Bab 5. Terpaksa Berbohong

"Apa maksudmu, Faya? Kami ... kami ...." Affan tidak ingin tinggal satu kamar bersama Aira untuk saat ini. Mereka sama-sama belum siap untuk berbagi tempat.

"Kami belum siap!" sahut Faya cepat.

Affan mengangguk.

Faya beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri ayahnya. Tangannya terlipat rapi di dadanya. Dia terlihat seperti seorang guru yang sedang mengawasi muridnya yang ketahuan mencontek.

Aira tidak berkutik. Dalam masalah ini dia hanya bisa pasrah. Keadaannya masih sangat linglung karena masalah yang bertubi-tubi menimpanya.

"Allah tidak melarang perceraian, tetapi Dia sangat membencinya, Ayah. Wanita seperti apa lagi yang ayah cari? Bukankah mama Aira adalah wanita lembut yang sangat sempurna. Aku tahu kalian berdua sama-sama belum bisa menerima, tetapi bagaimana kalian akan belajar menerima jika kalian tinggal terpisah?"

Affan dan Aira terlihat pasrah. Apa yang dikatakan oleh Faya memang benar. Meskipun pernikahan ini tidak direncanakan dan bisa dikatakan sebagai paksaan, mereka tidak bisa memungkiri jika mereka adalah sepasang suami istri. Status mereka sah di mata Tuhan meskipun belum mencatatkan pernikahannya di catatan sipil.

"Baiklah, Faya." Affan mengalah kemudian beralih menatap Sumi.

"Bi, tolong pindahkan barang-barang Aira ke kamarku. Bibi taruh pakaiannya di lemari yang paling pojok. Baju-bajuku yang ada di sana tidak banyak, bibi bisa menyatukannya di lemari tengah," jelas Affan.

"Baik, Tuan." Sumi pergi dengan beragam pertanyaan yang berkecamuk di hatinya. Selama ini dia mengenal Aira sebagai sahabat Faya. Hari ini dia sangat terkejut saat mendengar tentang berita pernikahannya dengan tuannya.

Setelah semuanya selesai sarapan, Affan mengantarkan Faya dan Aira pergi ke sekolah. Sebenarnya ada seorang sopir yang dipekerjakan di rumah ini, tetapi Affan selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan Faya ke sekolah baru pulangnya sopir itu yang menjemputnya.

Faya duduk di jok depan di samping ayahnya sedangkan Aira duduk di belakang. Setelah berada di jalanan yang tenang, Faya mulai berbicara.

"Ayah, sebaiknya pernikahan kalian segera dicatatkan di catatan sipil. Pernikahan siri tidak memiliki kekuatan hukum." Faya menatap ayahnya dengan wajah serius.

Affan terlihat santai menanggapi ucapan Faya. Mereka baru menikah semalam dan tidak banyak yang tahu tentang pernikahan keduanya. Jika mencatatkan pernikahannya secara hukum, takutnya pihak sekolah akan mengetahuinya. Semua itu akan berakibat buruk bagi Aira.

"Sudah kupikirkan, Sayang. Sekarang kalian fokuslah untuk belajar. Ujian akhir akan segera datang, pikirkan itu dulu. Ayah tidak akan pernah lari dari tanggung jawab sebagai seorang suami. Ayah janji akan mengurusnya secepat mungkin setelah kalian menyelesaikan pendidikan SMA."

Kali ini Faya membenarkan ucapan ayahnya. Mereka masih berstatus sebagai pelajar SMA, pihak sekolah tidak akan menerima murid yang sudah menikah untuk bersekolah di sana.

Aira sibuk membaca bukunya. Meskipun pikirannya sedang kalut, dia harus tetap belajar. Hari ini dia ada ulangan harian untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Semalam sedikitpun dia belum membuka buku untuk belajar.

Waktu berlalu begitu cepat. Mobil Affan telah sampai di depan gerbang sekolah mereka. Affan turun dan membukakan pintu untuk anak dan istrinya.

Dengan canggung, Aira mengikuti Faya yang mencium punggung tangan ayahnya ketika mereka ajan berpisah. Tangannya terasa dingin karena dia tidak pernah bersentuhan dengan seorang laki-laki. Itulah yang membuatnya merasa sangat ketakutan ketika Rehan memaksanya untuk bermesraan.

Kedatangan Faya dan Aira yang berangkat dalam satu mobil mengundang rasa penasaran bagi teman-temannya. Mereka terbengong melihat keduanya berjalan bersama melewati para murid yang berdiri di depan gerbang.

Wajah Aira terlihat lesu dengan mata yang sembab. Mereka menduga jika dia sedang ada masalah lalu menginap di tempat Faya.

