Bab 17. Pergi Bersama

Affan melihat makanan yang dibawa oleh Aira. Dari aromanya dia sudah membayangkan betapa nikmatnya masakannya. Namun, dia tidak berani untuk mengambilnya sebelum Aira memberikannya.

"Aku jadi lapar, Aira. Bolehkah aku memakannya sekarang?" Affan terlihat tidak sabar menunggu Aira menuang timlo pada mangkuk yang sudah diberi sedikit nasi.

"Sabar, Om. Sebentar lagi akan siap."

Dengan perasaan canggung Aira duduk di sebelah Affan dengan memegang mangkuknya.

Affan tidak ingin disuapi. Dia mengambil mangkuk itu dari tangan Aira. Dalam waktu sekejap, makanan itu telah berpindah ke perutnya.

Ponsel Affan berdering.

Affan segera bangkit dan mengambil ponselnya. Dia pergi ke teras samping kamar yang menghadap ke taman. Sekilas terdengar dia menyebut nama Bimo dan membicarakan urusan bisnis yang tidak dimengerti oleh Aira.

Aira membereskan peralatan makan dan membawanya ke ruang makan. Di sana Faya masih terlihat asyik dengan makanannya dan tersenyum saat melihat Aira datang.

"Masakanmu mantap, Ma!" Faya mengacungkan jempolnya.

"Itu karena kamu jarang makan saja. Coba kalau setiap hari aku masakin, pasti bosen."

Aira meletakkan mangkuk kotor di tempat cuci piring lalu berjalan ke meja makan menyusul Faya. Dia menambahkan nasi ke dalam piringnya dan mengambil lauk yang ada.

"Enggaklah. Apapun yang kamu masak pasti aku makan. Kata orang setelah memakan masakan istri bisa membuat suami makin cinta, lho."

"Uhuk! Uhuk!" Aira tersendak saat sedang minum. Ucapan Faya membuatnya jadi salah tingkah.

Faya tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah Aira.

Perutnya yang lapar membuat Aira mengabaikan ocehan Faya dan memakan makannya. Suasana kembali hening. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di sana.

Faya memainkan ponselnya sambil menunggu Aira yang sedang makan. Hari ini dia ada les privat jam sembilan. Sebelum itu dia ingin bersantai dulu dengan menonton film kesukaannya di YouTube berbayar miliknya.

Sebagai seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun, Aira pun juga memiliki kebiasaan yang sama dengan putri sambungnya. Mereka sebaya. Melihat Affan sudah baik-baik saja, Aira pun ikut menonton drama yang ada di ponsel Faya.

Agar bisa ditonton dengan leluasa, Faya menghubungkan ponselnya dengan layar televisi. Kini mereka bisa menontonnya dengan jelas.

Adegan romantis dalam drama itu membuat mereka terhanyut. Sesekali mereka berteriak saat melihat artis idolanya itu melakukan adegan ciuman.

Suara keributan itu memancing rasa penasaran Affan. Melihat keseruan Aira dan Faya, dia ingin ikut bergabung bersama mereka. Affan menutup laptopnya lalu berjalan menuju ke ruang keluarga.

Kesibukan mereka masing-masing, membuat ketiganya jarang sekali berkumpul. Selagi ada kesempatan, Affan ingin menghabiskan waktu bersama mereka.

"Ayah!" pekik Faya saat melihat Affan berdiri mematung di depan TV.

"Ayah tidak akan mengganggu. Sudah kalian lanjutkan nontonnya, ayah diam, nih." Affan duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka.

Aira dan Faya saling berpandangan. Mereka tidak sebebas sebelumnya karena merasa di awasi.

Faya melirik ayahnya dengan wajah kesalnya. Merasa tidak nyaman lagi diapun beranjak dari duduknya. Di saat bersamaan ada sebuah panggilan telepon masuk.

"Nanti lagi, ya, nontonnya. Aku mau siap-siap pergi ke les privat." Faya bergegas pergi dan mengangkat telepon sambil berjalan ke kamarnya.

Affan menatap Aira penuh selidik. Perasaannya mengatakan jika Faya sedang dekat dengan seseorang.

"Siapa yang menelepon Faya pagi-pagi begini? Apakah kamu tahu dia sedang dekat dengan seseorang?" tanya Affan.

"Mungkin itu Vera, Om. Dia teman Faya di bimbingan belajar. Kami tidak satu kelas, tetapi tahu orangnya yang mana," jelas Aira.

