Jeritan Sakaratul Halilintar

Saat Halilintar dan Dewa tengah mengitari kota Jombang dengan senjata-senjata gaibnya. Mereka tampak kesal dan agak bosan dengan pertempuran. Sebab mereka hanya bertemu dengan lawan-lawan yang receh. Lawan setingkat prajurit lagi dan lagi.

“Apanya yang perang besar kalau begini ini Dewa. Masak dari tadi kita hanya bertemu pasukan setan yang setaraf prajurit terus-menerus. Sekali gebuk ambyar begitu saja terus jadi bosan aku,” ucap Halilintar tengah menaiki petirnya sambil celingak-celinguk memantau area bawah ia terbang. Mencari-cari sekiranya ada musuh yang lebih berat lagi.

“Apa semua Kapten dan Panglima pasukan setan sudah dihabisi oleh Wahyu ya Kak?” ujar Dewa malah bertanya pada Halilintar.

“Eh ia, ya, sinar kuning di bawah kita yang kadang lewat berkelebat itu Wahyu ya. Wah, wah, keponakan kurang asem, masak ada pamannya Cuma lewat begitu saja. Salam kek, menyapa kek, malah lewat selonong begitu saja,” oceh Halilintar agak kesal.

“Tapi yang aku dengar sinar kuning yang lewat itu. Bukan hanya wujud Wahyu yang seperti kita tahu Kak. Katanya orang-orang kelompok Alif dari serang juga ada di sini. Bisa jadi yang lewat beberapa kali di bawah kita bukan Wahyu. Tetapi orang-orang Serang jadi mereka tak mengenal kita,” ucap Dewa yang ikut menoleh ke sana dan ke mari. Sekedar mencari musuh yang agak tangguh untuk mereka lawan.

Tiba-tiba tanpa mereka duga ada dua sosok makhluk yang begitu cepat datang dengan cara menyambar mereka. Dua makhluk ini menyambar Dewa dan Halilintar berlawanan arah. Sehingga mereka berdua terpisah dan terbawa sambaran kedua makhluk yang datang dengan cara melontar bak meriap arah menyilang.

Slap,

“Astagfirullah,” teriak Dewa saat terkena sambaran satu makhluk dan ikut melesat jauh begitu cepat bagai kilat. Lalu jatuh di tengah aliran sungai Brantas daerah desa Megaluh.

Sebuah desa perbatasan paling barat kota Jombang dimanah daerah tersebut rupanya jua ikut terimbas dari peperangan kali ini. Sebab daerah tersebut tampak sudah begitu hancur dan porak-poranda.

“Allahuakbar, woi...!” teriak Halilintar jua ikut terseret sambaran satu makhluk yang menyambarnya hingga jatuh di sebuah hutan daerah desa Pengajaran area Wonosalam pegunungan Anjasmara.

Dalam gelapnya jajaran hutan Penanggungan yang begitu rimbun. Tiba-tiba ada suara ledakan yang begitu keras. Bagai halilintar menyambar ke tengah-tengah hutan. Hingga beberapa pohon di sana tumbang serta terbelah berkeping-keping. Tanah bekas jatuhnya bahkan membuat lubang agak dalam dan berdiameter lebar seratus meter.

“Argtz, sial! Sakit juga hantamannya. Siapa dan makhluk apa rupanya yang menyambarku tadi?” rintih Halilintar kembali berdiri dengan agak kesakitan.

“Aku, aku yang menyambarmu. Kenapa, apa kau marah? Kalau kau marah mari bertarung denganku. Bukankah kau terbang mengitari kota Jombang untuk mencari musuh yang seimbang denganmu,” ucap Sultonnirojim satu sosok manusia setengah setan dari desa Banjar Dowo.

Musuh masa lalu yang rupanya telah dibangkitkan kembali. Sebab dahulu sosok Sultonnirojim telah berhasil ditumpas oleh pasangan emas TOH era tua yakni Dava dan Jaka. Dimanah Haji Jaka almarhum dan Lurah Dava masih begitu muda.

“Oh kau Sultonnirojim apa tidak salah aku melihatmu di sini? Bukankah kau sudah mati oleh pasangan emas TOH era tua. Aku jadi penasaran dan curiga ada dalang dari semua peristiwa perang yang menimpa kota Jombang,” ucap Halilintar sudah berdiri tegap di depan Sultonnirojim. Sebab sedari tadi Sultonnirojim rupanya telah berdiri pas di depan Halilintar.

“Tidak usah banyak bacot kau Halilintar putra Bupati Bagus. Sudahlah mari kita mulai dan terima pukulan seribu bayangan setanku ini!” oceh Sultonnirojim tiba-tiba memukul dengan telak perut Halilintar. Hingga Halilintar terpental lagi jauh ke belakang. Sampai-sampai tubuhnya membentur beberapa pohon dan pohon tersebut ikut tumbang.

