Malam masih berjalan pekat perlahan di atas kota Jombang. Kemelut dan jeritan masih terdengar di setiap sudut kota. Darah mengalir di setiap jalanan dan membuat genangan di beberapa tempat.
Setiap tempat ada saja yang terbakar, setiap tempat ada saja tumpukan mayat. Entah utuh atau sudah hancur mayat berserakan dimanah-manah.
Sementara pertarungan terus berkobar. Entah itu di darat atau di udara, bahkan di atas air setiap aliran sungai. Ada satu petarung tangguh yang masih hidup dan terus berkeliling di atas kota Jombang.
Dua petarung kakak dan adik ini tengah terbang terus mencari. Mana saja yang sekiranya mereka menjumpai musuh setaraf pemimpin dari pasukan setan.
Mereka adalah Halilintar dan Dewa. Dua petarung kakak beradik anak dari Pak Bupati Bagus dan Nyonya Vivi yang jua sudah gugur setahun yang lalu. Orang tua mereka gugur setahun yang lalu dalam peristiwa pembantaian masal para tetua TOH.
Bahkan malam kali ini hanya tersisa generasi muda. Malah mereka kini hanya tersisa sedikit dalam jumlah. Tapi masih ada harapan walau hanya satu cahaya lilin saja apabila diibaratkan, itu pun hampir padam.
“Adik Dewa apa kau sudah menemukan titik koordinat selanjutnya. Dimanah ada satu saja musuh yang setaraf panglima atau bahkan level raja dari para setan?” tanya Halilintar seraya mengendarai sebuah kendaraan mirip petir putih dalam legenda Dewa-Dewi Yunani.
“Masih belum Kak, aku belum menemukan satu pun musuh dengan level yang Kakak Halilintar maksudkan,” jawab Dewa mengikuti terbang di belakang Halilintar Kakaknya. Mereka terus berputar di langit sekitar kota Jombang. Kali ini Dewa mengendarai senjata andalannya. Sebuah kampak bermata dua naga, serupa milik kesatria legenda Wiro Sableng.
Lalu mereka kembali terbang menuju sisi yang lain kembali. Untuk mencari beberapa tempat dimanah ada mungkin satu atau dua perwira setan level panglima atau bahkan raja.
***
Saat Dewa Hanoman tengah terbang bersama Wahyu yang sedang duduk di telapak tangannya yang terbuka. Wahyu melihat satu pertarungan yang sangat dahsyat dan beraura begitu kuat.
“Temanku Sang Dewa Hanoman berhentilah sejenak. Aku merasakan dua benturan aura yang tidak biasa. Lihatlah di bawah itu di antara reruntuhan pusat kota Jombang. Ada dua petarung yang sangat beraura kuat tengah beradu kekuatan. Aku rasa aku mengenali satu aura dari keduanya,” ucap Wahyu meminta Dewa Hanoman berhenti untuk terbang. Sementara Wahyu berdiri dari duduk bersilanya.
“Benar temanku dia adikmu Elang dan yang tengah dilawannya adalah salah satu raja dari bangsa setan. Dia berjuluk bayi seran dan dia masih terhitung saudara kalian. Sebab terlahir dari rahim Ibu Sari jua. Walau kelahirannya adalah satu kesalahan,” jawab Dewa Hanoman yang masih melayang di atas reruntuhan kota Jombang. Namun kali ini melayang dengan posisi berdiri.
“Baiklah kalau begitu, karena bisa memakan banyak waktu. Apabila kita selesaikan satu persatu. Akan aku lakukan dengan serempak dengan jurus dari Paman Dwi Cahyadi Sang legenda kota Serang. Jadi Dewa Hanoman temanku terima kasih sudah membantuku,” ucap Wahyu meloncat turun dari punggung Dewa Hanoman dalam posisi berdiri.
Lalu Dewa Hanoman kembali ke atas langit. Kembali hilang di sela-sela awan atas kota Jombang yang masih pekat dengan arak-arakan mendung gelap di warnai petir menyambar.
“Teknik membelah jiwa seribu bayangan!” ucap Wahyu walau lirih tapi pasti. Kali ini sinar kuning selayaknya bulir-bulir api kuning. Keluar dari setiap pori-pori kulit Wahyu dan perlahan menjadi satu. Sehingga menyelimuti seluruh tubuh Wahyu selayaknya Wahyu kini terbuat dari api kuning.
