Bab 18. Dia Istriku

Pria yang menyapa Affan itu adalah Ardi. Dia anak dari sepupu Affan, di mana kakeknya merupakan kakak kandung dari ayah Affan.

Sejak perusahaan Affan mengalami kemajuan yang pesat, keluarga besar Ardi merasa iri. Mereka menganggap jika Affan hanya bersenang-senang dan menikmati kekayaan orang tuanya saja.

Ardi berjalan mendekati Affan sambil terus memandangi Aira dengan tatapan menginginkan. Dia tidak percaya pamannya itu menyukai gadis muda yang seumuran dengan anaknya. Selama ini orang yang dikenal alim itu secara terang-terangan memegang tangan seorang wanita di depan umum.

"Apa kabar Ardi?" sapa Affan.

"Sangat baik, Om. Kalau Om sudah bosan, aku mau sama dia." Ardi masih terus menatap Aira dengan tatapan tidak sopan.

"Astaghfirullah. Istighfar, Ar. Tidak masalah jika kamu tidak menghormatiku, tapi jangan pernah melecehkan seorang wanita berhijab di depan umum. Jaga sopan santumu!" Affan tidak suka Ardi terus menatap Aira.

Aira juga merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Ardi. Dia berpindah ke belakang punggung Affan tanpa melepaskan pegangan tangannya. Kepalanya menunduk, dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada Ardi.

Ekspresi wajah Ardi berubah. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Affan lebih rendah dari dirinya. Begitu juga dengan wanita yang berdiri di belakangnya yang dia anggap sok suci.

"Tidak perlu bawa-bawa agama saat berbuat maksiat, Om. Wanita itu rela dipegang oleh Om, berarti tidak salah dong kalau aku juga menginginkannya."

Dada Affan terlihat naik turun. Percuma dia berbicara banyak pada keponakan jauhnya itu. Mungkin sudah saatnya semua orang tahu dengan pernikahannya. Dia akan menutup mata dan telinganya jika ada yang berpikir buruk tentang pernikahannya.

"Dia istriku, tantemu. Aku akan menghajarmu jika sampai kamu menyentuhnya! Assalamu'alaikum."

Setelah mengatakan itu Affan membawa Aira pergi meninggalkan Ardi. Dia tidak ingin mendengar kata-kata yang membuatnya tersulut emosi. Ardi hanyalah secuil potret kesombongan dari keluarga besarnya.

Kehidupan bebas yang dijalani oleh Ardi membuatnya menjadi liar. Kedua orang tuanya selalu memanjakannya dengan materi. Terlebih lagi dia kuliah di luar negeri yang tidak pernah membatasi sebuah pergaulan dengan dalih hak asasi.

Langkah kaki panjang Affan membuat Aira berjalan cepat untuk menyamakan langkah. Affan tidak segera menyadari keadaan ini dan terus melangkah. Pikirannya yang kacau membuatnya tidak peka dengan keadaan di sekelilingnya.

Mereka akhirnya sampai di depan sebuah distro yang cukup besar. Sebelum berbelanja keperluan harian, Affan ingin Aira membeli beberapa buah pakaian.

Affan memandangi wajah Aira yang basah oleh keringat. Nafasnya terengah-engah dan sesekali tersengal. Perjalanan dari tempat parkir ke tempat mereka berada saat ini lumayan jauh sehingga cukup menguras tenaga untuk mencapainya.

"Astaghfirullah. Maafkan aku, Aira. Pasti aku berjalan terlalu cepat tadi," sesal Affan.

Aira terlihat bingung, dia tidak tahu harus mengatakan hal yang jujur atau tidak. Dia memilih tersenyum tanpa beban agar Affan tidak semakin merasa bersalah padanya.

"Lain kali kamu harus mengingatkanku jika aku membuatmu tidak nyaman, Aira. Jangan hanya diam saja." Affan mengusap kepala Aira yang terbungkus jilbab dengan lembut.

"Aku tidak apa-apa, Om. Aku juga tidak suka berlama-lama di sana," jelas Aira.

Mereka sama-sama tersenyum.

"Ya, sudah, kita langsung berbelanja saja."

Affan menggandeng tangan Aira memasuki sebuah distro yang menjual pakaian bermerk. Aira terlihat ragu-ragu memasukinya. Meskipun dia belum pernah berbelanja baju dengan merk yang ada di distro ini tetapi dia tahu jika harganya sangat mahal.

Untuk menyenangkan hati Affan, Aira berpura-pura memilih baju walaupun tidak ada niat untuk membelinya. Dia hanya berhenti sejenak lalu berjalan berkeliling. Penampilannya yang sangat sederhana memperlihatkan jika dia tidak mampu membeli barang yang ada di sana dan kenyataannya memang demikian.

Pegawai distro terus mengikutinya dan memperhatikannya diam-diam, sementara itu Affan sedang memilih di bagian pakaian khusus pria.

'Dasar gadis miskin, tidak punya uang saja sok-sokan masuk ke distro berkelas. Di pikir di sini banyak barang KW dan diskonan, apa?' Pegawai distro melirik sinis ke arah Aira yang tidak kunjung mengambil baju yang terpajang di hadapannya.

"Mau yang mana, Mbak? Kalau cari yang harganya murah bukan di sini tempatnya. Dari tadi aku lihat kamu hanya membolak balik bandrol untuk mengecek harga," sungut pegawai distro itu.

Beberapa waktu lalu ada seorang mahasiswi yang datang ke tempat itu dan merusakkan sebuah baju. Apesnya dia tidak mau mengganti rugi. Pegawai itu sekarang lebih ketat dalam mengawasi pembeli, terutama pengunjung yang berusia muda dan bukan langganan mereka.

"Maaf, Mbak. Aku belum menemukan baju yang cocok," ucap Aira gugup.

Kepalanya melongok ke sana kemari untuk mencari sosok suaminya berada. Saat ini dia tidak membawa uang sepeser pun. Tanpa Affan, Aira terlihat seperti orang yang hilang di sana.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Kuat Man

Kuat Man

lanjutkan kak autor

2022-11-04

2

May Ubaidillah

May Ubaidillah

yaaaa.... kasian aira nya, jngn di biarkan sendirian dong om

2022-11-04

1

Uswatul Khasana

Uswatul Khasana

lanjut

2022-11-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!