Sementara itu di pinggiran kota Jombang tepatnya di daerah bernama gunung pegat area perbatasan kota Jombang dan Lamongan. Hujan masih terus turun walau tidak begitu deras, tetapi cukup untuk membasahi seluruh pepohonan yang tumbuh subur di kanan dan kiri tebing.
Gunung pegat adalah sebuah daerah di perbatasan utara kota Jombang dengan kota Lamongan. Daerah ini disebut demikian sebab tempatnya adalah sebuah jalan yang terbentuk dengan cara membelah gunung.
“Sarmat bukankah ini masih daerah kita. Bukankah di daerah ini tidak ada kera yang hidup?” ucap Mustaji yang tengah menjaga daerah perbatasan paling selatan kota Lamongan atau perbatasan utara kota Jombang.
Mustaji adalah salah satu perwira utama di dunia persilatan bagian utara. Bagian utara ini terdiri dari tiga kota, kota Gresik, kota Bojonegoro dan kota Lamongan.
Persilatan bagian utara selalu berpindah-pindah dari pengaruh terkuat. Kali ini di era level up, dunia persilatan gaib utara berpusat di kota Lamongan. Sebelumnya lebih condong ke area kota Bojonegoro.
Karena regenerasi kota Lamongan yang dibina dengan baik. Jadi beberapa tahun belakangan ini lebih condong kota Lamongan yang mendominasi.
Bahkan di Kota Lamongan sempat diadakan turnamen silat gaib yang diikuti tiga kota, Bojonegoro, Gresik dan Lamongan. Saat itu kota Jombang sebagai pusat kekuatan lima kota sedang hancur oleh serangan frontal para setan.
“Mas Mus di area gunung pegat ini tidak ada satu spesies kera pun yang hidup. Ada apa memangnya, kenapa Mas Mus bertanya soal kera?” tanya Sarmat salah satu orang kepercayaan Mustaji sebagai kapten divisi selatan kota Lamongan.
“Lihatlah itu di bawah kenapa ada puluhan kera yang muncul dari semak-semak dan terus bermunculan. Seakan mereka terus bergerak ke arah kota Jombang. Apa kau mengetahui sesuatu kabar tentang kota Jombang Sarmat?” ucap Mustaji sambil menunjuk ke bawah tebing. Karena mereka tengah berada di atas tebing. Mengamati situasi jalur utama perbatasan sisi selatan.
“Astagfirullah kenapa banyak monyet di sini? Lihatlah Mas Mus bukankah mereka keluar dari dalam tanah. Bukan dari semak-semak seperti yang Mas Mus katakan,” ujar Sarmat terus mengamati pergerakan para monyet yang terus bergerak menuju kota Jombang.
“Sebentar Mat, kalau puluhan monyet ini ada dan terus bergerak searah. Selayaknya sekumpulan orang yang tengah di perintah. Lalu di mana pemimpin yang memerintahnya? Harusnya ada di sekitar sini,” ujar Mustaji mencoba mencari kapten dari para monyet.
“Benar juga apa yang Mas Mus katakan. Sedari tadi aku tidak melihat monyet yang lebih besar atau manusia setengah monyet yang memimpin mereka. Legendanya kalau muncul puluhan bahkan ratusan monyet seperti ini. Pasti ada satu di depan atau di belakang yang memimpin sebagai kapten atau raja,” sahut Sarmat sambil memegang dagunya tanda tengah berpikir.
“Sebentar dulu Sarmat sepertinya ada yang janggal. Masak ia ada puluhan monyet muncul dari dalam tanah. Lalu secara teratur bergelombang menuju kota Jombang. Lihat deh mata mereka itu, bukankah mata mereka merah. Bukankah mata monyet itu hitam?” ucap Mustaji mengamati monyet-monyet dengan saksama.
“Benar ya Mas Mus, seakan mereka terdiam dengan satu perintah. Lihatlah mana ada monyet yang hanya diam terus berjalan kaku seperti robot. Bukankah monyet seharusnya pada umumnya sangat berisik. Kenapa monyet-monyet itu tidak bersuara dan hanya berjalan?” timpal Sarmat kali ini mengubah duduknya menjadi berjongkok.
“Tidak masalah soal monyet-monyet itu. Masalahnya dimanah pemimpinnya? Terus cari Mat. Jangan-jangan dia jua tengah mengintai kita. Coba cari di atas tebing seberang dengan matamu,” ucap Mustaji menyuruh Sarmat untuk menerawang tebing yang ada di seberang kanan jalan. Sebab mereka tengah berada di tebing kiri jalan.
