Affan tidak mempedulikan ucapan Faya. Putrinya itu memang sangat suka bercanda. Aira pun tidak menanggapinya dengan serius. Setahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal watak sahabatnya itu.
Jika makan di sore hari, mereka sangat jarang makan lagi di malam hari. Paling hanya memakan camilan atau sekedar minum jus saja. Begitu juga dengan malam ini, mereka meminta Bi Sumi dan yang lainnya untuk membereskan semuanya dan beristirahat.
Faya bergegas ke kamarnya lebih dulu karena belum mandi dan berganti pakaian sejak pulang dari les. Affan membereskan file yang di bawa Amanda, sedangkan Aira mengambil air putih untuk di bawa ke kamar.
Ada beberapa tugas penting yang harus dia kerjakan malam ini. Mendekati ujian nasional, beberapa guru memberinya kisi-kisi berupa soal prediksi. Faya mengajaknya untuk mengikuti les privat bersamanya, tetapi dia menolak dan memilih untuk belajar sendiri.
Aira termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Meskipun dia berasal dari pinggiran kota Solo, kecerdasannya tidak kalah dengan para siswa yang mengikuti beberapa bimbingan belajar bergengsi. Biaya bimbingan belajar sangat mahal, dia merasa sayang untuk itu.
Biasanya Affan mengerjakan tugas kantor di ruang kerjanya. Namun, tidak untuk malam ini. Dia membawa semua file miliknya itu ke kamarnya.
"Aira, apakah kamu benar-benar tidak ingin ikut bimbingan belajar seperti Faya?" tanya Affan saat melihat Aira begitu serius dengan buku-bukunya.
"Tidak perlu, Om. Aku masih bisa mengatasi semua ini sendiri. Semua pelajaran ini tidak terlalu sulit," ucapnya sambil tersenyum pada Affan
"Ya, sudah kalau begitu. Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa bilang padaku." Affan juga kembali fokus dengan pekerjaannya sendiri.
"Terimakasih, Om." Aira juga kembali fokus dengan tugasnya.
Satu persatu soal-soal selesai dia kerjakan. Matanya sudah sangat mengantuk, tetapi masih ada satu tugas untuk lusa yang ingin dia kerjakan sekalian. Sekuat apapun dia menahannya, rasa kantuk yang menyerangnya akhirnya membuatnya tertidur di atas meja belajarnya.
Affan telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup laptopnya lalu membuka kacamatanya. Pandangannya berhenti pada Aira yang masih duduk di depan meja belajar.
Punggung dan kakinya terasa pegal karena duduk terlalu lama. Affan merenggangkan tubuhnya dengan melakukan gerakan ringan lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Aira.
"Aira, apakah kamu belum selesai?" tanya Affan sambil berjalan menghampirinya.
"Aira!" panggil Affan lagi.
Setelah berada di sampingnya, Affan melambaikan tangannya di depan wajah Aira. Istrinya itu tidak bergerak sedikitpun.
"Hmm ... pantas saja aku panggil diam saja. Rupanya sudah tidur." Affan menggelengkan kepalanya.
Dia berjalan meninggalkan Aira untuk mengambil selimut. Namun, baru beberapa langkah dia berhenti lalu kembali menghampiri Aira. Tubuhnya akan mengalami kram dan salah otot jika tidur seperti itu sepanjang malam. Affan memberanikan diri untuk mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur.
'Tubuh kamu ringan sekali, Aira. Kamu kurus.' Affan memandangi wajah cantik Aira yang terlihat begitu tenang ketika tertidur.
Affan membaringkan tubuh Aira dengan hati-hati di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya. Beberapa saat Affan berdiri di sampingnya dan memandanginya tanpa berkedip. Sebagai pria yang telah begitu lama menduda, di hatinya pun timbul hasrat untuk merasakan kehangatan seorang wanita.
Dadanya terasa bergemuruh menahan gejolak yang mengobrak-abrik jiwa lelakinya. Affan berjalan mundur dan menahan dirinya untuk menyentuh Aira meskipun dia telah halal baginya.
"Ya, Allah, perasaan ini membuatku tersiksa. Aku tidak bisa egois dan memintanya untuk menuruti hawa nafsuku." Affan berjalan ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas terbakar gairah.
