Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan

Affan kembali menutup pintu kamarnya setelah kepergian Bi Sumi. Dia berjalan menghampiri Aira dan melepaskan pecinya.

"Ada orang kantor yang datang di depan. Tadi aku meninggalkan beberapa pekerjaan untuk menjemput kalian ke sekolah," jelas Affan.

Aira mengangguk. Sebenarnya dia tahu tentang orang kantor yang dimaksud oleh Affan adalah Amanda. Ada rasa nyeri di hatinya ketika mengingat nama itu, Faya banyak bercerita padanya tentang siapa Amanda.

'Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku hanya diam saja suamiku sedang bersama wanita lain? Suami? Belum tentu dia mau mengakui aku sebagai istrinya di depan orang lain.' Aira terduduk lemas di meja belajarnya.

Aira meraih buku pelajaran di hadapannya lalu membacanya. Berulang kali dia membaca buku itu tetapi tidak bisa memahaminya. Pikirannya sedang kacau. Cerita Faya tentang Amanda terngiang-ngiang dalam pikirannya.

"Aku tidak boleh membiarkan wanita itu merebut perhatian Om Affan. Tidak boleh!" Aira bangkit dari duduknya lalu mengenakan jilbabnya dengan rapi.

Meskipun tanpa make up, wajah Aira sudah terlihat manis. Gamis sederhana dengan motif bunga-bunga membuatnya tampak anggun dan terlihat lebih dewasa. Tanpa seragamnya, dia menjelma sebagai nyonya Affan.

Jarak antara ruang keluarga dengan kamar Affan tidak terlalu jauh. Tidak ada sekat yang membatasinya sehingga Aira bisa melihat dengan jelas ruang tamu dari depan pintu kamarnya.

Aira menutup pintu kamar dengan pelan kemudian berjalan menuju ke ruang keluarga.

Amanda yang duduk dengan posisi menghadap ke arah kamar Affan, langsung menyadari kehadiran Aira. Dia menatapnya dengan heran. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

"Selamat sore, maaf saya tidak bermaksud untuk mengganggu. Silakan dilanjutkan!" Aira tersenyum pada Amanda.

Affan menoleh pada Aira. Dia baru ingat jika Aira belum makan sepulang sekolah. Tidak ingin ada kesalahpahaman, dia pun berdiri dan menghampiri Aira lalu membawanya ke hadapan Amanda.

"Aira, ini Amanda, Direktur Pemasaran sekaligus rekan kerjaku." Affan memperkenalkan Amanda pada Aira.

Amanda melirik ke arah Affan yang memegang tangan Aira. Tidak biasanya bosnya itu memegang tangan wanita yang bukan muhrimnya. Dalam hati dia bertanya-tanya tentang siapa wanita muda di hadapannya itu. Tidak ingin terlihat buruk di mata Affan, Amanda pun tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Aira.

"Amanda."

Aira menyambut uluran tangan Amanda dan menyalaminya.

"Aira."

Untuk beberapa saat mereka berjabatan lalu melepaskannya dengan canggung.

"Mas Affan, siapa dia?" tanya Amanda dengan canggung.

"Aira adalah istriku," jawab Affan dengan mantap. Tangannya masih menggenggam erat tangan Aira seolah ingin membuktikan pada Amanda jika hubungan mereka benar-benar nyata.

Amanda tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tubuhnya seperti tersambar petir dan membuatnya hangus terbakar. Matanya berkaca-kaca dan tidak mampu lagi menahan air mata yang terus memaksa untuk keluar.

Bertahun-tahun dia memendam perasaannya pada Affan. Bukan sekali dua kali dia menyatakan perasaannya padanya. Namun, semuanya menjadi sia-sia saat pria di hadapannya itu mengaku telah menikah dengan wanita lain.

"Aku makan dulu." Aira berpamitan pada Affan tetapi Affan malah menggenggam tangannya semakin erat seolah memintanya untuk tinggal.

"Tunggu sebentar, Sayang. Aku juga lapar," ucap Affan sambil menatap Aira.

Hati Amanda semakin hancur saat mendengar Affan memanggil Aira dengan kata sayang.

"Sepertinya keberadaanku hanya akan mengganggu romantisme kalian. Aku permisi pulang dulu, jika ada yang ingin ditanyakan silakan menghubungiku." Amanda mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.

"Terimakasih atas pengertiannya. Hati-hati di jalan," jawab Affan.

Amanda mengangguk lalu berbalik pergi. Dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.

Bi Sumi yang datang membawa minuman dan camilan terheran ketika berpapasan dengannya dan melihatnya menangis. Amanda yang biasanya ramah padanya kini hanya mengangguk saja lalu kembali berjalan dengan cepat meninggalkan rumah Affan.

