Slap,
Dar,
Sekali luncur lalu membentur sebuah reruntuhan bekas bangunan sebuah sekolah dasar di tengah kota. Dewa tak terlihat lagi sebab terlalu pekat asap dan debu bekas jatuhnya. Sementara satu sosok yang diam-diam menyerobot Dewa dengan cara menyasarnya diudara.
Telah berdiri tegak di depan bekas jatuhnya Dewa. Matanya menatap tajam mengamati debu di bekas jatuhnya Dewa. Menunggunya menghilang perlahan agar terlihat Dewa yang iya tubruk diudara terkapar.
“Loh dimanah dia? Bocah sialan ke mana perginya. Bukankah tadi dia aku jatuhkan di sini kok setelah reruntuhan bekas jatuhnya terlihat dia tak ada,” gerutu Adhiyaksa sesosok siluman bertubuh tinggi besar buruk rupa. Memiliki tanduk raja kerbau dengan kepala serigala. Tetapi berbadan manusia dengan kaki domba lalu memiliki ekor kera.
Adhiyaksa sesungguhnya adalah musuh masa lalu TOH di era para kesatria tua. Namun ia ikut dibangkitkan kembali oleh seorang doktor gila yang memiliki hasrat dan eksperimen gila. Sebuah penelitian mengusahakan setan dapat muncul di alam nyata.
“Oh jadi kau makhluk setengah setan dan setengah manusia yang buruk rupa dan bernama Adhiyaksa?” tiba-tiba ada suara dari belakang Adhiyaksa. Tidak lain dan tidak bukan suara tersebut adalah Dewa.
Dewa yang tengah duduk bersila sambil di atas senjata kapak sakti bermata dua. Warisan dari kesatria sakti jaman dahulu Wira Sableng. Duduk bersila di atas kapak yang terus memutar di bawahnya.
Adhiyaksa yang seketika terperangah melompat agak ke belakang. Khawatir akan jangkauan serang jarak dekat dari ilmu kapak milik Dewa yang sudah sangat termakhsyur di kota Jombang.
“Ada apa Maharaja Diraja Adhiyaksa, bukankah kau adalah pemimpin tiga makhluk buas, setan, siluman, dan manusia pembawa setan. Kenapa sepertinya kau ketakutan melihat seorang anak kecil sepertiku?” ucap Dewa melontarkan pertanyaan yang sangat menohok cenderung mengejek pada Adhiyaksa.
“Aku bukanlah raja-raja setan seperti yang pernah kau kalahkan anak muda. Aku juga dapat merasakan aura dari musuh yang ada di hadapanku. Bahkan kau memiliki aura melebihi Ayah dan kakakmu Halilintar. Aku tahu dan dapat merasakan aura kapakmu jua yang memiliki aura tersendiri. Seolah-olah ada jiwa kesatria legendaris Wira Sableng di sana. Aku tak ingin gegabah ke dua kalinya seperti dahulu saat melawan Wahyu anak Haji Jaka itu,” jawab Adhiyaksa mulai menggunakan aura gelap di sekitarnya.
Menyerapnya untuk membentuk baju baja pelindung seperti baju perang. Konon katanya baju baja milik Adhiyaksa tidak tertandingi dan tak mempan ditembus senjata apa pun jua.
“Bukankah yang kau ceritakan itu dahulu kala Tuan Maharaja Diraja Adhiyaksa. Bukankah yang kau bicarakan itu puluhan tahun yang lalu. Bahkan aku belum terlahir ke dunia ini. Apa kau tak menyadari dan tidak merasakan aura besar yang memenuhi kota Jombang ini. Aura berwarna kuning yang kini menerangi langit kota Jombang?” ucap Dewa memberi tahu akan adanya kekuatan besar yang melebihi semua petarung dan semua raja setan yang tengah bertarung di kota Jombang.
Adhiyaksa sempat mendongak sebentar ke atas langit. Dia terperangah ketika melihat ribuan cahaya berkelebatan ke sana dan ke mari berwarna kuning. Bahkan matanya semakin melotot terkejut saat ia mengetahui. Kalau semua sosok cahaya kuning itu adalah Wahyu.
Sekali lagi Adhiyaksa terkejut saat mengukur kekuatan cahaya satu dengan cahaya kuning lain yang semua setara hampir sama. Sehingga tidak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang bayangan.
“Wahyu Satria telah muncul kembali,” celetuk Adhiyaksa terperangah menatap langit.