Faya dan Aira berada dalam kelas yang sama yaitu kelas 12 IPA 1. Tempat duduk mereka saling berdekatan.

Sebelum ayahnya dan Aira datang, Faya sudah belajar sehingga dia hanya tinggal mengulang saja materi pelajaran yang akan ulangan hari ini. Berbeda dengan Aira yang belum banyak belajar.

"Aku tidak yakin akan mendapatkan nilai yang bagus. Pikiranku sedang kacau, sepertinya aku tidak bisa fokus saat ulangan," ucap Aira.

"Seharusnya tadi kamu beristirahat saja dan ikut ulangan susulan di lain waktu. Tetapi sebelumnya kamu pandai berbahasa Inggris, aku yakin kamu akan tetap mendapatkan nilai yang bagus meskipun hanya belajar sekilas."

Faya berusaha menenangkan dan menyemangati Aira. Ulangan bahasa Inggris akan di mulai sebentar lagi. Sikap gugupnya hanya akan membuat konsentrasi menjadi buyar.

"Terimakasih, Faya. Semoga aku bisa mengerjakan ulangan ini dengan mudah."

Mereka belajar seperti biasanya setelah ulangan selesai. Keduanya tidak terbiasa pergi ke kantin di jam istirahat pertama. Di jam istirahat kedua pun mereka juga jarang pergi ke sana karena merasa tidak lapar.

Sebelum tinggal bersama Faya, Aira tidak pernah menggunakan uang sakunya. Dia selalu menabungnya. Hari ini, Affan tidak memberikan uang saku padanya. Selama yang dia tahu Faya mendapatkan kartu ATM khusus untuk keperluan sekolahnya, mungkin dia juga akan memberlakukan hal yang sama padanya nanti.

Saat istirahat kedua, Faya dan Aira duduk di taman belakang perpustakaan untuk menghirup udara segar. Di sebuah pohon yang rindang terdapat bangku-bangku untuk beristirahat.

"Assalamualaikum, Aira, Faya," sapa seorang murid pria yang bernama Gusti. Dia anak 12 IPA 2.

Meskipun tidak mengatakan secara terang-terangan, Faya tahu jika Gusti menyukai Aira. Sebelum kepindahan Aira ke sekolah ini, dia sangat jarang menyapanya. Namun, semenjak Aira pindah ke sekolah itu, dia selalu menyapa mereka.

"Wa'alaikum salam." jawab Faya dan Aira hampir bersamaan.

Gusti memperhatikan mata sembab Aira. Wajahnya putihnya memerah dengan lingkar mata yang terlihat jelas.

"Apakah terjadi sesuatu padamu, Ay? Kamu terlihat habis menangis." Gusti menunjukkan kepeduliannya pada Aira.

Aira menatap Faya. Dia tidak mungkin mengatakan semua hal yang dialaminya pada siapapun. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan menganggap ini tidak benar.

"Aku sangat merindukan almarhum ayah dan ibuku jadi aku menangis," bohong Aira.

Dalam hati dia merasa berdosa dengan kebohongannya. Sebenarnya tidak sepenuhnya berbohong, akhir-akhir ini dia memang sangat merindukan orang tuanya. Hanya saja semalam dia tidak menangis untuk itu.

Faya menggenggam erat tangan Aira berusaha menguatkannya.

"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, Ay. Kamu jangan terlalu bersedih. Ada teman-teman yang selalu mendukungmu."

"Terimakasih, Gusti."

Mereka tidak bisa mengobrol lebih banyak lagi karena bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi. Aira dan Faya bernapas lega karena mereka tidak perlu menjawab banyak pertanyaan yang akan memaksa mereka terus berbohong.

Tidak ada yang curiga dengan kedekatan keduanya karena sebelum Aira menikah dengan ayahnya, mereka adalah sahabat dekat.

"Sepulang sekolah kita ke supermarket dulu, ya. Ada beberapa barang yang harus aku beli," ucap Faya ketika mereka berkemas setelah pelajaran berakhir.

Aira mengangguk. Tenggorokannya tercekat dan terasa sulit untuk menelan ludahnya. Saat ini dia tidak memegang uang sama sekali.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

sari emilia

sari emilia

😆😆😆 yg sampai sekarng msh masuk dlm pola pikir ku ank umur 20 msh SMA kls 2 🤪🤪 gmn crt nya emg mrk b2 oon sampai jd siswa abadi...thor yg bnr aja...ank SMA kelas 2 itu paling banter 16/17 thn 😇😇

2023-06-22

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Benar2 Salut aku sama Faya,,Aku pada mu Faya 😍😍😍🥰🥰🥰

2023-06-13

0

momnaz

momnaz

faya dewasa banget ya... meskipun tumbuh tanpa sosok ibu...

2023-02-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!