Faya menarik tangan Aira lalu memberikan troli yang tadi diambilnya. Dia tidak mempedulikan tatapan Aira yang terlihat kebingungan.
"Sejak kamu menikah dengan papa, kamu adalah keluargaku. Aku akan membayar semua belanjaanmu, jangan khawatir." Faya memegang bahu Aira dan mendorongnya pelan.
"Tapi ...," ucap Aira tertahan karena Faya menunjuk bibirnya sendiri agar Aira tidak lagi bicara.
Kepindahan mendadak Aira memang membuatnya tidak sempat membeli peralatan mandi. Hanya itu yang dia ambil dan dimasukkan ke dalam troli. Berbeda dengan Faya yang mengambil apa saja yang ingin dia beli.
Selain peralatan mandi dan segala keperluan untuk menunjang penampilan, Faya juga membeli beberapa alat sekolah dan kebutuhan lainnya. Dia juga membeli beberapa camilan untuk menemaninya saat belajar.
Tanpa sepengetahuan Aira, dia mengambil barang-barang yang sengaja dia beli untuknya. Faya tahu akan sifat Aira yang sangat sederhana, dia pasti merasa tidak enak karena tidak memiliki uang.
Faya melihat Aira hanya mengambil sikat gigi, pasta gigi, shampoo dan sabun mandi. Setelah itu dia hanya menemaninya berkeliling dan mendorong troli.
'Aku sangat beruntung memiliki ibu sepertimu Aira. Aku ingin tahu bagaimana reaksi teman kantor ayah saat mengetahui pernikahan kalian.' Faya tersenyum sendiri saat menunggu kasir menghitung barang belanjaannya.
"Hai, kita ketemu lagi!" sapa Steve yang mengantri di belakangnya.
Faya dan Aira menoleh padanya lalu tersenyum.
"Namaku Steve." Pemuda berwajah bule itu mengulurkan tangannya di hadapan Aira.
Aira yang tidak terbiasa bersentuhan dengan pria yang bukan muhrimnya mengatupkan kedua tangannya dan menjawab, "Namaku Aira."
Faya juga melakukan hal yang sama ketika memperkenalkan dirinya.
Bukannya mundur dan merasa tidak enak, Steve malah semakin tertarik dengan kedua wanita di hadapannya itu. Mereka tidak bisa mengobrol lama karena pembayaran Faya telah selesai.
"Steve, kami duluan, ya," pamit Faya.
"Ok! Sampai ketemu lagi," balas Steve. Dia berharap setelah ini akan ada kesempatan untuk bertemu dengan keduanya.
Aira dan Faya pergi ke tempat parkir. Meskipun mobil mereka mengalami kerusakan, tetapi tidak fatal dan bisa dikendarai untuk pulang. Jarak antara super market itu dan rumah mereka cukup dekat. Kurang dari sepuluh menit mereka telah sampai di rumahnya.
Nami yang sedang membersihkan air hujan yang menggenang di teras segera datang membatu membawakan barang belanjaan milik Faya dan Aira. Keadaan ini belum terbiasa untuk Aira, dia tetap membawa tas dan barang-barang yang bisa dia bawa masuk ke dalam rumah.
"Biar Mbak Nami sama mbak Neti yang membereskan semuanya, Mam." Faya mencoba membiasakan diri untuk memanggilnya mama.
"Tidak perlu. Aku akan membawa tasku sendiri." Aira bersikukuh membawanya.
Keduanya berjalan memasuki rumah besar milik Affan lalu duduk di ruang keluarga. Faya ingin membagi barang belanjaan yang sedang dibawa oleh Nami dan Neti.
Aira terkejut ketika Faya memberikan beberapa barang yang tidak dia ambil dari etalase.
"Ini ... Ini milikmu, Faya." Aira hanya mengambil peralatan mandi yang dia beli.
Faya tersenyum lalu merangkul bahu Aira dengan lembut. Wajah polos Aira membuatnya gemas. Dia tidak percaya jika masih ada anak muda di jaman modern seperti ini menolak dibelanjakan.
"Aku sengaja membelikan untukmu. Kamu butuh itu semua. Mengenai camilan, kamu bisa mengambilnya jika kamu suka. Sungguh aku tidak tahu snack favoritmu."
Aira menatap Faya dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan. Dia mengungkapkan rasa terimakasihnya dalam sebuah pelukan.
