Bab 4. Status Baru

Mobil Affan berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Aira merasa gugup. Ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki di rumah Affan sebagai sahabat Faya. Namun, ini kali pertama dia datang sebagai nyonya rumah di sana.

Faya terlihat sedang duduk di teras rumah ditemani oleh Sumi, pembantu Affan, ketika mereka datang.

Sumi sudah bekerja sejak Faya masih bayi sehingga sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh Affan. Usianya yang tidak lagi muda membuat Affan merasa iba dan memintanya untuk melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Ada Nami dan Heti yang juga bekerja di rumah itu.

"Bik Sum!" panggil Affan setelah dia turun dari mobilnya.

Dia lalu berjalan memutar ke pintu samping membukakan pintu untuk Aira.

Faya yang semula duduk menjadi terbengong dan bangkit secara perlahan seperti orang yang terhipnotis. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia masih terbengong saat keduanya telah berdiri di hadapannya.

"Ayah, ini ... ini Aira, kan?" tanya Faya sambil menunjuk ke arah Aira.

Affan mengangguk lalu berkata, "Kita bicara di dalam."

Wajah Aira terlihat pucat karena merasa tegang. Faya segera menghampirinya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Dia tidak banyak bertanya meskipun merasa aneh dengan kedatangan sahabatnya yang membawa banyak barang itu.

Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang keluarga dan duduk di sana. Sesaat suasana menjadi hening hingga Affan memulai percakapan.

"Sayang, ayah membawa berita yang mengejutkan untukmu. Kuharap kamu tidak berpikir macam-macam tentang ayah. Semua ini terjadi begitu mendadak. Ayah sendiri juga tidak menyangka jika ini akan terjadi." Affan berbicara lembut pada Faya yang sedang duduk dan memeluk bahu Aira.

"Maksud, Ayah?" Faya menatap Affan dengan tatapan tak mengerti.

Affan pun menceritakan semua yang terjadi mulai dari awal pertemuannya dengan Aira sore tadi hingga keduanya sampai di rumah ini. Semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat.

Faya terdiam. Semua yang terjadi begitu mengejutkan baginya. Keadaan yang membuatnya sulit untuk percaya, tetapi ini sebuah kenyataan yang harus dia hadapi.

Aira tidak berani mengangkat wajahnya. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Dia merasa takut jika Faya tidak bisa menerima semua ini dan menyalahkannya.

Setelah bisa menguasai hatinya, Faya meraih bahu Aira dan memeluknya. Perlakuan tak terduga ini membuat tangis Aira semakin menjadi. Dia meluapkan seluruh kesedihannya dalam tangisnya.

Air mata Faya pun jatuh tak tertahankan. Kedua sahabat itu menangis bersama hingga keduanya sama-sama tenang.

Di tempat lain, Affan juga turut merasakan keharuan. Entah bagaimana ke depannya, yang terpenting saat ini Faya telah menerima kenyataan ini.

Setelah merasa lebih baik, Faya merenggangkan pelukannya dan menatap Aira. Tangannya memegang pipi sahabatnya yang beruraian air mata.

"Aira, aku tahu ini berat bagimu. Aku sendiri mungkin tidak akan sanggup menghadapi hal pahit seperti yang kamu alami, tapi percayalah, ayahku orang yang baik, dia tidak akan menyakitimu." Faya mencoba menenangkan dirinya.

Aira masih terdiam. Tidak pernah terbesit dalam pikirannya jika dia akan menjadi ibu tiri bagi sahabatnya sendiri. Semula dia berpikir Faya akan marah dan memaki-makinya atas keadaan ini. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu terlihat ikhlas menerima pernikahan ayahnya.

"Kami terlibat pernikahan tanpa cinta, Faya. Aku jauh dari kriteria seorang ibu idaman. Aku tidak menyesali pernikahan ini tetapi aku juga siap menerima hal terburuk yang akan terjadi ke depannya." Aira berbicara dengan suara yang parau.

Faya terlihat kecewa dengan jawaban Aira. Keinginannya yang besar untuk melihat sahabatnya itu bahagia membuatnya harus bertindak.

"Jangan mempermainkan sebuah pernikahan, Aira. Apakah kamu bisa merubah ketetapan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan? Aku menerimamu sebagai ibu sambungku. Tidak masalah meskipun kita seumuran." Setelah mengatakan itu Faya berpaling kepada ayahnya. "Aku harap ayah mau bersabar. Aku yakin kalian berdua bisa saling menerima suatu saat nanti."

