Bekas abu yang terbakar dari tubuh Adhiyaksa. Menyebar menjadi partikel-partikel kecil di udara. Berbaur bersama debu-debu di udara dan melayang-layang di sekitar arena pertarungannya bersama Dewa.
Sedangkan Dewa yang sejatinya sudah tahu akan kekuatan Adhiyaksa. Memang sengaja tidak beranjak dari tempat semula. Dewa tengah duduk di sebuah bongkahan bekas reruntuhan bangunan tengah kota Jombang. Sambil menikmati rokok di tangannya.
“Ayolah Maraja Diraja Adhiyaksa, aku tahu kau tidak selemah itu. Janganlah mengecewakan anak muda yang kau remehkan ini. Ayolah bangkit lagi, aku baru saja menikmati pertarungan kita,” ucap Dewa membuang rokoknya yang sudah habis ke tanah. Lalu menginjaknya agar apinya padam.
Tiba-tiba di depan Dewa ada debu-debu bekas abu yang terbakar. Berbentuk partikel-partikel kecil dan lama-lama menumpuk menjadi satu. Lalu membentuk lagi menjadi utuh satu sosok semula Adhiyaksa.
“Hahaha, jangan khawatir anak muda. Aku tak akan kalah semudah itu aku hanya bercanda. Ayolah jangan terlalu serius seperti itu,” tawa Adhiyaksa menggelegar saat dia kembali utuh lagi. Bahkan kali ini ia lebih besar dan lebih seram. Rupanya setelah hancur dan kembali menyatu dengan otomatis. Tubuhnya masuk dalam efek level 2 kekuatannya.
“Asyik nah begitu dong aku jadi bisa mengeluarkan keringat. Aku jadi bisa agak berolahraga kan aku sudah lama tidak bertarung. Terakhir kali aku bertarung melawan raja jin dari kerajaan bawah tanah di kota Jombang ini. Peristiwa itu jua sudah tiga atau empat tahun yang lalu. Baiklah mari kita mulai saja pertarungan kita dengan serius,” ucap Dewa yang jua menampakkan kekuatan level keduanya.
Dimanah dalam tahap level dua ini. Dewa seakan tak berubah satu senti pun di tubuhnya. Tetapi pergerakannya menjadi secepat kilat dan daya pukulan atau tendangannya teramat berat dan keras. Hanya rambutnya yang berubah agak memanjang. Ciri khusus Dewa saat bertarung dan saat naik level adalah rambutnya yang tiba-tiba memanjang sendiri secara otomatis sesuai tingkatan levelnya.
***
Sementara itu di kedalaman hutan Pengajaran area Wonosalam. Sultonnirojim tampak kegirangan dan dia terus menancapkan pedangnya terus menerus secara frontal di tubuh Halilintar.
“Hahaha, mati kau, mati kau dasar keparat!” teriak Sultonnirojim terus menghunjam dada Halilintar yang sudah tak bergerak sama sekali dengan pedangnya. Tampak darah terus mengalir dari seluruh tubuh Halilintar.
Tangan dan kaki Halilintar jua telah putus. Tinggallah tubuhnya saja yang tersisa kini. Tapi Sultonnirojim rupanya belum puas sampai di situ. Dia ingin melampiaskan rasa dendam terdahulu. Saat benar-benar dihancurkan oleh pasangan emas TOH era tua yakni Jaka dan Dava.
Kesenangan pembalasan dendam Sultonnirojim. Benar-benar terlampiaskan dan Halilintar benar-benar telah tak bernapas sama sekali. Tetapi ada yang aneh dari sisa tubuh Halilintar yang tengah dihunjam-hunjam oleh Sultonnirojim.
Bahkan sedari awal serangan Halilintar tidak mengelak. Seakan Halilintar membiarkan tubuhnya dibombardir pukulan, tendangan bahkan tebasan pedang Sultonnirojim.
“Apa sudah puas kau Sultonnirojim, apa sudah terlampiaskan dan terpuaskan dendammu pada kami para petarung era TOH tua?” tiba-tiba suara Halilintar terdengar dari belakang Sultonnirojim yang tengah asyik mencincang tubuh Halilintar yang ada di hadapannya.
“Woi kenapa bisa, kenapa bisa seperti ini? Perasaan aku jua sudah memastikan kalau yang aku cabik-cabik ini adalah asli. Bahkan aku merasakan auramu utuh di tubuh ini,” ucap Sultonnirojim begitu kaget dan langsung menghindar. Sebab melihat Halilintar masih utuh tak tergores sedikit saja berdiri di belakangnya.
