Bab 3. Pembicaraan Serius

Sebagian warga masih berdiri di luar pagar rumah Agung dan Reni. Mereka merasa iba dengan nasib Aira. Belum genap setahun dia tinggal di sana, tetapi harus pergi dalam keadaan terhina. Tidak semuanya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rehan yang terkenal sangat arogan di kampungnya.

"Aira!" panggil bu Isna, tetangga samping rumahnya yang sering mengobrol dengannya.

Aira menghentikan langkahnya. Saat ini dia adalah tanggung jawab Affan sehingga dia tidak bisa seenaknya. Tanpa seijinnya dia tidak berani mendekati bu Isna.

Affan mengangguk sebagai isyarat jika dia mengijinkannya untuk pergi menemui bu Isna dan ibu-ibu yang berdiri menunggunya.

Tangis mereka pecah ketika Aira sampai di hadapan mereka dan memeluk bu Isna. Ibu-ibu yang lain ikut memeluknya bergantian. Mereka tidak sanggup berkata-kata tertahan oleh kesedihannya.

"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Kamu boleh main ke rumah ibu kalau ada waktu." Bu Isna tidak ingin menahan Aira lebih lama lagi. Malam sudah larut dan semakin gelap karena mendung yang hampir turun hujan.

"Terimakasih, Bu. Kami permisi!" Aira dan Affan mencium punggung tangan ibu-ibu itu satu persatu.

Mereka berpesan pada Affan agar menjaga Aira dengan baik dan tidak menyakitinya. Meskipun berat melepaskan gadis yatim piatu itu, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Meskipun baru menikah secara agama, Affan lebih berhak dari siapapun atas diri Aira.

Affan membukakan pintu mobil untuk Aira. Mereka tidak bisa lagi berlama-lama di sana karena gerimis mulai turun.

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Affan fokus melihat jalanan sambil mengemudi sedangkan Aira melihat ke luar jendela sambil bergumam. Dia berdzikir di tengah hatinya yang dilanda kegelisahan.

'Apa yang akan dipikirkan Faya tentang diriku? Aku tiba-tiba pulang ke rumahnya dan menjadi ibu tirinya. Pasti dia akan sangat marah dan kecewa. Selama ini dia selalu menolak keinginan ayahnya untuk menikahi Bu Amanda, bawahan ayahnya di kantornya.' Aira *******-***** ujung jilbabnya.

Affan mengamati apa yang dilakukan oleh Aira. Meskipun hatinya kalut, dia sudah dewasa dan bisa berdamai dengan kenyataan. Dalam hal ini dia harus bersikap layaknya seorang ayah, bukan sebagai suami.

Affan Karim adalah seorang duda berusia tiga puluh delapan tahun. Istrinya meninggal ketika melahirkan Faya. Dia telah menduda selama dua puluh tahun dan membesarkan Faya seorang diri. Kedua orang tuanya membantunya merawat Faya sewaktu bayi, tetapi mereka juga dipanggil Sang Khaliq beberapa tahun kemudian.

Ayahnya meninggal ketika Faya berusia tujuh tahun dan tiga tahun kemudian ibunya menyusul. Untuk kebutuhan keluarganya, Affan mengelola perusahaan peninggalan ayahnya yang bergerak di bidang properti.

Menikah muda adalah pilihannya, tetapi siapa sangka dia hanya menikmati pernikahan itu selama dua tahun saja. Affan dan Kayra menikah setelah tamat SMA dan berkuliah di universitas yang sama. Setelah menikah Affan membuka sebuah kafe di depan universitas mereka. Dari pendapatannya dia bisa menghidupi istrinya dan membiayai kuliah mereka berdua.

"Aira!" panggil Affan lembut.

Aira menoleh pada pria yang beberapa menit yang lalu bersaksi kepada Tuhan untuk mengambil tanggung jawab atasnya.

"Iya, Om. Eee ... maaf aku tidak tahu harus memanggil Anda siapa." Aira terlihat canggung dan salah tingkah.

"Panggil saja seperti biasanya. Aku memang lebih pantas untuk menjadi paman atau ayahmu," ucap Affan dengan ekspresi yang datar.

"Bub-bu-bukan begitu maksudku, Om. Eh, Mas." Aira meralat ucapannya lalu menutup mulutnya sambil melirik malu ke arah Affan.