Affan mengangguk. Semua yang dikatakan oleh Faya memang benar. Jujur dia tidak tertarik untuk menikahi wanita di bawah umur, tetapi dia tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan meskipun dia tidak menginginkannya.

Setelah semuanya tenang, mereka bertiga pergi ke meja makan. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka tidak akan tidur dengan nyenyak sebelum mengisi perutnya dengan makanan.

Aira dan Faya memanaskan beberapa makanan. Mereka tidak ingin mengganggu pembantu mereka yang telah beristirahat. Malam sudah larut, mereka harus bangun pagi untuk melakukan pekerjaan mereka besok.

Malam ini, Aira tidur bersama Faya. Sebenarnya sudah ada kamar tamu dan beberapa kamar kosong, tetapi Faya tidak tega melihat Aira yang sedang dirundung kesedihan.

Pukul tiga pagi Aira terbangun untuk melakukan sholat malam. Kebiasaan yang tidak pernah dia tinggalkan. Suara gemericik air itupun membuat Faya terbangun. Dia lupa jika ada Aira di sana.

"Apakah sudah subuh, Ai? Maksudku Mama." Faya meralat ucapannya. Dia akan berusaha membiasakan panggilan itu untuk menghormatinya.

"Belum. Tidurlah! Aku sedang menjalankan sholat malam," jawab Aira sambil mengenakan mukena.

Faya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam selimutnya. Dia masih merasa mengantuk, malam ini mereka tidur terlalu larut.

Pagi hari,

Affan telah siap dengan baju kantornya. Dia sedang membaca koran di ruang makan ketika Faya dan Aira datang.

Faya berjalan cepat menghampiri ayahnya sementara Aira masih terpaku di belakangnya. Mereka terbiasa untuk sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing.

Aira tertegun menatap Affan. Meskipun usianya terbilang dewasa, dia masih terlihat sangat tampan. Dia terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya, mungkin karena pembawaannya yang santai membuatnya menjadi awet muda.

"Aku tahu ayahku tampan. Tapi kamu tidak akan kenyang hanya dengan memandanginya saja. Duduklah!" Faya menarik kursi di sampingnya untuk Aira.

Aira tersipu malu mendengar candaan Faya. Dia tidak menjawabnya dan segera duduk di kursi yang diperuntukkan baginya.

"Kamu jangan seperti itu, Faya." Affan menggeleng sambil menatap lembut putrinya.

"Aku hanya ingin meluapkan kebahagiaanku saja, Ayah. Ayahku sangat tampan dan mamaku sangat cantik, aku merasa menjadi anak yang sangat beruntung di dunia ini." Faya tersenyum lalu kembali menikmati makanannya.

"Mama?" Affan mengernyitkan keningnya.

"Iya, mama Aira. Panggilan ibu untuk ibu yang telah tiada, jadi dia mamaku. Aku tetap akan menghormatinya seperti ibu kandungku." Faya terlihat sangat senang.

Aira masih terlihat canggung. Dia tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Meskipun Faya bisa menerimanya dengan baik, tetapi dia masih belum terbiasa dengan status barunya.

Sumi datang menghampiri mereka dan mengatakan jika kamar untuk Aira telah siap. Affan memintanya untuk memindahkan barang-barang miliknya ke kamar itu.

"Tunggu!" seru Faya.

Sumi pun menghentikan langkahnya dan berputar menghadap mereka lagi.

"Ada apa, Non Faya?" tanyanya kemudian.

"Bawa barang-barang Mama Aira ke kamar ayah," ucapnya.

Aira dan Affan menatap Faya tak percaya. Mereka tidak menyangka jika Faya akan mengatakan hal itu.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

mmg itu yg seharusnya,Affan dan Aira sendiri yg bilang gak mau mempermainkan pernikahan kan,jadi kenapa harus pisah kamar,Good Faya 👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻

2023-06-13

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Wkwkwk Sahabat berubah status jadi mama,pasti seru..😃

2023-06-13

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Alhamdulillah,Ternyata benar apa yg dikata kan Affan tentang anankya,Faya mmg anak yg baik dan juga sahabat yg baik juga pengertian 🤲🏻🤲🏻🤲🏻👍🏻👍🏻

2023-06-13

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!