Affan memanggil satpam dan karyawan yang sudah datang untuk membantu Bimo mengangkat tubuh Amanda ke ruang kesehatan. Di perusahaannya disediakan tempat pelayanan kesehatan dan kecelakaan kerja bagi karyawan. Ada beberapa dokter dan perawat yang berjaga dua puluh empat jam secara bergantian.
Affan tampak tegang. Dia bimbang antara mengikuti mereka atau pergi ke ruangannya sendiri.
"Huh!" Affan mendengus lalu memutuskan untuk pergi ke ruang kesehatan.
Meskipun ini bukan salahnya, dia tidak bisa bersikap tak peduli. Bagaimanapun juga Amanda adalah sahabatnya.
Amanda sedang diperiksa oleh dokter ketika dia datang. Affan menghampiri Bimo yang menunggunya di luar ruang pemeriksaan.
"Bos!" Bimo beranjak dari duduknya tetapi Affan menggerakkan tangannya agar dia tetap duduk.
Affan menarik kursi lain lalu duduk di sebelah Bimo. Wajahnya terlihat kusut. Dia kemudian mengusap wajahnya kasar lalu menoleh pada Bimo.
"Bim, kamu urus Amanda. Biar aku yang handel pekerjaan hari ini sendiri."
"Baik, Bos. Sepertinya jadwal hari ini tidak ada perubahan," jelas Bimo.
Affan beranjak dari duduknya. Saat akan pergi dari sana Amanda telah sadar dan keluar dari ruang pemeriksaan.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Amanda berlalu dari hadapan Affan tanpa melihat wajahnya.
Affan dan Bimo saling berpandangan. Mereka tidak percaya dengan keadaan Amanda yang pulih secepat itu.
"Apakah Anda sudah baik-baik saja, Bu Amanda?" tanya Bimo berjalan menghampirinya dengan cepat.
Amanda hanya mengangguk saja lalu menghilang dibalik pintu.
Affan menatap Dokter Gea yang berdiri di hadapan mereka. Wajahnya terlihat khawatir karena pasiennya itu memaksakan diri untuk bekerja meskipun tubuhnya tidak fit. Dia menjelaskan kepada Affan bahwa Amanda mungkin mengalami anemia dan gejala depresi.
Seharusnya saat ini Amanda beristirahat untuk pemulihan. Namun, dia mengabaikan semua saran Dokter Gea dan menolak semua resep yang dia berikan. Dia bersikukuh jika dia sehat dan tidak menderita sakit apapun.
Semua penjelasan Dokter Gea membuat Affan khawatir, tetapi dia tidak bisa memberi perhatian lebih untuk Amanda.
"Dokter, beri aku obat pereda sakit kepala." Affan memijit pelipisnya.
Dokter Gea meninggalkannya lalu kembali dengan obat yang diminta oleh Affan.
"Anda minum jika sedang pusing saja, Pak. Jika sudah tidak merasakan apapun, Anda tidak perlu meminumnya," jelas Dokter Gea.
"Terimakasih, Dok. Saya permisi!" Affan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Bimo yang sejak tadi masih menunggunya di belakangnya.
Affan langsung pergi ke ruangannya, sedangkan Bimo mengambil barang-barang miliknya dan milik Affan yang dititipkan di lobi saat Amanda pingsan.
Saat menuju ke ruangannya, Affan melewati para karyawan yang telah mulai berdatangan. Mereka menyapanya dengan sopan saat berpapasan dengannya.
Sesampainya di ruangannya, Affan segera mengambil segelas air putih lalu menelan pil pereda sakit kepala. Pekerjaannya begitu menumpuk hari ini karena kemarin dia pulang lebih awal.
Bimo masuk ke ruangannya dengan setumpuk berkas baru yang harus dia tanda tangani.
"Bos, nanti ada meeting dengan Perusahaan DDF jam dua siang, selanjutnya meeting bersama ...."
Bimo menjelaskan pekerjaan penting hari ini pada Affan.
Pekerjaan Affan yang tidak bisa ditunda membuat Aira dan Faya pulang di jemput oleh sopir kantor. Mereka memaklumi kesibukan ayahnya dan tidak banyak menuntut.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, tetapi Affan belum juga pulang. Aira terlihat khawatir. Selama beberapa hari tinggal di sana, Affan selalu pulang sore.
Aira melirik ponselnya. Dia baru ingat jika mereka belum bertukar nomor telepon satu sama lain.
"Apakah aku harus tanya Faya?" Aira tampak berpikir.
Dia hampir saja mengirim pesan untuk Faya di mana dia menanyakan nomor ponselnya Affan, tetapi urung dia lakukan.
"Kalau aku minta sama Faya, nanti aku dikira bucin lagi." Aira menyimpan ponselnya lalu pergi keluar kamar dengan membawa beberapa buah buku. Dia memutuskan untuk menunggu Affan di ruang tamu.
Orang yang sedang dipikirkan oleh Aira juga sedang memikirkannya. Dia baru selesai meeting dan bersiap untuk pulang.
"Bos, beneran tidak perlu aku antar?" tanya Bimo memastikan. Dia tahu jika kondisi tubuh Affan sedang tidak baik-baik saja.
Affan tampak berpikir. Tangan kanannya memijit-mijit tengkuknya sendiri lalu menggelengkan kepalanya untuk merenggangkan otot.
"Biar Pak Cipto saja yang membawa mobilku. Kamu pulanglah. Kasihan istrimu sedang hamil besar. Oh, iya, kamu bawa mobilku saja sudah saatnya servis rutin." Affan berjalan menuju mobil kantor yang biasa dibawa Bimo.
Bimo memanggil Pak Cipto dan memintanya untuk mengantarkan Affan dengan mobil kantor. Mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Di pertigaan jalan, sebuah mobil berhenti di tempat yang sepi. Pengemudinya segera menginjak gas dan melajukan mobilnya mengikuti mobil Affan yang dikendarai oleh Bimo. Dia tidak tahu jika bukan Affan yang ada di dalam mobil itu.
\*\*\*\*
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
💖widia aja💖
kukira jomblo bimo...hmmm meresahkan 🤭
2022-12-06
2
Anha Ruheni
ternyata Bimo sudah nikah 🤣🤣🤣
2022-11-22
2
Farida Wahyuni
menakutkan. apakah penguntit? ...
2022-10-30
2