'Sepertinya Non Amanda sudah tahu tentang pernikahan Tuan dan Nyonya.' Bi Sumi membawa nampannya kembali ke dapur dan tidak lama kemudian Aira dan Affan datang menyusulnya.

Aira membuka tudung saji dan menyiapkan makanan apa saja yang akan dipanaskan.

"Biar saya saja, Nyonya," ucap Bi Sumi membawa dua buah piring untuk mereka.

"Terimakasih, Bi." Aira kembali duduk.

Seumur-umur dia juga belum pernah menggunakan microwave. Bisa-bisa makanan yang dia panaskan menjadi gosong jika tidak tepat penggunaannya. Sambil menunggu makanannya selesai dipanaskan, dia mengambil dua gelas air putih untuknya dan Affan.

"Maafkan aku, Om. Sepertinya Bu Amanda terlihat sangat kecewa setelah tahu tentang pernikahan kita. Aku ... aku tahu sedikit cerita tentangnya dari Faya." Aira menatap Affan penuh penyesalan.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini bukan kesalahan kamu. Sampai kapanpun aku tidak akan menjalin hubungan dengan Amanda."

"Andai aku berada di dalam posisinya tentu ini sangat menyakitkan." Aira menunduk sedih.

Affan meraih tangan Aira lalu menggenggamnya di atas meja. Dia tidak ingin membebani hati Aira dengan masalah antara dirinya dengan Amanda.

"Bantu aku untuk melupakan masa laluku, Aira. Keberadaan Amanda hanya akan membuatku terjebak dalam kenangan. Bayangan Kayra selalu muncul setiap kali aku berada di dekatnya. Aku sudah mengatakan hal ini ribuan kali padanya tetapi dia terus memaksakan cintanya. Jika bukan karena Faya, mungkin aku telah menjadi pria yang rapuh. Aku hanya manusia biasa yang terkadang imanku menjadi tipis."

Aira terharu mendengar cerita Affan. Ternyata Affan tidak menerima cinta Amanda bukan karena Faya yang melarangnya. Alasan yang cukup masuk akal mengingat Amanda adalah teman baik Kayra.

"Bohong jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku akan merasa berdosa padamu jika aku mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Kuharap kamu bisa bersabar hingga aku benar-benar bisa mencintaimu sebagai seorang istri." Affan kembali mengungkapkan isi hatinya.

Apa yang dirasakan oleh Affan tidak terlalu jauh berbeda dengan Aira. Saat ini dia juga belum memiliki perasaan cinta yang tulus untuk Affan. Namun, Aira berusaha untuk menjadi istri yang baik dan ibu sambung yang baik untuk sahabatnya, Faya.

"Aku tidak berharap banyak, Om. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Jika Allah sudah berkehendak, kita bisa apa. Seperti pernikahan ini yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya." Keadaan memaksa Aira untuk menyikapi semua hal dengan dewasa. Kehidupan membuatnya berpikir dan bersikap lebih dari usianya.

Affan mengangguk. Ucapan Aira begitu sejuk dan membuat hatinya menjadi tenteram. Tidak peduli apa kata orang tentang pernikahan mereka, Affan merasa jika Aira memang jodohnya.

"Eheem!" Faya berdehem.

Entah sudah berapa lama dia berdiri di belakang mereka. Bi Sumi dan Nami yang berada di ruangan itu seperti mendapat kode dari Faya agar mereka diam.

"Faya, kamu sudah pulang?" tanya Affan terburu-buru melepaskan tangan Aira.

"Assalamualaikum, Ayah, Mama." Faya meraih tangan Affan dan Aira serta mencium punggung tangannya bergantian.

"Wa'alaikum salam." jawab keduanya serempak.

"Aku lapar sekali. Maaf ayah, ganti seragamnya nanti saja, ya?" Faya berbalik dan mencuci tangannya di wastafel.

"Ya, sudah. Kita makan sama-sama." Affan menunggu Faya selesai mencuci tangannya.

Bi Sumi mengambilkan piring dan air minum untuk Faya. Sedangkan Nami membawa tas dan buku-buku Faya ke kamarnya.

"Aku mencium aroma kemesraan di antara kalian. Sepertinya aku akan segera mendapatkan adik baru, nih!" seru Faya membuat Aira terlihat sangat malu.

****

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Jedaaaaaarrr ⚡️⚡️⚡️⚡️⚡️
Affan dapat daun muda noh..😜😜😜

2023-06-13

0

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

sebentar ya faya nunggu mama lulus sekolah dulu baru punya adek

2022-12-26

2

Sonia Putri

Sonia Putri

lanjut,lanjut
aku padamu thorr 😁😁😁

2022-11-28

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!