Bab 7. Misi Dimulai

Faya menarik tangan Aira lalu memberikan troli yang tadi diambilnya. Dia tidak mempedulikan tatapan Aira yang terlihat kebingungan.

"Sejak kamu menikah dengan papa, kamu adalah keluargaku. Aku akan membayar semua belanjaanmu, jangan khawatir." Faya memegang bahu Aira dan mendorongnya pelan.

"Tapi ...," ucap Aira tertahan karena Faya menunjuk bibirnya sendiri agar Aira tidak lagi bicara.

Kepindahan mendadak Aira memang membuatnya tidak sempat membeli peralatan mandi. Hanya itu yang dia ambil dan dimasukkan ke dalam troli. Berbeda dengan Faya yang mengambil apa saja yang ingin dia beli.

Selain peralatan mandi dan segala keperluan untuk menunjang penampilan, Faya juga membeli beberapa alat sekolah dan kebutuhan lainnya. Dia juga membeli beberapa camilan untuk menemaninya saat belajar.

Tanpa sepengetahuan Aira, dia mengambil barang-barang yang sengaja dia beli untuknya. Faya tahu akan sifat Aira yang sangat sederhana, dia pasti merasa tidak enak karena tidak memiliki uang.

Faya melihat Aira hanya mengambil sikat gigi, pasta gigi, shampoo dan sabun mandi. Setelah itu dia hanya menemaninya berkeliling dan mendorong troli.

'Aku sangat beruntung memiliki ibu sepertimu Aira. Aku ingin tahu bagaimana reaksi teman kantor ayah saat mengetahui pernikahan kalian.' Faya tersenyum sendiri saat menunggu kasir menghitung barang belanjaannya.

"Hai, kita ketemu lagi!" sapa Steve yang mengantri di belakangnya.

Faya dan Aira menoleh padanya lalu tersenyum.

"Namaku Steve." Pemuda berwajah bule itu mengulurkan tangannya di hadapan Aira.

Aira yang tidak terbiasa bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimnya mengatupkan kedua tangannya dan menjawab, "Namaku Aira."

Faya juga melakukan hal yang sama ketika memperkenalkan dirinya.

Bukannya mundur dan merasa tidak enak, Steve malah semakin tertarik dengan kedua wanita di hadapannya itu. Mereka tidak bisa mengobrol lama karena pembayaran Faya telah selesai.

"Steve, kami duluan, ya," pamit Faya.

"Ok! Sampai ketemu lagi," balas Steve. Dia berharap setelah ini akan ada kesempatan untuk bertemu dengan keduanya.

Aira dan Faya pergi ke tempat parkir. Meskipun mobil mereka mengalami kerusakan, tetapi tidak fatal dan bisa dikendarai untuk pulang. Jarak antara super market itu dan rumah mereka cukup dekat. Kurang dari sepuluh menit mereka telah sampai di rumahnya.

Nami yang sedang membersihkan air hujan yang menggenang di teras segera datang membatu membawakan barang belanjaan milik Faya dan Aira. Keadaan ini belum terbiasa untuk Aira, dia tetap membawa tas dan barang-barang yang bisa dia bawa masuk ke dalam rumah.

"Biar Mbak Nami sama mbak Neti yang membereskan semuanya, Mam." Faya mencoba membiasakan diri untuk memanggilnya mama.

"Tidak perlu. Aku akan membawa tasku sendiri." Aira bersikukuh membawanya.

Keduanya berjalan memasuki rumah besar milik Affan lalu duduk di ruang keluarga. Faya ingin membagi barang belanjaan yang sedang dibawa oleh Nami dan Neti.

Aira terkejut ketika Faya memberikan beberapa barang yang tidak dia ambil dari etalase.

"Ini ... Ini milikmu, Faya." Aira hanya mengambil peralatan mandi yang dia beli.

Faya tersenyum lalu merangkul bahu Aira dengan lembut. Wajah polos Aira membuatnya gemas. Dia tidak percaya jika masih ada anak muda di jaman modern seperti ini menolak dibelanjakan.

"Aku sengaja membelikan untukmu. Kamu butuh itu semua. Mengenai camilan, kamu bisa mengambilnya jika kamu suka. Sungguh aku tidak tahu snack favoritmu."

Aira menatap Faya dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan. Dia mengungkapkan rasa terimakasihnya dalam sebuah pelukan.

