Mobil Affan berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Aira merasa gugup. Ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki di rumah Affan sebagai sahabat Faya. Namun, ini kali pertama dia datang sebagai nyonya rumah di sana.
Faya terlihat sedang duduk di teras rumah ditemani oleh Sumi, pembantu Affan, ketika mereka datang.
Sumi sudah bekerja sejak Faya masih bayi sehingga sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Affan. Usianya yang tidak lagi muda membuat Affan merasa iba dan memintanya untuk melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Ada Nami dan Heti yang juga bekerja di rumah itu.
"Bik Sum!" panggil Affan setelah dia turun dari mobilnya.
Dia lalu berjalan memutar ke pintu samping membukakan pintu untuk Aira.
Faya yang semula duduk menjadi terbengong dan bangkit secara perlahan seperti orang yang terhipnotis. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia masih terbengong saat keduanya telah berdiri di hadapannya.
"Ayah, ini ... ini Aira, kan?" tanya Faya sambil menunjuk ke arah Aira.
Affan mengangguk lalu berkata, "Kita bicara di dalam."
Wajah Aira terlihat pucat karena merasa tegang. Faya segera menghampirinya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Dia tidak banyak bertanya meskipun merasa aneh dengan kedatangan sahabatnya yang membawa banyak barang itu.
Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang keluarga dan duduk di sana. Sesaat suasana menjadi hening hingga Affan memulai percakapan.
"Sayang, ayah membawa berita yang mengejutkan untukmu. Kuharap kamu tidak berpikir macam-macam tentang ayah. Semua ini terjadi begitu mendadak. Ayah sendiri juga tidak menyangka jika ini akan terjadi." Affan berbicara lembut pada Faya yang sedang duduk dan memeluk bahu Aira.
"Maksud, Ayah?" Faya menatap Affan dengan tatapan tak mengerti.
Affan pun menceritakan semua yang terjadi mulai dari awal pertemuannya dengan Aira sore tadi hingga keduanya sampai di rumah ini. Semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Faya terdiam. Semua yang terjadi begitu mengejutkan baginya. Keadaan yang membuatnya sulit untuk percaya, tetapi ini sebuah kenyataan yang harus dia hadapi.
Aira tidak berani mengangkat wajahnya. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia merasa takut jika Faya tidak bisa menerima semua ini dan menyalahkannya.
Setelah bisa menguasai hatinya, Faya meraih bahu Aira dan memeluknya. Perlakuan tak terduga ini membuat tangis Aira semakin menjadi. Dia meluapkan seluruh kesedihannya dalam tangisnya.
Air mata Faya pun jatuh tak tertahankan. Kedua sahabat itu menangis bersama hingga keduanya sama-sama tenang.
Di tempat lain, Affan juga turut merasakan keharuan. Entah bagaimana ke depannya, yang terpenting saat ini Faya telah menerima kenyataan ini.
Setelah merasa lebih baik, Faya merenggangkan pelukannya dan menatap Aira. Tangannya memegang pipi sahabatnya yang beruraian air mata.
"Aira, aku tahu ini berat bagimu. Aku sendiri mungkin tidak akan sanggup menghadapi hal pahit seperti yang kamu alami, tapi percayalah, ayahku orang yang baik, dia tidak akan menyakitimu." Faya mencoba menenangkan dirinya.
Aira masih terdiam. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya jika dia akan menjadi ibu tiri bagi sahabatnya sendiri. Semula dia berpikir Faya akan marah dan memaki-makinya atas keadaan ini. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu terlihat ikhlas menerima pernikahan ayahnya.
"Kami terlibat pernikahan tanpa cinta, Faya. Aku jauh dari kriteria seorang ibu idaman. Aku tidak menyesali pernikahan ini tetapi aku juga siap menerima hal terburuk yang akan terjadi ke depannya." Aira berbicara dengan suara yang parau.
Faya terlihat kecewa dengan jawaban Aira. Keinginannya yang besar untuk melihat sahabatnya itu bahagia membuatnya harus bertindak.
"Jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Aira. Apakah kamu bisa merubah ketetapan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan? Aku menerimamu sebagai ibu sambungku. Tidak masalah meskipun kita seumuran." Setelah mengatakan itu Faya berpaling kepada ayahnya. "Aku harap ayah mau bersabar. Aku yakin kalian berdua bisa saling menerima suatu saat nanti."
