Pria yang menyapa Affan itu adalah Ardi. Dia anak dari sepupu Affan, di mana kakeknya merupakan kakak kandung dari ayah Affan.
Sejak perusahaan Affan mengalami kemajuan yang pesat, keluarga besar Ardi merasa iri. Mereka menganggap jika Affan hanya bersenang-senang dan menikmati kekayaan orang tuanya saja.
Ardi berjalan mendekati Affan sambil terus memandangi Aira dengan tatapan menginginkan. Dia tidak percaya pamannya itu menyukai gadis muda yang seumuran dengan anaknya. Selama ini orang yang dikenal alim itu secara terang-terangan memegang tangan seorang wanita di depan umum.
"Apa kabar Ardi?" sapa Affan.
"Sangat baik, Om. Kalau Om sudah bosan, aku mau sama dia." Ardi masih terus menatap Aira dengan tatapan tidak sopan.
"Astaghfirullah. Istighfar, Ar. Tidak masalah jika kamu tidak menghormatiku, tapi jangan pernah melecehkan seorang wanita berhijab di depan umum. Jaga sopan santumu!" Affan tidak suka Ardi terus menatap Aira.
Aira juga merasa tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Ardi. Dia berpindah ke belakang punggung Affan tanpa melepaskan pegangan tangannya. Kepalanya menunduk, dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada Ardi.
Ekspresi wajah Ardi berubah. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Affan lebih rendah dari dirinya. Begitu juga dengan wanita yang berdiri di belakangnya yang dia anggap sok suci.
"Tidak perlu bawa-bawa agama saat berbuat maksiat, Om. Wanita itu rela dipegang oleh Om, berarti tidak salah dong kalau aku juga menginginkannya."
Dada Affan terlihat naik turun. Percuma dia berbicara banyak pada keponakan jauhnya itu. Mungkin sudah saatnya semua orang tahu dengan pernikahannya. Dia akan menutup mata dan telinganya jika ada yang berpikir buruk tentang pernikahannya.
"Dia istriku, tantemu. Aku akan menghajarmu jika sampai kamu menyentuhnya! Assalamu'alaikum."
Setelah mengatakan itu Affan membawa Aira pergi meninggalkan Ardi. Dia tidak ingin mendengar kata-kata yang membuatnya tersulut emosi. Ardi hanyalah secuil potret kesombongan dari keluarga besarnya.
Kehidupan bebas yang dijalani oleh Ardi membuatnya menjadi liar. Kedua orang tuanya selalu memanjakannya dengan materi. Terlebih lagi dia kuliah di luar negeri yang tidak pernah membatasi sebuah pergaulan dengan dalih hak asasi.
Langkah kaki panjang Affan membuat Aira berjalan cepat untuk menyamakan langkah. Affan tidak segera menyadari keadaan ini dan terus melangkah. Pikirannya yang kacau membuatnya tidak peka dengan keadaan di sekelilingnya.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah distro yang cukup besar. Sebelum berbelanja keperluan harian, Affan ingin Aira membeli beberapa buah pakaian.
Affan memandangi wajah Aira yang basah oleh keringat. Nafasnya terengah-engah dan sesekali tersengal. Perjalanan dari tempat parkir ke tempat mereka berada saat ini lumayan jauh sehingga cukup menguras tenaga untuk mencapainya.
"Astaghfirullah. Maafkan aku, Aira. Pasti aku berjalan terlalu cepat tadi," sesal Affan.
Aira terlihat bingung, dia tidak tahu harus mengatakan hal yang jujur atau tidak. Dia memilih tersenyum tanpa beban agar Affan tidak semakin merasa bersalah padanya.
"Lain kali kamu harus mengingatkanku jika aku membuatmu tidak nyaman, Aira. Jangan hanya diam saja." Affan mengusap kepala Aira yang terbungkus jilbab dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Om. Aku juga tidak suka berlama-lama di sana," jelas Aira.
Mereka sama-sama tersenyum.
"Ya, sudah, kita langsung berbelanja saja."
Affan menggandeng tangan Aira memasuki sebuah distro yang menjual pakaian bermerk. Aira terlihat ragu-ragu memasukinya. Meskipun dia belum pernah berbelanja baju dengan merk yang ada di distro ini tetapi dia tahu jika harganya sangat mahal.
Untuk menyenangkan hati Affan, Aira berpura-pura memilih baju walaupun tidak ada niat untuk membelinya. Dia hanya berhenti sejenak lalu berjalan berkeliling. Penampilannya yang sangat sederhana memperlihatkan jika dia tidak mampu membeli barang yang ada di sana dan kenyataannya memang demikian.
Pegawai distro terus mengikutinya dan memperhatikannya diam-diam, sementara itu Affan sedang memilih di bagian pakaian khusus pria.
'Dasar gadis miskin, tidak punya uang saja sok-sokan masuk ke distro berkelas. Di pikir di sini banyak barang KW dan diskonan, apa?' Pegawai distro melirik sinis ke arah Aira yang tidak kunjung mengambil baju yang terpajang di hadapannya.
"Mau yang mana, Mbak? Kalau cari yang harganya murah bukan di sini tempatnya. Dari tadi aku lihat kamu hanya membolak balik bandrol untuk mengecek harga," sungut pegawai distro itu.
Beberapa waktu lalu ada seorang mahasiswi yang datang ke tempat itu dan merusakkan sebuah baju. Apesnya dia tidak mau mengganti rugi. Pegawai itu sekarang lebih ketat dalam mengawasi pembeli, terutama pengunjung yang berusia muda dan bukan langganan mereka.
"Maaf, Mbak. Aku belum menemukan baju yang cocok," ucap Aira gugup.
Kepalanya melongok ke sana kemari untuk mencari sosok suaminya berada. Saat ini dia tidak membawa uang sepeser pun. Tanpa Affan, Aira terlihat seperti orang yang hilang di sana.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Kuat Man
lanjutkan kak autor
2022-11-04
2
May Ubaidillah
yaaaa.... kasian aira nya, jngn di biarkan sendirian dong om
2022-11-04
1
Uswatul Khasana
lanjut
2022-11-04
1