Seruni perbatasan barat

“Dek Seruni sedang apa kau di sini?” ucap Ambon menghampiri Seruni yang tengah mencuci muka di tepian kali Brantas daerah desa Megaluh.

Ambon rupanya tak sendirian, ada puluhan pasukan dari klan Kardi di belakangnya. Bargo jua menemani di sampingnya ikut menghampiri Seruni di tepian sungai atau yang sering di sebut kali dalam bahasa Jawa.

“Kang Mas Ambon kau di sini? Eh ada Kakang Bargo dan yang lain juga rupanya. Lihatlah Kang Mas semua sudah hancur. Entah daerah timur sungai atau daerah barat sungai. Semua sudah rata dengan tanah dan banyak nyawa hilang sia-sia. Kenapa perang tak berkesudahan Kang Mas, bahkan sudah lebih dari tiga tahun kita berperang,” Seruni memandang hampa sekelilingnya dimanah semua sudah begitu hancur tak bersisa.

Seruni kembali mencakup air sungai dengan menyatukan kedua telapak tangannya. Lalu kembali dibasahkan pada wajahnya yang ayu dengan merata di seluruh bagian wajah. Seraya mengambil pedangnya yang beberapa saat lalu ia letakkan di samping ia berjongkok di tepian sungai.

“Dek Seruni aku jua tak mengerti akan semua keadaan yang terjadi. Kapan perang ini berhenti aku juga tidak tahu? Sekarang ikutlah kami menuju pusat kota Dek. Beberapa saat lalu kami bertemu dengan Mas Wahyu yang baru pulang setelah sekian lama pergi. Beliau meminta untuk klan Kardi bergerak menuju pusat kota,” ujar Ambon mengutarakan maksud dan tujuannya menghampiri Seruni di tepi sungai Brantas.

Seruni lalu berdiri menatap Ambon dan barisan pasukan klan Kardi secara keseluruhan. Menatap berurutan secara saksama lalu tersenyum kecil. Tetapi bukan untuk mencibir atau mengejek. Tersenyum akan sebuah kenangan yang terlihat seakan terulang di matanya.

Kenangan kecil di masa kecil yang indah. Bahwa mereka pernah bermain di tepi sungai Brantas penuh keriangan dahulu kala saat mereka masih begitu kecil. Tetapi kali ini semua sudah tak mungkin dan mungkin saja anak-anak kecil di era level up ini sudah terbantai semua.

“Ada apa Dek Seruni, kenapa kau hanya diam dan hanya tersenyum? Kami adalah pasukan klan Kardi dan sungguh hanya atas perintahmu saja kami bergerak Dek. Karena hanya kaulah pemimpin sisi barat kota TOH era Level Up,” ujar Bargo menatap Seruni dengan tatapan heran.

“Mas Bargo bukankah engkau tahu jikalau di sini tempat kelahiran kita. Walau tanpa diminta perintah dari ketua utama era level up sekarang. Kita harus bergerak menuju pusat kota tidak harus tidak. Jangan lupakan hari itu dimanah orang tua kita terbantai di depan mata kita,” ucap Seruni sambil menatap seluruh pasukan klan Kardi yang rata-rata terdiri dari anak muda berusia belasan tahun.

“Baiklah Dek Seruni kami menunggu perintahmu untuk bergerak,” sahut Ambon menatap Seruni dengan perasaan mantap untuk berperang.

“Kalian semua dengarkan aku dan aku Seruni. Hari ini masihlah menjadi pemimpin kalian pemuda dan pemudi penerus klan Kardi di era level up. Aku tahu kalian ketakutan, aku tahu ada rasa khawatir di hati kalian. Aku jua sama merasakannya seperti yang kalian rasakan. Tetapi dengarlah ini demi masa depan anak cucu kita nanti akan berlangsungnya kedamaian kota Jombang di masa depan. Bagi yang takut dan hanya setengah hati saya persilahkan untuk pulang. Tapi kalau kalian inginkan kedamaian tercipta. Ikutlah bersamaku menuju pusat kota. Teriaklah kawan-kawanku bila kalian siap berperang untuk malam ini bersamaku,” begitulah gelora pidato semangat dari Seruni.

Tetapi tiba-tiba ada cahaya kuning serupa manusia turun pas di depan Seruni. Dialah Wahyu dengan api kuning yang terus berkobar menyelimuti tubuhnya.

“Assalamualaikum Seruni, urungkan niatmu untuk malam ini menuju pusat kota Dek,” ucap Wahyu langsung berdiri di depan Seruni.