Affan mengangguk-angguk. Semula dia berpikir jika penelepon itu adalah seorang pria. Sebagai seorang ayah, dia harus selalu mengawasi pergaulan putrinya itu.

"Om mau dibikinkan teh atau kopi?" tanya Aira. Dia masih merasa canggung berduaan saja bersama Affan. Keduanya sama-sama tidak tahu ingin membicarakan apa.

"Boleh. Aku ambil laptopku dulu, nanti kalau aku belum dateng kamu taruh di sini saja."

"Baik, Om."

Aira pergi ke dapur untuk membuat teh sedangkan Affan pergi ke kamarnya.

Ruang keluarga kosong saat Faya tiba di sana. Dia membawa buku yang banyak. Buku-buku itu akan diberikan untuk Aira.

"Banyak sekali bawaanmu, Fay. Kenapa kamu tadi tidak memanggilku?" Faya datang dengan secangkir teh di tangannya.

Tidak lama kemudian Affan datang membawa laptopnya. Dia juga merasa heran dengan barang bawaan Faya.

"Di mana laptopmu, sayang? Apakah kamu lebih suka belajar manual sekarang?" Affan bertanya sambil menaruh laptopnya di atas meja.

"Apa aku lupa bilang sama ayah, ya? Laptopku mati sebulan yang lalu."

Affan menatap Faya datar. Dia mencoba mengingat-ingat apakah dia telah menerima berita itu dari Faya atau belum.

"Ayah juga lupa. Nanti ayah belikan," ucap Affan tidak ingin banyak berpikir.

"Yeea! Laptop baru ... laptop baru ...! Mama juga, ya, Yah." Faya ingin Affan berlaku adil.

Affan mengangguk.

Aira bingung harus berkata apa. Sebenarnya dia tidak ingin meminta dibelikan laptop, tetapi dia juga tidak ingin melihat Faya kecewa. Setelah ini dia akan membicarakannya dengan Affan.

Setelah keberangkatan Faya, Affan mengajak Aira pergi untuk membeli laptop untuk Faya dan dirinya. Mereka datang ke pusat penjualan laptop bermerk. Aira terbelalak saat melihat harga per unitnya dari balik etalase.

"Pak boleh minta katalog laptopnya? Kami ingin pilih-pilih dulu," ucap Affan pada penjaga toko.

"Boleh." Pria itu memberikan sebuah buku berisi katalog laptop keluaran terbaru.

Affan menunjukkan beberapa merk kepada Aira untuk meminta pendapatnya.

"Sepertinya aku tidak usah, Om. Sebentar lagi aku kan lulus SMA, jadi tidak terlalu penting. Sayang uangnya."

Harga laptop di dalam katalog itu tidak ada yang murah. Aira tidak ingin menghambur-hamburkan uang suaminya untuk kebutuhan yang baginya tidak terlalu penting.

"Tidak masalah, Aira. Nanti bisa jadi cadangan kalau laptopku bermasalah." Affan lebih pintar membuat alasan agar Aira mau menerimanya.

Aira pun mengalah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima saja. Sebagai seorang gadis lugu, dia tidak tahu berapa banyak uang yang Affan punya.

Setelah mendapatkan barang yang mereka inginkan, Affan membawa Aira ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Dia ingin Aira membeli keperluannya dan juga beberapa buah baju.

Mobil Affan berhenti di sebuah parkiran, mereka keluar bersama-sama dan berjalan menuju ke pintu masuk.

"Ehemm! Selera yang bagus." Seorang pria keluar dari mobilnya dan menatap ke arah Affan dan Aira tepat ketika mereka berjalan di depannya.

Affan menghentikan langkahnya dan menatap pria itu. Sudah lama mereka tidak bertemu.

'Kenapa aku harus bertemu dengan bocah tengil ini? Bukankah dia seharusnya sedang berada di luar negeri?' Affan meraih tangan Aira dan berdiri mematung menunggu pria itu datang menghampirinya.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

bocah tengil itu adalah si steve temen baru yg masuk di sekolahannya aira dan faya

2022-12-27

1

Perrii Lasmacgk

Perrii Lasmacgk

lanjut bikin penasaran aja

2022-11-04

1

May Ubaidillah

May Ubaidillah

siapa pria itu, jdi penasaran lanjut thor...... 🤔

2022-11-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!