Level 2

Bekas abu yang terbakar dari tubuh Adhiyaksa. Menyebar menjadi partikel-partikel kecil di udara. Berbaur bersama debu-debu di udara dan melayang-layang di sekitar arena pertarungannya bersama Dewa.

Sedangkan Dewa yang sejatinya sudah tahu akan kekuatan Adhiyaksa. Memang sengaja tidak beranjak dari tempat semula. Dewa tengah duduk di sebuah bongkahan bekas reruntuhan bangunan tengah kota Jombang. Sambil menikmati rokok di tangannya.

“Ayolah Maraja Diraja Adhiyaksa, aku tahu kau tidak selemah itu. Janganlah mengecewakan anak muda yang kau remehkan ini. Ayolah bangkit lagi, aku baru saja menikmati pertarungan kita,” ucap Dewa membuang rokoknya yang sudah habis ke tanah. Lalu menginjaknya agar apinya padam.

Tiba-tiba di depan Dewa ada debu-debu bekas abu yang terbakar. Berbentuk partikel-partikel kecil dan lama-lama menumpuk menjadi satu. Lalu membentuk lagi menjadi utuh satu sosok semula Adhiyaksa.

“Hahaha, jangan khawatir anak muda. Aku tak akan kalah semudah itu aku hanya bercanda. Ayolah jangan terlalu serius seperti itu,” tawa Adhiyaksa menggelegar saat dia kembali utuh lagi. Bahkan kali ini ia lebih besar dan lebih seram. Rupanya setelah hancur dan kembali menyatu dengan otomatis. Tubuhnya masuk dalam efek level 2 kekuatannya.

“Asyik nah begitu dong aku jadi bisa mengeluarkan keringat. Aku jadi bisa agak berolahraga kan aku sudah lama tidak bertarung. Terakhir kali aku bertarung melawan raja jin dari kerajaan bawah tanah di kota Jombang ini. Peristiwa itu jua sudah tiga atau empat tahun yang lalu. Baiklah mari kita mulai saja pertarungan kita dengan serius,” ucap Dewa yang jua menampakkan kekuatan level keduanya.

Dimanah dalam tahap level dua ini. Dewa seakan tak berubah satu senti pun di tubuhnya. Tetapi pergerakannya menjadi secepat kilat dan daya pukulan atau tendangannya teramat berat dan keras. Hanya rambutnya yang berubah agak memanjang. Ciri khusus Dewa saat bertarung dan saat naik level adalah rambutnya yang tiba-tiba memanjang sendiri secara otomatis sesuai tingkatan levelnya.

***

Sementara itu di kedalaman hutan Pengajaran area Wonosalam. Sultonnirojim tampak kegirangan dan dia terus menancapkan pedangnya terus menerus secara frontal di tubuh Halilintar.

“Hahaha, mati kau, mati kau dasar keparat!” teriak Sultonnirojim terus menghunjam dada Halilintar yang sudah tak bergerak sama sekali dengan pedangnya. Tampak darah terus mengalir dari seluruh tubuh Halilintar.

Tangan dan kaki Halilintar jua telah putus. Tinggallah tubuhnya saja yang tersisa kini. Tapi Sultonnirojim rupanya belum puas sampai di situ. Dia ingin melampiaskan rasa dendam terdahulu. Saat benar-benar dihancurkan oleh pasangan emas TOH era tua yakni Jaka dan Dava.

Kesenangan pembalasan dendam Sultonnirojim. Benar-benar terlampiaskan dan Halilintar benar-benar telah tak bernapas sama sekali. Tetapi ada yang aneh dari sisa tubuh Halilintar yang tengah dihunjam-hunjam oleh Sultonnirojim.

Bahkan sedari awal serangan Halilintar tidak mengelak. Seakan Halilintar membiarkan tubuhnya dibombardir pukulan, tendangan bahkan tebasan pedang Sultonnirojim.

“Apa sudah puas kau Sultonnirojim, apa sudah terlampiaskan dan terpuaskan dendammu pada kami para petarung era TOH tua?” tiba-tiba suara Halilintar terdengar dari belakang Sultonnirojim yang tengah asyik mencincang tubuh Halilintar yang ada di hadapannya.

“Woi kenapa bisa, kenapa bisa seperti ini? Perasaan aku jua sudah memastikan kalau yang aku cabik-cabik ini adalah asli. Bahkan aku merasakan auramu utuh di tubuh ini,” ucap Sultonnirojim begitu kaget dan langsung menghindar. Sebab melihat Halilintar masih utuh tak tergores sedikit saja berdiri di belakangnya.

“Tubuh yang mana kawan, aku sedari tadi ada di belakangmu. Tubuh siapa yang kau cincang itu lihatlah dahulu? Rupanya dibangkitkan kembali dari kematian membuatmu agak pelupa ya,” ujar Halilintar mulai menampakkan wujud level duanya.

