Bab 12. Pernikahan yang Sah

Affan tidak mempedulikan ucapan Faya. Putrinya itu memang sangat suka bercanda. Aira pun tidak menanggapinya dengan serius. Setahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal watak sahabatnya itu.

Jika makan di sore hari, mereka sangat jarang makan lagi di malam hari. Paling hanya memakan camilan atau sekedar minum jus saja. Begitu juga dengan malam ini, mereka meminta Bi Sumi dan yang lainnya untuk membereskan semuanya dan beristirahat.

Faya bergegas ke kamarnya lebih dulu karena belum mandi dan berganti pakaian sejak pulang dari les. Affan membereskan file yang di bawa Amanda, sedangkan Aira mengambil air putih untuk di bawa ke kamar.

Ada beberapa tugas penting yang harus dia kerjakan malam ini. Mendekati ujian nasional, beberapa guru memberinya kisi-kisi berupa soal prediksi. Faya mengajaknya untuk mengikuti les privat bersamanya, tetapi dia menolak dan memilih untuk belajar sendiri.

Aira termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Meskipun dia berasal dari pinggiran kota Solo, kecerdasannya tidak kalah dengan para siswa yang mengikuti beberapa bimbingan belajar bergengsi. Biaya bimbingan belajar sangat mahal, dia merasa sayang untuk itu.

Biasanya Affan mengerjakan tugas kantor di ruang kerjanya. Namun, tidak untuk malam ini. Dia membawa semua file miliknya itu ke kamarnya.

"Aira, apakah kamu benar-benar tidak ingin ikut bimbingan belajar seperti Faya?" tanya Affan saat melihat Aira begitu serius dengan buku-bukunya.

"Tidak perlu, Om. Aku masih bisa mengatasi semua ini sendiri. Semua pelajaran ini tidak terlalu sulit," ucapnya sambil tersenyum pada Affan

"Ya, sudah kalau begitu. Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa bilang padaku." Affan juga kembali fokus dengan pekerjaannya sendiri.

"Terimakasih, Om." Aira juga kembali fokus dengan tugasnya.

Satu persatu soal-soal selesai dia kerjakan. Matanya sudah sangat mengantuk, tetapi masih ada satu tugas untuk lusa yang ingin dia kerjakan sekalian. Sekuat apapun dia menahannya, rasa kantuk yang menyerangnya akhirnya membuatnya tertidur di atas meja belajarnya.

Affan telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menutup laptopnya lalu membuka kacamatanya. Pandangannya berhenti pada Aira yang masih duduk di depan meja belajar.

Punggung dan kakinya terasa pegal karena duduk terlalu lama. Affan merenggangkan tubuhnya dengan melakukan gerakan ringan lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Aira.

"Aira, apakah kamu belum selesai?" tanya Affan sambil berjalan menghampirinya.

"Aira!" panggil Affan lagi.

Setelah berada di sampingnya, Affan melambaikan tangannya di depan wajah Aira. Istrinya itu tidak bergerak sedikitpun.

"Hmm ... pantas saja aku panggil diam saja. Rupanya sudah tidur." Affan menggelengkan kepalanya.

Dia berjalan meninggalkan Aira untuk mengambil selimut. Namun, baru beberapa langkah dia berhenti lalu kembali menghampiri Aira. Tubuhnya akan mengalami kram dan salah otot jika tidur seperti itu sepanjang malam. Affan memberanikan diri untuk mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur.

'Tubuh kamu ringan sekali, Aira. Kamu kurus.' Affan memandangi wajah cantik Aira yang terlihat begitu tenang ketika tertidur.

Affan membaringkan tubuh Aira dengan hati-hati di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya. Beberapa saat Affan berdiri di sampingnya dan memandanginya tanpa berkedip. Sebagai pria yang telah begitu lama menduda, di hatinya pun timbul hasrat untuk merasakan kehangatan seorang wanita.

Dadanya terasa bergemuruh menahan gejolak yang mengobrak-abrik jiwa lelakinya. Affan berjalan mundur dan menahan dirinya untuk menyentuh Aira meskipun dia telah halal baginya.

"Ya, Allah, perasaan ini membuatku tersiksa. Aku tidak bisa egois dan memintanya untuk menuruti hawa nafsuku." Affan berjalan ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas terbakar gairah.