“Tubuh yang mana kawan, aku sedari tadi ada di belakangmu. Tubuh siapa yang kau cincang itu lihatlah dahulu? Rupanya dibangkitkan kembali dari kematian membuatmu agak pelupa ya,” ujar Halilintar mulai menampakkan wujud level duanya.
Wujud ini menjadikan Halilintar penuh dengan kilatan petir. Bahkan dari matanya mengeluarkan kilatan petir. Siapa saja yang memegang kulitnya sedikit saja tentu akan tersengat listrik bertenggangan tinggi.
Sultonnirojim tampak terperangah saat melihat tubuh Halilintar yang baru saja ia cincang. Ternyata hanya seonggok pohon pisang semata.
“Kok bisa, apa yang terjadi?” ucap Sultonnirojim tampak terheran-heran.
“Kenapa kau belum jua hafal kekuatan kami. Bukankah kau pernah melawan teknik pengganti wujud semacam ini saat melawan Lurah Dava di masa lalu?” ucap Halilintar mulai berjalan mendekati Sultonnirojim.
“Baiklah terpaksa aku mengeluarkan kantong semar yang aku miliki. Kau juga jangan lupa aku memiliki kantung semar. Dimanah di dalamnya terdapat seribu setan gentayangan yang haus akan darah dan daging manusia,” ucap Sultonnirojim mengambil satu kantung kecil dari kain kafan yang dibentuk menjadi kantung uang jaman kerajaan diikat tali dari bahan kafan jua.
Tiba-tiba dari dalam kantong semar milik Sultonnirojim. Keluarlah ratusan setan gentayangan dengan berbagai macam bentuk dan rupa. Mereka keluar langsung menyerang Halilintar seluruhnya. Sebab Halilintar adalah manusia dan mereka sanggatlah haus akan darah dan daging segar. Sebab telah terkurung ratusan tahun di dalam kantong semar milik Sultonnirojim.
“Setan-setan peliharaanku habiskan makanan yang ada di depan kalian,” ucap Sultonnirojim memerintahkan para setan yang keluar dari kantong semar miliknya. Sambil menuding ke arah Halilintar, pertanda perintah bagi ratusan setan agar menyerang Halilintar.
Tapi Halilintar sudah dalam mode level dua. Jadi begitu mudah Halilintar dapat menghancurkan setan-setan satu-per satu. Tetapi jumlah seribu rupanya terlalu banyak. Bagi Halilintar yang memiliki pertarungan tipe jarak dekat. Akibatnya Halilintar tampak kewalahan meladeni serangan ratusan setan gentayangan.
“Jangan risau saudaraku, jangan lupakan kami ada bersama TOH sejak era pertama. Pemimpin tua kami almarhum Haji Lukman berpesan. Teruslah bahu-membahu menciptakan kedamaian kota Jombang bersama saudara kalian para kesatria TOH,” teriak Andre Bin Lukman melesat dengan ratusan pasukannya dari klan Lukman atau keluarga Lukman.
Mereka muncul dari berbagai arah. Mereka muncul dari sela-sela pepohonan hutan Pengajaran dan memang Wonosalam adalah daerah atau rumah mereka. Mereka memang bertempat tinggal di beberapa tempat sekitar pegunungan Anjasmara area kecamatan Wonosalam.
Keahlian mereka yang menonjol adalah tangan dewa kematian. Sebuah teknik yang dapat memusatkan aura pada salah satu atau kedua tangannya. Mengubahnya menjadi lebih serupa tangan dewa kematian. Bahkan tangan-tangan mereka dalam level lebih serius dapat memecah gunung sekali hantam.
Tangan-tangan mereka dapat menghancurkan ruh sekali pun. Kali ini Andre datang sebagai pemimpin termuda era level up. Mereka datang langsung membuyarkan ratusan setan gentayangan dengan sekejap.
“Assalamualaikum Kakang Mas Halilintar putra Bupati Bagus dan Ibu Vivi. Kami datang karena kami terusik dari tidur panjang kami. Kami terusik karena tepian hutan kami banyak yang terbunuh akibat ulah kebangkitan para raja setan. Mari kita kembalikan kejayaan TOH era lama yang sempat dihancurkan mereka,” ucap Andre sudah berdiri di samping Halilintar memberi salam hormat pada yang lebih tua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Andra Djatmika
semangaaaaaat
2022-12-03
0
Andra Djatmika
semangat semangat
2022-12-03
0
Bayu Arnan
Ya Allah aku sungguh suka novel ini
2022-11-29
0