Macan kumbang hitam besar meraung-raung ke arah Barbadak. Perubahan gaib dari petapa sakti Ki Datuk Panglima Kumbang ini begitu gahar dan garang. Auranya bahkan dapat menghancurkan setan setaraf panglima di sekitarnya.
Tetapi Barbadak adalah setan dengan pangkat raja diraja. Bahkan Barbadak adalah satu-satunya pemimpin utama kaum setan, jin dan siluman bahkan manusia pembawa setan di seluruh alam kota Jombang. Sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang di era TOH Level terbaru.
Duar,
Ternyata belum sampai ke tempat Barbadak berdiri. Ada sebuah anjing setan besar menghadang macan kumbang hitam sosok dari perubahan Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Selamat datang Raja Anjing setan, sambutlah rival abadimu dari lembah hutan belantara pulau Sumatera. Dialah yang selama ini kau cari Raja macan kumbang, dia yang bernama Ki Datuk Panglima Kumbang,” ucap Barbadak masih dalam posisi teknik pemanggilan setan dengan gayanya. Sebuah gaya yang selalu khas dikeluarkan Barbadak saat pemanggilan setan pendukungnya. Tangannya selalu berlumuran darah segar entah dari mana dan selalu menghadap ke depan.
“Kebetulan sekali Raja anjing setan kita ketemu di era baru ini. Aku tidak susah payah mengejarmu dari masa-ke masa. Bahkan di masa-masa sebelumnya kau tidak pernah terlihat dan tak pernah ikut dalam siklus perang sepuluh tahunan,” ujar Ki Datuk Panglima dalam wujud macan kumbang hitam besarnya.
Akhirnya dua makhluk besar kembali beradu kekuatan. Geraman dan auman membahana keras di seluruh kota Jombang. Tapi Ki Datuk Panglima Kumbang dalam wujud macan hitam besarnya. Masih terlalu kuat untuk Raja anjing setan. Bahkan Raja anjing setan selayaknya anjing yang dipukuli majikannya. Kakinya patah keempat-empatnya dan bersimpuh sambil memohon ampun.
“Kali ini di masa ini adalah masaku kawan. Tak akan aku biarkan kau hidup kembali. Karena belum tentu di masa-masa selanjutnya kau mau untuk kembali muncul seperti sekarang. Maka terimalah ajalmu dipedangku yang sudah lama merindukanmu,” ucap Panglima Kumbang yang sudah kembali berubah menjadi petapa sakti berbaju serba hitam.
Sling, djlep,
Pedang arwah milik Ki Datuk Panglima akhirnya menancap tepat di tengah kepala Raja anjing setan. Lalu kembali dicabut lagi dibersihkan dengan kain putih yang selalu ia bawa. Lalu di tutupkan pada bekas tusukan di atas kepala Raja anjing setan.
Kain putih tak lagi putih, sebab dari bekas luka tusukan memancurkan darah segar Si Raja anjing setan. Raja anjing setan tak berkutik lagi dan tak bernapas lagi. Bahkan Raja anjing setan kembali berubah wujud menjadi manusia. Lalu terbakar hangus menjadi abu dan abunya terbang di hembus angin malam.
“Berarti benar legenda ribuan tahun yang lalu. Bahwa Raja anjing setan hannyalah manusia yang tersesat jalan. Dia manusia tersebut berilmu tanpa guru hingga terjadi demikian,” ujar Ki Datuk Panglima sambil kembali menyarungkan pedang arwahnya.
“Apa kau masih meragukan kami Barbadak? Apa kau masih menganggap aku bocah kemarin sore?” ujar Wahyu berjalan menghilang lalu ada lagi di depan Ki Datuk Panglima sambil bertanya pada Barbadak.
“Aku masih menganggapmu bahkan aku akan terus menganggapmu remeh Wahyu Satria. Sebab kau tidak abadi sepertiku dan kau masih terus berinkarnasi dalam wadah manusia baru. Kalau kau benar-benar makhluk tertua di kota Jombang. Tentu kau bisa menjadi makhluk abadi sepertiku,” ucap Barbadak tersenyum kecut.
“Kau memang dalam wadah abadi dan tua. Tapi apa kah kau masih belum mengerti bahwa setan derajatnya lebih rendah dari manusia. Percuma kalau kau abadi tetap dalam wadah setanmu itu,” ucap Wahyu kembali memancarkan api amarah di setiap lekuk tubuhnya. Bahkan kali ini dalam level terakhir dengan api berwarna hitam pekat.
