Affan keluar kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Wajahnya terlihat segar setelah mandi dan rambutnya yang basah membuatnya terlihat lebih maskulin. Aira hampir tidak berkedip saat menatapnya. Dia tidak percaya jika pria di hadapannya itu usianya terpaut 20 tahun dengannya.
"Mandilah! Pakaianmu ada di sebelah sini. Kapan-kapan aku mau menambahkan almari buat kamu ... di ... di sebelah sini." Affan menunjukkan sebuah tempat kosong yang bisa dipakai untuk menempatkan sebuah almari.
"I-iya, Om." Aira kembali memanggil Affan dengan panggilan om. Affan tidak keberatan akan hal itu.
Dengan cepat Aira mengambil baju ganti lalu membawanya pergi ke kamar mandi. Jam sholat ashar sudah lewat, dia harus segera mandi dan menjalankan sholat.
Kamar mandi milik Affan lebih besar dari milik Faya. Meskipun fasilitas yang ada di dalamnya sama, tetapi desain dan detail ruangannya berbeda. Kamar mandi milik Affan juga lebih luas dari milik Faya.
Setelah menutup pintu dan menguncinya dari dalam, Aira terbengong melihat kamar mandi yang seluas kamarnya terdahulu itu. Dia menyentuh dinding dan semua perabot yang ada di sana. Namun, Aira segera tersadar bahwa dia harus segera mandi dan shalat ashar.
'Untung saja tadi pagi Faya sudah mengajariku memakai shower dan lain-lain. Bisa malu tujuh turunan aku kalau dilepas sendiri di dalam kamar mandi.' Aira menertawakan dirinya sendiri yang terbiasa mandi dengan gayung dari bak mandi.
Affan telah selesai sholat ketika Aira keluar dari dalam kamar mandi. Dia lalu melirik ke arah Aira yang sedang mengenakan mukena.
"Kamu belum sholat?" tanya Affan sambil menggeser tubuhnya dari atas sajadah.
"Belum, Om."
Affan menunjuk sajadahnya agar Aira menempatinya.
"Tahu gitu tadi aku tungguin. Kita sholat berjama'ah," ucap Affan lalu kembali melanjutkan dzikirnya.
Deg ....
Aira baru teringat jika dirinya kini tidak sendiri lagi. Untuk sejenak dia kehilangan konsentrasinya. Setelah menenangkan dirinya, dia baru memulai ibadahnya.
Affan masih duduk di tempatnya dan menunggu Aira selesai beribadah. Wajahnya menunduk saat melihat Aira tidak mengenakan hijabnya. Rambutnya yang lurus panjang tergerai dengan indah. Aroma wangi sabun mandinya begitu segar memenuhi ruangan itu.
Sama halnya seperti Affan, Aira pun merasa malu. Dia pura-pura tidak melihat ketika Affan diam-diam memperhatikannya. Sampai-sampai Affan tidak berkedip ketika melihat dia sedang menyisir rambutnya.
Tidak bisa dipungkiri jika kecantikan Aira membuat hatinya bergejolak. Sebagai pria yang normal, Affan tentu memiliki keinginan untuk menyentuh seorang wanita. Terlebih lagi dia telah menduda selama delapan belas tahun. Namun, segala niatan itu dia tepis, Affan berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak tergoda.
"Ayo kita ke ruang makan," ajak Affan tidak ingin berlama-lama berduaan bersama Aira. Sikapnya berubah dingin seolah tidak peduli dengan keberadaan Aira.
'Apakah aku tidak menarik? Kelihatannya Om Affan memang benar-benar tidak menyukaiku. Fiks, pernikahan ini hanyalah formalitas saja baginya.' Aira terlihat kecewa.
"Iya, Om."
Terselip rasa getir di hatinya ketika melihat Affan berdiri memunggunginya. Aira menatap wajahnya di cermin lalu tersenyum, senyum yang dipaksakan. Apapun yang terjadi padanya saat ini dia ikhlas. Affan telah banyak membantunya sehingga dia merasa berhutang.
'Aku harus bersabar. Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Semuanya butuh proses dan itu tidak sebentar.' Aira menguatkan dirinya.
Aira buru-buru meraih jilbab instan miliknya setelah mendapatkan lirikan misterius dari Affan. Dia teringat saat ayahnya yang begitu kesal saat menunggu ibunya yang terlalu lama bersiap.