Wujud ini menjadikan Halilintar penuh dengan kilatan petir. Bahkan dari matanya mengeluarkan kilatan petir. Siapa saja yang memegang kulitnya sedikit saja tentu akan tersengat listrik bertenggangan tinggi.

Sultonnirojim tampak terperangah saat melihat tubuh Halilintar yang baru saja ia cincang. Ternyata hanya seonggok pohon pisang semata.

“Kok bisa, apa yang terjadi?” ucap Sultonnirojim tampak terheran-heran.

“Kenapa kau belum jua hafal kekuatan kami. Bukankah kau pernah melawan teknik pengganti wujud semacam ini saat melawan Lurah Dava di masa lalu?” ucap Halilintar mulai berjalan mendekati Sultonnirojim.

“Baiklah terpaksa aku mengeluarkan kantong semar yang aku miliki. Kau juga jangan lupa aku memiliki kantung semar. Dimanah di dalamnya terdapat seribu setan gentayangan yang haus akan darah dan daging manusia,” ucap Sultonnirojim mengambil satu kantung kecil dari kain kafan yang dibentuk menjadi kantung uang jaman kerajaan diikat tali dari bahan kafan jua.

Tiba-tiba dari dalam kantong semar milik Sultonnirojim. Keluarlah ratusan setan gentayangan dengan berbagai macam bentuk dan rupa. Mereka keluar langsung menyerang Halilintar seluruhnya. Sebab Halilintar adalah manusia dan mereka sanggatlah haus akan darah dan daging segar. Sebab telah terkurung ratusan tahun di dalam kantong semar milik Sultonnirojim.

“Setan-setan peliharaanku habiskan makanan yang ada di depan kalian,” ucap Sultonnirojim memerintahkan para setan yang keluar dari kantong semar miliknya. Sambil menuding ke arah Halilintar, pertanda perintah bagi ratusan setan agar menyerang Halilintar.

Tapi Halilintar sudah dalam mode level dua. Jadi begitu mudah Halilintar dapat menghancurkan setan-setan satu-per satu. Tetapi jumlah seribu rupanya terlalu banyak. Bagi Halilintar yang memiliki pertarungan tipe jarak dekat. Akibatnya Halilintar tampak kewalahan meladeni serangan ratusan setan gentayangan.

“Jangan risau saudaraku, jangan lupakan kami ada bersama TOH sejak era pertama. Pemimpin tua kami almarhum Haji Lukman berpesan. Teruslah bahu-membahu menciptakan kedamaian kota Jombang bersama saudara kalian para kesatria TOH,” teriak Andre Bin Lukman melesat dengan ratusan pasukannya dari klan Lukman atau keluarga Lukman.

Mereka muncul dari berbagai arah. Mereka muncul dari sela-sela pepohonan hutan Pengajaran dan memang Wonosalam adalah daerah atau rumah mereka. Mereka memang bertempat tinggal di beberapa tempat sekitar pegunungan Anjasmara area kecamatan Wonosalam.

Keahlian mereka yang menonjol adalah tangan dewa kematian. Sebuah teknik yang dapat memusatkan aura pada salah satu atau kedua tangannya. Mengubahnya menjadi lebih serupa tangan dewa kematian. Bahkan tangan-tangan mereka dalam level lebih serius dapat memecah gunung sekali hantam.

Tangan-tangan mereka dapat menghancurkan ruh sekali pun. Kali ini Andre datang sebagai pemimpin termuda era level up. Mereka datang langsung membuyarkan ratusan setan gentayangan dengan sekejap.

“Assalamualaikum Kakang Mas Halilintar putra Bupati Bagus dan Ibu Vivi. Kami datang karena kami terusik dari tidur panjang kami. Kami terusik karena tepian hutan kami banyak yang terbunuh akibat ulah kebangkitan para raja setan. Mari kita kembalikan kejayaan TOH era lama yang sempat dihancurkan mereka,” ucap Andre sudah berdiri di samping Halilintar memberi salam hormat pada yang lebih tua.

