Bab 8. Ekspresi Berbeda

Affan keluar kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Wajahnya terlihat segar setelah mandi dan rambutnya yang basah membuatnya terlihat lebih maskulin. Aira hampir tidak berkedip saat menatapnya. Dia tidak percaya jika pria di hadapannya itu usianya terpaut 20 tahun dengannya.

"Mandilah! Pakaianmu ada di sebelah sini. Kapan-kapan aku mau menambahkan almari buat kamu ... di ... di sebelah sini." Affan menunjukkan sebuah tempat kosong yang bisa dipakai untuk menempatkan sebuah almari.

"I-iya, Om." Aira kembali memanggil Affan dengan panggilan om. Affan tidak keberatan akan hal itu.

Dengan cepat Aira mengambil baju ganti lalu membawanya pergi ke kamar mandi. Jam sholat ashar sudah lewat, dia harus segera mandi dan menjalankan sholat.

Kamar mandi milik Affan lebih besar dari milik Faya. Meskipun fasilitas yang ada di dalamnya sama, tetapi desain dan detail ruangannya berbeda. Kamar mandi milik Affan juga lebih luas dari milik Faya.

Setelah menutup pintu dan menguncinya dari dalam, Aira terbengong melihat kamar mandi yang seluas kamarnya terdahulu itu. Dia menyentuh dinding dan semua perabot yang ada di sana. Namun, Aira segera tersadar bahwa dia harus segera mandi dan shalat ashar.

'Untung saja tadi pagi Faya sudah mengajariku memakai shower dan lain-lain. Bisa malu tujuh turunan aku kalau dilepas sendiri di dalam kamar mandi.' Aira menertawakan dirinya sendiri yang terbiasa mandi dengan gayung dari bak mandi.

Affan telah selesai sholat ketika Aira keluar dari dalam kamar mandi. Dia lalu melirik ke arah Aira yang sedang mengenakan mukena.

"Kamu belum sholat?" tanya Affan sambil menggeser tubuhnya dari atas sajadah.

"Belum, Om."

Affan menunjuk sajadahnya agar Aira menempatinya.

"Tahu gitu tadi aku tungguin. Kita sholat berjama'ah," ucap Affan lalu kembali melanjutkan dzikirnya.

Deg ....

Aira baru teringat jika dirinya kini tidak sendiri lagi. Untuk sejenak dia kehilangan konsentrasinya. Setelah menenangkan dirinya, dia baru memulai ibadahnya.

Affan masih duduk di tempatnya dan menunggu Aira selesai beribadah. Wajahnya menunduk saat melihat Aira tidak mengenakan hijabnya. Rambutnya yang lurus panjang tergerai dengan indah. Aroma wangi sabun mandinya begitu segar memenuhi ruangan itu.

Sama halnya seperti Affan, Aira pun merasa malu. Dia pura-pura tidak melihat ketika Affan diam-diam memperhatikannya. Sampai-sampai Affan tidak berkedip ketika melihat dia sedang menyisir rambutnya.

Tidak bisa dipungkiri jika kecantikan Aira membuat hatinya bergejolak. Sebagai pria yang normal, Affan tentu memiliki keinginan untuk menyentuh seorang wanita. Terlebih lagi dia telah menduda selama delapan belas tahun. Namun, segala niatan itu dia tepis, Affan berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak tergoda.

"Ayo kita ke ruang makan," ajak Affan tidak ingin berlama-lama berduaan bersama Aira. Sikapnya berubah dingin seolah tidak peduli dengan keberadaan Aira.

'Apakah aku tidak menarik? Kelihatannya Om Affan memang benar-benar tidak menyukaiku. Fiks, pernikahan ini hanyalah formalitas saja baginya.' Aira terlihat kecewa.

"Iya, Om."

Terselip rasa getir di hatinya ketika melihat Affan berdiri memunggunginya. Aira menatap wajahnya di cermin lalu tersenyum, senyum yang dipaksakan. Apapun yang terjadi padanya saat ini dia ikhlas. Affan telah banyak membantunya sehingga dia merasa berhutang.

'Aku harus bersabar. Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Semuanya butuh proses dan itu tidak sebentar.' Aira menguatkan dirinya.