"Kamu memang sangat pengertian, Faya. Terimakasih." Aira merasa terharu dan menitikkan air matanya.

Mereka berbicara untuk saling menguatkan. Persahabatan yang mereka jalin selama ini tidak mengungkapkan segala kekurangan Aira. Faya bahkan tidak tahu jika Aira memiliki masalah dengan keluarganya.

Mulai saat ini Faya berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Aira merasakan kebahagiaan. Bagaimanapun caranya, dia akan membuatnya jatuh cinta pada ayahnya dan selamanya menjadi ibunya.

'Ini adalah misi. Aku harus membuatmu menjadi ibuku yang sesungguhnya Aira.' Faya bermonolog dalam hati.

"Ehemm!" Suara deheman membuat keduanya melepaskan pelukan mereka. Affan telah berdiri di belakang mereka sejak beberapa saat yang lalu.

"Ayah. Sejak kapan ayah berdiri di sana?" tanya Faya yang langsung berdiri dan mencium punggung tangannya.

Aira terlihat canggung mengikuti apa yang dilakukan oleh Faya. Affan pun sama canggungnya dan tidak berkata apapun padanya.

Faya melirik ayah dan mama barunya itu bergantian.

"Sampai kapan kalian akan bersikap dingin. Apakah aku juga akan seperti ini juga jika menikah nanti?" Faya membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ayah pergi ke kamar dulu. Mau mandi." Affan mencari alasan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan putrinya.

Faya membiarkannya saja karena ayahnya memang terbiasa langsung mandi sepulang kerja.

"Mam, kamu siapin baju buat ayah, gih. Kamu juga harus mandi dan istirahat juga." Faya mengingatkan Aira akan tugas barunya.

Aira menatap Faya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, antara syok, bingung, sedikit penolakan tetapi juga pasrah.

"Aku tahu kamu belum siap, tapi sampai kapan? Jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Mam. Dosa!"

Setiap kali mendengar kata dosa, hati Aira melembut. Apapun bisa terjadi atas kehendak-Nya, mungkin apa yang terjadi padanya saat ini adalah ladang amalnya. Aira harus belajar ikhlas menjalaninya.

"Ah, iya. Aku juga belum sholat Ashar." Aira berdiri dan membereskan barang-barang miliknya.

Sebenarnya Faya juga tidak tega melihat teman sebayanya itu harus menjalani kehidupan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia juga berdiri dan menemaninya melangkah. Ketika keduanya sampai di depan kamar Affan, Aira terlihat malu-malu.

"Masuklah! Tidak ada yang perlu kamu takutkan," ucap Faya mengangguk lalu tersenyum pada Aira.

Aira membalasnya dengan anggukan lalu berjalan menghampiri pintu. Dia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali tetapi Affan tidak juga membukakannya. Faya masih menunggunya untuk memberinya dukungan.

Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka. Faya tidak melihat wajah ayahnya tetapi mendengar suaranya yang mempersilakan Aira untuk masuk. Setelah itu, dia tidak ingin tahu urusan mereka dan memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri.

Affan yang baru keluar dari kamar mandi belum sempat mengenakan pakaian lengkap. Dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya karena terburu-buru ingin membukakan pintu untuk Aira.

Melihat hal itu, Aira terlihat sangat malu dan melihat ke arah lain. Pemandangan tidak biasa ini membuatnya menjadi salah tingkah.

"Maaf, Aira aku terburu-buru tadi." Affan segera meninggalkan Aira untuk mengambil baju lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya.

"Huft!" Aira menghembuskan napasnya kasar. Tangannya memegangi dadanya yang berdegup kencang. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.

'Apakah setiap hari aku akan melihat pemandangan seperti ini? Meskipun dia telah halal bagiku tapi aku belum siap, ya, Allah.' Aira meletakkan barang-barang miliknya di atas sebuah meja. Dia terduduk lesu pada sebuah kursi sambil memandangi tumpukan buku miliknya yang tertata rapi di atasnya.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Cih modus 😂

2023-06-13

0

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

udah lah aira kamu bisakan aja lihat yang bening bening,,,, itu kan halal ga pa pa

2022-12-26

1

Masyitah Ellysa

Masyitah Ellysa

next yaa author 😘💓

2022-10-20

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!