Dar, dar, dar, kratak, kratak, bruk,

“Ah, kurang ajar sekali ini makhluk setengah-setengah. Dia tahu kalau aku tidak begitu siap dengan serangan secara tiba-tiba,” gerutu Halilintar mulai kesal dan berusaha berdiri kembali.

Namun secara mengejutkan Sultonnirojim sudah kembali berdiri didepanya secara cepat dan tiba-tiba. Bahkan kali ini ia kembali melancarkan serangan kedua. Ada sebuah makhluk kodam atau setan pendamping. Serupa jin iprit level raja berdiri tegap berwarna merah, memiliki dua sungu dan membawa tongkat trisula setan.

Kodam raja iprit milik Sultonnirojim tiba-tiba menggenggam kepala Halilintar. Mencengkeram dengan tangan besarnya begitu kencang. Sampai-sampai Halilintar terangkat dari tanah dan merintih kesakitan. Seketika tubuh Halilintar di lempar kembali ke arah kiri dari berdirinya semula.

Slap, dar, dar, kratak, kratak, brak,

Kembali tubuh Halilintar terpental dan terpelanting jauh. Kembali tubuh Halilintar membentur beberapa pohon yang ada di sana hingga pohon itu tumbang.

Tidak sampai di situ, Sultonnirojim ternyata memiliki gerakan begitu cepat. Sudahlah ia kembali berdiri di depan Halilintar yang belum juga berdiri. Bersama kodam jin ipritnya yang tengah membawa pedang tajam berlumur darah.

Sebab pedang panjang beraura iblis tersebut telah menembus dada Halilintar. Tembus hingga pedang menancap ke belakang pohon yang dibuat bersandar Halilintar.

“Uhuk, uhuk, tjueh, hehehe, rupanya kau sudah memperhitungkan semua langkahmu Sultonnirojim. Rupanya kau sudah mempersiapkan penyergapan sedemikian rupa kepada kami,” ucap Halilintar yang tengah memuntahkan darah dari mulutnya. Bahkan dadanya sudah berlumuran darah.

“Hahaha, akhirnya tidak sia-sia aku hidup kembali ke dunia ini. Akhirnya aku dapat membalaskan sakit hatiku saat Dava yang katanya telah tua dan menjadi Lurah itu membunuhku. Kali ini aku dapat membunuh keponakannya yang paling kuat,” cerocos Sultonnirojim begitu bahagia dan tertawa terbahak-bahak.

“Apa benar kau yang sekarang dapat mengalahkan Om Dava yang sekarang. Apa benar kata-katamu kalau akulah keponakan Om Dava yang terkuat. Bukankah kau dapat merasakan aura di sekitarmu. Apa kau tak merasakan ada aura besar yang tengah berkeliling dari tempat satu ke tempat yang lain di kota Jombang ini dengan begitu cepat?” ucap Halilintar memberondong beberapa pertanyaan yang seketika mementahkan kata-kata dab pernyataan Sultonnirojim.

“Apa maksud perkataanmu itu heh?” ucap Sultonnirojim agak sedikit membentak dan kembali menancapkan pedang beraura iblis milik kodam raja ipritnya. Semakin dalam di dada Halilintar sampai terpendam dan menyisakan beberapa senti badan pedang.

“Argtz, Uhuk, uhuk, Allahuakbar,” teriak Halilintar kesakitan.

“Setidaknya aku datang dapat membunuhmu. Dapat membunuh satu dari kesatria tangguh TOH era tua. Sudah cukup bagiku untuk membalaskan dendam sakit hati puluhan tahun lalu,” oceh Sultonnirojim mencabut pedangnya lalu menancapkannya kembali. Kali ini menancapkannya pas di tengah-tengah kepala Halilintar.

Cres, Jleb, ****, cur,

“Argtz, Argtz, Argtz,” teriakan Halilintar membahana terdengar di seluruh penjuru hutan Pengajaran. Hingga beberapa burung-burung di sana kabur beterbangan ke sana-ke mari tak karuan. Sebab ketakutan akan teriakan Halilintar yang tengah menjerit ketakutan. Bak suara pedihnya sakaratul maut seseorang yang tengah dicabut nyawanya oleh malaikat maut.