“Baik Mas Mus laksanakan,” ucap Sarmat mulai mengaktifkan mata indra penglihatan gaibnya.
Tiba-tiba mata Sarmat berubah menjadi putih. Urat sekitar matanya muncul ke permukaan. Tapi dalam tahap penglihatan mata indra ini Sarmat bisa melihat aura yang terpancar dari tubuh mau pun yang tak memiliki tubuh. Dalam teknik mata indra ini Sarmat dapat melihat dan mengukur kekuatan lawan. Entah manusia atau setan atau makhluk lain. Sarmat dapat melihatnya secara jelas.
Saat Sarmat memandang ke arah tebing seberang kanan. Mata Sarmat mulai meneliti seluruh area atas tebing. Penglihatan Sarmat tak menangkap hal-hal yang mencurigakan di sana. Pandangan Sarmat hanya melihat pepohonan. Serta beberapa burung-burung dan hewan-hewan pada umumnya.
“Mas Mus kok enggak ada ya, apa memang mereka sudah di set dari jarak jauh ya? Aku perhatikan di tebing seberang tak ada yang mencurigakan. Hanya ada hewan-hewan pada umumnya seperti burung dan yang lain,” ucap Sarmat masih terus memantau tebing kanan dengan saksama.
“Coba aku yang melihat, kamu ini masak tidak ada satu pun yang mencurigakan?” ucap Mustaji mulai mengaktifkan mata batinnya. Berbeda dengan Sarmat yang menggunakan mata indranya.
Mustaji malah memejamkan mata saat mengaktifkan mata batinnya. Walau terpejam tapi aura dari tubuh Mustaji dapat merasakan apa pun aura di sekitarnya dengan jarak satu kilo meter.
Tapi memang tidak ada apa-apa di tebing seberang kanan jalan. Kali ini Mustaji jua tak mendapatkan apa pun yang sekiranya mencurigakan.
“Benar kamu Mat, tidak ada apa-apa yang mencurigakan di sana. Kok bisa ya, lalu monyet-monyet itu siapa yang menggerakkan?” Mustaji masih celingak-celinguk mencari satu hal yang mencurigakan sekiranya ada aura yang jahat. Agar bisa segera mengantisipasinya, sebab area gunung pegat masih dalam pengawasannya.
“Eh kok perasaanku enggak enak ya Mas Mus. Seperti ada yang mengawasi kita dari belakang ya. Tapi siapa ya? Perasaan tidak ada siapa-siapa dari tadi di sekitar kita,” ucap Sarmat menoleh ke belakang dan nyatanya memang tidak ada siapa-siapa.
“Sebentar Mat, soalnya perasaanmu biasanya tujuh puluh lima persen benar. Jangan-jangan benar ada yang mengawasi kita,” ujar Mustaji mulai waspada.
“Eh benar kan, awas Mas Mus dari atas!” teriak Sarmat yang menghindar seketika. Sebab secara tiba-tiba ada sebuah gada besar mengarah pas di tengah-tengah mereka berdua. Begitu jua dengan Mustaji yang refleks langsung menghindar akibat melihat kilatan sinar dari pantulan gada.
Duar,
Sebuah gada emas besar menghunjam tanah di tengah-tengah Mustaji dan Sarmat yang tengah asyik duduk memantau para monyet. Seketika Mustaji dan Sarmat melompat berlainan arah menghindari hantaman gada emas besar yang menyerang mereka secara tiba-tiba.
Bahkan bekas jatuhnya gada tersebut. Sempat membuat tebing bergetar selayaknya ada gempa bumi. Sempat pula beberapa batu jatuh ke bawah tebing. Ada pula beberapa pohon di sekitar hantaman gada yang hancur berantakan. Tak sampai di situ ternyata gada jua menyebarkan aroma tak sedap. Ada bercak-bercak darah di ujungnya. Seakan gada baru digunakan sang pemilik untuk membantai lawannya. Tapi siapa yang ia bunuh jua tiada tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
✹⃝⃝⃝s̊S Good Day
Semangat
2023-01-13
0
Andra Djatmika
hem aku tempat ini memang angker
2022-12-08
0
Bayu Arnan
mantap ini sumpah
2022-11-29
0