"Aku sudah selesai." Aira mengenakan jilbabnya dengan cepat lalu berdiri di samping Affan.
Jilbab Aira sedikit miring. Affan yakin jika Aira tidak menyadarinya. Dia terlihat ragu-ragu untuk membetulkannya atau tidak. Akhirnya Affan memberanikan dirinya untuk menggeser jilbab yang agak miring itu.
Aira merasa melayang saat Affan memberinya sebuah perhatian. Kakinya terasa seperti tidak menapak di tanah. Namun, ketika mengingat sikap dingin Affan tiba-tiba perasaannya kembali berubah dengan cepat dan menjadi biasa-biasa saja.
"Terimakasih, Om." Aira menunduk.
"Hmm." Affan meminta Aira untuk berjalan di depan dengan isyarat tangannya.
'Om Affan sangat perhatian. Di balik sikapnya yang dingin, dia menyimpan rasa kepedulian yang tinggi.' Aira belum tahu banyak tentang kebiasaan Affan dan semua hal tentang dirinya.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan. Meskipun mereka berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, tetapi perasaan canggung itu terlihat begitu jelas di wajah-wajah mereka.
Faya sudah sampai lebih awal di ruang makan. Dia menatap ke arah Aira dan ayahnya dengan perasaan yang hangat. Meskipun keduanya masih terlihat seperti dua orang asing, tetapi Faya melihat tanda-tanda ketertarikan di wajah keduanya.
"Ayah, sepertinya ayah telah melupakan sesuatu." Faya memanyunkan bibirnya.
Affan mengernyitkan dahinya. Dia merasa tidak ada yang lupa.
"Duduklah, Ayah. Aku perlu bicara secara terbuka tentang kebutuhan Mama Aira."
Affan menepuk jidatnya. Dia baru ingat jika pagi ini tidak memberi Aira uang cash karena tidak memiliki ATM. Aira yang pendiam tidak mungkin meminta uang padanya.
"Astagfirullah, aku lupa, Faya. Untung saja kamu segera mengingatnya, jika tidak entah berapa lama lagi keadaan akan berlangsung."
"Tidak apa-apa, Om. Semua kebutuhanku sudah tercukupi di sini. Aku sudah sangat bersyukur telah diterima dengan baik di keluarga ini." Aira merasa tidak enak.
"Apa? Kamu panggil ayahku apa tadi, Mam? Coba diulang," Faya merasa panggilan itu mengesankan hubungan yang tidak sesuai dengan status mereka saat ini.
Faya mengatur panggilan untuk mereka. Aira harus memanggil ayahnya dengan panggilan 'ayah' atau mas. Sedangkan ayahnya harus memanggil Aira sama seperti dia memanggilnya.
Affan dan Aira tidak membantah apa yang dikatakan oleh Faya. Mereka menuruti keinginan Faya seperti layaknya sepasang orang tua yang harus mengalah pada putrinya. Malam itu juga, Affan memberikan uang kebutuhan Aira.
Keesokan harinya mereka berangkat ke sekolah seperti biasanya. Affan mengantar mereka sebelum berangkat kerja. Mobil mewah Affan menarik perhatian teman-teman Aira. Mereka terbengong melihat Affan yang begitu pengertian membukakan pintu untuk keduanya.
Di dalam perjalanan menuju ke kelas, Faya mendengar seseorang tengah menceritakan kedatangan murid baru. Para siswa yang sedang bergosip itu tidak menjelaskan secara pasti siapa murid baru itu.
Aira pun diam-diam juga mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya murid itu adalah seorang pria karena ekspresi wajah para murid wanita itu terlihat sangat bersemangat ketika membicarakannya.
"Ma, siapa yang mereka bicarakan?" tanya Faya dengan suara berbisik.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia artis terkenal yang hendak pindah ke sekolah ini." Aira menduga-duga.
"Hmm. Atau mungkin dia anak seorang pejabat." Faya pun ikut menebak.
****
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Apakah itu steve??😱😱
2023-06-13
0
Erna Fadhilah
murid baru itu adalah steve
2022-12-26
0
Noerita Anggraini
jangan pisahkan aira dan fahllan
2022-10-24
2