Pandangan mata Aira mengedar ke setiap sudut ruangan, tetapi dia tidak menemukan Affan di sana. Dia lalu meletakkan kembali mukena yang akan dikenakan untuk shalat dan bersiap untuk keluar.
Baru beberapa langkah dia berjalan, Affan membuka pintu dan memasuki kamar dengan membawa secangkir besar teh herbal. Hujan yang terus-menerus turun beberapa hari ini membuat kondisi fisiknya menurun. Belum lagi masalah pribadinya dengan Amanda yang begitu rumit.
"Om Affan, ke dapur sendiri? Mengapa tadi tidak memintaku saja untuk membuat teh?" Aira terlihat tidak enak dan merasa dirinya bukan istri yang baik.
"Aku sudah baik-baik saja Aira. Akhir-akhir ini aku sering kehujanan. Mungkin juga ketahanan fisikku sedang menurun," jelas Affan.
"Lain kali, Om Affan tidak perlu repot-repot untuk membuat teh sendiri. Biar aku saja." Aira bersikeras dengan pendapatnya.
Affan mengangguk. Dia tahu jika Aira sangat mengkhawatirkannya.
"Lanjutkan sholatmu, nanti batal lho." Affan duduk di depan meja belajar Aira.
Aira tersenyum malu. Hampir saja dia lupa karena terbengong menatap Affan yang sedang menyeruput tehnya.
Butuh waktu beberapa saat bagi Aira untuk fokus dengan sholatnya. Dia merasa diawasi saat Affan berada didekatnya. Meskipun ada perasaan tidak biasa, Aira mencoba untuk khusuk.
Affan masih berada di tempatnya ketika Aira selesai sholat. Wajahnya yang teduh membuat hatinya berkesan. Ribuan kali Aira menepis rasa kagumnya, dua kali lebih banyak perasaan itu datang.
"Om Affan tidak tidur lagi? Sekarang baru jam ...." Aira menoleh ke arah jam dinding.
"Jam setengah tiga," lanjutnya.
Affan meletakkan cangkirnya di atas meja lalu berjalan mendekati Aira.
"Bolehkah aku meminta bantuanmu?" tanya Affan dengan wajah yang sedikit malu. Dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan ini.
"Boleh, Om." Aira tidak berpikir macam-macam.
Affan mengambil krim pereda nyeri otot lalu memberikannya pada Aira. Setelah itu dia pergi ke tempat tidurnya dan membuka hem kantornya yang belum ganti sejak pulang kerja.
Aira menunduk malu dan memutar tubuhnya membelakangi Affan. Dirinya merasa canggung tetapi tetap melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Affan memintanya untuk menggosok punggungnya dengan krim itu.
"Saat ibuku masih ada, beliau memberiku balsem dan mengerik punggungku dengan uang koin," cerita Aira.
Meskipun orang kota, Affan juga tahu 'kerokan', istilah untuk mengerik kulit di bagian punggung dan bahu hingga berwarna merah. Orang tuanya dulu juga pernah melakukan hal ini padanya sewaktu masih kecil.
"Aku juga pernah kerokan. Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Affan. Sudah lama dia tidak kerokan tetapi dia ingat jika itu bisa meredakan pusing dan badan pegal-pegal akibat masuk angin.
"Bisa," jawab Aira.
Aira beranjak untuk mengambil koin. Tidak lama kemudian dia kembali ke tempat tidur.
Affan kembali menelungkupkan badannya ketika Aira datang. Sebenarnya dia juga merasa malu menunjukkan tubuh atletisnya pada istri kecilnya itu.
'Om Affan masih terlihat muda meskipun umurnya sudah hampir berkepala empat. Tubuhnya juga terlihat bagus,' gumam Aira dalam hati saat melihat tubuh Affan sambil menggerakkan koin ditangannya.
'Astaghfirullah, apa yang kupikirkan?' Aira kembali bergumam dan berusaha untuk tidak tergoda melihat tubuh bagus Affan.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Aira membereskan semuanya dan mencuci tangannya di wastafel. Butuh waktu yang sedikit lama untuk menghilangkan sisa-sisa balsem krim yang menempel ditangannya. Beberapa kali Aira mencium aromanya, setelah benar-benar bersih dia pun menyudahi cuci tangannya.
Sensasi panas dan sejuk masih terasa di tangannya, Aira mengeringkannya lalu meredamnya dengan bedak tabur bayi. Seketika efek balsem itu menghilang.
Affan telah tertidur saat Aira kembali ke sisinya. Mereka pun kembali terlelap.
Ponsel Aira berdering. Dia memasang alarm untuk membangunkannya sholat subuh. Dalam keadaan setengah sadar Aira mematikannya dan kembali tidur. Alarm itu berbunyi lagi setiap sepuluh menit. Namun, lagi-lagi Aira mematikannya.
Hingga sepuluh menit ke-empat berbunyi Aira baru terbangun dengan malas.
"Astagfirullah!" pekiknya.
Suara keras Aira membuat Affan ikut terbangun. Waktu untuk sholat subuh sudah lewat tiga puluh menit yang lalu. Mereka pun bergegas untuk menunaikannya.
Affan tidak pergi kerja hari ini. Sebenarnya hari Sabtu para karyawan masuk setengah hari. Dia tidak ingin berangkat kerja hari ini dan meminta Bimo untuk menggantikan tugasnya.
Lain dengan Affan, Aira mengisi waktu liburnya untuk memasak. Dia pergi ke dapur dan membuat sarapan sesuai keinginannya. Sudah lama dia tidak memasak menu kesukaannya sewaktu tinggal di Solo, yaitu capcay dan timlo.
"Nyonya muda pandai memasak rupanya," puji Bi Sumi.
"Sedikit saja Bi," jawab Aira sambil tersenyum ramah pada Bi Sumi.
Affan memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya diam-diam. Dia sengaja tidak muncul dan hanya melihatnya dari balik pintu saja.
****
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Perrii Lasmacgk
lanjut
2022-11-02
2
May Ubaidillah
benih" cinta mulai tumbuh, affaan n aira hrs bersatu hempaskan hama pengganggu
2022-11-02
2
Nigina
Lanjut ditunggu kak..
2022-11-01
1