"Kamu memang sangat pengertian, Faya. Terimakasih." Aira merasa terharu dan menitikkan air matanya.
Mereka berbicara untuk saling menguatkan. Persahabatan yang mereka jalin selama ini tidak mengungkapkan segala kekurangan Aira. Faya bahkan tidak tahu jika Aira memiliki masalah dengan keluarganya.
Mulai saat ini Faya berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Aira merasakan kebahagiaan. Bagaimanapun caranya, dia akan membuatnya jatuh cinta pada ayahnya dan selamanya menjadi ibunya.
'Ini adalah misi. Aku harus membuatmu menjadi ibuku yang sesungguhnya Aira.' Faya bermonolog dalam hati.
"Ehemm!" Suara deheman membuat keduanya melepaskan pelukan mereka. Affan telah berdiri di belakang mereka sejak beberapa saat yang lalu.
"Ayah. Sejak kapan ayah berdiri di sana?" tanya Faya yang langsung berdiri dan mencium punggung tangannya.
Aira terlihat canggung mengikuti apa yang dilakukan oleh Faya. Affan pun sama canggungnya dan tidak berkata apapun padanya.
Faya melirik ayah dan mama barunya itu bergantian.
"Sampai kapan kalian akan bersikap dingin. Apakah aku juga akan seperti ini juga jika menikah nanti?" Faya membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ayah pergi ke kamar dulu. Mau mandi." Affan mencari alasan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan putrinya.
Faya membiarkannya saja karena ayahnya memang terbiasa langsung mandi sepulang kerja.
"Mam, kamu siapin baju buat ayah, gih. Kamu juga harus mandi dan istirahat juga." Faya mengingatkan Aira akan tugas barunya.
Aira menatap Faya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, antara syok, bingung, sedikit penolakan tetapi juga pasrah.
"Aku tahu kamu belum siap, tapi sampai kapan? Jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Mam. Dosa!"
Setiap kali mendengar kata dosa, hati Aira melembut. Apapun bisa terjadi atas kehendak-Nya, mungkin apa yang terjadi padanya saat ini adalah ladang amalnya. Aira harus belajar ikhlas menjalaninya.
"Ah, iya. Aku juga belum sholat Ashar." Aira berdiri dan membereskan barang-barang miliknya.
Sebenarnya Faya juga tidak tega melihat teman sebayanya itu harus menjalani kehidupan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia juga berdiri dan menemaninya melangkah. Ketika keduanya sampai di depan kamar Affan, Aira terlihat malu-malu.
"Masuklah! Tidak ada yang perlu kamu takutkan," ucap Faya mengangguk lalu tersenyum pada Aira.
Aira membalasnya dengan anggukan lalu berjalan menghampiri pintu. Dia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali tetapi Affan tidak juga membukakannya. Faya masih menunggunya untuk memberinya dukungan.
Tidak lama kemudian pintu kamar itu terbuka. Faya tidak melihat wajah ayahnya tetapi mendengar suaranya yang mempersilakan Aira untuk masuk. Setelah itu, dia tidak ingin tahu urusan mereka dan memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri.
Affan yang baru keluar dari kamar mandi belum sempat mengenakan pakaian lengkap. Dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya karena terburu-buru ingin membukakan pintu untuk Aira.
Melihat hal itu, Aira terlihat sangat malu dan melihat ke arah lain. Pemandangan tidak biasa ini membuatnya menjadi salah tingkah.
"Maaf, Aira aku terburu-buru tadi." Affan segera meninggalkan Aira untuk mengambil baju lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya.
"Huft!" Aira menghembuskan napasnya kasar. Tangannya memegangi dadanya yang berdegup kencang. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya.
'Apakah setiap hari aku akan melihat pemandangan seperti ini? Meskipun dia telah halal bagiku tapi aku belum siap, ya, Allah.' Aira meletakkan barang-barang miliknya di atas sebuah meja. Dia terduduk lesu pada sebuah kursi sambil memandangi tumpukan buku miliknya yang tertata rapi di atasnya.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cih modus 😂
2023-06-13
0
Erna Fadhilah
udah lah aira kamu bisakan aja lihat yang bening bening,,,, itu kan halal ga pa pa
2022-12-26
1
Masyitah Ellysa
next yaa author 😘💓
2022-10-20
2