Pandangan pegawai distro teralihkan dari Aira ketika beberapa anak muda memasuki distro. Keadaan ini dimanfaatkan untuk kabur oleh Aira. Saat pegawai itu lengah dia menyelinap pergi diam-diam.
Tidak ingin aksinya ketahuan, Aira bergerak cepat setelah merasa aman.
'Secepatnya aku harus menemukan Om Affan. Aku tidak nyaman berada di sini. Aku akan meminta Om Affan untuk segera menyelesaikan keperluannya.' Aira bermonolog dalam hati.
Distro itu cukup ramai karena hari libur sekolah. Aira berusaha berhati-hati saat berjalan, meskipun dengan langkah yang cepat. Senyumnya merekah saat menemukan orang yang dicarinya. Dia mempercepat langkahnya untuk mendekatinya.
"Om Affan!" panggil Aira saat suaminya itu tidak menyadari kehadirannya.
Affan berhenti dan menoleh mencari sumber suara. Wajahnya terlihat sumringah saat melihat Aira berjalan menghampirinya.
Diam-diam ada yang mengawasinya dan merekam apa yang dilakukannya. Orang itu tersenyum puas setelah berhasil mendapatkan gambar yang sangat jelas. Ketika Aira berjalan ke arahnya dia segera menyelesaikan rekamannya dan menyimpan ponselnya.
"Aku tidak menyukai baju-baju yang ada di sini. Om Affan tidak keberatan, kan, kalau aku ingin membeli via online saja." Aira mengatakan maksudnya sambil berjalan di sisi Affan.
"Tidak masalah. Kartu ATM kamu sudah jadi. Nanti Bimo akan mengantarkannya ke rumah. Kamu juga bisa menggunakan internet banking untuk bertransaksi," jelas Affan.
Wajah Aira tidak begitu senang mendengarkan ATM yang dijanjikan Affan. Sebagai seorang istri yang belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya, ini menjadi beban.
"Tapi, Om. Apakah Om tidak takut aku hanya memanfaatkan uang Om saja? Kita kan belum melakukan ...." Aira tidak melanjutkan ucapannya.
Affan terlihat biasa-biasa saja menanggapi ucapan Aira. Sebagai seorang pria yang telah dewasa, apapun yang dia lakukan sudah melewati pemikiran yang matang.
"Aku ikhlas, Aira. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu tanggung jawabku, tidak ada kata memanfaatkan dalam sebuah hubungan pernikahan." Affan berbicara dengan suara pelan.
Pemandangan itu terlihat sebagai sebuah hal yang mesra bagi orang yang melihatnya. Langkah mereka yang lambat pun akhirnya membawa keduanya sampai di depan kasir.
Pegawai yang sejak tadi mengawasi Aira terus memandangi keduanya. Affan merupakan pelanggan distro ini. Biasanya dia datang bersama Bimo ke tempat ini, tidak disangka wanita yang terlihat miskin tadi adalah kerabatnya.
Kasir yang menerima baju-baju yang di pilih Affan pun terbengong. Meskipun Affan terlihat masih muda, tetapi wanita di hadapannya ini terlihat jauh lebih muda. Mungkin mereka akan pingsan jika tahu bahwa mereka adalah pasangan beda usia dengan selisih 20 tahun.
Aira membantu Affan membawa paper bag berisi baju milik Affan. Mereka berbalik meninggalkan meja kasir setelah menyelesaikan pembayaran. Belum sempat mereka melangkah, seseorang datang dengan membawa beberapa helai pakaian yang disampirkan di lengan.
Air muka Aira berubah menjadi pucat. Kini dia berdiri berhadapan dengan teman satu sekolahnya.
"Hai! Kamu beneran Aira, kan?" tanya Sofia. Seorang siswi jurusan IPS yang bersahabat baik dengan Anggie.
"I-iya ... aku Aira."
Melihat istrinya begitu gugup, Affan berpikir untuk mencari alasan agar mereka bisa segera keluar dari sana.
"Em, kami masih ada beberapa kepentingan. Maaf, Aira aki bawa, ya." Affan tersenyum pada Sofia tanpa berlama-lama menatapnya untuk menjaga pandangannya.
Sofia mengangguk sambil tersenyum. Wajah Affan membuatnya terpesona hingga dia melupakan hal disekelilingnya.
"Assalamualaikum," ucap Affan sebelum pergi dari hadapan Sofia.
"Wa'alaikum salam." Sofia terbengong hingga Affan dan Aira menghilang di balik deretan pakaian.
Anggie dan dua temannya yang lain menepuk bahu Sofia. Mereka menggeleng gemas ketika mendapati sahabatnya itu melamun.
"Anggie! Ngagetin aja. Untung aku tidak punya penyakit jantung, bisa anfal aku jika sampai hal itu terjadi," sungut Sofia.
"Dia adalah Affan Karim, seorang pengusaha yang memiliki karir bersinar saat ini. Putrinya adalah Faya, sahabat Aira," jelas Anggie.
"Putrinya adalah Faya, lalu bagaimana ceritanya dia pergi bersama Aira yang notabene teman dari putrinya. Mereka terlihat begitu dekat dan hampir tidak memiliki jarak." Sofia merasa heran.
"Sudah, kita bicarakan nanti saja sambil minum." Anggie berbalik dan dan memberikan bajunya pada kasir.
Aira menitipkan barang belanjaan Affan dari distro di meja kasir lalu dia segera menyusul Affan mengambil troli. Setelah kejadian di distro, dia tidak ingin jauh-jauh dari Affan.
Affan tidak keberatan dengan tatapan orang-orang yang berpikir tentang hubungan keduanya.
Ardi yang melihat keduanya memasuki super market berpura-pura tidak melihat lalu diam-diam mengikuti mereka masuk.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
semoga hubungan mereka aman
2022-12-27
0
Uswatul Khasana
lanjut
2022-11-05
1