Bab 15. Kerokan

Pandangan mata Aira mengedar ke setiap sudut ruangan, tetapi dia tidak menemukan Affan di sana. Dia lalu meletakkan kembali mukena yang akan dikenakan untuk shalat dan bersiap untuk keluar.

Baru beberapa langkah dia berjalan, Affan membuka pintu dan memasuki kamar dengan membawa secangkir besar teh herbal. Hujan yang terus-menerus turun beberapa hari ini membuat kondisi fisiknya menurun. Belum lagi masalah pribadinya dengan Amanda yang begitu rumit.

"Om Affan, ke dapur sendiri? Mengapa tadi tidak memintaku saja untuk membuat teh?" Aira terlihat tidak enak dan merasa dirinya bukan istri yang baik.

"Aku sudah baik-baik saja Aira. Akhir-akhir ini aku sering kehujanan. Mungkin juga ketahanan fisikku sedang menurun," jelas Affan.

"Lain kali, Om Affan tidak perlu repot-repot untuk membuat teh sendiri. Biar aku saja." Aira bersikeras dengan pendapatnya.

Affan mengangguk. Dia tahu jika Aira sangat mengkhawatirkannya.

"Lanjutkan sholatmu, nanti batal lho." Affan duduk di depan meja belajar Aira.

Aira tersenyum malu. Hampir saja dia lupa karena terbengong menatap Affan yang sedang menyeruput tehnya.

Butuh waktu beberapa saat bagi Aira untuk fokus dengan sholatnya. Dia merasa diawasi saat Affan berada didekatnya. Meskipun ada perasaan tidak biasa, Aira mencoba untuk khusuk.

Affan masih berada di tempatnya ketika Aira selesai sholat. Wajahnya yang teduh membuat hatinya berkesan. Ribuan kali Aira menepis rasa kagumnya, dua kali lebih banyak perasaan itu datang.

"Om Affan tidak tidur lagi? Sekarang baru jam ...." Aira menoleh ke arah jam dinding.

"Jam setengah tiga," lanjutnya.

Affan meletakkan cangkirnya di atas meja lalu berjalan mendekati Aira.

"Bolehkah aku meminta bantuanmu?" tanya Affan dengan wajah yang sedikit malu. Dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan ini.

"Boleh, Om." Aira tidak berpikir macam-macam.

Affan mengambil krim pereda nyeri otot lalu memberikannya pada Aira. Setelah itu dia pergi ke tempat tidurnya dan membuka hem kantornya yang belum ganti sejak pulang kerja.

Aira menunduk malu dan memutar tubuhnya membelakangi Affan. Dirinya merasa canggung tetapi tetap melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Affan memintanya untuk menggosok punggungnya dengan krim itu.

"Saat ibuku masih ada, beliau memberiku balsem dan mengerik punggungku dengan uang koin," cerita Aira.

Meskipun orang kota, Affan juga tahu 'kerokan', istilah untuk mengerik kulit di bagian punggung dan bahu hingga berwarna merah. Orang tuanya dulu juga pernah melakukan hal ini padanya sewaktu masih kecil.

"Aku juga pernah kerokan. Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Affan. Sudah lama dia tidak kerokan tetapi dia ingat jika itu bisa meredakan pusing dan badan pegal-pegal akibat masuk angin.

"Bisa," jawab Aira.

Aira beranjak untuk mengambil koin. Tidak lama kemudian dia kembali ke tempat tidur.

Affan kembali menelungkupkan badannya ketika Aira datang. Sebenarnya dia juga merasa malu menunjukkan tubuh atletisnya pada istri kecilnya itu.

'Om Affan masih terlihat muda meskipun umurnya sudah hampir berkepala empat. Tubuhnya juga terlihat bagus,' gumam Aira dalam hati saat melihat tubuh Affan sambil menggerakkan koin ditangannya.

'Astaghfirullah, apa yang kupikirkan?' Aira kembali bergumam dan berusaha untuk tidak tergoda melihat tubuh bagus Affan.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Aira membereskan semuanya dan mencuci tangannya di wastafel. Butuh waktu yang sedikit lama untuk menghilangkan sisa-sisa balsem krim yang menempel ditangannya. Beberapa kali Aira mencium aromanya, setelah benar-benar bersih dia pun menyudahi cuci tangannya.

Sensasi panas dan sejuk masih terasa di tangannya, Aira mengeringkannya lalu meredamnya dengan bedak tabur bayi. Seketika efek balsem itu menghilang.

Affan telah tertidur saat Aira kembali ke sisinya. Mereka pun kembali terlelap.

Ponsel Aira berdering. Dia memasang alarm untuk membangunkannya sholat subuh. Dalam keadaan setengah sadar Aira mematikannya dan kembali tidur. Alarm itu berbunyi lagi setiap sepuluh menit. Namun, lagi-lagi Aira mematikannya.

Hingga sepuluh menit ke-empat berbunyi Aira baru terbangun dengan malas.

"Astagfirullah!" pekiknya.

Suara keras Aira membuat Affan ikut terbangun. Waktu untuk sholat subuh sudah lewat tiga puluh menit yang lalu. Mereka pun bergegas untuk menunaikannya.

Affan tidak pergi kerja hari ini. Sebenarnya hari Sabtu para karyawan masuk setengah hari. Dia tidak ingin berangkat kerja hari ini dan meminta Bimo untuk menggantikan tugasnya.

Lain dengan Affan, Aira mengisi waktu liburnya untuk memasak. Dia pergi ke dapur dan membuat sarapan sesuai keinginannya. Sudah lama dia tidak memasak menu kesukaannya sewaktu tinggal di Solo, yaitu capcay dan timlo.

"Nyonya muda pandai memasak rupanya," puji Bi Sumi.

"Sedikit saja Bi," jawab Aira sambil tersenyum ramah pada Bi Sumi.

Affan memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya diam-diam. Dia sengaja tidak muncul dan hanya melihatnya dari balik pintu saja.

****

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Perrii Lasmacgk

Perrii Lasmacgk

lanjut

2022-11-02

2

May Ubaidillah

May Ubaidillah

benih" cinta mulai tumbuh, affaan n aira hrs bersatu hempaskan hama pengganggu

2022-11-02

2

Nigina

Nigina

Lanjut ditunggu kak..

2022-11-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!