Aira buru-buru meraih jilbab instan miliknya setelah mendapatkan lirikan misterius dari Affan. Dia teringat saat ayahnya yang begitu kesal saat menunggu ibunya yang terlalu lama bersiap.

"Aku sudah selesai." Aira mengenakan jilbabnya dengan cepat lalu berdiri di samping Affan.

Jilbab Aira sedikit miring. Affan yakin jika Aira tidak menyadarinya. Dia terlihat ragu-ragu untuk membetulkannya atau tidak. Akhirnya Affan memberanikan dirinya untuk menggeser jilbab yang agak miring itu.

Aira merasa melayang saat Affan memberinya sebuah perhatian. Kakinya terasa seperti tidak menapak di tanah. Namun, ketika mengingat sikap dingin Affan tiba-tiba perasaannya kembali berubah dengan cepat dan menjadi biasa-biasa saja.

"Terimakasih, Om." Aira menunduk.

"Hmm." Affan meminta Aira untuk berjalan di depan dengan isyarat tangannya.

'Om Affan sangat perhatian. Di balik sikapnya yang dingin, dia menyimpan rasa kepedulian yang tinggi.' Aira belum tahu banyak tentang kebiasaan Affan dan semua hal tentang dirinya.

Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan. Meskipun mereka berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, tetapi perasaan canggung itu terlihat begitu jelas di wajah-wajah mereka.

Faya sudah sampai lebih awal di ruang makan. Dia menatap ke arah Aira dan ayahnya dengan perasaan yang hangat. Meskipun keduanya masih terlihat seperti dua orang asing, tetapi Faya melihat tanda-tanda ketertarikan di wajah keduanya.

"Ayah, sepertinya ayah telah melupakan sesuatu." Faya memanyunkan bibirnya.

Affan mengernyitkan dahinya. Dia merasa tidak ada yang lupa.

"Duduklah, Ayah. Aku perlu bicara secara terbuka tentang kebutuhan Mama Aira."

Affan menepuk jidatnya. Dia baru ingat jika pagi ini tidak memberi Aira uang cash karena tidak memiliki ATM. Aira yang pendiam tidak mungkin meminta uang padanya.

"Astagfirullah, aku lupa, Faya. Untung saja kamu segera mengingatnya, jika tidak entah berapa lama lagi keadaan akan berlangsung."

"Tidak apa-apa, Om. Semua kebutuhanku sudah tercukupi di sini. Aku sudah sangat bersyukur telah diterima dengan baik di keluarga ini." Aira merasa tidak enak.

"Apa? Kamu panggil ayahku apa tadi, Mam? Coba diulang," Faya merasa panggilan itu mengesankan hubungan yang tidak sesuai dengan status mereka saat ini.

Faya mengatur panggilan untuk mereka. Aira harus memanggil ayahnya dengan panggilan 'ayah' atau mas. Sedangkan ayahnya harus memanggil Aira sama seperti dia memanggilnya.

Affan dan Aira tidak membantah apa yang dikatakan oleh Faya. Mereka menuruti keinginan Faya seperti layaknya sepasang orang tua yang harus mengalah pada putrinya. Malam itu juga, Affan memberikan uang kebutuhan Aira.

Keesokan harinya mereka berangkat ke sekolah seperti biasanya. Affan mengantar mereka sebelum berangkat kerja. Mobil mewah Affan menarik perhatian teman-teman Aira. Mereka terbengong melihat Affan yang begitu pengertian membukakan pintu untuk keduanya.

Di dalam perjalanan menuju ke kelas, Faya mendengar seseorang tengah menceritakan kedatangan murid baru. Para siswa yang sedang bergosip itu tidak menjelaskan secara pasti siapa murid baru itu.

Aira pun diam-diam juga mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya murid itu adalah seorang pria karena ekspresi wajah para murid wanita itu terlihat sangat bersemangat ketika membicarakannya.

"Ma, siapa yang mereka bicarakan?" tanya Faya dengan suara berbisik.

"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia artis terkenal yang hendak pindah ke sekolah ini." Aira menduga-duga.

"Hmm. Atau mungkin dia anak seorang pejabat." Faya pun ikut menebak.