“Jurus Ayahmu tak akan bisa membunuhku anak muda. Terimalah ini segel kematian dari dewa kematian alam arwah tergelap,” ucap Barbadak melesat ke arah Wahyu dengan sosok dewa kematian serupa sosok setan segel kematian dalam anime Naruto atau dalam mitologi negeri bunga sakura.
“Biar aku yang menghadapinya Nak Wahyu,” ujar Ki Datuk Panglima. Tapi wahyu menyetop Ki Datuk Panglima Kumbang yang hendak mengubah kembali wujudnya menjadi macan kumbang besar.
“Jangan Paman Panglima Kumbang terlalu bahaya bila kau melawannya. Bisa jadi kau akan hancur olehnya dan dia bukan lagi tandinganmu. Aku yakin sosok Raja Kumbang yang ada di langit dan dimiliki Raja manusia era ini dapat mudah mengalahkannya. Tapi engkau aku rasa belum mampu dan maaf bukan mengecilkan kekuatanmu Panglima,” ucap Wahyu menyetop Panglima Kumbang dengan rentangan tangannya yang tengah membawa pedang cahaya hitam.
“Astagfirullah Hal Adjim, apa benar Nak Wahyu sudah mulai serius? Baiklah kalau begitu Nak Wahyu. Aku akan pamit kembali ke alamku di belantara hutan pulau Sumatera. Tetapi apabila Nak Wahyu sampai terdesak. Tolong panggillah paman kembali kemari dan aku tak mau kehilangan sahabat untuk kedua kalinya,” ucap Ki Datuk Panglima perlahan menghilang.
“Terima kasih Paman Panglima Kumbang dan Insya Allah dengan nama Allah dan Ridho Allah semata. Aku akan melawan pembantai Ayah dan Ibuku ini. Mari Barbadak kita selesaikan di era ini perseteruan kita!” teriak Wahyu melesat ke arah Barbadak dimanah Wahyu telah berubah dalam level api hitam bertaraf teknik Raja.
Teknik api hitam pekat yang digunakan Wahyu. Bahkan belum pernah sama sekali digunakan oleh Ayahnya dan anggota TOH yang lain sebelumnya. Api hitam pekat yang menyelimuti tubuh Wahyu adalah hasil dari kepasrahan alami bercampur kepedihan mendalam serta penyatuan akan pasrah pada Sang Pencipta. Bahwa semua adalah milik Sang Pencipta termasuk unsur api itu sendiri.
“Kali ini aku pasti menang Wahyu dan kali ini kau tak akan mampu menyegelku lagi hai anak langit!” teriak Barbadak mengeluarkan sebuah tangan setan berbentuk bayangan hitam dari dadanya. Tangan setan tersebut menggenggam pedang arwah kegelapan yang paling gelap dan jahat.
Pedang tersebut begitu cepat melesat ke arah Wahyu yang jua tengah melesat ke arah Barbadak. Akhirnya dua pedang legenda saling bertemu dan berbenturan. Dua sisi elemen besar di kota Jombang akhirnya berbenturan.
Efek yang jelas dan sangat berbahaya dari benturan dua pedang beraura positif dan negatif ini adalah. Siapa saja, makhluk apa saja yang terkena kilatan dua pedang yang tengah berbenturan akan langsung menjadi abu. Akibat dahsyatnya aura yang ditimbulkan antara gesekan keduanya.
Tapi tiba-tiba ada sebuah pedang beraura emas berbentuk mirip golok. Tetapi berukuran sangat besar jatuh dalam posisi miring pas di tengah-tengah dua pedang yang tengah beradu tanding.
Sampai-sampai pedang dewa setan kematian milik Barbadak hancur seketika. Begitu jua dengan wujud dari kodam setan atau setan pendamping yang membawanya yang berada di belakang Barbadak.
“Apa ini!” teriak Wahyu begitu kaget langsung melompat menghindari pedang beraura emas tersebut.
“Golok sakti emas milik Lurah Dava,” teriak Barbadak yang jua kaget dan sempat terlempar agak jauh ke belakang. Sambil mendongak ke langit melihat sosok lurah Dava yang tengah melayang gagah pas di tengah-tengah mereka bertarung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Andra Djatmika
wah Lurah Dava kece badai
2022-12-03
0
Bayu Arnan
weleh weleh pak lurah Dava keren
2022-11-28
1
Arham Yanto
ah mantaaaaap
2022-11-19
1