Affan mengangguk. Semua yang dikatakan oleh Faya memang benar. Jujur dia tidak tertarik untuk menikahi wanita di bawah umur, tetapi dia tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan meskipun dia tidak menginginkannya.
Setelah semuanya tenang, mereka bertiga pergi ke meja makan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka tidak akan tidur dengan nyenyak sebelum mengisi perutnya dengan makanan.
Aira dan Faya memanaskan beberapa makanan. Mereka tidak ingin mengganggu pembantu mereka yang telah beristirahat. Malam sudah larut, mereka harus bangun pagi untuk melakukan pekerjaan mereka besok.
Malam ini, Aira tidur bersama Faya. Sebenarnya sudah ada kamar tamu dan beberapa kamar kosong, tetapi Faya tidak tega melihat Aira yang sedang dirundung kesedihan.
Pukul tiga pagi Aira terbangun untuk melakukan sholat malam. Kebiasaan yang tidak pernah dia tinggalkan. Suara gemericik air itupun membuat Faya terbangun. Dia lupa jika ada Aira di sana.
"Apakah sudah subuh, Ai? Maksudku Mama." Faya meralat ucapannya. Dia akan berusaha membiasakan panggilan itu untuk menghormatinya.
"Belum. Tidurlah! Aku sedang menjalankan sholat malam," jawab Aira sambil mengenakan mukena.
Faya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam selimutnya. Dia masih merasa mengantuk, malam ini mereka tidur terlalu larut.
Pagi hari,
Affan telah siap dengan baju kantornya. Dia sedang membaca koran di ruang makan ketika Faya dan Aira datang.
Faya berjalan cepat menghampiri ayahnya sementara Aira masih terpaku di belakangnya. Mereka terbiasa untuk sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
Aira tertegun menatap Affan. Meskipun usianya terbilang dewasa, dia masih terlihat sangat tampan. Dia terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, mungkin karena pembawaannya yang santai membuatnya menjadi awet muda.
"Aku tahu ayahku tampan. Tapi kamu tidak akan kenyang hanya dengan memandanginya saja. Duduklah!" Faya menarik kursi di sampingnya untuk Aira.
Aira tersipu malu mendengar candaan Faya. Dia tidak menjawabnya dan segera duduk di kursi yang diperuntukkan baginya.
"Kamu jangan seperti itu, Faya." Affan menggeleng sambil menatap lembut putrinya.
"Aku hanya ingin meluapkan kebahagiaanku saja, Ayah. Ayahku sangat tampan dan mamaku sangat cantik, aku merasa menjadi anak yang sangat beruntung di dunia ini." Faya tersenyum lalu kembali menikmati makanannya.
"Mama?" Affan mengernyitkan keningnya.
"Iya, mama Aira. Panggilan ibu untuk ibu yang telah tiada, jadi dia mamaku. Aku tetap akan menghormatinya seperti ibu kandungku." Faya terlihat sangat senang.
Aira masih terlihat canggung. Dia tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Meskipun Faya bisa menerimanya dengan baik, tetapi dia masih belum terbiasa dengan status barunya.
Sumi datang menghampiri mereka dan mengatakan jika kamar untuk Aira telah siap. Affan memintanya untuk memindahkan barang-barang miliknya ke kamar itu.
"Tunggu!" seru Faya.
Sumi pun menghentikan langkahnya dan berputar menghadap mereka lagi.
"Ada apa, Non Faya?" tanyanya kemudian.
"Bawa barang-barang Mama Aira ke kamar ayah," ucapnya.
Aira dan Affan menatap Faya tak percaya. Mereka tidak menyangka jika Faya akan mengatakan hal itu.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
mmg itu yg seharusnya,Affan dan Aira sendiri yg bilang gak mau mempermainkan pernikahan kan,jadi kenapa harus pisah kamar,Good Faya 👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻
2023-06-13
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwk Sahabat berubah status jadi mama,pasti seru..😃
2023-06-13
0
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah,Ternyata benar apa yg dikata kan Affan tentang anankya,Faya mmg anak yg baik dan juga sahabat yg baik juga pengertian 🤲🏻🤲🏻🤲🏻👍🏻👍🏻
2023-06-13
0