“Waalaikumsalam, loh Mas Wahyu. Ternyata benar yang di sampaikan Kang Mas Ambon dan Kang Mas Bargo. Mas Wahyu sudah pulang, Mas Adek kangen. Mas, Apa Mas Wahyu saat perjalanan ke mari bertemu Kakakku Elang?” ucap Seruni langsung menghamburkan pelukan pada Wahyu. Meluapkan rasa rindu yang mendalam, sebab lama tak bertemu.

“Tenang saja Seruni, Kakakmu Elang baik-baik saja. Ibumu, Ibu Sari juga baik-baik saja dan Ayahmu Om Dava juga baik-baik saja. Mereka sedang berjuang di tempatnya masing-masing. Penuh dengan daya juang sepertimu Dek,” jawab Wahyu tersenyum sambil mengelus rambut Seruni.

“Mas Wahyu maaf, bukankah beberapa waktu lalu kau memerintahkan kami untuk lekas bergerak menuju tengah kota. Tapi kenapa sekarang kau yang menyuruh kami untuk tetap tinggal?” ucap Ambon menanyakan perintah Wahyu yang begitu cepat berubah.

“Sebentar Ambon aku ingin bertanya padamu. Apa wanita dan anak-anak masih aman di balai desa?” jawab Wahyu malah balik bertanya.

“Masih Mas dan kami juga memberi penjagaan ketat di sana. Ada puluhan dari kami yang bersiaga di sana,” jawab Ambon yang masih heran akan perubahan perintah Wahyu.

“Aku merasakan ada aura mengerikan dari ribuan setan bergerak ke mari. Apa kalian tidak merasakannya?” ucap Wahyu kembali bertanya dengan pertanyaan penegasan.

“Hah, apa ada ribuan setan menuju ke mari. Waduh bagaimana ini, kita bisa mati,” ucap seseorang dari dalam barisan pemuda klan Kardi.

“Oh itu Mas Wahyu yang katanya pemimpin utama pemuda kota Jombang era level up ini?” lalu yang lain menimpali di barisan pemuda klan Kardi agak ke belakang.

“Tapi apa kita bisa menghadapi mereka yang berjumlah ribuan. Sedangkan kita hanya puluhan jumlahnya?” celetuk salah satu pemuda di sisi yang lain.

“Maaf Dek dari sini komandomu aku ambil alih,” ucap Wahyu melepaskan pelukan Seruni dan Seruni hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui.

“Maaf Ambon dan Bargo kali ini biar aku yang memberi komando. Sebab panglima-panglima musuh kita kali ini bukanlah jenis setan yang sembarangan,” ujar Wahyu memandang Ambon dan Bargo. Mereka berdua jua hanya mengangguk tanda setuju pada keputusan Wahyu. Sebab Wahyu adalah pemimpin utama mereka di kota Jombang.

“Kalian semua dengarkan aku dan mulai detik ini komando kalian aku ambil alih. Dahulu anak dari Haji Kardi yang sekarang kalian kenal dengan Pak Lurah Dava kepala desa kalian itu. Telah menjaga perbatasan barat ini dengan perjuangannya tanpa rasa takut. Beliau adalah Adik keponakan Ayahku dan beliau tiada pernah gentar siapa saja yang datang dan jenis makhluk apa saja yang menyerang. Maka kalian sebagai keturunan-keturunan langsung klan Kardi untuk apa kalian takut. Maka lihatlah di atas aliran Brantas itu. Acungkan senjata kalian mari berperang,” teriak Wahyu.

Rupanya memang benar apa yang dikatakan oleh Wahyu. Ribuan jenis setan dan siluman telah berdiri di atas aliran sungai Brantas. Terus bermunculan dari dalam sungai berjajar rapi di atasnya. Mereka siap untuk membinasakan seluruh manusia yang ada di depannya.

“Serang...!” teriakan Wahyu membahana langsung melesat ke arah ribuan setan di atas aliran sungai Brantas, di ikuti puluhan pemuda dan pemudi klan Kardi di belakangnya.