Terpopuler

Comments

Andra Djatmika

Andra Djatmika

kenapa tidak melawan Halilintarnya

2022-12-03

0

Bayu Arnan

Bayu Arnan

yes aku datang lagi 😁

2022-11-29

0

Roy Jamaya

Roy Jamaya

sangat memukau benar benar memukau

2022-11-27

0

lihat semua
Episodes
1 Malam merah
2 Gelembung aura hijau
3 Srikandi yang tersisa
4 Hanoman
5 Level 2 api kuning
6 Makhluk bersayap Paman Bayu
7 Vs pembantai Ayah
8 Biyangkerok
9 Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10 Jeritan Sakaratul Halilintar
11 TOH Level Up
12 Manusia buatan
13 Level 2
14 Labirin Sulton
15 Sisi Utara area gunung pegat
16 Bangsa pohon setan
17 Mumi di desa Badas
18 Seruni perbatasan barat
19 Badas perang dimulai
20 Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21 Gugup adalah masalah
22 Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23 Rencana gila DR. Dono
24 Mata hitam Wahyu
25 Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26 Liontin naga Bramasta
27 Namanya Nyi Kembang
28 Darah dua klan
29 Parit kematian
30 Kami hanya lapar
31 Clan Dewa-dewi
32 Pertapa tanpa nama hadir kembali
33 Mereka sedang dibantai
34 Divisi atas vs Siluman Kalong
35 Dua puluh
36 Pengorbanan formasi bulan sabit
37 Kena mental
38 Anak panah naga merah
39 Perang baru dimulai
40 Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41 Teknik pengalihan Lurah Dava
42 Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43 Wahyu Vs Wahyu
44 Padepokan Pekuburan
45 Nasib Seruni
46 Ambon sekarat
47 Elang dan Burung Elang
48 Pedang tanah berselimut petir
49 Alot
50 Vs Gorila Coklat
51 Kamu Nannya
52 Hal itu
53 Elegi selimut bunga-bunga
54 Firasat
55 Tolong jaga kota ini
56 Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57 Jasad para tetua
58 Kabar manusia buatan
59 Tiga tahun lalu
60 Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61 Melihat bencana
62 Diskusi ranjang bambu
63 Jatah pagi
64 Gerbang Iblis muncul
65 Pernyataan perang tersantai
66 Umi Putri berpulang
67 Napas terakhir Ibu Sari
68 Setan yang menang
69 Raja mumi
70 Kematian Haji Jaka
71 Pasukan Macan
72 Joko adalah Dokter Dono
73 Ludah peluru
74 Malam ini mati Pak Bupati
75 Lari malu, Maju kematian
76 Iblis anjing tiga kepala
77 Medan area kali Konto
78 Malam akhir era tua
79 Penyerangan terakhir
80 Raja Naga Sekinteng
81 Mereka sebenarnya Dewa
82 Robot yang menyerupai
83 Danau darah
84 Perkara bosan
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Malam merah
2
Gelembung aura hijau
3
Srikandi yang tersisa
4
Hanoman
5
Level 2 api kuning
6
Makhluk bersayap Paman Bayu
7
Vs pembantai Ayah
8
Biyangkerok
9
Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10
Jeritan Sakaratul Halilintar
11
TOH Level Up
12
Manusia buatan
13
Level 2
14
Labirin Sulton
15
Sisi Utara area gunung pegat
16
Bangsa pohon setan
17
Mumi di desa Badas
18
Seruni perbatasan barat
19
Badas perang dimulai
20
Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21
Gugup adalah masalah
22
Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23
Rencana gila DR. Dono
24
Mata hitam Wahyu
25
Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26
Liontin naga Bramasta
27
Namanya Nyi Kembang
28
Darah dua klan
29
Parit kematian
30
Kami hanya lapar
31
Clan Dewa-dewi
32
Pertapa tanpa nama hadir kembali
33
Mereka sedang dibantai
34
Divisi atas vs Siluman Kalong
35
Dua puluh
36
Pengorbanan formasi bulan sabit
37
Kena mental
38
Anak panah naga merah
39
Perang baru dimulai
40
Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41
Teknik pengalihan Lurah Dava
42
Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43
Wahyu Vs Wahyu
44
Padepokan Pekuburan
45
Nasib Seruni
46
Ambon sekarat
47
Elang dan Burung Elang
48
Pedang tanah berselimut petir
49
Alot
50
Vs Gorila Coklat
51
Kamu Nannya
52
Hal itu
53
Elegi selimut bunga-bunga
54
Firasat
55
Tolong jaga kota ini
56
Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57
Jasad para tetua
58
Kabar manusia buatan
59
Tiga tahun lalu
60
Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61
Melihat bencana
62
Diskusi ranjang bambu
63
Jatah pagi
64
Gerbang Iblis muncul
65
Pernyataan perang tersantai
66
Umi Putri berpulang
67
Napas terakhir Ibu Sari
68
Setan yang menang
69
Raja mumi
70
Kematian Haji Jaka
71
Pasukan Macan
72
Joko adalah Dokter Dono
73
Ludah peluru
74
Malam ini mati Pak Bupati
75
Lari malu, Maju kematian
76
Iblis anjing tiga kepala
77
Medan area kali Konto
78
Malam akhir era tua
79
Penyerangan terakhir
80
Raja Naga Sekinteng
81
Mereka sebenarnya Dewa
82
Robot yang menyerupai
83
Danau darah
84
Perkara bosan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!