****

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Apakah itu steve??😱😱

2023-06-13

0

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

murid baru itu adalah steve

2022-12-26

0

Noerita Anggraini

Noerita Anggraini

jangan pisahkan aira dan fahllan

2022-10-24

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2 Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3 Bab 3. Pembicaraan Serius
4 Bab 4. Status Baru
5 Bab 5. Terpaksa Berbohong
6 Bab 6. Mencoba Jujur
7 Bab 7. Misi Dimulai
8 Bab 8. Ekspresi Berbeda
9 Bab 9. Murid Baru
10 Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11 Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12 Bab 12. Pernikahan yang Sah
13 Bab 13. Pulang Terlambat
14 Bab 14. Demam
15 Bab 15. Kerokan
16 Bab 16. Memasak Untuk Affan
17 Bab 17. Pergi Bersama
18 Bab 18. Dia Istriku
19 Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20 Bab 20. Salah Target
21 Bab 21. Luka
22 Bab 22. Trauma
23 Bab 23. Khawatir
24 Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25 Bab 25. Jodohku
26 Bab 26. Teman Lama
27 Bab 27. Mulai Berani
28 Bab 28. Tertunda
29 Bab 29. Mabuk
30 Bab 30. Surat
31 Bab 31. Huru Hara
32 Bab 32. Kedatangan Affan
33 Bab 33. Menemani Affan
34 Bab 34. Sebuah Rencana
35 Bab 35. Tamu Pria
36 Bab 36. Ancaman
37 Bab 37. Sebuah Rencana
38 Bab 38. Mawar Putih
39 Bab 39. Pergi ke Kantor
40 Bab 40. Awal Kehancuran
41 Bab 41. Tidak Jera
42 Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43 Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44 Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45 Bab 45. Dendam
46 Bab 46. Mulai Terbuka
47 Bab 47. Taman Kompleks
48 Bab 48. Bimbang
49 Bab 49. Selesai Ujian
50 Bab 50. Minta Debay
51 Bab 51. Keinginan yang Sama
52 Bab 52. Mencurigakan
53 Bab 53. Hamil
54 Bab 54. Mengacau
55 Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56 Bab 56. Salah Paham
57 Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58 Bab 58. Sepupu Mantan
59 Bab 59. Nekat
60 Bab 60. Hasutan
61 Bab 61. Mulai Beraksi
62 Bab 62. Kurir Misterius
63 Bab 63. Merasa Ragu
64 Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65 Bab 65. Tidak Terima
66 Bab 66. Tegas
67 Bab 67. Rencana Affan
68 Bab 68. Hana
69 Bab 69. Diterima Kerja
70 Bab 70. Berpikir Positif
71 Bab 71. Sebuah Berita
72 Bab 72. Kecurigaan Bimo
73 Bab 73. Menyesal
74 Bab 74. Mencari Perhatian
75 Bab 75. Rencana Aira
76 Bab 76. Teman Lama
77 Bab 77. Tegang
78 Bab 78. Mengejutkan
79 Bab 79. Menghindar
80 Bab 80. Merajuk
81 Bab 81. Rencana Penjebakan
82 Bab 82. Keterlaluan
83 Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84 Bab 84. Cemas
85 Bab 85. Kritis
86 Bab 86. Kedatangan Faya
87 Bab 87. Sarah dan Safira
88 Bab 88. Belum Ada Perubahan
89 Bab 89. Lintas Berita
90 Bab 90. Baik-baik Saja
91 Bab 91. Saudara Sepupu
92 Bab 92. Berduka
93 Bab 93. Tawaran Affan
94 Bab 94. Tamu Tak Diundang
95 Bab 95. Demi Uang
96 Bab 96. Tragedi Penyerangan
97 Bab 97. Panggil aku "Om"
98 Bab 98. Surat Kaleng
99 Bab 99. Tertangkap
100 Bab 100. Sebuah Hobi
101 Bab 101. Dosen Tampan
102 Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103 Bab 103. Hari Ulang Tahun