Ini adalah hal yang sangat tidak di harapkan oleh Affan. Namun, setiap pria kesepian pasti akan mengalaminya. Setiap orang menghadapinya dengan caranya masing-masing dan terkadang memilih jalan yang salah untuk mengatasinya.

Affan merasa lebih baik setelah mandi dengan air dingin. Dia memutuskan untuk melaksanakan sholat malam sebelum dia tidur. Hatinya benar-benar kacau, hanya dengan mengadu pada Sang Pencipta dia akan merasa tenang.

Setelah merasa lebih baik Affan menyusul Aira tidur tanpa berani menatapnya terlalu lama.

Mobil yang biasa digunakan untuk mengantar jemput Faya dan Aira belum selesai diperbaiki. Affan tidak akan membiarkan anak dan istrinya pergi naik taksi atau angkutan umum. Baginya, mereka adalah amanah yang harus benar-benar dia jaga.

Affan rela mengurangi pekerjaannya dan pulang lebih awal untuk menjemput keduanya. Sebagai Direktur Utama, tidak ada orang yang berani untuk memerintahnya.

Hari masih sangat pagi ketika Affan sampai di kantornya. Belum banyak karyawan perusahaan itu yang datang ketika dia tiba di sana. Begitu juga dengan Amanda. Namun, pagi ini dia sudah berdiri di lobi ketika Affan datang.

Affan memberinya tatapan yang tak biasa. Amanda bukanlah orang yang on time, dia sering terlambat masuk kantor dengan berbagai alasan. Namun, pagi ini dia datang lebih pagi dari Affan.

Wajahnya yang terbiasa full make up terlihat hanya berdandan seadanya. Matanya terlihat sembab ketika dia membuka kacamata hitamnya. Bahkan masih ada titik-titik air yang menggantung di bulu matanya.

"Mas Affan, aku ingin bicara denganmu." Amanda hendak meraih tangan Affan tetapi Affan menariknya lalu mundur beberapa langkah

"Kita bicara di sini saja, Amanda. Aku tidak ingin ada fitnah. Saat ini aku sudah menikah, ada hati yang harus aku jaga."

Affan bersikap tegas. Selama ini dia hanya diam menghadapi sikap Amanda. Namun, kali ini dia memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya.

"Jadi ... wanita muda itu benar-benar istrimu. Bagaimana mungkin? Kapan kamu menikah kamu hanya ingin menjauhiku saja bukan?" Suara Amanda terdengar parau, dia berbicara dengan setengah berteriak.

Di kejauhan, Bimo, assisten pribadi Affan berjalan tergesa untuk menghampirinya. Dia melihat Affan dan Amanda sedang berdebat dan berniat untuk melerainya.

"Bos!" Bimo terlihat ngos-ngosan saat tiba di hadapan Affan dan Amanda.

Affan merasa lega melihat Bimo datang.

"Bim, apakah surat nikahku sudah jadi?" tanya Affan menahan amarah.

"Sudah, Bos!" Bimo membuka tas kantornya lalu mengeluarkan sepasang buku nikah dan memberikannya pada Affan.

Affan membuka buku nikah itu dan menunjukkannya pada Amanda. Buku nikah itu sudah memiliki stempel resmi dari Kantor Urusan Agama meskipun Affan dan Aira belum menandatanganinya. Bukan itu saja, Affan juga meminta Bimo untuk mengeluarkan surat nikah syariah yang telah ditandatangani sebelum mereka mencatatkan pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Amanda berdiri mematung sambil menatap nanar bukti-bukti itu. Air matanya sudah tidak keluar lagi tetapi wajahnya masih terlihat syok. Matanya terlihat sayu dan tubuhnya tiba-tiba limbung.

Beruntung Bimo segera menyadarinya dan segera menangkap tubuhnya sebelum tumbang ke belakang.

"Bu Amanda!" teriak Bimo.

\*\*\*\*

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Ani Vabbiani

Ani Vabbiani

suka thor sama ceritanya

2023-06-15

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Harusnya sebagai wanita yg berpendidikan itu,Sekali dua kali di tolak,Harus mundur dan berusaha utk move on,dan mejaga harga diri, jgn sampai harga diri terlihat rendah dihadapan lelaki,.

2023-06-13

0

Anha Ruheni

Anha Ruheni

tenang Manda ,nanti dikasih jodoh sama otor ,mungkin Bimo

2022-11-22

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!