Tiba-tiba saja dari dalam tubuh Wahyu keluar ratusan Wahyu yang sama persis. Sama persis akan bentuk wajah, tubuh, aura, bahkan kekuatannya sama kuat tiada beda.
Teknik api kuning yang dipelajari Wahyu dari sang Paman Dwi Cahyadi memang beda. Teknik ini apabila sudah memasuki Level kedua. Bisa memecah tubuh menjadi berapa pun jua sesuai keinginan si pengguna.
“Kalian semua berpencar dan habisi semua setan mau pun manusia pembawa setan yang kalian temui. Kita balik keadaan yang semula dua tahun ini kota Jombang tengah di hancurkan. Kita balik keadaan, kita hancurkan semua, kita binasakan semua setan dalam semalam. Pergilah...!” teriak Wahyu membuat ratusan Wahyu yang keluar dari dalam tubuhnya berpencar menuju seluruh sisi kota Jombang.
***
“Apa kau masih memiliki sisa-sisa tenaga adikku tercinta?” tanya bayi setan yang tengah terus memutar-mutar pedang setannya yang terbuat dari tulang dan sudah masuk pada level akhirnya. Bayi setan berjalan perlahan menuju Elang yang tengah terengah-engah. Terkapar di salah satu reruntuhan sambil bersandar pada reruntuhan tersebut.
“Heh, juih, aku adalah putra dari Lurah Dava dan Ibu Sari. Aku adalah keponakan dari Haji Jaka dan Ibu Putri. Aku adalah adik keponakan dari petarung-petarung tangguh seperti Wahyu, Halilintar, dan Dewa. Aku adalah petarung ring satu TOH yang sangat melegenda. Kau tahu kami para putra tanah kota Jombang tidak akan menyerah begitu saja. Bahkan bila tinggallah satu kaki saja yang tersisa di badanku. Maka akan aku gigit pedangku untuk melawanmu. Tetapi kesalahanmu hanya memotong satu tanganku saja tidak keduanya,” celoteh Elang berusaha sekuat tenaga kembali berdiri dengan di topang pedang cahayanya.
“Sudahlah sebenarnya aku tidak tega melihat penderitaanmu seperti ini adikku Elang. Kita satu Ibu walau lain Ayah, tetapi kita tetap saudara. Sudahlah menyerah saja dan bersedialah mati dengan pedangku,” ucap bayi setan terus berjalan mendekati Elang. Pedang tulang berjuluk pedang setan pencabut ruh. Berjuluk pedang setan kematian, berjuluk pedang tulang setan penebas raga akhirnya benar-benar dalam level final.
Tampak ruh-ruh yang pernah binasa di ujungnya. Keluar menyelimuti badan pedang, bak arwah penasaran yang menuntut balas. Ribuan arwah yang terperangkap di dalam pedang tulang milik bayi setan berkoar dengan suara mengerikan. Ibarat sebuah rintihan dari seseorang yang tengah mengalami sakaratul mautnya.
“Ayo kakakku bayi setan dan kali ini kita akan lihat kau atau aku yang akan mati malam ini jua!” teriak Elang berlari menyongsong bayi setan yang jua berlari ke arahnya.
Kali ini Elang masih menggunakan teknik gelembung hijau. Namun levelnya sudahlah meningkat. Bahkan kali ini muncul sosok naga hijau sakti yang terus mengitari sekitar tubuh Elang. Naga tersebut adalah Naga Bergala yang ia dapat di turunkan dari sang Ayah Lurah Dava.
Naga Bergala adalah naga legenda yang sangat sakti Mandra guna yang pernah menjadi sahabat baik dari Raja Diraja Malwapati Prabu Angling Darma. Kali ini jauh sari masa kerajaan sakti Malwapati dengan Rajanya Prabu Angling Darma.
Tetapi Elang mendapatkan teknik gelembung hijau berbentuk aura panas dengan level akhir munculnya naga Bergala dari sang Ayah. Kali ini kekuatan aura bayi setan dan Elang sama kuatnya.
Duar,
Dua kekuatan kembali berbenturan begitu dahsyat. Membuat tanah sekitar pertarungan mereka bagai gempa bumi. Bergerak beberapa saat dan membuat retakan mengaga lebar di sekitar mereka. Bahkan beberapa bangunan walau tersisa reruntuhan. Kembali roboh akibat kedua aura yang tengah berbenturan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Puan Harahap
5 like buat cerita seru
2023-01-10
1
Bayangan Ilusi
Wuih, keren👏
2023-01-07
1
K.Jmb89 BE
semangat lang semangat semangat
2022-12-10
1