104 Bab 104. Kekesalan Faya
105 Bab 105. Diluruskan
106 Bab 106. Sadar
107 Bab 107. Kedamaian
108 Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109 Bab 109. Lahir dengan selamat
110 Pengumuman
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Tak Di Sengaja
2
Bab 2. Pernikahan Mengejutkan
3
Bab 3. Pembicaraan Serius
4
Bab 4. Status Baru
5
Bab 5. Terpaksa Berbohong
6
Bab 6. Mencoba Jujur
7
Bab 7. Misi Dimulai
8
Bab 8. Ekspresi Berbeda
9
Bab 9. Murid Baru
10
Bab 10. Jangan Tinggalkan Aku, Om.
11
Bab 11. Jujur Walaupun Menyakitkan
12
Bab 12. Pernikahan yang Sah
13
Bab 13. Pulang Terlambat
14
Bab 14. Demam
15
Bab 15. Kerokan
16
Bab 16. Memasak Untuk Affan
17
Bab 17. Pergi Bersama
18
Bab 18. Dia Istriku
19
Bab 19. Bertemu Teman Sekolah
20
Bab 20. Salah Target
21
Bab 21. Luka
22
Bab 22. Trauma
23
Bab 23. Khawatir
24
Bab 24. Tidak Bisa Berjanji
25
Bab 25. Jodohku
26
Bab 26. Teman Lama
27
Bab 27. Mulai Berani
28
Bab 28. Tertunda
29
Bab 29. Mabuk
30
Bab 30. Surat
31
Bab 31. Huru Hara
32
Bab 32. Kedatangan Affan
33
Bab 33. Menemani Affan
34
Bab 34. Sebuah Rencana
35
Bab 35. Tamu Pria
36
Bab 36. Ancaman
37
Bab 37. Sebuah Rencana
38
Bab 38. Mawar Putih
39
Bab 39. Pergi ke Kantor
40
Bab 40. Awal Kehancuran
41
Bab 41. Tidak Jera
42
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan
43
Bab 43. Apakah Kamu Ikhlas?
44
Bab 44. Pergi ke Suatu Tempat
45
Bab 45. Dendam
46
Bab 46. Mulai Terbuka
47
Bab 47. Taman Kompleks
48
Bab 48. Bimbang
49
Bab 49. Selesai Ujian
50
Bab 50. Minta Debay
51
Bab 51. Keinginan yang Sama
52
Bab 52. Mencurigakan
53
Bab 53. Hamil
54
Bab 54. Mengacau
55
Bab 55. Mempermalukan Diri Sendiri
56
Bab 56. Salah Paham
57
Bab 57. Melupakan Masa Lalu
58
Bab 58. Sepupu Mantan
59
Bab 59. Nekat
60
Bab 60. Hasutan
61
Bab 61. Mulai Beraksi
62
Bab 62. Kurir Misterius
63
Bab 63. Merasa Ragu
64
Bab 28. Tidak Ada Habisnya
65
Bab 65. Tidak Terima
66
Bab 66. Tegas
67
Bab 67. Rencana Affan
68
Bab 68. Hana
69
Bab 69. Diterima Kerja
70
Bab 70. Berpikir Positif
71
Bab 71. Sebuah Berita
72
Bab 72. Kecurigaan Bimo
73
Bab 73. Menyesal
74
Bab 74. Mencari Perhatian
75
Bab 75. Rencana Aira
76
Bab 76. Teman Lama
77
Bab 77. Tegang
78
Bab 78. Mengejutkan
79
Bab 79. Menghindar
80
Bab 80. Merajuk
81
Bab 81. Rencana Penjebakan
82
Bab 82. Keterlaluan
83
Bab 83. Kejadian Tak Terduga
84
Bab 84. Cemas
85
Bab 85. Kritis
86
Bab 86. Kedatangan Faya
87
Bab 87. Sarah dan Safira
88
Bab 88. Belum Ada Perubahan
89
Bab 89. Lintas Berita
90
Bab 90. Baik-baik Saja
91
Bab 91. Saudara Sepupu
92
Bab 92. Berduka
93
Bab 93. Tawaran Affan
94
Bab 94. Tamu Tak Diundang
95
Bab 95. Demi Uang
96
Bab 96. Tragedi Penyerangan
97
Bab 97. Panggil aku "Om"
98
Bab 98. Surat Kaleng
99
Bab 99. Tertangkap
100
Bab 100. Sebuah Hobi
101
Bab 101. Dosen Tampan
102
Bab 102. Takdir atau Ketidaksengajaan
103
Bab 103. Hari Ulang Tahun
104
Bab 104. Kekesalan Faya
105
Bab 105. Diluruskan
106
Bab 106. Sadar
107
Bab 107. Kedamaian
108
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit
109
Bab 109. Lahir dengan selamat
110
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!