Affan mendorong troli melewati lorong yang berada di tengah-tengah deretan rak berisi produk-produk yang tertata rapi. Aira mengikutinya di belakang sambil melihat-lihat produk di sekelilingnya.
Sebagai seorang pria yang telah menduda selama delapan belas tahun, Affan terbiasa melakukan apapun sendiri. Terkadang dia meminta Bimo untuk menemaninya berbelanja kebutuhannya, sedangkan untuk kebutuhan rumah, dia menyerahkannya pada Bi Sumi.
"Aira, kamu ambil saja yang ingin kamu beli. Aku tidak tahu apa saja yang dibutuhkan oleh wanita. Kamu juga boleh membeli produk untuk perawatan dan kecantikan," jelas Affan sambil menatap Aira yang terlihat malu-malu.
"Terimakasih, Om. Aku akan mengambil yang perlu-perlu saja," jawab Aira.
"Ingat, penampilan juga penting untukmu. Suatu saat aku akan membawamu dalam acara-acara penting perusahaan dan kamu harus mulai bersiap dari sekarang."
Aira terkejut dengan ucapan Affan. Mulai saat ini dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Setelah dirinya resmi menjadi Nyonya Affan, dia juga harus bisa menyesuaikan diri dengan circle-nya sekarang.
"Baik, aku mengerti, Om."
Selama ini Aira hidup sebagai gadis yang sederhana. Dia tidak mengerti caranya untuk berdandan menggunakan make up dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kecantikan. Setelah ini dia harus berusaha keras untuk menjadi orang yang pantas untuk bersanding dengan Affan.
Affan tersenyum ketika melihat Aira mengambil body lotion dan alat perang wanita. Dengan sedikit merubah penampilannya, istrinya itu akan terlihat lebih dewasa.
Keranjang mereka penuh dengan barang belanjaan, Affan mendorongnya dan mengantri di kasir. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia kemudian meminta Aira untuk mengantri.
"Aira, aku pergi angkat telepon dulu. Ini kamu bawa." Affan menyerahkan sebuah kartu untuk membayar.
Aira mengangguk.
Panggilan di ponselnya terus berdering, Affan segera pergi dari hadapan Aira. Dia pergi menepi dan menjawab panggilan itu. Sebagian rekan bisnis penting langsung menghubunginya untuk membicarakan proyek mereka.
"Hai, Cantik! Minta nomer ponselnya, dong." Ardi tiba-tiba sudah berdiri di belakang Aira.
"Maaf, aku wanita bersuami. Kamu cari nomor orang yang single saja," ketus Aira.
"Apa, sih, hebatnya omku. Dia, kan, sudah tua. Pasti payah. Sayang sekali wajah cantikmu kalau kamu cuma jadi ibu rumah tangga. Bagaimana kalau ikut agensiku dan menjadi model? Bodymu juga lumayan."
Aira semakin kesal dengan ucapan Ardi yang terus saja menggodanya. Dia berharap Affan segera datang. Antrian di kasir masih panjang, artinya dia masih akan berdekatan dengan Ardi cukup lama.
"Maaf, aku tidak tertarik. Aku suka hidupku yang sekarang." Aira berbicara tanpa menatap Ardi.
Ardi tersenyum sinis. Menurutnya Aira adalah seorang yang munafik. Dia berpikir jika dirinya menikahi Affan demi harta tetapi sok-sokan menolak saat ditawari pekerjaan yang mengekspose kecantikannya.
"Bukan hal yang mengherankan. Kamu lebih senang memanfaatkan kecantikanmu untuk memikat hati om-om berduit. Aku yakin setelah sama omku kamu pasti akan mencari korban baru."
Kata-kata itu terdengar sangat menyakitkan bagi Aira. Meskipun saat ini dia belum mencintai Affan tetapi semua tuduhan Ardi tidaklah benar. Pernikahan yang dipaksakan ini di luar keinginan mereka berdua, banyak hal yang harus mereka korbankan untuk ini, di antaranya adalah rasa malu.
Aira tidak ingin berdebat lagi dengan Ardi. Orang-orang di sekelilingnya menatap Aira dengan tatapan merendahkan. Mereka mengambil kesimpulannya sendiri-sendiri tanpa melihat fakta yang sebenarnya.
'Sampai kapan keadaan ini akan berlanjut? Mereka pasti akan lebih merendahkanku jika mereka tahu aku masih bersekolah.' Aira terlihat sedih.
Beruntung gilirannya untuk membayar di kasir sudah datang. Aira tidak akan berlama-lama berada di sana dan mendengarkan ocehan menyakitkan Ardi.
Affan datang menghampiri Aira. Wajahnya terlihat tidak senang ketika melihat Ardi di sana. Melihat wajah sedih Aira, dia sangat yakin pasti Ardi mengatakan sesuatu yang menyakitkan padanya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Sayang. Tadi ada hal penting yang aku bicarakan." Affan merangkul bahu Aira, sengaja menunjukkan pada Ardi jika mereka dekat.
"Ini juga baru dapat antrian," jawab Aira sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
"Pamer kemesraan," gumam Ardi yang masih terdengar oleh Affan dan Aira. Mereka tidak peduli dan mengacuhkannya.
Affan membawa barang belanjaan yang lebih banyak ke dalam mobil. Aira berjalan di sampingnya dengan barang yang ringan.
Saat mereka sedang menata barang di bagasi, seorang wanita datang dengan cepat menghampiri keduanya. Wajahnya terlihat sangat marah dan menatap Aira dengan penuh kebencian. Wanita itu kira-kira berumur empat puluh lima tahun.
Affan dan Aira terlihat santai dan sesekali mereka mengobrol. Setelah barang tertata dengan rapi Aff
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Benazier Jasmine
lanjut
2022-12-14
1