Terpopuler

Comments

Andra Djatmika

Andra Djatmika

eh makin seru ini

2022-12-08

0

Bayu Arnan

Bayu Arnan

terus up thor yang banyak

2022-11-30

1

Roy Jamaya

Roy Jamaya

hem seru ini

2022-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Malam merah
2 Gelembung aura hijau
3 Srikandi yang tersisa
4 Hanoman
5 Level 2 api kuning
6 Makhluk bersayap Paman Bayu
7 Vs pembantai Ayah
8 Biyangkerok
9 Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10 Jeritan Sakaratul Halilintar
11 TOH Level Up
12 Manusia buatan
13 Level 2
14 Labirin Sulton
15 Sisi Utara area gunung pegat
16 Bangsa pohon setan
17 Mumi di desa Badas
18 Seruni perbatasan barat
19 Badas perang dimulai
20 Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21 Gugup adalah masalah
22 Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23 Rencana gila DR. Dono
24 Mata hitam Wahyu
25 Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26 Liontin naga Bramasta
27 Namanya Nyi Kembang
28 Darah dua klan
29 Parit kematian
30 Kami hanya lapar
31 Clan Dewa-dewi
32 Pertapa tanpa nama hadir kembali
33 Mereka sedang dibantai
34 Divisi atas vs Siluman Kalong
35 Dua puluh
36 Pengorbanan formasi bulan sabit
37 Kena mental
38 Anak panah naga merah
39 Perang baru dimulai
40 Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41 Teknik pengalihan Lurah Dava
42 Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43 Wahyu Vs Wahyu
44 Padepokan Pekuburan
45 Nasib Seruni
46 Ambon sekarat
47 Elang dan Burung Elang
48 Pedang tanah berselimut petir
49 Alot
50 Vs Gorila Coklat
51 Kamu Nannya
52 Hal itu
53 Elegi selimut bunga-bunga
54 Firasat
55 Tolong jaga kota ini
56 Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57 Jasad para tetua
58 Kabar manusia buatan
59 Tiga tahun lalu
60 Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61 Melihat bencana
62 Diskusi ranjang bambu
63 Jatah pagi
64 Gerbang Iblis muncul
65 Pernyataan perang tersantai
66 Umi Putri berpulang
67 Napas terakhir Ibu Sari
68 Setan yang menang
69 Raja mumi
70 Kematian Haji Jaka
71 Pasukan Macan
72 Joko adalah Dokter Dono
73 Ludah peluru
74 Malam ini mati Pak Bupati
75 Lari malu, Maju kematian
76 Iblis anjing tiga kepala
77 Medan area kali Konto
78 Malam akhir era tua
79 Penyerangan terakhir
80 Raja Naga Sekinteng
81 Mereka sebenarnya Dewa
82 Robot yang menyerupai
83 Danau darah
84 Perkara bosan
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Malam merah
2
Gelembung aura hijau
3
Srikandi yang tersisa
4
Hanoman
5
Level 2 api kuning
6
Makhluk bersayap Paman Bayu
7
Vs pembantai Ayah
8
Biyangkerok
9
Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10
Jeritan Sakaratul Halilintar
11
TOH Level Up
12
Manusia buatan
13
Level 2
14
Labirin Sulton
15
Sisi Utara area gunung pegat
16
Bangsa pohon setan
17
Mumi di desa Badas
18
Seruni perbatasan barat
19
Badas perang dimulai
20
Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21
Gugup adalah masalah
22
Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23
Rencana gila DR. Dono
24
Mata hitam Wahyu
25
Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26
Liontin naga Bramasta
27
Namanya Nyi Kembang
28
Darah dua klan
29
Parit kematian
30
Kami hanya lapar
31
Clan Dewa-dewi
32
Pertapa tanpa nama hadir kembali
33
Mereka sedang dibantai
34
Divisi atas vs Siluman Kalong
35
Dua puluh
36
Pengorbanan formasi bulan sabit
37
Kena mental
38
Anak panah naga merah
39
Perang baru dimulai
40
Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41
Teknik pengalihan Lurah Dava
42
Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43
Wahyu Vs Wahyu
44
Padepokan Pekuburan
45
Nasib Seruni
46
Ambon sekarat
47
Elang dan Burung Elang
48
Pedang tanah berselimut petir
49
Alot
50
Vs Gorila Coklat
51
Kamu Nannya
52
Hal itu
53
Elegi selimut bunga-bunga
54
Firasat
55
Tolong jaga kota ini
56
Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57
Jasad para tetua
58
Kabar manusia buatan
59
Tiga tahun lalu
60
Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61
Melihat bencana
62
Diskusi ranjang bambu
63
Jatah pagi
64
Gerbang Iblis muncul
65
Pernyataan perang tersantai
66
Umi Putri berpulang
67
Napas terakhir Ibu Sari
68
Setan yang menang
69
Raja mumi
70
Kematian Haji Jaka
71
Pasukan Macan
72
Joko adalah Dokter Dono
73
Ludah peluru
74
Malam ini mati Pak Bupati
75
Lari malu, Maju kematian
76
Iblis anjing tiga kepala
77
Medan area kali Konto
78
Malam akhir era tua
79
Penyerangan terakhir
80
Raja Naga Sekinteng
81
Mereka sebenarnya Dewa
82
Robot yang menyerupai
83
Danau darah
84
Perkara bosan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!