Bola matanya terlihat begitu indah dengan wajah cantik yang terlihat natural.

"Jangan menjadikan beban hanya untuk sebuah panggilan. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu secara pribadi." Affan membelokkan mobilnya untuk menepi lalu menghentikannya di sebuah tempat yang sepi.

Jantung Aira berdetak sangat kencang setelah mendengar ucapan Affan. Mobil itu berhenti di sebuah tempat yang gelap. Berbagai pikiran negatif berseliweran di kepalanya, meskipun mereka telah sah sebagai suami istri tidak seharusnya Affan membawanya ke tempat seperti ini.

Affan mengerti ketakutan di wajah Aira. Gadis lugu sepertinya pasti tidak berpengalaman dalam urusan percintaan.

"Kamu jangan merasa salah paham, Aira. Aku tidak akan mengambil hakku sebagai seorang suami. Hubungan kita tidak berlandaskan cinta dan rasa saling memiliki. Setelah ini, kamu bisa memilih pria yang kamu sukai. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Aku hanya tidak ingin membuat masa depanmu hancur karena keegoisanku." Affan menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya.

Aira menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Sebagai seorang yang mengerti agama, dia tidak lantas senang dengan ucapan Affan. Meskipun belum ada perasaan di hatinya, tetapi dia tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan. Bisa saja apa yang terjadi malam ini memang sudah tertulis di dalam buku takdirnya.

"Apakah, Om, em, Mas akan menceraikan aku malam ini juga? Atau ada seseorang yang sedang menunggu Anda untuk dinikahi?" tanya Aira setelah hatinya merasa sedikit tenang.

Affan menatap Aira untuk beberapa saat lalu segera menggeleng.

"Aku tidak ada niat untuk mempermainkan sebuah pernikahan, tetapi aku akan melepaskanmu jika kamu menginginkannya. Kamu masih muda, cantik, kamu bisa mendapatkan pria sesuai kriteriamu, Aira. Sungguh aku tidak bermaksud tidak baik padamu."

Affan tidak ingin Aira salah paham dengan ucapannya. Dia sendiri merasa bingung dengan kejadian yang mendadak ini.

"Aku tidak memiliki kriteria khusus, Om. Mungkin saat ini aku belum bisa menerima status baruku, tetapi aku tidak berniat untuk melawan takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Bukan hal yang tabu bagi seorang pria dewasa menikahi seorang gadis belia karena dalam Islam itu tidak dilarang. Yang aku pikirkan adalah Faya dan penilaian orang lain tentang hubungan ini." Aira menunduk.

Hati Affan menghangat. Rasa hangat itu terus menjalar hingga ke seluruh nadinya. Gadis kecil di hadapannya itu memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.

"Kita akan membicarakan ini dengan Faya setelah tiba di rumah. Mengenai orang lain, sebaiknya kita merahasiakan pernikahan ini sampai kamu lulus. Sebentar lagi kamu akan ujian, lebih baik kamu memikirkan itu dulu dan mengabaikan masalah kita." Affan mencoba mencari jalan tengah untuk permasalahan mereka.

"Terimakasih, Om. Semoga Faya tidak salah paham dan menyalahkan kita. Jika dia keberatan aku tinggal bersama kalian, aku akan pergi mencari kontrakan saja." Aira mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. Selama ini Faya memang bersikap baik padanya, bisa dibilang mereka berteman dekat. Namun, dia tidak tahu apakah Faya masih menganggapnya teman setelah dia menikah dengan ayahnya.

"Faya anak yang baik. Aku yakin dia akan mengerti." Affan berusaha menenangkan Aira.

Affan kembali menjalankan mobilnya menuju ke kediamannya yang tidak jauh lagi dari sana. Hanya butuh sekitar lima menit saja untuk sampai.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

sari emilia

sari emilia

kl bc sinopsisnya aira ank SMA...ms sdh umur 20 thn...atau paya yg umur nya sdh 20 thn tp otak nya aga lemot jarang naik kelas jd umur sdh 20 thn msh SMA 😄😄

2023-06-22

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Berarti Faya dan Aira berusia 20 tahun ya??

2023-06-13

0

momnaz

momnaz

hhhmmm baru mampir aku selalu tertarik sama kisah cinta beda usia...

2023-02-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!