“Sudahlah di depanmu kini adalah aku Dewa. Jadi tidak usah kau repot-repot terbang ke atas sana dan belum tentu kau mampu mengalahkan walau satu bayangan dari Wahyu. Marilah kita bermain sejenak dan perlu kau ingat era ini adalah Level Up. Bukan lagi TOH era lama. Jadi berhati-hatilah kalau kau bertarung dengan salah satu petarung dari pihak kami di era ini,” ujar Dewa sambil mengebalkan asap rokok ke udara.
“Kurang ajar anak kemarin sore berani meremehkanku. Bahkan Pamanmu Haji Jaka saja tidak mampu melawanku. Jadi bersiaplah untuk serangan pertamaku. Mungkin dengan satu seranganku saja kau akan hancur anak muda. Jangan terlalu besar mulut dan banyak bicara. Tunjukkan kapasitasmu yang sudah banyak dibicarakan orang itu,” teriak Adhiyaksa yang telah memunculkan ratu siluman kalong yang besar pula di belakangnya.
Ratu siluman kalong tersebut menjerit lalu mengarah ke arah Dewa dengan cepat. Menyerangnya secara brutal dan membabi buta. Tapi anehnya Dewa tak beranjak dari duduk bersilanya di atas kapak 212 sambil tetap menikmati rokok di tangannya. Bahkan cenderung Dewa terus menghindari serangan-serangan Ratu siluman Kalong atau siluman kelelawar setan tersebut.
“Jangan menghindar kau anak Bupati Bagus. Asal kau tahu aku Ratu Kalong yang pernah mencabik-cabik dada Ayah dab Ibumu hingga mereka menjadi abu,” ucap Ratu Kalong.
Namun belum jua sempat terdiam dari ocehannya. Ada satu ruh dari petarung legendaris Wira Sableng muncul di depan Ratu Kalong. Langsung menebas, menyayat serta menghancurkan tubuh Ratu Kalong.
Anehnya Sang Kesatria legenda Wira Sableng tengah menggunakan kapak 212 ditangannya. Sedangkan Dewa masih tetap duduk di atas kapak 212 yang sedari tadi terus berputar searah jarum jam di bawahnya.
Setelah menghancurkan Ratu Kalong. Sosok kesatria legenda Wira Sableng kembali berpamitan dan kembali masuk ke dalam kapak 212 yang ada di bawah Dewa.
“Sudah aku bilang era ini adalah era Level Up. Bukan lagi era TOH lama seperti dahulu. Mungkin dahulu kau dapat dengan mudah mengalahkan para jago TOH. Tapi era ini berbeda kawan, maka dari itu dahulu. Kami generasi penerus Toh era lama di kirim ke kota-kota besar sekitar Jombang untuk menimba ilmu. Lihatlah kami sekarang yang ada di hadapanmu. Nikmati saja pertunjukan kami kali ini dalam kisah Level Up semalam suntuk,” ucap Dewa mulai berdiri.
Dewa melompat turun dari atas kapak 212 yang teramat besar. Lalu mulai mengecilkannya dan menyimpannya di pangkal lidah. Terlihat Dewa mulai meregangkan otot-ototnya bergaya gerakan senam kesegaran jasmani.
“Baiklah ayo mulai, kau boleh menyerangku lagi. Suasana hatiku sedang enak jadi kau boleh menyerangku lagi,” ucap Dewa sambil meregangkan tangannya.
“Jangan bercanda kau bocah!” teriak Adhiyaksa. Mengeluarkan gada setan pusaka andalannya. Gada setan pernah menghancurkan kepala Mbah Raji tetua yang paling tua di era TOH lama. Seorang tetua terkuat di kalangan petarung kota Jombang dahulu.
Adhiyaksa melesat ke arah Dewa sambil menghantamkan Gadanya pas di kepala Dewa. Tapi dengan santainya Dewa menghindar sambil merogoh dada Adhiyaksa. Mengambil jantungnya lalu membakarnya di genggaman hingga menjadi abu.
“Setan kok punya jantung yang berdenyut. Kau ini belum raja seharusnya, kau ini raja karbitan,” ucap Dewa menjentikkan jarinya ke arah dada Adhiyaksa. Lalu tubuh Adhiyaksa pecah berantakan dan terbakar menjadi Abu.
“Dasar setan! Aku jadi ragu dahulu kau pernah memimpin sebuah kerajaan,” ujar Dewa membersihkan pakaiannya dari debu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Andra Djatmika
wah keren keren menegangkan
2022-12-03
0
Bayu Arnan
bahaya ini novel menegangkan sekali
2022-11-29
0
Roy Jamaya
like like like
2022-11-27
0