Ini adalah hal yang sangat tidak di harapkan oleh Affan. Namun, setiap pria kesepian pasti akan mengalaminya. Setiap orang menghadapinya dengan caranya masing-masing dan terkadang memilih jalan yang salah untuk mengatasinya.
Affan merasa lebih baik setelah mandi dengan air dingin. Dia memutuskan untuk melaksanakan sholat malam sebelum dia tidur. Hatinya benar-benar kacau, hanya dengan mengadu pada Sang Pencipta dia akan merasa tenang.
Setelah merasa lebih baik Affan menyusul Aira tidur tanpa berani menatapnya terlalu lama.
Mobil yang biasa digunakan untuk mengantar jemput Faya dan Aira belum selesai diperbaiki. Affan tidak akan membiarkan anak dan istrinya pergi naik taksi atau angkutan umum. Baginya, mereka adalah amanah yang harus benar-benar dia jaga.
Affan rela mengurangi pekerjaannya dan pulang lebih awal untuk menjemput keduanya. Sebagai Direktur Utama, tidak ada orang yang berani untuk memerintahnya.
Hari masih sangat pagi ketika Affan sampai di kantornya. Belum banyak karyawan perusahaan itu yang datang ketika dia tiba di sana. Begitu juga dengan Amanda. Namun, pagi ini dia sudah berdiri di lobi ketika Affan datang.
Affan memberinya tatapan yang tak biasa. Amanda bukanlah orang yang on time, dia sering terlambat masuk kantor dengan berbagai alasan. Namun, pagi ini dia datang lebih pagi dari Affan.
Wajahnya yang terbiasa full make up terlihat hanya berdandan seadanya. Matanya terlihat sembab ketika dia membuka kacamata hitamnya. Bahkan masih ada titik-titik air yang menggantung di bulu matanya.
"Mas Affan, aku ingin bicara denganmu." Amanda hendak meraih tangan Affan tetapi Affan menariknya lalu mundur beberapa langkah
"Kita bicara di sini saja, Amanda. Aku tidak ingin ada fitnah. Saat ini aku sudah menikah, ada hati yang harus aku jaga."
Affan bersikap tegas. Selama ini dia hanya diam menghadapi sikap Amanda. Namun, kali ini dia memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya.
"Jadi ... wanita muda itu benar-benar istrimu. Bagaimana mungkin? Kapan kamu menikah kamu hanya ingin menjauhiku saja bukan?" Suara Amanda terdengar parau, dia berbicara dengan setengah berteriak.
Di kejauhan, Bimo, assisten pribadi Affan berjalan tergesa untuk menghampirinya. Dia melihat Affan dan Amanda sedang berdebat dan berniat untuk melerainya.
"Bos!" Bimo terlihat ngos-ngosan saat tiba di hadapan Affan dan Amanda.
Affan merasa lega melihat Bimo datang.
"Bim, apakah surat nikahku sudah jadi?" tanya Affan menahan amarah.
"Sudah, Bos!" Bimo membuka tas kantornya lalu mengeluarkan sepasang buku nikah dan memberikannya pada Affan.
Affan membuka buku nikah itu dan menunjukkannya pada Amanda. Buku nikah itu sudah memiliki stempel resmi dari Kantor Urusan Agama meskipun Affan dan Aira belum menandatanganinya. Bukan itu saja, Affan juga meminta Bimo untuk mengeluarkan surat nikah syariah yang telah ditandatangani sebelum mereka mencatatkan pernikahan di Kantor Urusan Agama.
Amanda berdiri mematung sambil menatap nanar bukti-bukti itu. Air matanya sudah tidak keluar lagi tetapi wajahnya masih terlihat syok. Matanya terlihat sayu dan tubuhnya tiba-tiba limbung.
Beruntung Bimo segera menyadarinya dan segera menangkap tubuhnya sebelum tumbang ke belakang.
"Bu Amanda!" teriak Bimo.
\*\*\*\*
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Ani Vabbiani
suka thor sama ceritanya
2023-06-15
0
Qaisaa Nazarudin
Harusnya sebagai wanita yg berpendidikan itu,Sekali dua kali di tolak,Harus mundur dan berusaha utk move on,dan mejaga harga diri, jgn sampai harga diri terlihat rendah dihadapan lelaki,.
2023-06-13
0
Anha Ruheni
tenang Manda ,nanti dikasih jodoh sama otor ,mungkin Bimo
2022-11-22
2