Terpopuler

Comments

Andra Djatmika

Andra Djatmika

semangaaaaaat

2022-12-03

0

Andra Djatmika

Andra Djatmika

semangat semangat

2022-12-03

0

Bayu Arnan

Bayu Arnan

Ya Allah aku sungguh suka novel ini

2022-11-29

0

lihat semua
Episodes
1 Malam merah
2 Gelembung aura hijau
3 Srikandi yang tersisa
4 Hanoman
5 Level 2 api kuning
6 Makhluk bersayap Paman Bayu
7 Vs pembantai Ayah
8 Biyangkerok
9 Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10 Jeritan Sakaratul Halilintar
11 TOH Level Up
12 Manusia buatan
13 Level 2
14 Labirin Sulton
15 Sisi Utara area gunung pegat
16 Bangsa pohon setan
17 Mumi di desa Badas
18 Seruni perbatasan barat
19 Badas perang dimulai
20 Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21 Gugup adalah masalah
22 Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23 Rencana gila DR. Dono
24 Mata hitam Wahyu
25 Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26 Liontin naga Bramasta
27 Namanya Nyi Kembang
28 Darah dua klan
29 Parit kematian
30 Kami hanya lapar
31 Clan Dewa-dewi
32 Pertapa tanpa nama hadir kembali
33 Mereka sedang dibantai
34 Divisi atas vs Siluman Kalong
35 Dua puluh
36 Pengorbanan formasi bulan sabit
37 Kena mental
38 Anak panah naga merah
39 Perang baru dimulai
40 Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41 Teknik pengalihan Lurah Dava
42 Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43 Wahyu Vs Wahyu
44 Padepokan Pekuburan
45 Nasib Seruni
46 Ambon sekarat
47 Elang dan Burung Elang
48 Pedang tanah berselimut petir
49 Alot
50 Vs Gorila Coklat
51 Kamu Nannya
52 Hal itu
53 Elegi selimut bunga-bunga
54 Firasat
55 Tolong jaga kota ini
56 Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57 Jasad para tetua
58 Kabar manusia buatan
59 Tiga tahun lalu
60 Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61 Melihat bencana
62 Diskusi ranjang bambu
63 Jatah pagi
64 Gerbang Iblis muncul
65 Pernyataan perang tersantai
66 Umi Putri berpulang
67 Napas terakhir Ibu Sari
68 Setan yang menang
69 Raja mumi
70 Kematian Haji Jaka
71 Pasukan Macan
72 Joko adalah Dokter Dono
73 Ludah peluru
74 Malam ini mati Pak Bupati
75 Lari malu, Maju kematian
76 Iblis anjing tiga kepala
77 Medan area kali Konto
78 Malam akhir era tua
79 Penyerangan terakhir
80 Raja Naga Sekinteng
81 Mereka sebenarnya Dewa
82 Robot yang menyerupai
83 Danau darah
84 Perkara bosan
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Malam merah
2
Gelembung aura hijau
3
Srikandi yang tersisa
4
Hanoman
5
Level 2 api kuning
6
Makhluk bersayap Paman Bayu
7
Vs pembantai Ayah
8
Biyangkerok
9
Lurah Dava dan Golok Sakti Emas
10
Jeritan Sakaratul Halilintar
11
TOH Level Up
12
Manusia buatan
13
Level 2
14
Labirin Sulton
15
Sisi Utara area gunung pegat
16
Bangsa pohon setan
17
Mumi di desa Badas
18
Seruni perbatasan barat
19
Badas perang dimulai
20
Teknik wadah tubuh (Teknik baru Wahyu)
21
Gugup adalah masalah
22
Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu
23
Rencana gila DR. Dono
24
Mata hitam Wahyu
25
Yayu Yuwana Vs Yayu Yuwana (Dukun wanita Vs Sang Dewi pedang)
26
Liontin naga Bramasta
27
Namanya Nyi Kembang
28
Darah dua klan
29
Parit kematian
30
Kami hanya lapar
31
Clan Dewa-dewi
32
Pertapa tanpa nama hadir kembali
33
Mereka sedang dibantai
34
Divisi atas vs Siluman Kalong
35
Dua puluh
36
Pengorbanan formasi bulan sabit
37
Kena mental
38
Anak panah naga merah
39
Perang baru dimulai
40
Tiga pemuda Vs tiga bangsa
41
Teknik pengalihan Lurah Dava
42
Lurah Dava dan Ibu Sari sebenarnya mati
43
Wahyu Vs Wahyu
44
Padepokan Pekuburan
45
Nasib Seruni
46
Ambon sekarat
47
Elang dan Burung Elang
48
Pedang tanah berselimut petir
49
Alot
50
Vs Gorila Coklat
51
Kamu Nannya
52
Hal itu
53
Elegi selimut bunga-bunga
54
Firasat
55
Tolong jaga kota ini
56
Kisah cinta abadi Wahyu dan Sekar
57
Jasad para tetua
58
Kabar manusia buatan
59
Tiga tahun lalu
60
Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong
61
Melihat bencana
62
Diskusi ranjang bambu
63
Jatah pagi
64
Gerbang Iblis muncul
65
Pernyataan perang tersantai
66
Umi Putri berpulang
67
Napas terakhir Ibu Sari
68
Setan yang menang
69
Raja mumi
70
Kematian Haji Jaka
71
Pasukan Macan
72
Joko adalah Dokter Dono
73
Ludah peluru
74
Malam ini mati Pak Bupati
75
Lari malu, Maju kematian
76
Iblis anjing tiga kepala
77
Medan area kali Konto
78
Malam akhir era tua
79
Penyerangan terakhir
80
Raja Naga Sekinteng
81
Mereka sebenarnya Dewa
82
Robot yang menyerupai
83
Danau darah
84
Perkara bosan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!