Bab 13. Pulang Terlambat

Affan memanggil satpam dan karyawan yang sudah datang untuk membantu Bimo mengangkat tubuh Amanda ke ruang kesehatan. Di perusahaannya disediakan tempat pelayanan kesehatan dan kecelakaan kerja bagi karyawan. Ada beberapa dokter dan perawat yang berjaga dua puluh empat jam secara bergantian.

Affan tampak tegang. Dia bimbang antara mengikuti mereka atau pergi ke ruangannya sendiri.

"Huh!" Affan mendengus lalu memutuskan untuk pergi ke ruang kesehatan.

Meskipun ini bukan salahnya, dia tidak bisa bersikap tak peduli. Bagaimanapun juga Amanda adalah sahabatnya.

Amanda sedang diperiksa oleh dokter ketika dia datang. Affan menghampiri Bimo yang menunggunya di luar ruang pemeriksaan.

"Bos!" Bimo beranjak dari duduknya tetapi Affan menggerakkan tangannya agar dia tetap duduk.

Affan menarik kursi lain lalu duduk di sebelah Bimo. Wajahnya terlihat kusut. Dia kemudian mengusap wajahnya kasar lalu menoleh pada Bimo.

"Bim, kamu urus Amanda. Biar aku yang handel pekerjaan hari ini sendiri."

"Baik, Bos. Sepertinya jadwal hari ini tidak ada perubahan," jelas Bimo.

Affan beranjak dari duduknya. Saat akan pergi dari sana Amanda telah sadar dan keluar dari ruang pemeriksaan.

"Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Amanda berlalu dari hadapan Affan tanpa melihat wajahnya.

Affan dan Bimo saling berpandangan. Mereka tidak percaya dengan keadaan Amanda yang pulih secepat itu.

"Apakah Anda sudah baik-baik saja, Bu Amanda?" tanya Bimo berjalan menghampirinya dengan cepat.

Amanda hanya mengangguk saja lalu menghilang dibalik pintu.

Affan menatap Dokter Gea yang berdiri di hadapan mereka. Wajahnya terlihat khawatir karena pasiennya itu memaksakan diri untuk bekerja meskipun tubuhnya tidak fit. Dia menjelaskan kepada Affan bahwa Amanda mungkin mengalami anemia dan gejala depresi.

Seharusnya saat ini Amanda beristirahat untuk pemulihan. Namun, dia mengabaikan semua saran Dokter Gea dan menolak semua resep yang dia berikan. Dia bersikukuh jika dia sehat dan tidak menderita sakit apapun.

Semua penjelasan Dokter Gea membuat Affan khawatir, tetapi dia tidak bisa memberi perhatian lebih untuk Amanda.

"Dokter, beri aku obat pereda sakit kepala." Affan memijit pelipisnya.

Dokter Gea meninggalkannya lalu kembali dengan obat yang diminta oleh Affan.

"Anda minum jika sedang pusing saja, Pak. Jika sudah tidak merasakan apapun, Anda tidak perlu meminumnya," jelas Dokter Gea.

"Terimakasih, Dok. Saya permisi!" Affan meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Bimo yang sejak tadi masih menunggunya di belakangnya.

Affan langsung pergi ke ruangannya, sedangkan Bimo mengambil barang-barang miliknya dan milik Affan yang dititipkan di lobi saat Amanda pingsan.

Saat menuju ke ruangannya, Affan melewati para karyawan yang telah mulai berdatangan. Mereka menyapanya dengan sopan saat berpapasan dengannya.

Sesampainya di ruangannya, Affan segera mengambil segelas air putih lalu menelan pil pereda sakit kepala. Pekerjaannya begitu menumpuk hari ini karena kemarin dia pulang lebih awal.

Bimo masuk ke ruangannya dengan setumpuk berkas baru yang harus dia tanda tangani.

"Bos, nanti ada meeting dengan Perusahaan DDF jam dua siang, selanjutnya meeting bersama ...."

Bimo menjelaskan pekerjaan penting hari ini pada Affan.

Pekerjaan Affan yang tidak bisa ditunda membuat Aira dan Faya pulang di jemput oleh sopir kantor. Mereka memaklumi kesibukan ayahnya dan tidak banyak menuntut.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, tetapi Affan belum juga pulang. Aira terlihat khawatir. Selama beberapa hari tinggal di sana, Affan selalu pulang sore.

Aira melirik ponselnya. Dia baru ingat jika mereka belum bertukar nomor telepon satu sama lain.

"Apakah aku harus tanya Faya?" Aira tampak berpikir.

Dia hampir saja mengirim pesan untuk Faya di mana dia menanyakan nomor ponselnya Affan, tetapi urung dia lakukan.

"Kalau aku minta sama Faya, nanti aku dikira bucin lagi." Aira menyimpan ponselnya lalu pergi keluar kamar dengan membawa beberapa buah buku. Dia memutuskan untuk menunggu Affan di ruang tamu.

Orang yang sedang dipikirkan oleh Aira juga sedang memikirkannya. Dia baru selesai meeting dan bersiap untuk pulang.

"Bos, beneran tidak perlu aku antar?" tanya Bimo memastikan. Dia tahu jika kondisi tubuh Affan sedang tidak baik-baik saja.

Affan tampak berpikir. Tangan kanannya memijit-mijit tengkuknya sendiri lalu menggelengkan kepalanya untuk merenggangkan otot.

"Biar Pak Cipto saja yang membawa mobilku. Kamu pulanglah. Kasihan istrimu sedang hamil besar. Oh, iya, kamu bawa mobilku saja sudah saatnya servis rutin." Affan berjalan menuju mobil kantor yang biasa dibawa Bimo.

Bimo memanggil Pak Cipto dan memintanya untuk mengantarkan Affan dengan mobil kantor. Mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

Di pertigaan jalan, sebuah mobil berhenti di tempat yang sepi. Pengemudinya segera menginjak gas dan melajukan mobilnya mengikuti mobil Affan yang dikendarai oleh Bimo. Dia tidak tahu jika bukan Affan yang ada di dalam mobil itu.

\*\*\*\*

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

💖widia aja💖

💖widia aja💖

kukira jomblo bimo...hmmm meresahkan 🤭

2022-12-06

2

Anha Ruheni

Anha Ruheni

ternyata Bimo sudah nikah 🤣🤣🤣

2022-11-22

2

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

menakutkan. apakah penguntit? ...

2022-10-30

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!