali ini sangat licik sehingga kami mengira. Kalian bukanlah berperang melawan bangsa setan. Melainkan sedang berselisih paham dengan sesama TOH sendiri. Jadi kami tak ingin ikut campur atas urusan dalam badan organisasi TOH ini. Tetapi akhirnya setanlah yang mengambil keuntungan akan peristiwa peperangan antar saudara setahun lalu,” jelas Paman Bayu.

Terpopuler

Comments

Andra Djatmika

Andra Djatmika

semangat aku sampai sini dulu besok lagi aku coba mampir novel yang pertama

2022-12-02

0

Bayu Arnan

Bayu Arnan

woi seruuuuuuuuu

2022-11-28

1

Roy Jamaya

Roy Jamaya

ayo semangat anak-anak Jombang hehe

2022-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Malam merah
2 Gelembung aura hijau
3 Srikandi yang tersisa
4 Hanoman
5 Level 2 api kuning
6 Makhluk bersayap Paman Bayu
7 Vs pembantai Ayah
8 Biyangkerok
9 Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10 Jeritan Sakaratul Halilintar
11 TOH Level Up
12 Manusia buatan
13 Level 2
14 Labirin Sulton
15 Sisi Utara area gunung pegat
16 Bangsa pohon setan
17 Mumi di desa Badas
18 Seruni perbatasan barat
19 Badas perang dimulai
20 Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21 Gugup adalah masalah
22 Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23 Rencana gila DR. Dono
24 Mata hitam Wahyu
25 Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26 Liontin naga Bramasta
27 Namanya Nyi Kembang
28 Darah dua klan
29 Parit kematian
30 Kami hanya lapar
31 Clan Dewa-dewi
32 Pertapa tanpa nama hadir kembali
33 Mereka sedang dibantai
34 Divisi atas vs Siluman Kalong
35 Dua puluh
36 Pengorbanan formasi bulan sabit
37 Kena mental
38 Anak panah naga merah
39 Perang baru dimulai
40 Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41 Teknik pengalihan Lurah Dava
42 Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43 Wahyu Vs Wahyu
44 Padepokan Pekuburan
45 Nasib Seruni
46 Ambon sekarat
47 Elang dan Burung Elang
48 Pedang tanah berselimut petir
49 Alot
50 Vs Gorila Coklat
51 Kamu Nannya
52 Hal itu
53 Elegi selimut bunga-bunga
54 Firasat
55 Tolong jaga kota ini
56 Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57 Jasad para tetua
58 Kabar manusia buatan
59 Tiga tahun lalu
60 Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61 Melihat bencana
62 Diskusi ranjang bambu
63 Jatah pagi
64 Gerbang Iblis muncul
65 Pernyataan perang tersantai
66 Umi Putri berpulang
67 Napas terakhir Ibu Sari
68 Setan yang menang
69 Raja mumi
70 Kematian Haji Jaka
71 Pasukan Macan
72 Joko adalah Dokter Dono
73 Ludah peluru
74 Malam ini mati Pak Bupati
75 Lari malu, Maju kematian
76 Iblis anjing tiga kepala
77 Medan area kali Konto
78 Malam akhir era tua
79 Penyerangan terakhir
80 Raja Naga Sekinteng
81 Mereka sebenarnya Dewa
82 Robot yang menyerupai
83 Danau darah
84 Perkara bosan
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Malam merah
2
Gelembung aura hijau
3
Srikandi yang tersisa
4
Hanoman
5
Level 2 api kuning
6
Makhluk bersayap Paman Bayu
7
Vs pembantai Ayah
8
Biyangkerok
9
Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10
Jeritan Sakaratul Halilintar
11
TOH Level Up
12
Manusia buatan
13
Level 2
14
Labirin Sulton
15
Sisi Utara area gunung pegat
16
Bangsa pohon setan
17
Mumi di desa Badas
18
Seruni perbatasan barat
19
Badas perang dimulai
20
Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21
Gugup adalah masalah
22
Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23
Rencana gila DR. Dono
24
Mata hitam Wahyu
25
Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26
Liontin naga Bramasta
27
Namanya Nyi Kembang
28
Darah dua klan
29
Parit kematian
30
Kami hanya lapar
31
Clan Dewa-dewi
32
Pertapa tanpa nama hadir kembali
33
Mereka sedang dibantai
34
Divisi atas vs Siluman Kalong
35
Dua puluh
36
Pengorbanan formasi bulan sabit
37
Kena mental
38
Anak panah naga merah
39
Perang baru dimulai
40
Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41
Teknik pengalihan Lurah Dava
42
Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43
Wahyu Vs Wahyu
44
Padepokan Pekuburan
45
Nasib Seruni
46
Ambon sekarat
47
Elang dan Burung Elang
48
Pedang tanah berselimut petir
49
Alot
50
Vs Gorila Coklat
51
Kamu Nannya
52
Hal itu
53
Elegi selimut bunga-bunga
54
Firasat
55
Tolong jaga kota ini
56
Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57
Jasad para tetua
58
Kabar manusia buatan
59
Tiga tahun lalu
60
Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61
Melihat bencana
62
Diskusi ranjang bambu
63
Jatah pagi
64
Gerbang Iblis muncul
65
Pernyataan perang tersantai
66
Umi Putri berpulang
67
Napas terakhir Ibu Sari
68
Setan yang menang
69
Raja mumi
70
Kematian Haji Jaka
71
Pasukan Macan
72
Joko adalah Dokter Dono
73
Ludah peluru
74
Malam ini mati Pak Bupati
75
Lari malu, Maju kematian
76
Iblis anjing tiga kepala
77
Medan area kali Konto
78
Malam akhir era tua
79
Penyerangan terakhir
80
Raja Naga Sekinteng
81
Mereka sebenarnya Dewa
82
Robot yang menyerupai
83
Danau darah
84
Perkara bosan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!